NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Lelakiku

Brak.

Suara pintu balkonnya yang digeser dengan kasar membuat Aksa langsung membalikkan tubuh dengan sigap, insting protektifnya langsung siaga. Namun, begitu melihat sosok Valerian berdiri di sana dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan sepasang mata yang menyala oleh campuran antara amarah dan luka, pertahanan Aksa seketika runtuh.

Valerian? Bagaimana bisa kau—"

Sebelum Aksa sempat menyelesaikan kalimatnya, Valerian melangkah maju dengan cepat. Ia mengeluarkan kertas misterius yang baru saja ia dapatkan dari balkonnya dan melemparkannya tepat ke dada bidang Aksa. Kertas itu terjatuh di lantai, namun Aksa sempat menangkap kilasan tulisan tinta merah di atasnya.

Katakan padaku hal menjijikkan apa lagi yang sedang kalian rencanakan!" suara Valerian bergetar hebat, menahan tangis yang sudah berada di ujung mata. "Siapa pria yang mati di London, Aksa?! Dan siapa pria yang berdiri di depanku saat ini?! Apakah kau Aksa Wardhana, adik iparku... atau kau adalah Dave, sahabat yang selama ini kutangisi kepergiannya?!"

Aksa membeku. Udara di sekitar mereka mendadak terasa membeku. Sepasang netra gelapnya menatap kertas di lantai, lalu beralih menatap Valerian yang kini sudah meneteskan air mata.

Kau benar-benar ingin tahu siapa pria di foto itu, Valerian?" suara Aksa terdengar begitu parau, berat, dan dipenuhi getaran emosi yang begitu mengiris hati.

Pria itu perlahan menunduk, meraih jemari tangan Valerian yang mendadak dingin, lalu membawanya menempel tepat di atas dada bidangnya—merasakan detak jantung Aksa yang berdegup kencang namun penuh kehangatan yang teramat familier di memori masa lalu Valerian.

Pria yang bersamamu di foto itu... Dave. Pria bodoh yang terpaksa menghilang dari hidupmu karena takdir menjadikannya sampah yang tidak diinginkan oleh keluarga Wardhana," bisik Aksa dengan mata yang mulai berkaca-kaca, memancarkan kerapuhan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

"Aku adalah Dave, Valerian. Aku adalah pria yang wajah dan identitasnya harus dihancurkan oleh api agar bisa tetap hidup di dekatmu."

Valerian tertegun, lidahnya mendadak kelu. "Kau... Dave? Tapi bagaimana bisa—"

Aku adalah anak dari istri kedua Tuan Bagian Wardhana," potong Aksa lirih, membiarkan sekat rahasianya runtuh seutuhnya demi wanita yang teramat dipujanya.

"Ibuku dinikahi secara rahasia. Namun, ketika ego dan ketamakan bisnis memanggil, Tuan Bagian memilih kembali pada istri pertamanya, Nyonya Zen. Kami dibuang, Valerian. Aku dan ibuku dipaksa pergi jauh ke London, hidup dalam pengasingan seolah kami adalah aib yang harus lenyap dari muka bumi."

Aksa menarik napas berat, air mata yang selama bertahun-tahun ia tahan kini mengalir pelan di pipi tegasnya. "Di London, tragedi itu terjadi. Pesawat yang kami tumpangi mengalami kecelakaan hebat.

Ibuku... satu-satunya pelindungku, meninggal di tempat dalam kecelakaan tragis itu. Aku selamat, namun wajahku rusak parah akibat hantaman dan luka bakar. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Tuan Bagian. Demi bertahan hidup, aku harus menjalani operasi rekonstruksi wajah total, mengubah seluruh fiturnya, dan mengganti namaku menjadi Aksa."

Valerian menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar. Rasa perih yang teramat sangat menjalar di dadanya saat membayangkan penderitaan luar biasa yang harus ditanggung oleh sahabat sekaligus pria yang pernah mengisi hatinya ini sendirian di negeri orang.

Setelah wajah baru ini selesai, aku memutuskan kembali ke rumah terkutuk ini," lanjut Aksa dengan suara serak, melangkah mendekat dan merengkuh kedua bahu Valerian dengan kelembutan yang intens. "Aku kembali hanya untuk mencari sisa hidupku.

