Cerita ini berkisah tentang 9 raja kerajaan Uxolo dan seorang pemuda bernama Rei. Sejak umur 7 tahun, Rei sudah menguasai ilmu sihir 4 elemen yang merupakan ilmu sihir tingkat 2. Orang tua Rei menginginkan Rei mengembangkan bakatnya untuk menjadi penyihir. Tetapi, Rei menolak dan memilih ingin menjadi Ksatria kerajaan Uxolo.
Saat usianya sudah cukup untuk mendaftar sebagai ksatria, Rei pun berangkat ke ibukota Uxolo. Alih-alih di terima sebagai Ksatria, Rei malah di rekomendasikan menjadi tentara cadangan. Tetapi, ia tak menyesalinya dan akhirnya di terima sebagai tentara cadangan Uxolo.
Suatu ketika ada tragedi yang menimpa Rei dan 3 raja Uxolo yang akhirnya membuka sebuah rahasia bahwa Rei merupakan pemilik reinkarnasi kekuatan sang manusia ciptaan ke-10.
Dari sinilah kehidupan Rei berubah, ia diangkat menjadi Ksatria sihir dan bersama 9 raja harus berjuang matia-matian memerangi kejahatan Axis knight yang hendak membebaskan raja iblis Coenubia dari rantai segel para Dewa dan Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syaiful aditya(2), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter #14# PENGORBANAN RAJA NANO
Sesampainya di perkemahan pasukan wilayah barat, mereka berdua dibuat terkejut karena perkemahan itu telah luluh lantak dan dipenuhi kepulan debu dimana-mana.
" Ini apakah benar perkemahan pasukan kita? " tanya raja Nano.
" Aku sudah menandai tempat ini dengan sihirku. Harusnya benar tempatnya disini. Tapi, apa yang sedang terjadi? " raja Shu memandangi sekitarnya yang tertutup kepulan debu.
Ditengah kebingungan mereka berdua, dari depan terlihat seorang prajurit Uxolo dengan baju besi yang sudah tak utuh berlari dan langsung berlutut di hadapan mereka.
" Hamba bersyukur yang mulia sekalian datang kesini. Kami sangat menantikan kedatangan yang mulia. " pungkas prajurit itu.
" Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini? " tanya raja Nano.
" Pagi tadi, pasukan musuh memulai serangan besar-besaran tapi kami yang dipimpin para permaisuri dan jendral Lazu berhasil memukul mundur tanpa kehilangan satu pasukan. Tapi, saat kami merayakan kemenangan di perkemahan, tiba-tiba mundul pria memakai jubah hitam langsung meledakkan tempat ini dengan sihir kegelapan. Sihir itu membuat banyak prajurit tewas dan luka-luka serta menghancurkan perkemahan kami. " jawab prajurit.
" Sepertinya kita kecolongan. La-lalu bagaimana keadaan pasukan yang tersisa? Bagaimana juga kabar para permaisuri dan para jendral? " tanya raja Nano dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
" Hamba tak bisa menjelaskanya disini yang mulia. Mari ikut hamba agar yang mulia dapat menyaksikan sendiri. " prajurit itu berdiri dan mengajak mereka berdua ke tempat dimana para prajurit yang tersisa berada.
Di perjalanan terlihat banyak prajurit Uxolo yang bergelimpangan dimana-mana. Mereka tewas hanya dalam 1 serangan.
Mereka berdua diajak ke perkemahan paling belakang sendiri yang letaknya lumayan jauh dari perkemahan sebelumnya yang telah hancur. Disana, prajurit yang selamat sibuk membuat parit dan yang terluka tergeletak dimana-mana dan sedang diobati oleh para tabib.
" Separah ini? sihir macam apa yang dia gunakan sampai membuat pasukan kita terluka seperti ini? " raja Shu menoleh kanan kiri menyaksikan para prajurit yang terluka.
" Mari yang mulia, kita ke tenda pusat. " prajurit tadi membawa para raja ke tenda besar dan mereka langsung memasukinya.
