Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA AKU MULAI CEMBURU
Pintu ruang meeting tertutup.
Alya kembali duduk di hadapan Arga.
Pria itu membawa sebuah folder, tetapi sejak awal Alya tahu pembicaraan mereka bukan hanya tentang pekerjaan.
“Ada apa, Pak?”
Arga duduk.
“Saya ingin menanyakan sesuatu.”
Alya mengangguk.
“Silakan.”
“Apakah kamu menyukai Raka?”
Pertanyaan itu begitu langsung sampai Alya tidak bisa menjawab.
Dia menatap Arga beberapa detik.
“Kenapa Bapak bertanya begitu?”
“Karena saya tidak ingin membuang waktu.”
Alya menunduk.
“Saya belum pernah mengatakan itu.”
“Saya tahu.”
“Lalu?”
Arga tersenyum tipis.
“Saya bisa melihatnya.”
Alya diam.
Arga melanjutkan,
“Dan saya juga bisa melihat cara Raka melihat kamu.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
“Pak Arga…”
“Tenang. Saya tidak marah.”
“Saya tidak tahu harus menjawab apa.”
“Tidak perlu sekarang.”
Arga berdiri.
“Saya hanya ingin kamu jujur kepada dirimu sendiri.”
Alya menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu terus menyangkal, orang yang paling terluka nanti kamu sendiri.”
Arga berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, dia berhenti.
“Dan satu hal lagi.”
Alya menunggu.
“Kalau memang kamu memilih Raka, saya akan menghormatinya.”
Alya terdiam.
“Terima kasih.”
Arga mengangguk.
Kemudian keluar.
Alya duduk sendirian.
Kali ini tidak ada lagi alasan untuk menghindari pertanyaan itu.
Apakah dia menyukai Raka?
Jawabannya sudah jelas.
Dia hanya belum berani mengatakannya.
PUKUL 15.00
Alya kembali ke mejanya.
Namun pikirannya masih berada di ruang meeting tadi.
Dia membuka laptop.
Tidak fokus.
Membuka dokumen.
Salah.
Membuka email.
Lupa membalas.
Maya sampai akhirnya bertanya,
“Kamu kenapa?”
Alya menghela napas.
“Arga tadi bertanya sesuatu.”
“Apa?”
“Apakah aku suka Pak Raka.”
Maya langsung diam.
“Terus?”
“Aku tidak menjawab.”
“Kenapa?”
“Takut.”
“Takut apa?”
Alya menatap ruang Raka.
“Takut jawabannya benar.”
Maya terdiam.
“Kalau memang benar?”
Alya menunduk.
“Berarti aku jatuh cinta pada bos sendiri.”
Maya tidak tertawa kali ini.
“Dan itu yang membuat kamu takut?”
Alya mengangguk.
“Bukan cuma karena dia bos.”
“Lalu?”
“Karena aku tidak tahu apakah dia akan tetap memilih aku ketika tidak ada lagi hubungan pekerjaan di antara kami.”
Maya memahami.
Itulah ketakutan terbesar Alya.
Bagaimana jika semua perhatian Raka hanya muncul karena mereka bekerja bersama?
Bagaimana jika ketika Alya tidak lagi menjadi asistennya—
perasaan itu hilang?
Alya tidak ingin menjadi seseorang yang dicintai hanya karena kebetulan berada di dekat seseorang setiap hari.
PUKUL 16.00
Raka keluar dari ruangannya.
Dia melihat Alya.
“Alya.”
Alya berdiri.
“Iya, Pak?”
“Masuk.”
Alya mengikutinya.
Raka duduk.
Namun kali ini dia tidak langsung memberikan pekerjaan.
“Kamu bicara dengan Arga?”
“Iya.”
“Apa katanya?”
Alya menatapnya.
“Bapak penasaran?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Raka diam.
Alya tersenyum.
“Bapak mulai jujur.”
“Jawab saja.”
“Dia bertanya tentang saya.”
“Kenapa?”
Alya menatap Raka.
“Karena dia tahu.”
“Tahu apa?”
“Bahwa saya…”
Dia berhenti.
Raka menunggu.
“Bahwa saya punya perasaan terhadap seseorang.”
Raka langsung diam.
Tatapannya berubah.
“Siapa?”
Alya hampir tertawa.
“Bapak tahu siapa.”
Raka tidak menjawab.
Alya menghela napas.
“Pak…”
“Hm?”
“Kalau saya bilang orang itu Bapak…”
Raka membeku.
Alya menatapnya.
Jantungnya berdebar begitu keras sampai dia sendiri bisa mendengarnya.
Raka berdiri perlahan.
