NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021 - Kencan di Pantai Kenjeran

Setelah kabar kembar, Arya menghentikan semua jadwal yang bisa ditunda selama satu hari.

Tidak ada kantor pengacara.

Tidak ada Polres.

Tidak ada pembicaraan Hartono.

Pagi itu, ia hanya menyiapkan topi lebar, air mineral, obat mual, camilan, dan sandal nyaman untuk Kirana.

Kirana berdiri di depan lemari dengan gaun putih longgar.

"Kita benar-benar ke pantai?"

"Iya."

"Aku makin gampang capek."

"Kita jalan pelan. Kalau capek, duduk. Kalau lapar, makan. Kalau marah, aku diam."

Kirana menatapnya dari cermin. "Kamu sudah latihan?"

"Sejak menikah."

Ia tertawa kecil.

Pantai Kenjeran masih sepi saat mereka tiba. Udara asin menempel di kulit. Beberapa perahu nelayan bergerak jauh di air. Warung kecil baru membuka tikar, bau ikan bakar dan kopi hitam mulai keluar.

Arya memilih jalur yang datar.

Kirana melepas sandal, lalu ragu.

"Boleh?"

"Pelan. Aku pegang."

Mereka berjalan di pasir basah. Kirana menatap laut lama sekali, seperti sedang memastikan dunia masih punya bagian yang tenang.

"Aku hampir lupa rasanya jalan tanpa takut orang melihat," katanya.

Arya menggenggam tangannya.

"Hari ini kalau orang melihat, biarkan. Kita sedang berkencan."

"Suami istri berkencan?"

"Lebih hemat. Tidak perlu antar pulang."

Kirana memukul lengannya pelan.

Mereka duduk di bangku dekat warung. Arya memesan rujak cingur tanpa terlalu pedas, kelapa muda, dan pisang goreng. Kirana makan pelan. Setelah beberapa suap, wajahnya lebih cerah.

"Aku kangen begini."

"Makan?"

"Hidup."

Arya berhenti mengupas pisang.

Kirana menatap laut.

"Beberapa minggu ini hidup kita cuma takut, bukti, keluarga, polisi, dokter. Aku tahu semua penting. Tapi aku juga ingin punya hari yang bisa kuingat tanpa menangis."

Arya mengambil ponsel.

"Kalau begitu kita simpan hari ini."

Ia memotret Kirana saat gadis itu tertawa, saat melihat laut, saat menahan topi dari angin, saat menunduk menyentuh perut.

Kirana protes setelah foto kelima belas.

"Arya, cukup."

"Tidak cukup."

"Kamu mau buka studio?"

"Aku sedang mengumpulkan bukti."

"Bukti apa?"

"Bahwa istriku cantik saat hamil."

Kirana memerah. "Gombal."

"Data visual."

Mereka tertawa sampai Kirana harus memegang perut.

Arya langsung berhenti tertawa.

"Sakit?"

"Tidak. Mereka cuma protes karena ayahnya terlalu heboh."

"Mereka?"

Kirana menyentuh perutnya. "Dua orang kecil di sini."

Arya menunduk, lalu berbicara dekat perutnya.

"Zahra, Raka, kalau kalian dengar, ayah kalian hari ini sedang mencoba jadi romantis."

Kirana menahan senyum. "Kita belum tahu jenis kelaminnya."

"Aku sedang latihan semua kemungkinan."

"Kalau dua perempuan?"

"Zahra dan Aisha."

"Kamu sudah siapkan?"

"Aku membaca daftar nama semalam."

Kirana menatapnya lama.

"Kamu benar-benar memikirkan hal-hal kecil."

"Hal kecil sering menyelamatkan hari besar."

Kirana melihat laut lagi.

"Kalau nanti kita resmi di KUA, aku ingin Mama datang."

"Pasti."

"Om Agus juga."

"Dia akan duduk paling depan dan menilai semua orang."

Kirana tertawa.

"Bapak Hendra?"

"Beliau akan pura-pura tegas lalu menangis diam-diam."

"Ibu Sri?"

"Menangis sejak pagi."

Kirana memejamkan mata sebentar. "Aku ingin hari itu terjadi tanpa rasa malu."

Arya tidak menjawab cepat.

"Aku akan bantu membuat hari itu layak kamu ingat."

Setelah makan, mereka membeli es kelapa untuk dibawa duduk di bawah pohon. Arya mengirim satu foto Kirana ke grup keluarga.

Ibu Sri membalas dalam lima detik.

Cantik sekali menantuku.

Bapak Hendra membalas lebih singkat.

Jangan terlalu lama di luar.

Ibu Ratna mengirim pesan suara.