Setelah memasuki tenda, mereka terkejut lagi melihat yang ada disana hanyalah para mayat yang sudah ditutup dengan kain putih.
" A-apa maksutnya ini? " mata raja Nano melebar menyaksikan pemandangan itu.
" Setelah pria itu meledakkan perkemahan. Para permaisuri dibantu para ksatria langsung berhadapan dengan pria itu. Mereka bertarung habis-habisan demi mengalahkanya. Tapi, mohon maaf yang mulia. Kami gagal melindungi para permaisuri dan para ksatria termasuk jendral Lazu. " prajurit itu bersujud memohon ampun kepada para raja.
" Ini bukan salahmu. Sudah sepantasnya seorang jendral melindungi anak buahnya bukan? Angkat kepalamu dan tunggulah diluar. " tegas raja Shu.
Raja Nano hanya terdiam, ia membuka satu persatu kain putih itu dan menemukan istrinya sudah tak bernyawa. Seketika raja Nano langsung terpukul dengan mata yang berkaca-kaca.
" Sebagai seorang ksatria, takdir seperti ini pasti terjadi. Bukankah kau sudah berdoa dan mengikat janji denganya bahwa kalian akan bertemu lagi di nirwana? " raja Shu mencoba menghindarkan raja Nano dari kesedihanya.
" Kau benar. Aku tak boleh menangisinya karena tugasnya sudah selesai dan dia pasti sudah bahagia di nirwana. Aku yakin para raja yang lain berpendapat sama setelah melihat istri mereka sekarang. " raja Nano menutup kembali wajah istrinya menggunakan kain putih.
Raja Shu mendekati mayat jendral Lazu yang mati dalam keadaan tersenyum. Raja Shu berkata, " Tugasmu sudah selesai pak tua. Sekarang bersenang-senanglah di nirwana. Serahkan sisanya pada kami. "
" Shu, aku tak melihat jasad Liliya. Apa dia masih hidup? " raja Nano mendekati raja Shu.
" Hidup atau mati aku pasti akan menemukan dia. Entah di dunia bawah maupun di nirwana kami pasti bertemu. " jawab raja Shu yang langsung keluar dari tenda.
Raja Nano yang tak paham dengan jawabanya, ikut keluar tenda.
" Yang muliaaa! Pria berjubah itu muncul lagi dan dia ada di depan parit! " teriak salah satu prajurit yang berlari menghampiri raja Shu dan raja Nano.
" Mari kita hadapi dia dan membalas kematian para pahlawan yang sudah gugur. " raja Shu menarik pedangnya namun langsung ditahan raja Nano.
" Pulanglah. Kau masih punya tugas disana. Biarkan aku sendiri yang membalaskan semuanya. " raja Nano menarik pedangnya.
" Tapi–, "
" Tenang saja, aku pasti mengalahkan orang itu dan aku akan menunggumu di nirwana juga. Pergilah Shu, serahkan wilayah barat ini padaku. " ucap raja Nano percaya diri sambil memberikan senyuman pada raja Shu.
" Baiklah, sampai jumpa lagi di kehidupan yang lain. " raja Shu langsung menghilang lagi dengan sihir teleportasinya.
Raja Nano berjalan perlahan menghampiri pria berjubah itu yang sedang dikepung oleh prajurit Uxolo.
" Kalian semua mundurlah! Dia bukan tandingan kalian! Persiapkan senjata dan formasi kalian! Setelah aku mengalahkanya, kita akan melakukan serangan terakhir ke musuh! Panggil seluruh pasukan yang tersisa dan bentuk formasi dibelakang perkemahan! " teriak raja Nano berjalan mendekati pria berjubah yang sedang dikepung pasukan.
Para pasukan yang mengepung pria itu langsung mundur dan mempersiapkan diri sesuai perintah.