“Alya.”
“Iya?”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu mengatakannya…”
Raka berhenti.
“Kenapa?”
“Semua akan berubah.”
Alya tersenyum pahit.
“Bukankah semuanya memang sudah berubah?”
Raka terdiam.
Alya melanjutkan,
“Sejak Bapak mulai menunggu saya pulang.”
“Sejak Bapak membelikan saya payung.”
“Sejak Bapak cemburu ketika saya bersama orang lain.”
“Sejak Bapak mengatakan saya penting.”
Raka tidak bisa membantah satu pun.
Alya menatapnya.
“Saya bukan orang bodoh, Pak.”
Raka menunduk.
“Saya tahu.”
“Kalau memang tidak ada apa-apa…”
Alya menarik napas.
“Bapak bisa bilang sekarang.”
Raka mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Alya menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
Raka akhirnya berkata,
“Saya tidak bisa.”
Alya membeku.
“Kenapa?”
“Karena itu bohong.”
Alya menahan napas.
Raka mendekat satu langkah.
“Saya sudah mencoba.”
“Mencoba apa?”
“Menganggap kamu hanya asisten.”
Alya menatapnya.
“Dan?”
Raka tersenyum pahit.
“Gagal.”
Ruangan terasa begitu sunyi.
Alya hampir menangis.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena akhirnya dia mendengar sesuatu yang selama ini dia takut sekaligus ingin dengar.
Raka melanjutkan,
“Saya tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu berubah.”
“Mungkin ketika kita mulai sering bertengkar.”
“Mungkin ketika saya mulai menunggu kamu datang.”
“Atau mungkin ketika suatu hari kamu tidak bertengkar dengan saya dan saya merasa ada sesuatu yang hilang.”
Alya tersenyum di tengah matanya yang mulai berkaca-kaca.
Raka berkata pelan,
“Saya menyukai kamu.”
Alya menutup mata sebentar.
Akhirnya.
Kalimat itu akhirnya keluar.
Namun sebelum dia sempat menjawab—
Raka berkata,
“Tapi saya tidak akan meminta kamu menjadi milik saya.”
Alya membuka mata.
“Kenapa?”
“Karena saya bosmu.”
“Dan?”
“Karena saya tidak mau perasaan saya menjadi alasan kamu kehilangan pekerjaan.”
Alya terdiam.
Raka kembali duduk.
“Saya tidak ingin memanfaatkan posisi saya.”
Alya mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Raka menatapnya.
“Apa?”
“Karena Bapak mengatakan yang sebenarnya.”
PUKUL 17.30
Alya keluar dari ruangan Raka.
Dia berjalan perlahan menuju mejanya.
Maya langsung berdiri.
“Alya?”
Alya tersenyum.
“Aku baik-baik saja.”
“Kamu menangis?”
Alya menggeleng.
“Tidak.”
Namun matanya memang berkaca-kaca.
Maya tidak bertanya lagi.
Alya duduk.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Raka menyukainya.
Bukan karena pekerjaan.
Bukan karena kebetulan.
Bukan karena dia asistennya.
Tetapi sebagai Alya.
Dan justru karena itulah masalahnya semakin besar.
MALAM
Alya menerima pesan.
Dari Raka.
Sudah sampai?
Alya membalas:
Sudah.
Beberapa detik kemudian:
Maaf soal tadi.
Alya:
Jangan minta maaf.
Raka:
Saya tidak ingin membuat kamu terbebani.
Alya menatap layar.
Kemudian mengetik:
Bapak tidak membuat saya terbebani.
Raka:
Kamu tidak perlu menjawab perasaan saya sekarang.
Alya berhenti.
Kemudian menulis:
Kalau saya sudah tahu jawabannya?
Raka tidak membalas.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Alya tersenyum kecil.
Dia tahu Raka sedang memikirkan semuanya.
Akhirnya pesan masuk.
Besok kita bicara.
Alya membalas:
Baik.
KEESOKAN PAGINYA
Alya datang pukul 08.00.
Raka sudah menunggu.
Tidak ada kopi.
Tidak ada dokumen.
Tidak ada pekerjaan.
Hanya dua orang yang akhirnya harus menghadapi perasaan masing-masing.
Raka berdiri di depan jendela.
“Alya.”
“Iya?”
“Kemarin kamu bilang sudah tahu jawabannya.”
Alya mengangguk.
“Ya.”
Raka menarik napas.
“Apa jawabanmu?”
Alya menatapnya.
“Saya juga menyukai Bapak.”
Raka diam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain, pria yang selalu terlihat tenang itu benar-benar kehilangan kata-kata.
Alya tersenyum kecil.
