Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, hari sudah beranjak siang.
Zilia yang sejak tadi sudah bersiap-siap berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya. Ia sudah berjanji bertemu dengan Rara dan Edo sebelum kedua sahabatnya kembali ke kampung.
Semua sudah siap.
Tas selempang telah disandangnya, ponsel dan dompet pun sudah masuk ke dalam tas. Kini ia hanya tinggal menunggu Davin pulang dari kantor.
Tak lama kemudian...
Brummm...
Suara mesin mobil memasuki halaman mansion terdengar hingga ke lantai dua.
"Itu pasti Kak Davin."
Wajah Zilia langsung berbinar.
Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.
Namun baru saja menginjak anak tangga terakhir, seseorang tiba-tiba menghadangnya.
Lora.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya dengan nada ketus.
Zilia menatap Lora sekilas.
"Bukan urusanmu."
Jawaban singkat itu membuat wajah Lora langsung mengeras.
"Kamu sekarang berani sekali."
Zilia hanya mengangkat bahu.
"Aku hanya menjawab seperlunya."
"Lagipula, aku tidak perlu melapor ke kamu."
"Kamu!"
Belum sempat Lora kembali membalas, pintu utama terbuka.
Davin masuk sambil melepas jas yang dikenakannya.
Pandangan Zilia langsung beralih.
"Kak Davin!"
Ia segera menghampiri sepupunya itu.
Davin tersenyum melihat Zilia yang tampak sudah rapi.
"Wah, kelihatannya ada yang nggak sabar."
"Ya jelas dong. Kasihan Rara sama Edo kalau kelamaan nunggu."
Davin mengangguk kecil.
"Kamu sudah siap?"
"Sudah dong."
"Kalau begitu kita berangkat."
"Oke."
Davin sempat menoleh ke arah Lora yang masih berdiri dengan wajah masam.
"Kamu nggak ikut, Lor?"
Lora langsung menggeleng.
"Nggak."
"Aku lagi nggak mood."
"Ya sudah."
Davin tidak memaksa.
Ia dan Zilia kemudian berjalan keluar menuju halaman depan.
Dari balik pintu, Lora terus memperhatikan keduanya.
Tatapannya dipenuhi rasa iri.
"Sekarang semua perhatian tertuju pada Zilia. Papa... Kak Davin... Bahkan Kak Rafael."
Ia mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak sendiri.
"Sial... Awas saja kamu, Zilia. Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan semuanya dengan mudah."
Sementara itu, Zilia sama sekali tidak menyadari tatapan penuh kebencian yang terus mengiringi langkahnya.
Ia justru tersenyum lega saat Davin membukakan pintu mobil untuknya.
"Terima kasih, Kak."
"Naik. Nanti sahabatmu keburu pulang."
"Iya."
Mobil pun perlahan meninggalkan halaman mansion, membawa Zilia menuju pertemuan dengan kedua sahabatnya, tanpa mengetahui bahwa sepasang mata masih menatap kepergiannya dengan penuh dengki dari balik jendela rumah.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Davin memasuki area parkir sebuah kafe.
Mobil berhenti dengan mulus.
Zilia langsung melepas sabuk pengamannya.
"Kak, aku turun dulu ya."
"Iya. Hati-hati."
Zilia mengangguk, lalu keluar dari mobil. Begitu menginjakkan kaki di pelataran kafe, matanya langsung celingukan mencari sosok kedua sahabatnya.
Davin ikut turun dan berjalan di samping Zilia.
"Mana temanmu?" tanyanya. "Katanya sudah sampai."
Belum sempat Zilia mencari lebih jauh, terdengar suara memanggil namanya.
"Zil! Zilia!"
Zilia spontan menoleh.
Senyumnya langsung merekah saat melihat Rara dan Edo melambaikan tangan dari teras kafe.
"Itu mereka!"
Zilia dan Davin segera menghampiri.
Namun, baru saja mereka mendekat, Rara langsung menyenggol lengan Edo sambil berbisik pelan.
"Itu siapa? Ganteng juga."
Edo mengangkat bahu.
"Nggak tahu."
Begitu Zilia tiba di hadapan mereka, Rara langsung menyeringai jahil.
"Cieee... baru beberapa hari di kota, udah dapat cowok baru aja."
Zilia langsung memutar bola matanya.
"Apaan sih, Ra."
"Dia ini Kakak sepupuku."
"Kak Davin."
"Oh..."
Rara langsung menepuk dahinya sendiri.
"Kirain pacar baru."
Edo ikut terkekeh.
"Pantesan mesranya kayak keluarga."
