NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

BAB 22: Bara Pelindung dan Kehangatan di Lantai Teratas

Malam telah larut ketika mobil sport hitam milik Zayn Dominic berbelok mulus memasuki area parkir bawah tanah gedung apartemen penthouse mereka. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit pasca-pemeriksaan kesehatan rutin Elva, Zayn lebih banyak diam. Namun, diamnya Zayn kali ini bukanlah keheningan kasual yang menenangkan, melainkan sebuah ketenangan yang mencekam—seperti badai besar yang siap menyapu apa saja di jalurnya.

Rahang tegap Zayn mengeras sempurna. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan dengan kilat amarah yang tertahan. Setengah jam yang lalu, saat Elva sedang menebus vitamin di apotek rumah sakit bersama Dokter Dika, Leo mengirimkan sebuah pesan suara singkat di WhatsApp.

 Pesan itu merinci setiap jengkal kejadian di kafe Senopati sore tadi—tentang bagaimana Nadine Ileana, kakak kandung Elva yang gila hormat itu, berani datang mengenakan pakaian mahal sisa kejayaannya untuk menggoda sahabat-sahabatnya demi memulihkan status sosialnya.

Fakta bahwa Nadine berani mencoba menyusup ke dalam lingkaran pertemanannya, dan fakta bahwa wanita ular itu berniat memanfaatkan nama Elva lagi, membuat darah Zayn mendidih hingga ke titik tertinggi. Sifat protektif dan posesifnya yang ekstrem seketika terusik seutuhnya.

Zayn mematikan mesin mobil dengan sentakan yang sedikit kasar, lalu berbalik menatap Elva yang duduk di sebelah penumpang. Begitu pandangannya jatuh pada wajah polos gadisnya, kilat membunuh di mata Zayn melunak dalam satu kedipan sekon. Dia tidak ingin trauma Elva kembali kambuh hanya karena kebodohan sisa-sisa keluarga Ileana.

"Zayn... kamu kenapa? Dari tadi mukanya ditekuk terus," bisik Elva lirih, meremas pelan ujung jaket rajut putihnya. Mata bulatnya menatap Zayn dengan pancaran kecemasan yang murni.

Zayn menghela napas pendek, lalu mengulurkan tangan kekarnya untuk mengusap puncak kepala Elva dengan sangat telaten.

 "Nggak ada apa-apa. Yuk, naik. Udah malam, lo harus langsung istirahat."

Begitu pintu lift pribadi terbuka di lantai teratas, interior apartemen mewah mereka yang bernuansa monokrom langsung menyambut. Anak kucing mereka, Milo, yang tampaknya sudah menunggu sejak sore, langsung berlari lincah mendekati kaki Elva sambil mengeong manja.

Elva tersenyum manis, menggendong makhluk berbulu putih kapas itu ke dalam pelukannya.

 "Milo... kangen ya? Maaf ya, tadi aku harus ke rumah sakit lama banget," ucap Elva lembut, mencium hidung merah muda anak kucing tersebut.

Zayn melepaskan jaket kulit hitamnya, melemparnya asal ke atas sofa beludru, lalu berjalan menuju dapur bersih untuk mengambil segelas air putih hangat dan obat vitamin milik Elva. Gerakannya terlihat terburu-buru, mencerminkan isi kepalanya yang masih dipenuhi oleh rasa kesal yang luar biasa akibat laporan Leo.

"Elva, minum ini sekarang," perintah Zayn, suaranya terdengar sangat rendah dan berat saat dia kembali ke ruang tengah, menyodorkan gelas dan sebutir tablet ke depan Elva.

Elva menurunkan Milo ke lantai, lalu menerima gelas tersebut dengan patuh. Setelah meminum vitaminnya hingga tandas, dia meletakkan gelas di atas meja marmer. Elva tidak bodoh. Dia bisa merasakan ada aura intimidasi dan kecemburuan yang sangat pekat yang sedang ditahan oleh cowok di depannya ini.

"Zayn, ada masalah di sekolah ya? Atau... Leo cerita sesuatu?" tanya Elva berani, melangkah satu sekon lebih dekat ke arah Zayn. Di lehernya, kalung perak berliontin inisial 'Z' dan 'E' tampak berkilau indah diterpa pendaran lampu kristal apartemen yang temaram.

Zayn menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Elva. Dorongan posesif yang mendera dadanya sejak di mobil tadi akhirnya pecah juga. Tanpa babibu, Zayn maju selangkah, meraih pinggang mungil Elva dengan kedua tangan kekarnya, lalu mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah dan mendudukkannya di atas konter meja marmer tinggi di ruang tengah.

"Z-Zayn?!" Elva terbelalak kecil, memegangi kedua bahu tegap Zayn karena terkejut dengan tindakan impulsif yang mendadak ini. Posisi mereka kini membuat wajah mereka berada di ketinggian yang sejajar, dengan jarak yang begitu dekat hingga Elva bisa menghirup aroma maskulin khas perpaduan mint dan parfum mahal dari tubuh Zayn.

