Shafira Nareswari sangat bahagia ketika sang kekasih, Marshal telah selesai studynya di New York. Dia berharap ada kelanjutan atas hubungannya setelah kepulangan sang kekasih. Berhubungan selama 5 tahun membuat Shafira meyakini bahwa Marsal cocok untuk menjadi pendamping hidupnya.
Akan tetapi keluarga Marshal sangat tidak setuju dengan hubungan mereka. Marshal merupakan anak dari seorang pengusaha kaya Tuan Rusdi Hartono pemilik perusahaan Hartono Group. Setelah mengetahui bahwa Shafira hanya wanita biasa dan hanya hidup sebatang kara Papa Marshal tidak menyetujui hubungan mereka atas dasar menyangkut nama baik keluarga Hartono
Disisi lain Leo Hariwijaya, seorang CEO muda menerima sepenuhnya Shafira untuk menjadi pendamping hidup begitupun keluarganya.
Siapakah yang akan menjadi pendamping hidup Shafira yang sesungguhnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opick Juga Sofia Fuadah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu Malu Kucing
Shafira langsung keluar dari kantor dan menghentikan sebuah taxi. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan Shafira tiba disebuah gedung dan terpapang jelas nama Hariwijaya Group pada sisi depan gedung tersebut. Menyodorkan beberapa lembar uang kepada sopir taxi tersebut kemudian bergegas masuk ke gedung tersebut.
Terlihat seorang reseptionis langsung berdiri dan menyambut kedatangan Shafira dengan senyuman.
" Selamat datang di perusahaan kami, ada yang bisa saya bantu ?" tanya reseptionis tersebut.
" Oh iya mbak, saya Shafira dari Cokro Group sudah ada janji dengan pimpinan Hariwijaya Group untuk menyerahkan beberapa berkas dokumen" ucap Shafira.
" Baik sebentar ya mbak " Reseptionis tersebut langsung menghubungi seseorang.
" Maaf mbak, mbak boleh langsung ke ruangan atasan kami, nanti akan ada sekretaris pribadinya yang akan menjemput mbak,"
"Oh iya saya tunggu disitu dulu aja mbak " jawab Shafira menuju sebuah sofa.
Beberapa menit kemudian datanglah seorang wanita menghampiri Shafira. Dia memperkenalkan diri sebagai sekretaris pribadi pimpinan Hariwijaya Group. Shafira kemudian diarahkan untuk menunggu pimpinan Hariwijaya diruangannya.
Saat memasuki Lift, Shafira dikejutkan dengan kedatangan seorang pria bertubuh atletis lengkap dengan setelan jasnya membuat dia terlihat gagah menghentikan pintu Lift yang akan tertutup itu. Pria itu tidak lain adalah Leonardo Hariwijaya pimpinan utama Hariwijaya Group. Leo akhirnya ikut masuk bergabung dengan Shafira dan sekretaris pribadinya tersebut.
" Selamat pagi pak " sapa Sekretaris tersebut seraya membungkukkan sedikit badannya.
" Selamat Pagi" jawab Leo itu singkat.
Leo belum sadar jika disampingnya adalah Shafira dan begitu sebaliknya Shafira juga tidak mengetahui jika itu adalah pimpinan Hariwijaya, karena sedari tadi Shafira hanya menunduk.
Saat Leo itu melihat bayangan pada bilik Lift Leo itu tidak asing dengan wanita didekatnya, pria itu langsung menoleh.
" Loh Shafira " tanya Leo.
" Eh kamu, ngapain kamu disini, kamu kerja disini juga ?" tanya Shafira santai.
Sekretaris tersebut ingin memberikan isyarat bahwa Leo adalah pimpinan perusahaannya namun semua itu langsung digagalkan oleh Leo sendiri.
" Oh iya, aku kerja disini, kamu ngapain Fir"
" Oh ini aku disuruh atasanku buat menyampaikan berkas dokumen ke pimpinan perusahaan ini" jawab Shafira.
Leo ingin sekali tertawa tapi langsung disembunyikan dengan melihat sekretarisnya, sekretarisnya pun menutup mulutnya agar tawanya tak terlihat.
Setelah sampai lantai yang dituju, Shafira dan Sekretaris lebih dulu keluar itupun karena isyarat dari Leo.
" Aku duluan ya" Shafira tersenyum pada Leo.
