Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Panggilan Pertama Satya
Setelah keributan arisan, rumah dinas Bima menjadi lebih tenang.
Tidak ada lagi perempuan yang sengaja berhenti di depan pagar. Jika Laras lewat menuju jemuran, sapaan yang diterimanya masih dingin, tetapi bisik-bisik tak lagi dilepaskan tepat di belakang punggungnya.
Satu kalimat Bima rupanya lebih ampuh daripada sepuluh bantahan Laras.
Hari-hari berikutnya kembali diukur dengan hal kecil. Berapa banyak Satya menyusu. Berapa kali popoknya basah. Apakah perutnya kembung. Apakah suhu tubuhnya tetap normal.
Laras menimbang Satya dengan timbangan bayi pinjaman dari poliklinik. Jarumnya bergerak naik hampir setengah kilogram dibanding catatan awal.
“Lihat, Le. Pahamu mulai berlipat.”
Satya menendang dan mengeluarkan bunyi gembira. Tangannya memukul sisi timbangan.
“Jangan sombong dulu. Kemarin kamu masih muntah di kerudung Laras.”
Iwan yang berdiri di pintu tertawa. “Mbak, ajari dia malu nanti kalau sudah bisa bicara.”
“Yang harus belajar menjaga mulut dulu siapa?”
Iwan langsung mengangkat kedua tangan. “Saya sudah dihukum satu minggu tidak boleh cerita apa-apa di luar pagar.”
“Bagus.”
“Tapi kalau Satya tambah berat, itu kabar resmi, kan?”
“Laporkan ke Komandan saja.”
Iwan memberi hormat bercanda lalu membawa timbangan kembali ke poliklinik.
Sore itu Bima pulang sebelum Magrib. Seperti beberapa malam terakhir, ia tidak langsung masuk ke kamar. Ia mencuci tangan, mengganti seragam dengan kaus gelap, lalu datang ke kamar belakang pada jam yang hampir sama.
Laras sedang menepuk Satya yang baru selesai menyusu.
“Beratnya naik,” katanya sebelum Bima bertanya.
“Berapa?”
Laras menunjukkan buku catatan. Bima membacanya sambil berdiri. Satya melihat laki-laki itu, lalu mengulurkan kedua tangan.
Bima menaruh buku dan mengangkatnya.
Gerakannya masih sedikit kaku. Satu tangan menopang kepala, tangan lain menahan pinggang. Namun Satya mengenali dada bidang itu. Ia langsung mencengkeram kerah kaus Bima.
“Kuat sekali sekarang,” kata Bima.
“Karena makannya tidak disisakan.”
“Menyindir siapa?”
“Tidak ada.”
Bima menatap Laras. Perempuan itu pura-pura sibuk melipat kain bedong.
“Kamu makan?” tanyanya.
“Tiga kali. Tambahan dua kali. Iwan mencatat seperti petugas gudang.”
“Bagus.”
Jawaban pendek itu membawa kehangatan aneh ke kamar sempit tersebut.
Bima duduk di bangku dekat jendela dengan Satya di pangkuan. Laras merapikan kasur, mencuci kain kecil, lalu menyusun obat. Mereka tidak banyak bicara. Meski begitu, kehadiran Bima pada jam yang sama setiap malam perlahan berubah menjadi kebiasaan.
Satya akan menunggu suara langkahnya.
Laras pun mulai mengenali iramanya.
Pada malam ketiga, Laras menyerahkan Satya yang baru selesai menyusu kepada Bima.
“Tolong tegakkan. Dia belum bersendawa.”
Bima menerima bayi itu. “Begini?”
“Tangannya lebih tinggi. Kepalanya di bahu Komandan.”
Seorang Danyon yang biasa memberi aba-aba kepada ratusan prajurit kini mengikuti instruksi Laras tanpa membantah. Ia mengubah posisi Satya, lalu menepuk punggungnya terlalu pelan.
“Bukan mengelus kucing,” kata Laras.
Bima melirik. “Kalau terlalu keras?”
“Saya akan bilang.”
Tepukan berikutnya lebih mantap. Satya bersendawa, lalu mengeluarkan sedikit susu tepat di bahu kaus Bima.
Laras terkejut. “Maaf. Saya lupa pasang kain.”
Bima melihat noda putih itu. “Bukan kamu yang muntah.”
“Tetap saja bajunya kotor.”
“Bisa dicuci.”
Iwan muncul di pintu membawa dokumen. Matanya membesar melihat bekas susu di bahu atasannya.
“Komandan, seragam lapangan saja tidak pernah kena noda sebanyak itu.”
“Karena Satya bukan latihan lapangan.”
“Siap. Lebih berbahaya.”