" Hmh akhirnya ada lawan sepadan. Aku cukup bosan melawan ksatria-ksatria kelas rendah itu. Mereka hanya banyak bicara tapi kekuatanya lemah semua. " ejek pria berjubah melepas tudung kepala yang ia kenakan. Terlihat seorang bermata biru, berkulit putih dengan rambut merah.
" Kau kah yang selama ini dikabarkan setara dengan pemimpin Axis? " raja Nano menghentikan langkah lalu menodongkan pedangnya.
" Yaa..., Bisa dibilang begitu. Tapi sejujurnya aku sedikit lebih kuat dari dia loh, " ucap sombong pria berjubah.
Raja Nano hanya diam. Di lubuk terdalam hatinya tersimpan dendam atas kematian istrinya. Raut wajahnya terlihat sanhat murka sekali tapi ia tetap mencoba menahan diri sejenak.
Pria berjubah yang melihat raut wajah raja Nano langsung tersenyum kecil seperti ia mengetahui apa yang ada dipikiran raja Nano.
" Hmh, ksatria cantik berambut perak itu ternyata istrimu ya. Dan yang yang lainya juga para permaisuri ternyata. Pantas saja kemampuan mereka sangat menganggu sekali. Terlebih lagi jendral tua itu, dia nyaris saja berhasil membunuhku. Tapi untung saja aku bisa membunuh mereka lebih dulu. " oceh pria itu seakan tau segalanya dari raut wajah raja Nano.
" Haa, aku sangat benci pria yang mengoceh dan aku benci orang yang seenak hati membaca isi hati dan pikiranku menggunakan sihir kegelapan, " raja Nano semakin dibuat naik pitam mendengar ocehan pria itu.
" Heh, tenang saja aku akan mempertemukanmu dengan istrimu di dunia lain nanti, " pria itu mengeluarkan 2 pedang yang berada di pinggang kanan dan kiri.
" Aku harap begitu. Jika sampai aku tak bertemu dengan istriku, aku akan mencarimu di dasar neraka dan mencabik-cabik tubuhmu selamanya disana, " raja Nano mempersiapkan kuda-kudanya.
" Akan kunantikan itu. Aku Tenta ketua divisi tiga Axis menantang raja Uxolo untuk bertarung, " ucap pria bernama Tenta yang juga mulai mempersiapkan kuda-kuda.
" Sebagai seorang penjahat kau sopan sekali. Baiklah, Aku Nano juga siap bertarung melawanmu. " balas raja Nano.
***
Suasana di medan barat langsung hening saat raja Nano dan Tenta mulai bersiap untuk bertarung. Para pasukan Uxolo yang berada disana hanya terdiam menantikan pertarungan raja mereka.
Raja Nano langsung melesat memberikan 3 kali tebasan kearah Tenta. Tebasan itu berhasil Tenta hindari lalu ia membalas juga dengan 3 tebasan.
Mereka saling beradu pedang, terlihat Tenta sedikit lebih unggul dimana dia beberapa kali berhasil menggores baju zirah raja Nano. Selain itu, kecepatan dan kelincahan Tenta sangat unggul karena dia tak tak memakai baju besi.
Setelah beberapa saat beradu pedang, raja Nano yang pertahananya terbuka langsung dimanfaatkan Tenta dengan menendang dada raja Nano sampai membuatnya terpental.
Tak lama, raja Nano langsung berdiri lagi lalu melemparkan pedangnya kearah Tenta. Raja Nano mengambil 2 belatinya di pinggang dan menyerang lagi. Kali ini gerakanya lebih fleksibel dan kecepatanya semakin bertambah.
Tapi, serangan itu masih terlalu mudah di tangkis oleh Tenta. Alih-alih raja Nano mencari celah musuhnya, ia malah membuka celah besar yang membuat Tenta berhasil melayangkan 2 pukulan dan 1 tebasan yang untung saja tebasan Tenta hanya merusak baju besi raja Nano. Melihat kecerdasan Tenta memanfaatkan celah untuk menyerang, raja Nano melompat jauh ke belakang Tenta untuk menjaga jarak sembari mempersiapkan serangan selanjutnya.