Leo pun membalas dengan senyuman juga.
Sekretaris itu mempersilakan masuk Shafira ketika sudah sampai diruangan pimpinan utama.
Menunggu beberapa menit akhirnya datanglah Leo keruangan itu.
Shafira kebingungan akan kedatangannya. Dia mulai tak enak hati.
" Maaf mbak Shafira, saya tinggal dulu ini Pak Leo sudah datang" sekretaris itupun berpamitan setelah Leo menuju meja kebesarannya.
" Emmhh maaf jadi kamu..." tanya Shafira dengan perasaan sedikit malu.
" Emmhh apa, sini apa yang akan kau sampaikan dari Cokro Group "Leo tersenyum dalam kemenangan tak merisau pertanyaan Shafira yang kini mukanya sudah memerah.
" Oh ini Leo, berkas yang diminta pihak Hariwijaya Group " Shafira menyodorkan beberapa map.
" Tak bisakah kau lebih sopan dengan cliant perusahaanmu" Leo mendekatkan mukanya ke telinga Shafira.
" Upsss ma...maaf Leo, eh maksutnya Pak Leo, maaf jangan adukan perilaku saya ke Pak Frans, saya mohon, saya mohon " Shafira memohon dan menyesali perbuatannya.
Kenapa aku tak menyadari jika Leo Pimpinan utamanya, kalau hal ini bisa sampai ke telinga Pak Frans bisa bisa... Ahhhh tololnya dirimu Fir
Leo mulai mencermati lembar demi lembar berkas tersebut. Laporan yang cukup membanggakan. Melihat Shafira yang menunduk membuat Leo menjadi merasa bersalah atas pertanyaan tadi.
" Makan sianglah bersamaku " celetuk Leo.
" Apa ?!, tapi Pak..." jawab Shafira ragu.
" Mau aku adukan perlakuanmu yang kurang sopan terhadap Pimpinan Hariwijaya pada Pak Fransisko hah ?" ancam Leo sembari tertawa kecil.
Shafira tahu maksud Leo, dia hanya menakutinya agar terkabul suatu keinginannya.
" Ya baiklah Pak jika Anda memaksa," ucap Shafira.
Dari depan ruangan terdengar suara gaduh, Leo yang tahu apa yang sebenarnya terjadi menjadi was was. Benar dugaan Leo tak lama kemudian datanglah seorang gadis yang berpakaian sangat mini bagian dada yang sedikit terbuka memperlihatkan belahan dadanya.
Tak lain tak bukan, Angel si gadis pembuat onar diperusahaan Leo.
" Hai sayang apa kabar, lama ya kita tak bertemu aku kangen tau" Angel menghampiri Leo dan langsung bergeleot manja pada tubuh Leo.
Shafira pun yang melihatnya sangat tidak nyaman. Leo sudah menduga jika raut muka Shafira akan berubah seperti itu.
" Apa kau tidak lihat aku sedang ada tamu hah, dasar pengacau !!" Leo melepaskan tubuh Angel dari tubuhnya.
Melihat situasi tersebut Shafira semakin tidak nyaman memutuskan untuk berpamitan.
" Maaf Pak Leo saya rasa sudah cukup, saya pamit kembali ke kantor, permisi" berdiri dan langsung menuju pintu keluar tanpa mendengar jawaban dari Leo. Namun Leo langsung sigap menarik lengan Shafira.
" Jangan lupa makan siang nanti tunggu aku di lobi oke" Leo langsung menarik tangannya kembali mengingat lengan Shafira yang pernah terluka.
Shafira mengangguk tanpa menoleh kearah Leo, Shafira terlalu muak dengan perilaku si Angel.
Shafira berlalu namun bukan Angel namanya jika tidak mancari tahu siapa gadis yang sepertinya mencuri perhatian Leo. Karena Angel sangatlah mengetahui siapa Leo, yang tak akan pernah tergoda oleh gadis manapun. Angel semakin menatap kepergian Shafira dengan sengit.
..................................................
Cokro Group
Waktu jam makan siang sudah tiba, Bryan, Rara dan juga Winda menjeda aktifitasnya.
" Makan kemana kita Guys " tanya Bryan.
" Nggak ada Shafira kurang asyik nih, ke kantin kantor aja yuk" ajak Rara.