“Tapi…”
Raka menatapnya.
“Tapi?”
“Saya tidak mau menjadi hubungan rahasia yang membuat saya harus terus bersembunyi.”
Raka mengangguk.
“Saya juga tidak mau.”
“Lalu?”
“Kita tidak melakukan apa-apa sekarang.”
Alya terdiam.
“Tidak?”
“Tidak.”
Raka mendekat.
“Saya ingin kamu tetap bekerja tanpa merasa punya kewajiban apa pun terhadap saya.”
Alya mengangguk.
“Dan kalau suatu hari…”
Raka berhenti.
“Kalau suatu hari apa?”
“Kalau suatu hari kita sudah tidak berada dalam hubungan atasan dan bawahan…”
Alya menunggu.
“Baru kita bicara lagi.”
Alya tersenyum.
“Bapak mau menunggu?”
Raka menatapnya.
“Kalau perlu.”
“Berapa lama?”
“Selama yang diperlukan.”
Alya menunduk.
Ada rasa lega sekaligus sedih.
Mereka saling menyukai.
Tetapi mereka memilih tidak terburu-buru.
SIANG HARI
Hari itu mereka kembali bekerja seperti biasa.
Namun sesuatu sudah berubah.
Tidak ada lagi kebingungan.
Tidak ada lagi pertanyaan apakah perasaan itu hanya milik salah satu dari mereka.
Mereka tahu.
Dan justru karena sudah tahu—
mereka menjadi jauh lebih berhati-hati.
Raka tidak lagi mencari alasan untuk memanggil Alya.
Alya tidak lagi sengaja memperpanjang percakapan.
Mereka bekerja.
Profesional.
Seperti seharusnya.
Namun pukul 12.30, ketika Alya sedang makan sendirian, Raka lewat.
Dia berhenti.
“Sudah makan?”
Alya tersenyum.
“Sudah.”
Raka mengangguk.
“Bagus.”
Dia pergi.
Alya melihat punggungnya.
Tiba-tiba dia tersenyum sendiri.
Dulu pertengkaran mereka membuatnya kesal.
Sekarang justru percakapan sesingkat itu terasa cukup.
TIGA HARI KEMUDIAN
Sesuatu terjadi.
Alya mendapat tawaran untuk mengikuti program pengembangan manajemen selama enam bulan.
Program itu mengharuskannya bekerja lebih banyak dengan kantor pusat di Jakarta.
Kariernya bisa berkembang pesat.
Namun artinya—
dia akan pergi dari Bali selama enam bulan.
Alya membaca surat penawaran itu berkali-kali.
Kemudian menatap ruang Raka.
Dia tahu Raka akan menyuruhnya mengambil kesempatan tersebut.
Justru itu yang membuatnya takut.
Karena kalau dia pergi—
mereka tidak akan bertemu setiap hari.
Dan hubungan yang baru saja mereka akui mungkin harus kembali diuji oleh jarak.
Alya masuk ke ruangan Raka.
“Pak.”
Raka mengangkat wajah.
“Ya?”
Alya meletakkan surat di meja.
“Ada sesuatu.”
Raka membacanya.
Ekspresinya berubah.
“Enam bulan?”
Alya mengangguk.
“Ya.”
“Di Jakarta?”
“Iya.”
Raka membaca sampai selesai.
Kemudian meletakkan surat itu.
“Ambil.”
Alya menatapnya.
“Bapak tidak mau saya pergi?”
Raka tersenyum tipis.
“Tidak.”
“Serius?”
“Serius.”
“Padahal enam bulan.”
“Saya tahu.”
Alya menunduk.
“Kalau saya pergi…”
Raka menyelesaikan kalimatnya,
“Kamu tetap punya hidupmu sendiri.”
Alya tersenyum.
“Tapi kita?”
Raka terdiam.
Kemudian berkata,
“Kita lihat nanti.”
Alya mengangguk.
Namun saat dia keluar, Raka menatap surat itu sekali lagi.
Enam bulan.
Seratus delapan puluh hari.
Tanpa Alya di kantor.
Tanpa suara Alya.
Tanpa pertengkaran.
Tanpa kopi.
Tanpa kesempatan untuk melihatnya setiap pagi.
Raka menghela napas.
Dia baru saja mengatakan kepada Alya untuk mengambil kesempatan itu.
Tetapi jauh di dalam hati—
dia takut.
Karena mungkin kali ini, yang hilang bukan hanya seseorang yang biasa berada di dekatnya.
Mungkin enam bulan adalah waktu yang cukup untuk membuat seseorang pergi… atau menyadari bahwa dia benar-benar ingin menunggu.