" Sangat membosankan seranganmu. Apa hanya segitu kemampuan seorang raja? Aku tak melihat keseriusan dan rasa balas dendam di setiap seranganmu, " Tenta menodongkan pedangnya.
" Baiklah, kali ini aku serius! " raja Nano menancapkan 2 belatinya lalu ia memukul tanah dengan tangan kanan.
Dari tanah keluar bongkahan es lancip meluncur ke arah Tenta.
" Sihir tanpa rapal!? MAGIC : HELL FIRE!!! " kejut Tenta yang di susul serangan gelombang api darinya untuk menghalau bongkahan es lancip itu.
" DARK MAGIC : DARK BULLET! " Tenta merentangkan tangan kiri dan keluar bola-bola hitam yang langsung melesat kencang kearah raja Nano.
...Booom...! Booom...! Booom...!...
Bola-bola hitam itu meledak tapi raja Nano berhasil menghindarinya. Ia berlari kencang membawa 2 belati lalu kembali menyerang Tenta dari jarak dekat. Kali ini kecepatan raja Nano berbeda, setiap serangan belatinya mengalir juga energi sihir yang menambah kecepatan dan daya serang.
Serangan bertubi-tubi menggunakan belati itu kali ini membuat Tenta kualahan. Setiap 1 serangan yang ia tangkis tetap melukai tubuhnya karena efek sihir yang disalurkan di belati itu membuat raja Nano berhasil menggores dada Tenta 2 kali tapi Tenta membalas dengan tendangan telak di perut raja Nano yang sekali lagi membuatnya terlempar.
Raja Nano yang terlempar kembali bangkit dan melepaskan baju besinya yang sudah berantakan. Ia berlari lagi untuk menyerang. Lalu melemparkan 1 belati di tangan kiri dan mengeluarkan semacam sihir berbentuk tali yang terbalut api. Tali itu menyambung dengan belati yang ia lempar.
Tenta sendiri langsung maju mencoba menangkis belati berbalut api yang sedang melesat kearahnya.
...BOOOM...!!...
Saat pedangnya menyentuh belati, seketika belati itu meledak dahsyat yang membuat Tenta terlempar dengan luka bakar di tangan kanannya.
" Sialaaaan! Kau pikir cuma kau yang bisa menggunakan sihir tanpa merapal! " Tenta merentangkan kedua tangan dan muncul sangat banyak sihir kegelapan berbentuk bola. Bola itu langsung ia tembakan ke arah raja Nano yang sedang berlari menuju kerahanya.
Rentetan ledakan dari bola itu berhasil raja Nano hindari tapi ia kehilangan pandangan karena efek ledakan tadi membuat debu-debu beterbangan hingga menutup pandangannya.
Tenta memanfaatkan kondisi itu untuk memulihkan diri menggunakan sihirnya. Setelah luka bakarnya sembuh, ia langsung masuk ke dalam kepulan debu.
" Mari lanjutkan! " Tenta tiba-tiba berada di depan raja Nano dan langsung melancarkan tebasan.
Raja Nano yang terkejut tak sempat menghindar hingga membuat mata kirinya terkena tebasan itu. Ia berlutut memegangi wajah bagian kiri dan saat hendak menyerang balik, Tenta sendiri malah langsung menyerangnya lagi tapi raja Nano kali ini berhasil menahan dengan belati.
Kepulan debu itu perlahan memudar dan nampak kembali Tenta dengan jubah yang sudah koyak menatap tajam raja Nano dari kejauhan. Raja Nano sendiri dengan wajah berlumur darah mengeluarkan sihir es di belati kiri dan sihir api di belati kanan.
Tenta tak kehabisan akal, ia juga mengeluarkan sihir kegelapan yang membalut pedangnya. Dan mereka berdua langsung bertarung lagi.
Setiap benturan dari senjata mereka membuat ledakan yang menggetarkan medan barat. Raja Nano maupun Tenta saling serang dan berkali-kali mereka berdua berhasil saling melukai.
