"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 | Tes Pertama
Kalara mendudukkan dirinya dibangku yang ada ditengah. Pandangan matanya tertuju kesekelilingnya. Memandang kagum ruangan luas dengan kerlipan cahaya dari batu alami yang dijadikan sebagai bahan dasar.
Energi sihir dapat dirasakan dari tiap hal disana. Bahkan termasuk meja dan bangku yang didudukinya. Kalara benar-benar kagum dengan Celestial Academy. Bahkan, ini baru sebagian kecil dari Celestial Academy.
Berdiri ditengah ruangan, banyak pasang mata menatap Kalara. Tatapan kagum, meskipun ada pula tatapan yang meremehkan karena penampilan Kalara yang nampak lemah. Namun tak lama, seorang pria muncul ditengah kelas selepas pusaran angin muncul. Membuat atensi seluruh orang diruangan itu teralihkan.
"Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Chase Amagel. Karena saya tidak suka berbasa-basi saya akan langsung menjelaskan tes yang akan kalian jalani." Kata pria dengan surai coklat bermata hijau itu.
Chase kembali berujar, mengabaikan tatapan tak suka dari beberapa orang. "Tes pertama akan segera dimulai saya adalah pengawasnya. Dilanjutkan dengan tes kedua dan tes terakhir, yang akan diawasi orang lain. Tes pertama adalah ujian tertulis. Ujian dimulai sekarang." Kata Chase.
Mendapatkan lembaran kertas dan pulpen yang melayang dan menyebar dengan sihir, Kalara menerimanya dan meneliti pertanyaan yang ada dikertas itu. Hanya empat soal dasar dan dua soal tambahan.
Kalara menatap kertas didepannya dengan bingung dan menggaruk pipinya. Kalara tidak tahu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu.
"Bagaimana ini ?" batin Kalara.
Apa yang anda ketahui tentang Celestial Academy?
Jelaskan apa yang dimaksud dengan sihir dan pembagiannya secara jelas dan terperinci
Sebutkan dasar-dasar dan aturan dalam dunia sihir
Jelaskan sejarah sihir
Jelaskan apa itu "Simbol Naga Suci"
Didunia, selain manusia dan penyihir jelaskan tentang hal lain yang hidup berdampingan dengan kita
Kalara menggigit cemas jemarinya dengan pelan. Kalara benar-benar tidak tahu tentang Celestial Academy, pembagian sihir, sejarah sihir atau Simbol Naga Suci. Yah, mungkin nomor enam ia masih bisa menjawab beberapa. Namun yang lain tidak. Kalara selama ini hidup dengan berpertualang. Hal-hal seperti ini jelas cukup asing baginya karena ia cukup baru di kerajaan ini. Kalara mengedikkan bahu dan menjawab dengan jawaban yang ada dipikirannya.
Apa yang anda ketahui tentang Celestial Academy?
—— Sekolah sihir di Kota Forspel
Jelaskan apa yang dimaksud dengan sihir dan pembagiannya secara jelas dan terperinci
—— Sihir adalah energi yang muncul dari dalam diri seseorang dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada elemen dasar seperti air, api, petir, angin, dan beberapa elemen khusus seperti elemen lahar, es, kristal dan banyak lagi
Sebutkan dasar-dasar dan aturan dalam dunia sihir
—— Tidak boleh digunakan untuk kejagatan atau mengganggu warga sipil
Jelaskan sejarah sihir
—— Sudah ada sejak lama, tetapi disahkan dari limaratus tahun yang lalu
Jelaskan apa itu "Simbol Naga Suci"
—— Simbol dari naga suci
Didunia, selain manusia dan penyihir jelaskan tentang hal lain yang hidup berdampingan dengan kita
—— Bayangan, Roh Sihir, Binatang sihir, binatang iblis
Kalara tersenyum. Selesai mengisi identitasnya, kertasnya bercahaya samar selama sepersekian detik. Dan tulisannya memudar dan menghilang. Menyisakan kertas kosong, yang perlahan memunculkan sebuah tulisan.
Suku Lavia adalah salah satu suku tertua yang masih hidup hingga kini di Benua Zhioie. Suku Lavia memiliki sihir yang disebut dengan Sihir Ramalan. Jumlah mereka sangat sedikit, dan suku Lavia adalah suku yang sangat tertutup akan dunia luar. Apa pendapatmu?
Kalara menatap lekat kertasnya. Tangannya bergerak menuliskan sesuatu, sebelum Chase mengatakan bahwa ujian tertulis selesai. Dan mengambil kertas dari masing-masing orang.
"Ujian tertulis selesai." Kata Chase kemudian menghilang dalam pusaran angin diruangan itu.
"Kala, kenapa kau tidak bertanya padaku? Aku bisa menjawab semua pertanyaan tadi dengan sekali kedipan mata."
Kalara berbisik pelan, "Jangan begitu. Ini adalah tes masuk, tidak boleh curang."
Suara Minette makin jelas, "Aku yakin itu akan salah. Mulai besok aku akan mengajarimu semua tentang sihir. Bagaimana bisa kontraktor ku begitu bodoh."