Davin tersenyum ramah lalu mengulurkan tangan.
"Davin. Salam kenal. Aku sepupu Zilia."
Edo segera menyambut uluran tangan itu.
"Edo."
"Salam kenal."
Rara ikut tersenyum canggung.
"Maaf ya, Kak. Tadi aku salah sangka."
Davin tertawa kecil.
"Santai saja. Kalau begitu, kalian ngobrol dulu."
Ia lalu menoleh kepada Zilia.
"Zil."
"Iya, Kak?"
"Kakak duduk di kafe sebelah sana."
Davin menunjuk sebuah meja yang letaknya tidak terlalu jauh dari mereka.
"Kalau sudah selesai atau butuh apa-apa, telepon Kakak."
"Siap. Terima kasih."
Davin mengangguk, lalu berjalan menjauh, sengaja memberi ruang agar Zilia bisa melepas rindu bersama kedua sahabatnya.
Rara langsung menggandeng lengan Zilia.
Mereka bertiga masuk ke dalam kafe dan memilih duduk di dekat jendela.
"Kalian jadi pulang hari ini?" tanya Zilia.
"Iya."
"Kita nggak bisa lama-lama libur. Besok sudah mulai banyak urusan."
Zilia mengangguk pelan.
Suasana sejenak dipenuhi obrolan ringan sebelum Rara kembali membuka pembicaraan yang sejak tadi mengganjal di pikirannya.
"Oh iya. Gimana hubungan kamu sama Vio?"
Senyum di wajah Zilia perlahan memudar. Ia menunduk beberapa saat sebelum menjawab.
"Aku sudah mengakhirinya."
Rara dan Edo saling berpandangan.
"Dia sudah menikah. Aku nggak mau jadi pihak ketiga."
"Meski hubungan kami lebih dulu ada, setelah dia menikah... semuanya harus selesai."
Suasana mendadak hening.
Rara menggenggam tangan sahabatnya.
"Kamu yang sabar ya, Zil."
"Semoga nanti kamu dipertemukan dengan laki-laki yang benar-benar bisa membahagiakanmu."
Edo ikut mengangguk.
"Tapi waktu itu Vio sempat bilang kalau dia mau menceraikan istrinya."
Zilia tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi kepahitan.
"Tidak semudah itu, Do. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dianggap main-main."
"Kalaupun nanti dia benar-benar bercerai... bukan berarti aku harus kembali. Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin menata hidupku lagi."
Mendengar jawaban itu, Rara semakin merasa iba.
"Terus..."
"Setelah wisuda nanti, rencana kamu apa?"
Zilia terdiam.
Tatapannya menerawang ke luar jendela.
Jalanan kota yang ramai seolah tidak mampu mengalihkan pikirannya dari berbagai masalah yang datang silih berganti.
"Aku juga belum tahu. Aku diterima bekerja di perusahaan impianku. Tapi Papa ingin aku melanjutkan kuliah."
Rara mengangguk pelan.
"Itu kan bagus."
"Iya..."
"Tapi bukan cuma itu."
Zilia menghela napas panjang.
"Aku juga dijodohkan."
"Hah?"
Rara dan Edo spontan membelalakkan mata.
"Kamu dijodohkan?"
Zilia mengangguk pelan.
"Semuanya terasa begitu cepat. Aku baru saja mencoba bangkit setelah mengakhiri hubunganku dengan Vio. Sekarang aku harus dihadapkan pada pilihan yang benar-benar mengubah jalan hidupku."
Rara meraih tangan Zilia dan menggenggamnya erat.
"Apa pun keputusanmu nanti..."
"...kami akan tetap mendukungmu."
Edo mengangguk pelan.
"Yang penting, jangan pernah memaksakan dirimu menerima sesuatu hanya karena tekanan."
Zilia tersenyum haru.
"Terima kasih. Setidaknya, aku masih punya kalian."
Di kejauhan, Davin yang duduk di meja lain tanpa sengaja melihat senyum tipis yang kembali menghiasi wajah Zilia.
Ia ikut tersenyum lega.
"Syukurlah... akhirnya dia bisa tertawa lagi, meski hanya sebentar."
Preambel singkat: berikut versi yang dipoles agar lebih mengalir dan karakter Rafael tetap terasa dingin tetapi mulai berubah karena Zilia.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Obrolan yang dipenuhi tawa dan kenangan akhirnya harus berakhir.
Rara melihat jam di pergelangan tangannya, lalu mengembuskan napas pelan.
"Zil, kayaknya kita benar-benar harus berangkat."
