NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

UHUK!

​Yunche mendadak tersedak hebat hingga matanya berair. Ruowei tertawa lepas sambil menepuk-nepuk punggungnya.

​"Gila kau, ya?!" seru Yunche setelah bisa bernapas lega. "Mana mungkin!"

​"Kenapa tidak mungkin?"

​Yunche menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk ke arah kediaman utama. "Lihat aku, lalu lihat dia. Perbedaannya seperti bumi dan langit. Dia jenius kebanggaan, sedangkan aku hanya sampah yang tertahan di Pengumpulan Qi tingkat dua. Kami berasal dari dunia yang berbeda."

​Ruowei mendadak bungkam. Tatapan jenaka di matanya surut, digantikan rasa simpati. Kali ini, nada bicara Yunche tidak mengandungi kebohongan atau gurauan sama sekali.

​"Jangan sebut dirimu sampah, Yunche," tegur Ruowei pelan.

​Yunche hanya tersenyum tipis. "Itu kenyataan."

​Sore harinya, langkah kaki Gu Qingli tanpa sadar membawanya menyusuri area halaman belakang keluarga Shen. Padahal, tidak ada alasan khusus baginya untuk berada di sana. Namun, kakinya seolah bergerak sendiri menuju tempat Yunche biasa berlatih.

​Tempat itu sepi dan kosong.

​Gu Qingli menatap tanah yang masih menyisakan bekas pertempuran mereka beberapa hari lalu—bekas pijakan kaki yang berantakan dan goresan pedang kayu di tanah. Kenangan lucu saat dia mengajari Yunche mendadak terlintas di pikirannya, membuat sudut bibirnya terangkat tipis.

​Namun begitu menyadari dirinya tersenyum, Gu Qingli bergegas menepisnya. "Apa yang sedang kupikirkan?" gumamnya seraya berbalik hendak pergi.

​"Gu Qingli?"

​Suara yang tak asing memanggilnya dari belakang. Gu Qingli berbalik dan menemukan Yunche berdiri di sana sambil menggenggam dua buah apel merah segar.

​Yunche menyodorkan salah satu apel itu padanya. "Ini untukmu."

​Gu Qingli menatap apel itu heran. "Untuk apa?"

​"Balasan karena kau sudah memberiku obat yang sangat manjur kemarin."

​"Aku memberikannya tanpa meminta balasan."

​"Aku tahu, tapi ambil saja," desak Yunche.

​Gu Qingli menghela napas pelan lalu menerima apel tersebut. "Terima kasih."

​Mereka berdua berdiri berdampingan di bawah temaram angin sore, mengunyah apel masing-masing dalam hening.

​"Kau... mencariku?" tanya Yunche ragu-ragu.

​Gu Qingli refleks menegang. "Siapa yang mencarimu? Aku cuma kebetulan lewat."

​"Oh, Ruowei bilang kau mencariku pagi tadi."

​"Dia salah dengar," sahut Gu Qingli cepat, menggigit apelnya untuk mengalihkan perhatian.

​Beberapa detik berlalu dalam kecanggokan sebelum Yunche membuka suara lagi. "Bagaimana latihanmu dengan Xiao Hanzhou?"

​"Bagus. Dia mengajariku banyak hal."

​"Baguslah," senyum Yunche tulus. "Dia orang yang sangat kuat."

​Gu Qingli menghentikan kunyahannya dan menatap Yunche lekat. "Shen Yunche."

​"Hm?"

​"Kenapa pagi tadi kau langsung pergi begitu saja?"

​Yunche tertegun sejenak. "Sebab... kulihat kau akan berlatih dengan Xiao Hanzhou. Jadi aku memilih pergi."

​"Kau marah padaku?"

​"Marah? Tentu saja tidak!" sahut Yunche kaget.

​"Lalu kenapa kau pergi tanpa menungguku?"

​Yunche menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, kebingungan merangkai kata. "Sebab... aku merasa kehadiranku tidak dibutuhkan lagi di sana. Jika kau sudah punya rekan berlatih yang jauh lebih kuat, aku tidak mau mengganggu momen latihanmu."

​Gu Qingli terpaku mendengar jawaban itu. Angin sore berembus pelan, menerbangkan helai rambutnya.

​"Kau tidak mengganggu," ujar Gu Qingli pelan namun tegas.

​Yunche menaikkan alisnya heran. "Apa?"

​Gu Qingli menatap lurus ke dalam mata Yunche. "Aku bilang, kau tidak pernah mengganggu. Aku memang bisa berlatih dengan Kakak Xiao kapan saja... tetapi aku juga tetap ingin berlatih bersamamu."

​Kata-kata tulus itu membekukan Yunche seketika. Untuk beberapa detik, dia lupa cara mengunyah apel di mulutnya.

