"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transisi Pemburu
Sinar lampu sorot raksasa dari helikopter di udara mendadak menyilaukan seluruh pelataran tua.
Deru baling-baling memutus senyap malam, menyapu debu dan residu asap ledakan ke segala arah dengan tekanan angin yang kuat.
"Nio! Mereka menemukan kita!" jerit Nora seraya menutupi matanya dari paparan cahaya terang yang membakar pandangan.
Nio menarik lengan Nora dengan cepat, menyeret tubuh wanita itu masuk kembali ke bawah naungan pilar beton yang kokoh.
"Tetap menunduk dan jangan biarkan kepalamu menyembul!" tegas Nio seraya mengamati pergerakan helikopter di atas.
Dari bilik transmisi radio yang hancur di lantai, suara Zero mendadak terdengar kembali melalui pengeras suara internal fasilitas.
Gema vokal yang terdistorsi berat itu memantul melintasi dinding-dinding beton yang retak.
"Kamu selalu menolak untuk tereliminasi, Subjek 0," ujar Zero dengan nada bicara dingin tanpa emosi.
"Gue bukan lagi eksperimen kegagalanmu, Zero!" balas Nio menatap pengeras suara di sudut atap dengan rahang mengeras.
"Setiap data yang tersisa di fasilitas ini adalah bukti kegagalan Proyek Mnemnosyne. Jika kamu tidak mau dihapus, maka sejarahmu yang akan kubakar," sahut Zero tenang.
Tit... Tit... Tit...
Suara alarm darurat bersahut-sahutan dari arah dalam koridor penyimpanan data utama.
Asap tebal berwarna oranye mendadak menyembur dari selang sistem pemadam otomatis yang telah disabotase.
"Dia membakar unit penyimpanan data dari jarak jauh!" seru Nora panik saat melihat pendar api membumbung tinggi di dalam koridor.
"Semua server fisik Sektor Sembilan dihancurkan secara remote..." gumam Nio menganalisis situasi dengan cepat.
"Nio! Data adikku di dalam sana! Kalau server itu terbakar, eksistensi Milo akan tereliminasi selamanya!" jerit Nora histeris mencoba menerobos masuk ke arah kobaran api.
Nio menahan bahu Nora dengan cengkeraman kuat, menghentikan langkah nekat wanita itu sebelum mendekati hawa panas yang membakar.
"Gunakan otakmu, Nora! Drive utama adikmu sudah aman di dalam jaketmu!" bentak Nio rendah namun penuh penekanan.
Nora meraba dadanya, bernapas terengah-engah seraya meremas bentuk keras drive portabel di balik sakunya.
"A-aku lupa... Maaf, aku panik sekali..." bisik Nora terisak halus, napasnya berjelutut ketakutan di tengah kepulan asap.
"Zero tidak sedang mencoba memusnahkan data kita. Dia cuma mau memicu kepanikan supaya kita keluar ke area terbuka," pangkas Nio dingin.
Pendar api yang makin membesar di dalam fasilitas memantulkan bayangan amorf mereka di atas lantai basah.
'Dia pikir ketakutan akan membuat gue bertekuk lutut seperti sepuluh tahun lalu?' batin Nio, merasakan gejolak batinnya membeku menjadi tekad tajam.
Nio melangkah mendekati tubuh eksekutor pertama yang tergeletak lumpuh di dekat pilar.
Jemari Nio bergerak cekatan meraba kompartemen taktis di bahu armor musuh tersebut.
"Apa yang sedang kamu cari, Nio?!" tanya Nora kebingungan melihat Nio menggeledah tubuh prajurit lawan.
"Setiap eksekutor lapangan yang terhubung ke jaringan remote Zero pasti membawa unit enkripsi backdoor," sahut Nio tanpa menghentikan gerakannya.
Nio menarik sebuah pemindai jaringan genggam berukuran kecil yang masih menyala dengan pendar lampu hijau.
Bip.
Perangkat itu bergetar pelan saat Nio menyambungkannya ke ponsel satelit tua miliknya yang sempat mati.
"Dia berpikir bisa menghapus ingatan dan menempatkan gue sebagai produk gagal..." desis Nio seraya memproyeksikan kode baris di layar kecil.
"Nio... apa yang kamu lakukan sebenarnya?" bisik Nora menatap jemari Nio yang menari cepat di atas tombol pemindai.
"Gue sedang mengekstrak paket data transmisi yang digunakan Zero untuk meledakkan server ini secara balik," jawab Nio datar.
Melalui sinyal transmisi balik yang ditinggalkan penyerang, baris-baris alamat IP tersembunyi mulai bermunculan di layar ponsel.
Anomali data yang terus mengalir memunculkan pendar titik koordinat baru yang terenkripsi di luar peta kota.