Winda tak mengusulkan apa apa, hanya merespon senyum yang dipaksakan.
" Kalian dulu aja, aku pesenin yang biasanya aja, pihak kantin pasti udah tahu, aku ketoilet sebentar" ujar Winda.
Bryan dan Rara mengangguk dan langsung meninggalkan Winda, sedangkan Winda berjalan tidak menuju toilet melainkan menuju unit kesehatan kantor.
Sesaat setelah sampai unit kesehatan Winda melihat Reno yang terbaring dengan muka pucatnya, kepala yang dibalut kain kasa, serta lengannya yang juga banyak balutan. Terlihat seorang laki laki yang berada disampingnya juga sedikit mumpunyai luka di bagian keningnya.
Winda memberanikan diri untuk masuk ruangan tersebut. Saat hendak mendekati Reno seorang dokter menghampiri laki laki itu.
" Apa sudah ada teman atau kerabatnya yang menjenguk pasien ini ?" tanya dokter itu mengarah ke Reno.
" Belum ada dok, karena sedari tadi saya disini menunggunya dan tetap saja belum sadar dok " ucap laki laki itu.
" Apa yang terjadi dok" tiba tiba Winda muncul dari bilik tirai.
Laki laki itu dan juga dokter langsung menoleh ke arah Winda.
" Apakah kamu kerabatnya?" tanya dokter itu.
" Saya teman dekatnya dok" jawab Winda.
Dokter itupun langsung menceritakan kondisi Reno yang sebenarnya. Dokter menjelaskan jika kondisi Reno dalam keadaan baik, itu membuat Winda sedikit lega. Winda menoleh ke arah Reno, dan tak sengaja melihat mata Reno sedikit terbuka lalu langsung menutupnya cepat.
Winda yang melihatnya lalu menuju kearah Reno diikuti dokter dan laki laki itu yang berjalan meninggalkan Winda dan Reno.
" Dasar Buaya Darat !! aku tidak akan tertipu muslihatmu hah " Winda langsung mencolek lengan Reno yang terluka.
" Awwhhh, dasar kau ya gadis galak " Reno langsung membuka matanya.
Winda sedikit tersenyum dan Reno sangat menyukai senyuman itu.
" Kau tersenyum ?" tanya Reno
Merasa ekspresinya terlihat oleh Reno Winda sigap langsung mengubahnya dengan sedikit manyun.
" Owh Oh apa katamu, siapa yang tersenyum"
" Kau kesini sendiri, mana yang lainnya ?" Reno memperbaiki dududuknya yang semula dengan posisi tidur.
Reno meringis kesakitan ketika akan mengganti posisi, Winda yang melihatnya langsung membantunya dalam posisi setengah duduk.
" Owh yang lainnya lagi di kantin jam makan siang kan," jawab Winda singakat.
" Lalu, kenapa kau malah kesini bukan ikutan makan siang hah "
" Ya aku khawatir denganmu jadi aku beralasan ketoilet untuk kesini biar mereka tidak tahu......" Winda berbicara tanpa jeda, sadar jika dia keceplosan tentang perasaan khawatirnya Winda langsung menutup mulutnya cepat cepat.
Duh mulut kenapa nggak bisa diajak kompromi sih kamunya,,Sial
Reno tersenyum lebar, dia tahu jika Winda sebenarnya tidak membenci seutuhnya, mungkin sebagai seorang cewek pastilah gengsi jika harus mengakui semuanya.
" Owh gimana keadaan kamu sekarang, aku harap kau tak baik saja biar aku tak melihatmu di meja kerja, itu sangat menyebalkan untuk saat ini" celetuk Winda.
" Dasar wanita, mulut sama hati selalu berlainan, mood yang berubah ubah, tadi saja bilang khawatir sekarang bilang tak mau ketemu" Gumam Reno.
" Aku sudah tak apa, sudah sana makan siang entar mereka nungguin kamu " Reno mengalihkan pembicaraan.
" Woohh kau mengusirku, dasar buaya darat ! okelah,.." Winda langsung berlalu meninggalkan Reno.
Reno hanya menggelengkan kepala, tapi hatinya sedikit bahagia setidaknya Winda yang pertama kali menanyakan keadaanya ya meskipun malu malu kucing untuk mengakui jika Winda mengkhawatirkan Reno.
Bersambung......