Bima menatap Iwan.
“Saya taruh dokumennya di depan,” kata Iwan cepat, lalu menghilang.
Laras menahan tawa sampai bahunya bergetar. Bima memandangnya, lalu memandang Satya yang sudah tenang di dadanya.
“Lucu?”
“Sedikit.”
“Besok kamu yang mencuci.”
“Memang itu pekerjaan saya.”
Jawaban tersebut mematikan sisa senyum di wajah Bima. “Bukan. Saya bisa mencuci baju sendiri.”
Ia membawa Satya duduk dekat jendela, noda susu tetap di bahunya. Laras tidak tahu mengapa kalimat sederhana itu terasa seperti penolakan terhadap batas yang selama ini membuatnya selalu berada satu tingkat lebih rendah.
Malam itu, Satya lebih aktif. Ia menarik dagu Bima, menepuk pipinya, lalu berbalik mencari Laras. Ketika Laras mendekat, mulut kecilnya terbuka.
“Mmm... mma.”
Tangan Laras yang sedang meraih selendang berhenti.
Satya menatapnya, lalu mengulang suara yang belum sempurna.
“Mma.”
Sesuatu yang lembut menghantam dada Laras. Ia tahu bayi usia enam bulan sering mengeluarkan bunyi tanpa maksud. Itu belum tentu panggilan. Belum tentu Satya memahami siapa yang berada di hadapannya.
Namun mata bayi itu terpaku pada wajahnya.
“Jangan,” bisik Laras, nyaris tanpa suara.
Bima mendengarnya. “Kenapa?”
“Dia cuma mengoceh.”
“Saya tidak bilang apa-apa.”
Laras mengambil Satya dari pelukannya. Bayi itu langsung menempel di dada Laras dan kembali bersuara, “Mma.”
Mata Laras panas.
“Saya ibu susuannya,” katanya, lebih kepada diri sendiri. “Bukan ibunya.”
Bima diam cukup lama.
“Dia tidak mengerti perbedaan itu.”
“Tapi saya harus mengerti.”
Laras mengusap punggung Satya. Di dalam kepalanya muncul wajah Nala. Putrinya sendiri mungkin juga sedang belajar membentuk suara. Mungkin malam ini ia memanggil bunyi yang sama kepada Mbah Inah, lalu kebingungan karena Laras tidak datang.
Air mata jatuh ke rambut Satya.
Laras segera menyekanya.
Bima memalingkan wajah ke jendela. “Ibunya pergi waktu dia belum genap tiga bulan.”
Itu pertama kalinya ia mengatakan sesuatu tentang perempuan yang dianggap Laras sebagai mendiang istrinya.
“Satya masih ingat?”
“Tidak mungkin.”
“Komandan?”
Bima menatap halaman gelap. “Ada hal yang tidak perlu diingat anak sekecil itu.”
Nada suaranya berubah. Tidak lagi keras, melainkan tertahan, seperti ada pintu berat yang baru saja dibuka sedikit lalu ditutup kembali.
Laras tidak bertanya. Ia tahu rupa seseorang yang sedang menahan luka.
“Maaf,” katanya.
“Bukan salahmu.”
Satya menguap. Laras membaringkannya, mengusap alisnya pelan sampai mata bayi itu terpejam.
Bima berdiri. Sebelum keluar, ia berhenti di pintu.
“Kalau dia memanggilmu begitu lagi, tidak perlu dilarang.”
Laras menatap punggungnya. “Kenapa?”
“Karena dia tenang saat melihatmu.”
“Saya takut mengambil tempat orang lain.”
Bima tidak langsung menjawab.
“Kamu tidak mengambil apa pun,” katanya akhirnya. “Kamu mengisi yang kosong.”
Ia pergi sebelum Laras bisa melihat wajahnya.
Malam semakin larut. Satya tidur sambil menggenggam ujung jari Laras. Perempuan itu duduk di sisinya dan menangis tanpa suara, bukan hanya untuk bayi yang kehilangan ibu, tetapi juga untuk Nala yang ibunya masih hidup namun tidur puluhan kilometer darinya.
Di ruang depan, Bima membuka laci meja yang selalu terkunci.
Sebuah foto lama tersimpan di dalam amplop cokelat. Di foto itu, seorang perempuan tersenyum tipis ke arah kamera. Tidak ada gaun pengantin, tidak ada pose mesra, hanya kemeja putih dan sebuah kartu identitas yang sengaja dibalik.
Bima menatapnya beberapa detik.
“Maaf,” ucapnya begitu pelan hingga hampir tidak bersuara.
Ia memasukkan foto itu kembali ke amplop. Kunci diputar sekali.
Laci menutup dengan bunyi pendek.
Klik.