Tak berselang lama Tenta langsung meloncat kebelakang. Tubuhnya penuh luka dan darah melumuri sekujur tubuh. Jubah yang menutupinya juga sudah hilang hingga membuatnya bertelajang dada.
Tak jauh beda dari Tenta, kondisi raja Nano juga sama. Sekujur tubuh penuh luka dan baju yang ia kenakan juga hancur dan ia juga bertelanjang dada.
" Kau serius juga akhirnya. Tapi ini baru awal. " Tenta tersenyum jahat. Ia mengambil pil hitam dari sakunya lalu menelanya.
" HYAAAAAAAAAAA...!!! " Tenta berteriak keras sampai menciptakan gelombang angin kencang yang menghantam sekitar. Tubuhnya membesar dengan mata memerah. Energi sihirnya meningkat pesat bahkan sampai membuat beberapa prajurit Uxolo yang tak memiliki energi sihir dapat merasakanya.
" Pil itu lagi ya? " desis raja Nano sambil mencoba menarik nafas dalam untuk menstabilkan pernapasanya.
Tenta melesat cepat langsung memberikan pukulan telak ke dada raja Nano dan membuatnya terguling beberapa kali kebelakang. Ia memuntahkan darah begitu banyak dan merasakan sakit luar biasa di dada.
Tak selesai disitu, Tenta berlari lagi mencoba menyerang kembali. Dalam keadaam terluka parah, raja Nano berhasil mengjindari serangan itu lalu meloncat berkali-kali menjauhi tempat berdirinya Tenta.
" Heal. " raja Nano mengobati dadanya dengan sihir penyembuh yang ia pelajari dari raja Han. Walaupun sihir penyembuhanya masih terbilang tidak sempurna, tapi setidaknya bisa mengurangi rasa sakit.
Tapi, Tenta sepertinya ingin segera menyelesaikan pertarungan itu. Ia berlari menuju raja Nano sembari meluncurkan bola-bola sihir hitam ke arah raja Nano.
Raja Nano yang masih belum pulih hanya bisa berlari menghindar dan sesekali ia juga menyerang Tenta dengan sihirnya.
Tenta yang muak mengejar, langsung melompat jauh dengan cepatnya dan ia tepat mendarat di depan raja Nano. Tanpa sepatah kata, ia langsung menyerang raja Nano bertubi-tubi menggunakan tangan kosong. Raja Nano hanya bisa bertahan dan menghindar tapi semuanya sia-sia. Serangan Tenta tak dapat ia bendung lagi dan akhirnya beberapa pukulan telak melayang lagi ke tubuh raja Nano dan langsung membuatnya terpental menabrak sebuah pohon.
Darah keluar lagi dari mulutnya. Tubuh penuh luka dan berlumur darah itu sudah mati rasa. Yang raja Nano bisa gerakan hanyalah matanya saja. Ia melihat Tenta yang sudah berdiri 50 meter di depannya dengan senyum kemenangan di raut wajah.
" Semua sudah berakhir, " Tenta berjalan perlahan mendekati raja Nano. " Akan ku kirim kau ke tempat istrimu berada. "
" Li–cik sekali kau, " tatap tajam raja Nano pada Tenta.
" Dalam pertarungan, siapa yang licik dialah yang menang. Tak ada peraturan yang adil demi menyelamatkan nyawa sendiri bukan? "
" Heh. Wahai Dewi pemilik hati ini, wahai Dewi yang membelenggu jiwa ini, wahai Dewi yang memerangi segala kejahatan demi kasih sayang, wahai Dewi perang Athena. Sesungguhnya hari ini aku akan mengambil cinta terakhirmu untuk menegakkan kasih sayangmu di dunia ini. Wahai dewi yang memberiku rasa cintamu, berikanlah berkah dan anugrahmu untuk mensucikan kembali dunia kotor ini! " desis pelan raja Nano.
setelah ucapan itu, seketika langit yang merah itu tertutup awan hitam. Petir menyambar dimana-mana, angin kencang mengombang ambingkan tempat itu.
