NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

       Angin malam telah menyapa lembut, suara hewan malam saling bersahutan. Bulan dan bintang bertebaran menghiasi langit gelap.

Malam yang terasa menenangkan tidak lantas membuat Hawa terlelap, ia memikirkan bagaimana besok pagi. Sedangkan Hasby berkutat dengan laptopnya, mengerjakan pekerjaannya yang lumayan padat. Apalagi besok pagi dia akan pergi bersama dengan istrinya, tentu saja dalam jarak tertentu. Mengingat hubungan ini sangat rahasia.

Malam semakin larut, Hasby menyelesaikan tugasnya dan segera beranjak menuju peraduannya. Merebahkan tubuh lelahnya, mencari kenyamanan, melepas penat setelah seharian berkegiatan.

                                      •••

bruuuukk

"aduh," ringisnya pelan mengelus lututnya pelan. "ternyata hanya mimpi," Hawa berbicara sendiri sambil tersenyum miris. Mengingat mimpi indah yang berakhir jatuh dari dipan membuatnya seperti orang bodoh. Bisa-bisanya ia mimpi sedang pergi kencan dengan Hasby.

Segera ia bangun dari jatuhnya, ke kamar mandi. Ia bergerak cepat untuk mandi, sholat dan pergi kebawah. Takut ditinggal Hasby. Mengingat ia akan ke CFD hatinya berbunga-bunga. Mood nya auto bagus, apalagi banyak jajanan yang ia inginkan.

Hawa memakai gamis warna lilac yang berbahan lembut, ringan dan nyaman untuk kegiatan diluar ruangan. Tak lupa tas kecil berisi dompet, gawai, lipbalm dan sunscreen. Sepatu putih pemberian Mama.

Setelah dirasa sudah semua, ia membuka pintu kamar. Menoleh kanan dan kiri, lorong terlihat sepi sunyi. Segera ia berjalan menuruni tangga.

Didapur Bibik sudah terlihat sibuk, Hawa menyapa sebentar dan membuat susu hangat untuk dirinya dan suaminya.

"Nggak sarapan dulu Neng?" bibik tersenyum ramah pada majikan mudanya itu "biar bibik masakin sekarang,"

"Nggak dulu bik, makasih, nanti aja bik. aku pingin jajan di CFD,"ungkapnya tersenyum manis.

Siapa yang melihatnya ikut tersenyum, Hawa itu positif vibe banget anaknya.

"Ya sudah kalau begitu,, Den Hasby juga nggak sarapan dulu?" ucap Bibik ketika melihat Hasby memasuki ruang makan.

"Nggak bi,, minum susu anget aja," senyum ramahnya terpancar pagi ini "Bibik jangan telat sarapan ya, kita mau pergi main dulu bik. Tadi aku udah telpon Papa dan Mama kok. Bibik mau dibeliin apa nanti?"

"Bibik nggak usah Den. Makasih. Siap bibik nggak telat makan," senyumnya hangat, seperti seorang ibu kepada anaknya sendiri.

"Ok,, kita pergi ya bik, Assalamu'alaikum," keduanya berpamitan setelah menghabiskan susu hangatnya dengan Bik Im.

"Wa'alaikumsalam, hati-hati Aden dan Neng,"

"Iya bik," Hawa tersenyum lebar. Segera memasuki mobil Hasby duduk dibangku depan. Salah satu tempat yang ia sukai selain di sofa dekat jendela kamarnya.

Hasby mengemudikan mobilnya santai, tapi tetap cepat. Hawa setia dengan pemandangan luar kaca jendela mobil.

[By, cepetan! Kita udah sampai nih, parkiran deket warung soto Bu Ris.]

Pesan masuk ke grub antara Hasby,Tian,Ryan dan Reno. Segera membukanya dan mengirim balasan.

[Ok, tunggu!]