Namun... saat kakiku pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini, hal pertama yang kulihat adalah dirimu. Kau, ratuku... sedang dipinang oleh Damian dengan segala kemewahan palsunya. Di sana, hatiku jauh lebih hancur daripada saat kecelakaan pesawat itu terjadi. Aku bersumpah akan merebutmu kembali, apa pun risikonya."

Tanpa banyak bicara lagi, Valerian menghambur ke dalam pelukan hangat Aksa, menangis sejadi-jadinya di dada bidang pria itu. Aksa membalas dekapan itu dengan gairah posesif yang protektif, menundukkan wajahnya untuk menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang teramat dalam, liar, namun sarat akan kelembutan yang memabukkan.

Malam itu, di atas ranjang besar kamar Aksa, mereka kembali menyatu dalam jalinan asmara yang penuh romansa intens. Sentuhan jemari jangkung Aksa yang hangat di tubuh seksi Valerian tidak lagi terasa sebagai dosa, melainkan sebuah penawar rasa sakit yang mengunci takdir mereka bersama.

Aksa memperlakukan tubuh Valerian yang sedang mengandung minggu keempat itu dengan penuh ketelatenan seorang mentor yang protektif, memijat lembut bagian tubuhnya yang sensitif demi memberikan rasa aman yang utuh.

Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing ketika Valerian terpaksa kembali ke kamar utama dengan sisa kilat kepuasan yang merona di wajah cantiknya. Namun, kedamaian semu itu langsung hancur lebur ketika pintu kamar utama digebrak dengan kasar dari luar.

Damian melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah kusut, wajahnya memerah padam oleh amarah yang tidak terkendali. Sifatnya yang impulsif dan temperamental mendadak meledak begitu saja tanpa alasan yang jelas, dipicu oleh rasa frustrasi akibat tekanan bisnis dan kecurigaan sakitnya yang tiada henti.

Valerian!" bentak Damian, melangkah lebar dan langsung mencengkeram pergelangan tangan istrinya dengan cengkeraman yang teramat kuat hingga membuat Valerian meringis kesakitan. "Kau pikir kau bisa bersenang-senang di rumah ini sementara posisiku di dewan direksi sedang digoyang?! Ikut aku sekarang ke kantor pusat!"

"Lepaskan, Damian! Kau menyakitiku!" Valerian mencoba memberontak, menatap suaminya dengan pandangan ketegasan yang berani. "Ada apa denganmu?! Kenapa kau selalu bertindak impulsif seperti orang gila?!"

Diam kau!" Damian menarik tubuh Valerian dengan kasar menuju pintu keluar, mengabaikan fakta bahwa istrinya sedang berbadan dua. Kegilaan egonya telah menutup seluruh akal sehatnya.

"Aku tidak peduli tentang apa pun lagi! Hari ini, kau harus berdiri di sampingku dalam rapat pleno, atau aku akan memastikan kurunganmu di rumah ini menjadi neraka yang sesungguhnya!"

Dari balik pilar koridor yang remang-remang, Aksa berdiri mengawasi dengan sepasang netra gelap yang menyala oleh kilat amarah yang luar biasa pekat.

Tarikan kasar Damian di pergelangan tangan Valerian terasa bagai belenggu besi yang membakar kulit. Setiap langkah kaki yang dipaksakan menuruni anak tangga melingkar kediaman Wardhana terasa bagai ketukan lonceng kematian bagi ketenangan yang baru saja ia rasakan beberapa jam lalu di pelukan Aksa.

Damian, lepas... ini sakit," desis Valerian rendah, mencoba menarik pergelangan tangan yang kini mulai memar kebiruan. Ia harus menjaga energinya demi janin minggu keempat yang kini menjadi satu-satunya kekuatannya untuk bertahan hidup.

Damian menoleh lambat, tatapan matanya dipenuhi riak kegilaan yang pekat. "Sakit? Ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit hatiku saat melihat saham perusahaan anjlok dua persen hanya dalam waktu satu jam, Valerian! Kau adalah istriku. Di depan para dewan direksi nanti, kau harus tersenyum, menggandeng tanganku, dan menunjukkan pada mereka bahwa rumah tangga kita baik-baik saja!"