"Kirana, jangan minum es terlalu banyak. Nak Arya, awasi dia. Laut boleh dilihat, angin malam jangan ditantang."

Kirana tertawa sambil menyimpan ponsel.

"Sekarang semua orang mengawasiku."

"Bagus. Aku punya tim."

"Tim yang sangat cerewet."

"Tim keluarga."

Menjelang sore, Arya membawa Kirana ke dermaga kayu tua di ujung pantai. Ia sudah memastikan jalurnya aman. Langkah mereka lambat. Di belakang, langit mulai berubah warna.

Kirana berhenti di tengah dermaga.

"Capek?"

"Sedikit. Tapi indah."

Arya berdiri di hadapannya.

Angin mengangkat ujung hijab Kirana. Di wajahnya ada lelah, bahagia, dan sisa luka yang belum hilang sepenuhnya.

Arya memasukkan tangan ke saku.

Kotak kecil itu sudah ia bawa sejak konfrontasi pertama dengan Denny di kampus. Sejak cincin itu dibeli di Surya Jewellery, hidup mereka berlari terlalu cepat. Nikah siri datang karena tekanan. Tanggung jawab datang karena keadaan.

Hari ini ia ingin memilih dengan sadar.

"Kirana."

Kirana menatapnya.

"Kenapa serius?"

Arya berlutut satu kaki.

Mata Kirana membesar.

"Arya..."

Ia membuka kotak cincin.

Batu di tengahnya menangkap cahaya matahari sore. Tidak perlu kata mewah. Kilau itu sudah cukup membuat Kirana menutup mulut.

"Kita sudah menikah secara agama. Kita sedang urus yang resmi. Banyak orang mungkin mengira semua ini terjadi karena keadaan memaksa."

Arya menarik napas.

"Aku memang harus bertanggung jawab. Tapi hari ini aku ingin bertanya karena aku memilihmu. Karena aku ingin berjalan denganmu saat sulit, saat tenang, saat dua anak kita lahir, saat kita mulai tua."

Air mata Kirana turun.

"Kirana Putri Ayu, maukah kamu menikah denganku secara resmi, dengan hati yang sama-sama memilih?"

Kirana menangis sambil tertawa.

"Kamu tanya setelah aku hamil kembar?"

"Timing-ku memang kacau."

"Sangat kacau."

"Jawabannya?"

Kirana mengulurkan tangan.

"Iya. Seribu kali iya."

Arya memasangkan cincin itu di jari manisnya.

Ukurannya pas.

Beberapa orang di dermaga menoleh. Seorang ibu bertepuk tangan duluan. Dua anak kecil ikut bertepuk tanpa paham. Penjual kelapa di ujung dermaga bersiul.

Kirana menutup wajah ke dada Arya.

"Malu."

"Kamu baru saja dilamar."

"Aku sudah istrimu."

"Sekarang kamu istri yang dilamar dengan benar."

Kirana mengusap pipinya.

"Aku mau kirim foto ke Mama."

"Sekarang?"

"Sekarang."

Arya mengambil foto tangan Kirana dengan cincin, latar belakang laut, dan ujung gaun putihnya. Kirana mengirimnya ke Ibu Ratna.

Balasan datang satu menit kemudian.

Bagus. Jangan hilangkan. Cincin mahal tanggung jawabnya juga mahal.

Arya membaca pesan itu dan langsung menegakkan punggung.

"Mama-mu menakutkan lewat chat."

"Aku sudah bilang."

Kirana menyandarkan kepala ke lengannya.

"Tapi dia senang."

"Aku tahu."

Untuk pertama kalinya setelah banyak badai, Arya merasa lingkaran keluarga itu tidak lagi penuh lubang. Masih banyak retak. Namun semua orang mulai memegang sisi masing-masing.

Panel sistem menyala di tepi pandangan Arya.

【Tonggak emosional tercapai.】

【Hadiah: harmoni pasangan +500.】

【Atribut tersembunyi dibuka: Perisai Cinta.】

【Efek: sensitivitas terhadap emosi pasangan meningkat.】

Arya melihat sekilas, lalu membiarkannya hilang.

Untuk sekali ini, ia tidak ingin membaca terlalu lama.

Di depannya, Kirana sedang memandangi cincin sambil menangis.

Itu sudah hadiah paling jelas.

Saat pulang, Kirana tertidur di kursi penumpang. Matahari terakhir jatuh di wajahnya dan di cincin baru di jarinya.

Arya menyetir pelan.

Ia melihat jalan, lalu melihat Kirana sebentar.

Sekarang mereka punya janji.

Yang tersisa: KUA, pernikahan resmi, anak kembar, Hartono, dan masa depan yang belum punya bentuk.

Hari itu indah.

Besok, ia harus kembali menjadi lebih kuat.

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!