Hasby mengurangi kecepatan dan menepikan kendaraannya sebentar. Merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan lalu disodorkan kepada Hawa.

Hawa mengangkat alisnya sebelah, tertegun.

"Apa kak?"

"Uang jajan kamu, ambil!"

"Yang kemarin masih banyak kak, nggak usah aja kak,"

"Ambil!" tegasnya

"Ini aja udah banyak kak, buat kakak aja," Hawa mengambil satu lembar seratus ribuan. Tersenyum hangat pada suaminya itu. Hasby menatapnya datar.

"Ambil semua, belilah apa yang kamu mau, kalau kurang bilang ke aku. Insyaa allah aku bisa mencukupi kebutuhanmu," Hasby meletakkan uang ditangan Hawa. Segera mengemudikan mobil ke tempat tujuan.

"Makasih kak, tapi jangan banyak-banyak kak. Kebutuhanku nggak banyak. Mending uangnya ditabung untuk kuliah atau kebutuhan yang lain," katanya lembut, memasukkan uang pemberian Hasby kedalam dompet warna ungunya.

"Insyaa allah ada Wa, kamu tenang aja. Udah aku sisihkan untuk biaya pendidikan kita. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan ngomong sama aku,"

"Memangnya kakak dapet uang darimana?" Hawa menoleh melihat Hasby lebih lekat. Badannya digeser penuh kearah suaminya.

"Aku kerja dikantor Papa," ucapnya datar. Tetap fokus ke jalan raya yang ramai lancar.

"Masyaallah, alhamdulillah kak. Aku senang dengernya, berarti kakak serius tanggung jawabnya," selorohnya santai "Tapi kak,, apa nggak capek kalau sekolah sambil kerja? Bagi waktunya gimana?" rasa penasaran membuatnya lebih banyak bertanya.

"Aman, aku bisa," jujur Hasby tenang. Hawa menganggukkan kepalanya singkat, tersenyum hangat.

Ia tidak membayangkan bersuami masih berstatus pelajar dan memberinya nafkah. Sungguh indah rencana Allah itu.

Tak lama mobil menepi ke tempat parkir warung soto Bu Ris. Hawa melihat keadaan sekitarnya. Setelah merasa aman, dia keluar setelah salim pada Hasby.

Menghubungi Asrina dan janjian ditempat jualan minuman dingin yang dipinggir jalan. hasby tentu saja bersama teman-temannya.

"Hawaaa?!" teriak Asrina kelewat semangat.

"As,, jangan teriak, malu tahu," Hawa tidak habis pikir dengan temannya itu, kenapa selalu teriak.

"Maaf , abisnya seneng banget bisa main sama kamu. Oiya kamu sendiri aja?" melihat kiri-kanan mencari orang-orang yang entahlah.

"sendiri aja As," ucapnya pelan "semoga Asrina nggak curiga sama kak Hasby"

"ya udah yuk,, kita berburu streetfood," menggandeng lengan Asrina dengan mata berbinar melihat begitu banyak jajaran penjual makanan dan minuman.

"Emang nggak mau olahraga dulu?"

"Ya iya tapi sekalian jalan ya," cengiran Hawa malah membuat Asrina geleng kepala.

Dari jarak yang agak jauh Hasby menatap Hawa dengan muka datar, sudut bibirnya terangkat sedikit. Gemas sekali dengan tingkah Hawa.

Tian melihat arah pandang Hasby dan disana ada Hawa. apakah dia sudah jatuh hati padanya? Batin Tian.

"Yok mau lari apa cari makanan?" ucap Ryan memandang begitu banyak orang dan makanan minuman.

"Jajan aja kali ya,, malas mau lari,"seloroh Reno matanya berbinar ketika melihat siomay bandung.

"Awas ngiler tuh," celetuk Ryan terkekeh melihat tingkah Reno.

"Enak aja, nggak lah. Oiya Hasby dan Tian gimana menurut kalian?" memandang keduanya dengan kode yang menyuruh memilih jajan saja daripada lari.