Tenta yang merasa ada yang aneh dengan ucapan raja Nano langsung menjauh darinya lalu melihat keadaan sekitar.
" Sialaaaan! Apa yang sedang kau rencanakan!? " pekik Tenta yang penuh emosi.
Tak lama, sebuah butiran-butiran cahaya biru bagaikan kunang-kunang turun dari gelapnya awan hitam itu. Cahaya itu turun mengerumuni tubuh raja Nano dan tak disangka, raja Nano bisa berdiri lagi walau tetap saja lukanya yang parah tak bisa sembuh. Cahaya itu berkumpul di tangan kanan yang perlahan memadat lalu berubah menjadi sebuah tombak emas.
" Jadi itu anugrah yang diberikan jika dicintai salah satu dewa ya? " cetus Tenta. " Majulah!! Walaupun kau dibantu dewa sekalipun, tak akan ada yang bisa mengalahkan kekuatan yang diberikan oleh dewi Tiamat dan raja iblis kami! "
" Wahai tombak dari dewi tercintaku, atas perintahku dan kasih sayang dewi Athena, terbanglah dan sucikanlah lagi dunia yang telah ternodai ini. Meluncurlah HEAVENLY SPEAAAAAR...!!! " raja Nano melemparkan tombak itu kearah Tenta.
Tombak emas yang terlapisi cahaya biru itu melesat cepat menuju Tenta.
" Kupikir kau akan bertarung lagi dengan tombak itu tapi ternyata ini serangan terakhirmu! Kalau begitu aku gunakan kekuatan terakhirku juga! " Tenta memadatkan kekuatan kegelapan di kedua tangan hingga membentu sebuah bola sihir hitam yang menyimpan energi sihir amat besar. " HEL FERNIEELEEER...! "
Bola sihir hitam itu ia dorong kedepan berhadapan dengan tombak yang sudah dekat kearahnya.
...BOOOOOOOOM...!!!...
Bola hitam itu mengeluarkan sinar hitam yang langsung menghantam tombak hingga menciptakan ledakan dahsyat sampai menguncang tempat itu.
Dua kekuatan saling berbenturan dan terlihat tombak emas tertahan oleh sinar hiam yang terus mendorong tombak itu kebelakang.
" Hahahahahaha kau lihat!? Bahkan tombak milik dewa sekalipun tak akan sanggup melawan kekuatan dewi Tiamat kami! " cibir Tenta dengan sombongnya.
" Belum selesai, " raja Nano berlari dan memegang tombaknya yang masih melayang tertahan sihir Tenta. " Apapun yang terjadi! Tak akan kubiarkan orang sepertimu tetap hidup di dunia ini! Demi tetesan darah istriku dan para pasukanku yang mati ditanganmu! Akan kukirim kau ke dasar neraka bersama dosa-dosamu itu!!! Majulah HEAVENLY SPEAAAAAAR! HYAAAAAAAAAAAAA...! "
Raja Nano berhasil mendorong tombaknya melewati sihir hitam itu.
" Kaulah uang akan kukirim ke neraka sialaaaaaaan!!! " Tenta mempusatkan seluruh energi sihirnya ke sihir terakhirnya.
...BOOOOOM...!...
Ledakan dahsyat kembali terjadi membuat daerah sekitarnya hancur. Tenda-tenda pasukan Uxolo maupun musuh terbang. Hujan dan badai petir menyambar dimana-mana hingga membuat pepohonan banyak yang terbakar. Sedangkan para pasukan dari musuh maupun Uxolo banyak yang terluka entah tertimpa pohon, tersambar petir, dan beberapa pasukan mengalami tuli karena suara dari ledakan itu.
Asap hitam bercampur putih mengepul di area pertarungan mereka. Belum terlihat siapa diantara mereka yang berhasil memenangkan pertarungan.
Para prajurit Uxolo yang selamat berlari mendekati area pertarungan sambil memangil-manggil nama raja Nano.