Begitu mobil berhenti di lobi utama gedung pencakar langit Wardhana Group, Damian langsung keluar dan memutari mobil, menarik lengan Valerian dengan sentakan kasar agar wanita itu berjalan sejajar di sampingnya. Kilatan lampu blitz dari beberapa wartawan internal perusahaan langsung menyambut kedatangan mereka, menciptakan panggung sandiwara yang sempurna.

Valerian memaksakan sebuah senyuman anggun di wajah cantiknya yang sedikit pucat. Ia membiarkan tangan kokoh Damian melingkari pinggangnya dengan posesif, menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang ulu hatinya akibat hormon kehamilan awal yang kian bergejolak di bawah tekanan stres.

Rapat pleno dewan direksi berlangsung panas selama dua jam penuh. Damian, dengan segala sifat impulsif dan luapan emosinya yang meledak-ledak, mati-matian mempertahankan posisinya dari cecaran para pemegang saham mengenai ketidakstabilan finansial Wardhana Group.

Kehadiran Valerian di sampingnya setidaknya berhasil menjadi tameng sementara yang meredam isu miring seputar keretakan rumah tangga mereka, membuat dewan direksi terpaksa menunda mosi tidak percaya.

Sesampainya di kediaman Wardhana langkah kaki Damian yang kaku terdengar menjauh ke arah ruang pakaian luar, menegaskan ancamannya yang ingin menjadikan Valerian sebagai tawanan bisnis di dalam sangkar emas ini. Pria itu terlalu angkuh untuk kalah dari adiknya, dan terlalu serakah untuk melepaskan investasinya.

Sementara itu, di balik dinding kamar sebelah yang hanya dibatasi oleh sekat beton kokoh, Aksa berdiri mematung di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman belakang. Sepasang netra gelapnya menatap kegelapan malam dengan kilat amarah yang tertahan rapat di balik rahangnya yang mengetat tajam. Buku-buku jarinya memutih akibat kepalan tangan yang begitu kuat di dalam saku celana.

Aksa berjalan mendekati meja kerjanya, mengambil gawai pribadinya yang tergeletak di sana. Layarnya menyala, menampilkan rincian rencana pertunangannya dengan Clarissa Narendra yang dijadwalkan akan diresmikan tepat satu bulan lagi.

Perjodohan bisnis yang dirancang oleh kedua keluarga besar itu kini terasa bagai kerikil tak berguna di matanya. Pikirannya sepenuhnya tersita oleh wanita di kamar sebelah.

Kau harus beristirahat di rumah, Valerian," ucap Damian dingin saat mereka berpapasan di meja sarapan, di depan Tuan Bagian dan Nyonya Zen yang terus tersenyum bahagia sejak mendengar kabar kehamilan tersebut. "Rapat pleno dewan direksi hari ini biar aku yang menangani. Tugasmu hanya menjaga calon penerus keluarga ini."

Saat Damian bangkit berdiri untuk bersiap menuju kantor, Aksa perlahan meletakkan cangkir kopinya.

"Aku akan ikut ke kantor pusat hari ini, Kakak," ucap Aksa dengan nada suara yang tenang namun barau, memecah keheningan di antara mereka. "Sebagai pemegang saham, kurasa kehadiranku diperlukan untuk memastikan stabilitas perusahaan setelah rumor miring kemarin."

Damian mendengus kasar, rahangnya mengetat mendengar suara adiknya. Sifat temperamentalnya membuat ia ingin melayangkan pukulan, namun keberadaan kedua orang tua mereka menahannya. "Lakukan sesukamu, Aksa. Tapi jangan pernah mencampuri urusan pribadiku."

Sebelum melangkah keluar mengikuti Damian, Aksa berjalan melewati kursi Valerian. Dengan gerakan yang teramat halus dan tak terlihat oleh pandangan mata orang lain, Aksa menjatuhkan sebuah lipatan kertas kecil berukuran mini tepat ke atas pangkuan Valerian yang tertutup serbet makan.

Begitu rumah kembali sunyi dan para pria telah berangkat ke kantor, Valerian segera kembali ke kamarnya di bawah tatapan waspada para penjaga. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu dengan napas tertahan, membuka lipatan kertas dari Aksa.

Hanya ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan guratan tinta hitam yang tegas di sana:

"Pukul sebelas malam, di balkon belakang. Sangkar ini tidak akan bisa menahan ratuku selamanya."

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!