"Jalan santai aja," Hasby menanggapi seadanya, karena ia sedang menjaga Hawa diam-diam.

"Yeeeesssss,,, jajaaaan lets go!" teriak Reno kencang, saking senangnya dia. Membuat beberapa orang menoleh memandangnya.

Teman-temannya geleng kepala, kalau soal makan Reno nggak pernah ketinggalan. Mereka berunding mau makan apa.

[Jangan jajan sembarangan dan jangan pedes!]

Ting...

Hawa membuka pesan dan ternyata dari Hasby, ia menoleh dan tatapannya bertubrukan dengan Hasby. Ia cukup terkejut karena Hasby bersama teman-temannya. Ia kira hanya Hasby sendirian. Tersenyum singkat dan kembali mengikuti Asrina memilih apa yang mau dibeli.

[iya kak, kakak main aja nggak usah ngikutin aku]

[Lagi pingin jajan, gak ngikutin kamu kok]

[ok, ya udah met senang-senang]

"Nggak usah main Handphone terus kali Wa, kita kesini tu mau main dan senang-senang," sungut Asrina "simpen Handphone nya sekarang!" imbuhnya.

"Iya,, iya As, maaf ya," Hawa nyengir lebar.

"Eeh tunggu,, itu bukannya anak-anak Osis?" Asrina melihat kebelakang, lumayan jauh tapi masih jelas terlihat olehnya.

"Ya udah biarin aja, kan tempat umum. Mungkin mereka mau menikmati hari minggu yang cerah ini," Hawa pura-pura sibuk memilih ikat rambut yang dijual disampingnya.

"Ya iya sich, ya udah yuk. Aku kira anak Osis nggak pernah mau ke CFD seperti ini, ternyata suka juga ketempat-tempat seperti ini,"

"Mungkin mereka butuh hiburan dari penatnya tugas di Osis," Hawa menjawab asal-asalan.

Mereka menikmati membeli aneka makanan dan minuman. Hawa dan Asrina duduk dibawah pohon sebuah taman yang penuh dengan orang-orang yang menikmati CFD.

Tanpa disadari Hawa dan Asrina, tak jauh dari tempat duduknya ternyata rombongan Hasby juga istirahat disana sambil ngemil dan ngobrol santai. Tian yang sadar dari tadi selalu didekat Hawa, melirik Hasby datar. Mendecih pelan, Ryan yang disampingnya mengernyitkan dahi. Mereka memakan semua yang mereka beli. Pesta jajanan pagi di CFD ini sangat seru. Mereka menikmati liburan kali ini.

[Pulang sekarang!]

Hawa membacanya dan segera mengetik balasannya.

[Iya kak, bentar, biar Asrina duluan]

[ok. Q tunggu dimobil]

[makasih kak]

Hawa memasukkan handphonenya kedalam tas kecilnya. Memandang Asrina sesaat.

"As, pulang yuk. Udah capek nih,"

"hmm,, ya udah. Kamu naik apa baliknya?"

"Aku naik angkutan umum. Udah kamu duluan aja, makasih ya udah ngajakin aku main pagi ini," Hawa memeluk singkat Asrina.

"Iya sama-sama, aku juga suntuk kalau dirumah terus," senyum ramah pada Hawa "ya udah aku pulang. Kamu hati-hati ya," lanjutnya lagi.

Mereka kembali ketitik awal tadi. Karena Asrina mengendarai motor maticnya. Dan parkirannya nggak jauh dari tempat Hasby parkir. Mereka berpisah diparkiran.

Setelah kiranya aman, Hawa segera mencari mobil Hasby, Hasby yang melihatnya membunyikan klakson pelan. Hawa menoleh dan segera menghampirinya, baru mau masuk tiba-tiba ada yang memanggil, ia pun menoleh.

"Hawa,"

"Hasby"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!