Karena cuaca sedang hujan, asap yang mengepul itu perlahan hilang dan terlihat dua orang yang sedang berdiri dengan salah satu diantaranya tertancap tombak dibagian perut. Ya, orang itu adalah Tenta.
" Heh, ku-tunggu ka-u di dasar nera– " ucap Tenta dengan mulut yang sudah berlumur darah.
Tombak di perut Tenta perlahan memudar kembali menjadi butiran cahaya lalu menghilang. Ia merepalkan tangan kanan lalu mengangkatnya keatas sebagai randa bahwa ia menang.
Sorak sorai pasukan Uxolo kegirangan melihat raja mereka masih hidup dan berhasil memenangkan pertarungan.
Tapi semua belum berakhir, dari kejauhan tampak pasukan musuh mulai berdatangan untuk menyerang. Pasukan musuh memanfaatkan pertarungan itu untuk menyerang.
Ekspresi pasukan Uxolo yang awalnya bahagia berubah tegang lagi. Mereka kebingungan harus mundur ataukah menyerang. Selain itu, mereka tak punya pemimpin pasukan lagi selain raja Nano yang sekarang sedang terluka parah. Dan akhirnya pasukan Uxolo banyak yang berteriak untuk mundur.
" Mau kemana kalian!! " teriak raja Nano yang menghentikan langkah pasukan Uxolo yang hendak mundur.
" Apa kalian lupa bendera merah di lengan kalian itu!? Apa kalian akan menghianati rekan-rekan kalian yang sudah gugur dengan lari dari pertarungan!? Kalian sudah berjanji sebagai ksatria dibawah bendera merah itu! Kalian sudah berjanji memberikan nyawa kalian dibawah bendera merah itu! Lalu untuk apa kalian lari!! Biarkanlah bendera merah di lengan kalian itu membasahi tubuh kalian dengan merah darah dari perang ini! Angkatlah senjata kalian semuaaaa...!!! Bangkitlah seluruh ksatria Uxolo!!! Majuuuuu...! " dengan gagah berani walau tubuh sudah tak berdaya, raja Nano yang hanya membawa belati langsung maju menuju kerumunan musuh.
Keberanian raja Nano seketika tersalur ke seluruh pasukan. Darah mereka seakan terbakar dan langsung ikut berlari menyerang musuh.
Perang terakhir di wilayah baratpun dimulai. Walaupun jumlahnya kalah, tapi pasukan Uxolo berhasil mengungguli musuh. Satu persatu musuh mereka tumbangkan.
Begitu pula dengan raja Nano. Ia berada di barisan paling depan dengan sisa-sisa tenaga mampu menumbangkan puluhan prajurit walau sesekali tubuhnya berhasil tergores pedang.
Selama 2 jam pasukan Uxolo yang kalah jumlah berhasil memukul telak pasukan musuh. Bersama raja Nano, pasukan Uxolo perlahan maju menuju barisan terakhir pasukan musuh. Tapi, ditengah peperangan, sebuah anak panah menerjang leher raja Nano. Panah itu menancap tepat di tengah leher sang raja.
Para pasukan Uxolo yang melihat langsung membentuk barisan memutar demi melindungi sang raja yang sudah sedang berlutut sambil menahan rasa sakit.
Para pasukan yang moralnya perlahan merosot melihat rajanya terluka terus berteriak kepada raja Nano dan menyuruh raja untuk mundur.
Alih-alih mundur, raja Nano mengambil pedang dari mayat musuh yang tergeletak di sampingnya lalu ia berdiri lagi. Walaupun tak bisa bersuara lagi, raja Nano langsung melompat keluar barisan dan menerjang musuh lagi.
Semangat raja Nano menaikan moral pasukan. Para pasukan langsung ikut maju kedepan mengiringi raja Nano dan ada beberapa prajurit yang rela menjadi tameng hidup raja Nano hingga gugur.