"Ketemu," gumam Nio dengan sudut bibir terangkat tipis, memancarkan presensi dominan yang berbahaya.
"Ketemu...? Maksudmu kamu berhasil melacak lokasi Zero?!" tanya Nora terkejut dengan mata membelalak.
"Zero berpikir dia adalah sang pemburu yang memegang kendali atas eksistensi semua orang. Dia lupa siapa yang melatih sistem data ini," pangkas Nio tanpa sedikit pun keraguan.
Helikopter di atas kepala mereka mulai bergerak melingkar, menurunkan dua tali pendaratan ke area pelataran utama.
"Mereka mau menurunkan pasukan tambahan, Nio!" seru Nora menunjuk ke arah bayangan hitam yang mulai meluncur turun dari udara.
"Kita tidak akan bersembunyi lagi di balik reruntuhan ini, Nora," tegas Nio seraya mengokang pistolnya dengan gerakan pasti.
"A-apa?! Tapi pasukan mereka terlalu banyak dan terlatih! Kita bisa mati konyol di sini!" jerit Nora dengan wajah pucat.
"Tujuan mereka adalah mencabut sejarah dari dada manusia. Kalau kita terus berlari, kita cuma menunggu giliran untuk tereliminasi secara perlahan," sahut Nio berbalik menatap Nora.
Nio meraba tekstur kasar kertas kosong di dalam sakunya—sebuah penyangkalan sederhana yang menenangkan gejolak batinnya di tengah gempuran musuh.
'Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku. Dan gue yang akan menuliskan akhirnya!'
"Selama sepuluh tahun gue hidup sebagai nirnama yang melarikan diri dari bayangan ketakutan masa lalu," ucap Nio pelan, suaranya mantap menembus deru baling-baling.
"Nio..." desis Nora menatap presensi dingin namun hangat yang memancar kuat dari wajah Nio.
"Mulai detik ini, peran kita berbalik total. Gue bukan lagi mangsa yang menunggu dihapus dari dunia," pangkas Nio dengan tatapan mata yang membeku tajam.
"Lalu... apa yang harus kita lakukan sekarang?!" tanya Nora mencoba menguatkan suaranya yang gemetar.
"Kita berburu balik sang 'Penghapus'," jawab Nio singkat dan tegas.
Nio merebut sebuah granat asap dari sabuk taktis eksekutor yang lumpuh di tanah, lalu menarik pin pengamannya tanpa ragu.
Cshhhhh!
Asap putih tebal menyembur cepat dalam hitungan detik, memenuhi seluruh area bawah pilar dan membutakan pandangan lampu sorot helikopter.
"Pegangan yang erat pada jaketku, Nora! Jangan pernah lepas!" perintah Nio seraya menggenggam erat pergelangan tangan Nora.
"Aku siap, Nio! Aku ikut denganmu!" seru Nora menahan napas di tengah gumulan asap yang menyengat.
Nio tidak melesat ke arah pintu keluar utama yang dijaga ketat oleh pasukan musuh, melainkan menerobos masuk ke celah saluran ventilasi bawah tanah.
Langkah kaki mereka berdua mendarat mantap di atas lorong besi yang gelap, dingin, dan berbau debu tua.
Di atas mereka, deru mesin helikopter dan tembakan bertubi-tubi pasukan Zero menghantam tanah kosong yang sudah mereka tinggalkan.
"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata," gumam Nio seraya berjalan memimpin di dalam kegelapan lorong bawah tanah.
"Tetapi kali ini, kata-kata itu akan mengejar orang yang mencoba menghapusnya sampai ke akarnya," lanjut Nio tegas.
Nora berjalan cepat di samping Nio, merasakan perubahan aura yang sangat radikal pada pria tanpa nama itu.
"Ke mana tujuan utama kita sekarang, Nio?" tanya Nora dengan keteguhan baru yang membakar matanya.
"Markas pusat transmisi Zero di Sektor Tiga. Tempat di mana dia menyimpan seluruh arsip eksistensi yang telah dia curi dari para korban," jawab Nio dingin.
Pendar merah dari panel darurat ventilasi menyinari wajah Nio yang penuh torehan darah tipis dan debu beton.
Penyusup yang selama ini bersembunyi di balik bayangan kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi seorang pemburu yang tak terhentikan.
Namun tiba-tiba, langkah kaki Nio terhenti secara mendadak di persimpangan lorong ventilasi yang gelap.
Di hadapan mereka, sebuah pintu besi bergetar hebat sebelum terkunci secara otomatis dari luar, sementara suara tawa Kael kembali bergema dari speaker dinding lorong.
"Kamu bertindak terlalu jauh, Subjek 0. Apakah kamu benar-benar siap menghadapi identitas aslimu di Sektor Tiga?"