"Aku tidak bodoh~" Kalara menggembungkan bibirnya kesal sembari berbisik.
Brak!
Suara dentuman keras dibelakang ruangan membuat atensi seisi ruangan terarahkan pada seorang pemuda yang menggebrak meja dengan raut wajah marah. Pemuda dengan surai hijau itu menunjuk pria bersurai merah yang nampak tenang dibangkunya dengan senyuman miring.
"Berani sekali kau menghina kota asalku! Dengar, kotaku lebih baik dari kotamu!" marahnya.
Pria bersurai merah tersenyum miring. "Yah, yang kutahu Kota Marai di Kerajaan Alopaz adalah kota bagi orang buangan. Sudahlah kecil, bahkan sangat jarang orang tahu jika kota itu berpenghuni. Bukankah layak disebut kota mati?"
Beberapa orang yang berasal dari Kota Marai bangkit berdiri dan merasa tersinggung dengan ucapan pria bersurai merah itu. Mereka mendatanginya dan menyarakan protesan mereka.
"Hati-hati dengan mulutmu, bung."
"Benar. Lancang sekali mengatakan Kota Marai kami adalah kotaorang buangan."
"Apa hebatnya kotamu?!"
"Dasar menyebalkan."
Pria itu berdiri dan berkacak pinggang. "Apa yang kukatakan hanya sebatas apa yang kudengar. Jika kalian marah, apa itu artinya benar?"
"Setidaknya aku yang berasal dari Kota Forspel cukup keren. Kota termaju diseluruh Kerajaan Espen setelah Istana Esperial sendiri." Katanya lagi dengan ekspresi meremehkan.
"Itu benar. Bagaimana Kota Forspel kita bisa dibandingkan dengan yang lain."
"Benar."
"Hey apa maksudnya. Kota kami juga tidak lebih rendah dari kota kalian."
"Apa-apaan mereka itu."
"Persetan! Kalian terlalu banyak bicara!" Pria berbadan besar itu lebih dulu menggunakan elemen apinya.
Api menyambar keseluruh penjuru ruangan, namun orang-orang dengan sigap melindungi diri mereka, bertiarap atau melompat keatas menghindari api yang hanya sepersekian detik itu.
Orang-orang yang terprovokasi mulai saling melempar elemen sihir. Tak ayal beberapa orang terkena dan terluka, namun tak ada satu pun yang menghentikan tindakan mereka. Kalara sendiri nampak terdiam ditempatnya. Dinding pelindung berbentuk tabung melingkarinya, membuatnya aman dari semua serangan menyasar. Matanya menatap sekelilingnya dengan samar.
Ia mengernyit. Menangkap beberapa keanehan.
Pertama, ruangan itu luas, melebihi kapasitas orang yang ada didalamnya.
Kedua, beberapa kata ambigu dari Chase yang masih menjadi pemikirannya sampai saat ini. Tes pertama ujian tertulis, namun diakhir, ia tak mengucapkan bahwa tes pertama selesai, namun mengucapkan Ujian Tertulis selesai.
Ada dua kemungkinan dari kalimat itu. Yakni tes pertama memang selesai karena tes pertama hanya berisi ujian tertulis atau hanya ujian tertulis yang sudah selesai. Atau kemungkinan kedua, tes pertama masih belum selesai. Lagipula, Chase tak mengatakan apakah ujiannya akan langsung berlanjut atau menggunakan jeda istirahat.
Dan keanehan yang lain, mengapa pria berambut merah itu tiba-tiba mengatakan hal demikian seolah tujuannya memang untuk memprovokasi dan menciptakan kekacauan begitu saja?
Kalara terdiam selama beberapa saat, sebelum sadar bahwa dinding pelindungnya tertembus oleh sebuah anak panah yang entah datang dari mana saat dia lalai. Kalara dengan gerakan lincah melompat keatas dan mendarat di bola hitam yang dimunculkannya. Melihat dari atas, Kalara menemukan orang-orang masih saling melancarkan elemen sihir masing-masing.
Disisi lain, pria berambut merah tadi masih nampak tenang melawan dan menghindari serangan sihir dari orang-orang.
Kalara mengernyit. Apakah pria itu salah satu suruhan Chase untuk tes pertama? Untuk memprovokasi mereka?
Tapi untuk apa orang-orang harus diprovokasi?
Tidak, tunggu!
Kalara menyadari satu hal. Beberapa orang nampak diam-diam bersembunyi dibalik dinding pelindung atau hanya menghindari serangan menyasar tanpa membalas. Namun, beberapa diantara mereka, menggerakkan mata mereka keseluruh penjuru ruangan. Seolah tengah memperhatikan.
"Jadi begitu," gumam Kalara pelan.
Kalara menyunggingkan senyuman seringan bulu, "Tes pertama memang sudah selesai. Tapi kami diberi bocoran untuk mempersiapkan tes kedua."
Ia melebarkan senyumannya dan bergumam kepada dirinya sendiri. "Astaga, ini sangat menarik~"
gak ketebak