NovelToon NovelToon
Terjebak Menjadi Villain Favorit

Terjebak Menjadi Villain Favorit

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.

Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.

Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Aruna mengepalkan kedua tangannya erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. "Tidak... aku tak mau mempercayainya."

"Itulah sebabnya aku kembali ke sini," ucap Evelyne dengan tatapan yang penuh kesedihan namun teguh. "Aku kembali untuk menghentikanmu."

Cedric seketika melangkah maju berdiri di hadapan Aruna. "Jangan mendekatinya."

Evelyne tak tampak takut sedikit pun. Ia justru menatap lurus ke mata Cedric. "Kau mencintainya."

Cedric terdiam seketika. Aruna pun terkejut mendengar pengakuan yang begitu tegas itu.

Evelyne tersenyum tipis yang menyiratkan ribuan luka lama. "Dahulu... aku selalu berharap suatu hari nanti kau pun akan mengucapkan kalimat yang sama kepadaku. Namun kau tak pernah sekalipun melakukannya."

Cedric perlahan menurunkan ujung pedangnya. "Aku bukanlah pria yang digambarkan dalam cerita itu."

"Benar," Evelyne mengangguk pelan. "Karena kehadiran Aruna di sini telah mengubah hatimu."

Aruna menatap punggung pria yang berdiri melindunginya itu. Cedric tak menghindari tatapannya sedikit pun. Ia justru menoleh kembali kepada Aruna dengan pandangan yang begitu tulus dan teguh.

"Aku memilihnya. Dan tak ada kekuatan apa pun yang dapat mengubah perasaanku kepadanya."

Jawaban itu membuat napas Aruna seakan tertahan di kerongkongan.

Evelyne tersenyum namun tak tampak bahagia sedikit pun. "Itulah justru masalah yang sesungguhnya."

"Apa maksudmu?" tanya Aruna tak paham.

Evelyne menunjuk buku hitam yang kini terbuka di halaman terakhir. "Semakin banyak perubahan yang kau buat di dalam kisah ini, semakin kuat pula cerita itu melawan dan mengambil kembali apa yang seharusnya tak berubah."

Jari Evelyne meluncur menunjuk deretan nama yang tertulis di sana dengan tinta merah yang segar.

Duke Arthur Ashcroft.

Duchess Helena Ashcroft.

Pangeran Adrian Ashcroft.

Tuan Cedric Ravenwood.

Di samping setiap nama itu tertera sebuah tanggal. Tanggal yang menandakan hari kematian mereka.

Wajah Aruna seketika menjadi pucat tak bercahaya. "Ini..."

"Itulah akhir yang telah ditetapkan untuk mereka semua," ucap Evelyne pelan namun tegas.

Tanpa berpikir panjang, Aruna segera meraih buku itu dan merobek halaman tersebut dengan tangan gemetar. "Aku tak akan membiarkannya terjadi!"

Namun hal yang mengerikan pun terjadi. Lembaran itu baru saja tercabut dari jilidnya, ketika tulisan-tulisan itu perlahan muncul kembali di halaman berikutnya. Satu per satu, nama-nama yang sama tertulis kembali dengan tinta yang kian memerah segar. Namun kali ini... tanggal kematian setiap orang itu telah berubah menjadi hari yang jauh lebih cepat.

Aruna terpaku tak mampu bernapas.

"Itulah harga yang harus dibayar setiap kali kau berusaha mengubah takdir yang telah tertulis," ucap Evelyne dengan suara yang terdengar begitu berat dan penuh belas kasih.

Aruna menatap halaman itu dengan napas yang sesak. "Jadi... setiap kali aku berusaha menyelamatkan mereka... aku justru mempercepat keberangkatan mereka dariku?"

Cedric segera menggenggam tangan Aruna erat, berusaha memberinya kekuatan. "Jangan percaya kata-kata yang tertulis dalam buku itu."

Evelyne menatapnya dengan tatapan yang tak mampu dibantah. "Sayangnya... ia harus mempercayainya."

Aruna menoleh kepadanya dengan mata yang berkaca-kaca namun tak setuju. "Mengapa harus aku yang menanggung semuanya?"

Evelyne kembali menunjuk ke bagian paling bawah halaman itu. Di sana hanya tertulis satu nama saja dengan tinta yang paling terang dan mencolok.

ARUNA

Dan di samping namanya hanya tertulis satu kalimat: Akhir Cerita — Belum Ditentukan.

Aruna menatap namanya sendiri yang bersinar di atas kertas tua itu.

"Itulah sebabnya kau berbeda dariku," ucap Evelyne pelan. "Aku masih terikat pada takdir yang telah ditetapkan bagi tokoh bernama Evelyne. Namun kau..." Tatapan Evelyne berubah menjadi begitu serius dan dalam. "...kau sama sekali bukan bagian dari kisah ini."

Aruna menatap namanya sendiri yang tak memiliki hari kematian. "Jika demikian... bukankah berarti akulah yang dapat menentukan akhir dari kisah ini?"

Evelyne menggeleng perlahan. "Belum tentu demikian. Sebab kini... kisah itu sendiri telah menyadari keberadaanmu."

Tiba-tiba buku hitam itu menutup sendiri dengan bunyi yang menggelegar. Lampu-lampu di ruangan itu seketika padam seolah ditelan malam. Dari luar rumah tua itu terdengar suara langkah kaki yang datang berbondong-bondong mendekat. Banyak orang.

Cedric segera menarik tubuh Aruna ke belakang punggungnya untuk melindunginya. Adrian pun mencabut pedang dari sarungnya dengan sigap.

"Kita telah dikepung," ucap Adrian dengan suara rendah namun tegas.

Evelyne justru tersenyum tipis seakan telah mengetahui hal ini sejak semula. "Mereka datang."

Aruna menatapnya dengan cemas. "Siapa yang datang?"

Evelyne menoleh ke arah jendela yang kini diterangi cahaya obor yang kian mendekat. "Mereka yang senantiasa menjaga agar kisah ini tetap berjalan sesuai jalur yang telah ditetapkan sejak awal."

Di luar bangunan tua itu, puluhan prajurit dengan seragam yang tak pernah dilihat siapa pun telah mengepung rumah itu rapat-rapat. Dan di barisan paling depan berdiri sesosok pria yang senantiasa tersenyum tenang di tengah segala kegelapan.

Lord Sebastian Vale.

Ia menatap lurus ke arah jendela lantai dua tempat mereka berada, lalu tersenyum lebar seakan telah memenangkan segala sesuatu yang diperjuangkannya.

"Saatnya mengambil kembali Evelyne yang seharusnya menjadi milik kisah ini," ucapnya pelan namun terdengar begitu jelas hingga ke telinga siapa pun yang berdiri di dalam ruangan itu.

Aruna mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih. Matanya yang semula penuh ketakutan kini perlahan berubah menjadi tatapan yang tak akan menyerah begitu saja.

"Tidak..." ucapnya pelan namun teguh seakan bersumpah kepada dirinya sendiri. "Kali ini... tak ada siapa pun yang boleh menentukan akhir kehidupan kami."

1
Wahyuningsih
mampir q thor
haruuu
udahh kebongkar kocakk🤭
Fahreziy
👣👣👣
lin sya
sebastian penulis novel, atau pembaca novel yg nyasar kyk aruna, klo aruna bsa ubah alur ceritanya, otomatis dia bisa gk ya ttp selamat dan kluarganya ttp baik2 aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!