"Iya. Nanti keburu kemalaman."
Zilia tersenyum tipis, meski tersirat rasa berat untuk berpisah.
"Hati-hati di jalan ya."
"Kalian kabarin kalau sudah sampai."
"Pasti."
Rara langsung memeluk Zilia dengan erat.
"Semangat, Zil. Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan. Masih banyak hal baik yang menunggu kamu."
Edo ikut menepuk pelan bahu Zilia.
"Kalau ada apa-apa, telepon aja. Kita tetap sahabat."
Zilia mengangguk sambil tersenyum haru.
"Iya. Terima kasih."
Setelah berpamitan, Rara dan Edo berjalan menuju mobil mereka.
Zilia terus melambaikan tangan hingga kendaraan yang membawa kedua sahabatnya menghilang dari pandangan.
Barulah ia mengembuskan napas panjang.
"Kangen lagi deh."
"Sudah selesai?"
Suara Davin membuat Zilia menoleh.
"Kak."
"Ayo pulang."
Davin justru menggeleng.
"Belum."
"Lho?"
"Kakak tahu kamu lagi patah hati."
"Tapi kalau langsung pulang, nanti kamu malah melamun lagi."
Zilia mengerucutkan bibir.
"Terus?"
"Kita mampir dulu."
"Ke mana?"
"Rahasia."
"Kak!"
"Percaya saja sama Kakak."
"Tidak akan Kakak jual kok."
Zilia terkekeh kecil.
"Iya deh."
Melihat akhirnya Zilia kembali tersenyum, Davin merasa usahanya tidak sia-sia.
Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil.
Alih-alih menuju mansion, mobil justru melaju ke arah pusat kota.
Di tempat lain...
Rafael masih berada di ruang kerjanya.
Beberapa berkas kerja sama tergeletak di atas meja, tetapi sejak beberapa menit terakhir tak satu pun disentuh.
Entah mengapa, pikirannya justru dipenuhi wajah seseorang.
Zilia.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Tok... tok...
"Masuk."
Doni, sekretaris sekaligus sahabatnya, masuk sambil membawa beberapa map.
Namun baru beberapa langkah, ia langsung menghentikan langkahnya.
"Bos..."
Rafael mengangkat kepala.
"Kenapa?"
Doni menyipitkan mata sambil memperhatikan wajah atasannya.
"Bos lagi kasmaran, ya?"
Rafael mengernyit.
"Ngaco."
"Ih, jangan bohong. Dari tadi Bos senyum-senyum sendiri. Biasanya wajah Bos dingin kayak kulkas. Sekarang malah senyumnya nggak jelas."
Rafael hanya mendengus pelan.
"Kerja yang benar."
Doni masih belum menyerah.
"Atau... Calon istri Bos ternyata sesuai tipe idaman?"
Plak!
Sebuah buku tipis melayang tepat mengenai punggung Doni.
"Aw!"
Doni langsung memegangi punggungnya.
"Bos! Sakit tahu."
"Mulutmu memang perlu dikarungi. Eh! dikurangi."
Doni meringis sambil memungut buku itu.
"Kan cuma nanya."
"Banyak tanya."
"Tapi benar, kan?"
Rafael hanya melirik tajam. Tatapan itu sudah cukup menjadi jawaban. Doni langsung menyeringai lebar.
"Nah! Ketahuan."
Rafael menggeleng pelan.
"Sialan. Terserah kamu saja."
Doni tertawa puas.
"Berarti benar."
Rafael berdiri sambil meraih jasnya.
"Ayo."
Doni mengernyit.
"Ke mana, Bos?"
"Makan di luar."
"Wah, tumben."
"Ikut nggak?"
Doni langsung mengangguk cepat.
"Mau!"
"Asal Bos yang traktir."
"Soalnya akhir bulan, dompetku lagi kritis."
Rafael terkekeh kecil.
"Iya."
"Aku yang traktir."
"Wih!"
"Bos memang paling baik."
"Tapi setelah semua pekerjaanmu selesai."
"Iya, Bos."
Doni segera merapikan berkas-berkas di mejanya.
Sementara Rafael berdiri di dekat jendela, memandang hiruk-pikuk kota dari lantai tertinggi gedung perusahaannya.
Tanpa sadar, bayangan Zilia kembali muncul di benaknya.
"Entah sekarang dia sedang apa... Apa dia sudah berhenti memikirkan Vio?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Tanpa ia sadari...
Perempuan yang awalnya hanya dianggap sebagai calon pasangan pilihan keluarga itu, perlahan mulai menghantui pikirannya.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