​Melihat Yunche yang menatapnya tanpa kedip, wajah Gu Qingli mendadak merona. "Kenapa menatapku seperti itu?!"

​Yunche buru-buru memalingkan wajahnya yang ikut memanas. "Ti-tidak ada! Aku cuma heran... apelmu sepertinya lebih besar dari punyaku."

​Gu Qingli memeluk apelnya protektif. "Enak saja, jangan coba-coba minta tukar!"

​Yunche tertawa lepas melihat reaksi menggemaskan itu. "Nah, begitu dong! Sudah kembali galak seperti biasa."

​Gu Qingli menyipitkan mata gemas, tetapi sudut bibirnya tak bisa berbohong—seulas senyum tipis terukir indah di wajahnya. Dan kali ini, Yunche melihatnya dengan jelas.

​"Qingli."

​Sebuah suara tenang memecah suasana hangat itu. Xiao Hanzhou berdiri di ujung jalan setapak, menatap mereka berdua yang berdiri berdekatan dengan apel di tangan masing-masing.

​Yunche melambaikan tangannya ramah. "Hei, Xiao Hanzhou! Qingli bilang besok dia mau latihan denganku lagi, lalu baru latihan bersamamu!"

​Xiao Hanzhou menatap Gu Qingli. "Benarkah begitu, Qingli?"

​Gu Qingli mengangguk pelan. "Iya."

​Xiao Hanzhou tersenyum tipis, meski kilat matanya mendingin. "Baiklah."

​Yunche melangkah mundur seraya melambaikan tangan. "Kalau begitu aku pulang dulu! Sampai jumpa besok pagi, Qingli!"

​"Jangan terlambat lagi esok!" seru Gu Qingli mengingatkan.

​"Akan kuusahakan!" tawa Yunche memecah hening sore saat sosoknya menghilang di belokan lorong.

​Malam harinya...

​Gu Qingli duduk di tepi jendela kamarnya, menatap bulan paruh di langit malam. Di tangannya, tersisa separuh apel pemberian Yunche. Rasa manisnya masih tertinggal di lidah.

​Namun, bayangan senyum konyol Yunche mendadak buyar ketika pertanyaan Xiao Hanzhou kembali terngiang di ingatan: Jika suatu hari nanti kau harus memilih antara dia atau aku... siapa yang akan kau pilih?

​Gu Qingli menghela napas panjang, menatap rembulan yang kian tinggi. "Kenapa aku bahkan tidak bisa menjawabnya dengan tegas?" bisiknya pada diri sendiri.

​Sementara itu, di sebuah penginapan terkemuka di Kota Qinghe...

​Zhou Minghao duduk bersandar di kursi mahoni, mendengarkan laporan dari seorang tetua keluarga Zhou yang berdiri membungkuk di hadapannya.

​"Bagaimana hasilnya?" tanya Zhou Minghao datar.

​"Lapor Patriark Muda," tutur tetua itu pelan. "Keluarga Shen memang sedang terdesak mengenai hak tambang Batu Roh Gunung Qingmu. Namun... ada hal lain yang sangat mencurigakan."

​Zhou Minghao menaikkan alisnya. "Hal apa?"

​"Ini mengenai sampah keluarga Shen itu... Shen Yunche."

​"Ada apa dengannya?"

​Tetua itu menurunkan volumenya, berbisik misterius. "Berdasarkan catatan medis rahasia yang berhasil kami dapatkan... saat Shen Yunche berusia delapan tahun, seluruh meridian spiritualnya telah hancur total akibat insiden misterius. Secara medis dan teori kultivasi, dia seharusnya menjadi cacat permanen yang tidak akan pernah bisa menyerap energi spiritual seumur hidupnya."

​Zhou Minghao mendadak berdiri tegak dari kursinya, matanya membelalak tak percaya. "Apa katamu?! Meridiannya hancur total?!"

​"Benar, Tuan Muda."

​"Lalu kenapa dia masih bisa menyerap energi dan bertarung hingga ranah Pengumpulan Qi tingkat dua?!"

​Tetua itu menggeleng pasrah. "Kami belum menemukan jawabannya. Ada rahasia besar yang tersembunyi di dalam tubuh pemuda itu."

​Zhou Minghao mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap ke arah Gunung Qingmu di kegelapan malam. Tatapan meremehkannya pada Yunche kini sirna, berganti dengan rasa curiga dan kewaspadaan yang mendalam.

​Tanpa ada seorang pun yang menyadari, jauh di dalam dasar meridian Shen Yunche yang dianggap hancur... sebuah segel kuno yang tertidur selama bertahun-tahun perlahan-lahan mulai retak dan bergetar halus.

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!