Melihat semangat pasukan Uxolo yang tak turun, banyak pasukan musuh yang berlarian meninggalkan medan perang. Sedangkan para petinggi dan raja di pihak musuh hanya terdiam dari kejauhan melihat keberanian raja Nano.
Tak disangka setelah beberapa menit angin segar menghampiri pasukan Uxolo. Para petinggi aliansi musuh mengibarkan bendera hijau sebagai simbol negosiasi. Para pasukan langsung berhenti berperang begitupun raja Nano.
Utusan petinggi musuh datang menghampiri raja Nano dan memberitahukan bahwa mereka ingin bernegosiasi dengan raja Nano. Awalnya raja Nano menolak dengan menggelengkan kepalanya karena ia masih berpegang teguh dengan kesetiaanya pada bendera merah Uxolo. Tapi ia berubah fikiran saat melihat pasukanya. Ia seketika berfikir bahwa di kota, keluarga mereka pasti sedang menunggu kepulangan pasa pasukan. Karena hal itu, raja Nano akhirnya berubah fikiran.
Keadaan raja Nano yang tak bisa bicara lagi karena anak panah yang masih tertancap di lehernya. Dengan bahasa isyarat ia terpaksa menyuruh salah satu prajurit yang merupakan ksatria muda untuk bernegosiasi.
Setelah hampir 30 menit bernegosiasi, ksatria muda itu kembali dengan senyum bahagia yang tak dapat ia sembunyikan lagi.
Ia mengatakan bahwa para pemimpin musuh takjub dengan perjuangan para pasukan Uxolo. Ia juga mengatakan bahwa pasukanya mengalami kerugian besar di perang sebelumnya dimana banyak sekali pasukan mereka yang gugur. Dan karena tak ingin mengalami kerugian besar, mereka memilih mundur dan mengakui kekalahan.
Kabar ksatria muda itu langsung disambut bahagia para pasukan. Tangis haru tak terbendung dari para pasukan. Mereka saling berpelukan dan saling bertukar kata tentang keinginan mereka setelah pulang nanti. Ada yang ingin menikah, ada yang ingin pensiun dari militer, ada yang ingin hidup bahagia bersama anak dan istrinya di desa, dll.
Ditengah kegembiraan itu, raja Nano tersenyum untuk terakhir kalinya lalu tumbang di hadapan para pasukan. Ia menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tersenyum dan raut wajahnya menggambarkan kelegaan dan kepuasan walaupun anak panah itu masih tertancap di leher.
Tumbangnya sang raja membuat perasaan para pasukan bercampur aduk antara bahagia dan sedih. Mereka bahagia bisa memenangkan perang dan kembali dengan selamat, tapi mereka juga sedih atas kepergian sang raja yang telah menunjukan mereka jalan hidup sebagai ksatria sejati.
Tangisan prajurit mengiringi kepergian sang raja. Ia dibawa ke kota Axel bersamaan dengan penarikan pasukan Uxolo dari medan barat yang sudah luluh lantak karena perang.
Awalnya para pasukan Uxolo ingin membawa mayat raja Nano beserta para jendral dan permaisuri ke kota Sofya. Tapi, karena keadaan kota Sofya yang masih dalam peperangan, akhirnya mereka memutuskan memakamkan sang raja beserta para permaisuri dan jendral di kota Axel.
Raja Nano di makamkan bersamaan dengan istrinya di satu liang lahat. Dan di belakang makam mereka, ada makam para jendral serta permaisuri yang lain. Para penduduk kota Axel dan luar kota Axel terus berdatangan untuk memberi penghormatan kepada raja mereka.
Sedangkan untuk para prajurit Uxolo yang gugur, mereka di makamkan di medan barat bekas peperangan. Para pasukan yang masih hidup berinisiatif untuk menjadikan bekas lahan peperangan itu menjadi tempat makam pahlawan sebagai penghormatan terakhir untuk rekan-rekan mereka yang gugur.
To be Continue...
bau" mo tamat..
ahahahah suka bat liat ryuro tersiksa