Zayn tidak melepaskan kedua tangannya dari pinggang Elva. Dia justru mengunci tubuh kecil Elva di antara kedua lengan tegapnya, menatap wajah polos gadis itu dengan intensitas yang sangat dalam dan menghanyutkan.

"Kakak lo, Nadine... sore tadi nyamperin Leo dan anak-anak di kafe Senopati," ucap Zayn akhirnya, suaranya bergetar rendah oleh sisa amarah.

"Dia murahannya datang ke sana pakai baju bermerek, sok pasang tampang dewasa, terus megang-megang bahu Leo cuma buat minta nomor WhatsApp. Dia mau panjat sosial lewat temen-temen gue setelah tahu keluarganya bangkrut."

Elva tertegun sejenak. Ada rasa perih dan malu yang sempat melintas di hatinya mendengar kelakuan kakak kandungnya sendiri. Namun, melihat bagaimana dada tegap Zayn naik-turun menahan emosi demi melindunginya, rasa sedih itu berganti menjadi kehangatan yang menjalar ke ulu hatinya.

"Mulai besok, pengawalan lo di sekolah bakal gue perketat dua kali lipat," ketus Zayn, wajah tampannya ditekuk kesal dengan bibir yang sedikit maju—sebuah ekspresi cemburu posesif yang terlihat sangat menggemaskan di mata Elva.

 "Gue nggak mau lo jalan sendirian ke mana pun. Kalau gue lagi ada rapat OSIS, Leo atau Arkan harus berdiri di depan kelas lo. Gue benci banget kalau ada orang dari masa lalu lo yang coba-coba mengusik ketenangan rumah gue."

Elva menatap mata elang Zayn yang berkilat protektif. Perlahan, sebuah senyuman murni yang sangat manis dan tulus terukir di bibir manisnya. Elva mengulurkan kedua tangan kecilnya, tidak lagi memegang bahu, melainkan menangkup kedua pipi tegas Zayn dengan lembut. Ibu jarinya bergerak mengusap rahang kaku cowok itu, mencoba mencairkan dinding es yang sedang membakar emosinya.

"Zayn... dengerin aku dulu," bisik Elva, suaranya begitu lembut, jernih, dan menenangkan layaknya alunan musik malam.

 "Nadine mau melakukan apa pun di luar sana, itu bukan urusan kita lagi. Sahabat-sahabat kamu juga cowok yang pintar, mereka buktinya langsung mengusir Nadine, kan? Mereka menjaga kepercayaan kamu."

Elva memajukan wajahnya sedikit, hingga dahi mereka saling bersentuhan dengan lembut. Napas hangat Elva yang teratur menerpa permukaan kulit wajah Zayn. "Di dunia ini, aku tidak peduli seberapa keras mereka mencoba mengacau. Karena bagiku, satu-satunya hal yang penting adalah kamu. Aku cuma punya kamu, Zayn. Dan kalung ini..."

Elva menyentuh liontin berinisial nama mereka di dadanya dengan sebelah tangan, "...adalah bukti kalau jiwaku sudah terkunci di kamu seutuhnya."

Mendengar pengakuan ketulusan yang begitu polos dan mendalam dari Elva, seluruh amarah dan bara kecemburuan di dalam dada Zayn seketika padam tanpa sisa, menguap bersama angin malam yang berembus dari balkon. Tatapan mata elang Zayn berubah menjadi begitu redup, dipenuhi oleh rasa cinta dan gairah pelindung yang teramat sangat besar.

Cengkeraman tangan Zayn di pinggang Elva semakin mengencang, menarik tubuh mungil gadis itu hingga melekat sempurna pada dada bidangnya. Zayn memejamkan matanya sejenak, menghirup aroma wangi sampo stroberi yang manis dari rambut hitam panjang Elva yang tergerai indah di bahunya.

"Lo bener-bener tahu cara bikin gue bertekuk lutut, Elva," bisik Zayn rendah, suaranya terdengar serak di dekat daun telinga Elva.

Zayn menjauhkan wajahnya sedikit, menatap bibir manis Elva yang merekah indah. Dengan gerakan yang sangat lambat, penuh kelembutan dan perasaan yang mendalam, Zayn memajukan wajahnya lalu mendaratkan sebuah kecupan yang sangat hangat, dan lama di bibir Elva. Itu bukanlah kecupan biasa, melainkan sebuah segel janji mutlak dari seorang penguasa muda bahwa seluruh jiwa, raga, dan kekuasaannya telah diserahkan seutuhnya untuk menjaga kebahagiaan gadis di pelukannya ini seumur hidupnya.

Elva memejamkan matanya, menikmati kehangatan dan detak jantung Zayn yang berdegup dengan ritme yang selaras di dalam dadanya.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!