Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Diam-diam
Pagi itu, Yu bangun dengan tiga hal.
Mata bengkak.
Saldo tabungan yang terluka parah.
Dan satu pesan dari akun Z.
Z: Permintaan diterima dengan batas jelas. Tidak ada layanan di luar private coaching. Jadwal akan diberi setelah verifikasi. Jangan kirim data pribadi tambahan.
Yu membaca pesan itu sambil duduk tegak di kasur.
Diterima.
Jadi... diterima?
Ia menatap layar terlalu lama sampai ponsel meredup sendiri. Rasa lega datang lebih dulu, disusul panik yang jauh lebih besar. Permintaan anehnya diterima. Uangnya tidak langsung dikembalikan. Artinya suatu hari nanti ia harus bertemu Z sebagai klien, menyodorkan tangan, dan pura-pura tidak mati karena malu.
Masalahnya, Z itu sedang berada di ruang tengah, mungkin menyeduh kopi tanpa tahu siapa yang baru saja ia terima.
Atau mungkin tahu?
Yu menggeleng cepat.
Tidak mungkin. Ia sudah memakai akun kosong, nomor baru, nama palsu yang sangat jauh dari Chua Yulin. Zhen boleh pintar, tapi ia bukan dukun.
Di luar kamar, terdengar suara Burger menggonggong sekali.
Yu menarik napas panjang. Kalau nanti ada jadwal resmi, ia akan memikirkannya nanti. Untuk sekarang, tubuhnya masih butuh cara bertahan sehari-hari.
Cara menyentuh Zhen tanpa terlihat ingin menyentuh Zhen.
Rencana itu kembali dibuka.
Nomor satu: pura-pura butuh bantuan.
Nomor dua: pinjam barang.
Nomor tiga: lewat terlalu dekat.
Yu menatap nomor tiga, lalu merasa dirinya seperti tokoh antagonis murahan.
"Ini demi kesehatan," bisiknya.
Di ruang tengah, Zhen sedang duduk dengan laptop dan kopi hitam. Ia memakai kaus abu-abu, rambut masih sedikit berantakan, wajah dingin seperti biasa. Kalau Yu tidak tahu akun Z baru saja mengiriminya pesan, ia mungkin akan mengira Zhen hanya mahasiswa kurang tidur yang menyebalkan.
"Pagi," kata Yu.
Zhen mengangkat mata. "Sudah siang."
Jam menunjukkan 10.20.
"Pagi versi orang trauma finansial," gumam Yu.
"Apa?"
"Nggak."
Ia berjalan ke dapur, mengambil gelas, lalu berhenti di depan rak tinggi. Gelas favoritnya sengaja ia pindahkan semalam ke rak paling atas. Ini rencana yang cukup bodoh tapi praktis.
Yu berjinjit.
Tidak sampai.
Ia melirik Zhen.
Zhen tetap menatap laptop.
Yu berjinjit lagi, kali ini lebih dramatis.
Masih tidak sampai.
Zhen akhirnya berkata, "Gelas lain ada di bawah."
"Aku mau yang itu."
"Kenapa?"
"Lebih... ergonomis."
Zhen menatapnya.
Yu sendiri ingin menertawakan jawaban itu.
Tanpa berkata apa-apa, Zhen berdiri. Ia berjalan ke dapur, mengambil gelas dari rak atas dengan mudah, lalu menyerahkannya.
Kesempatan.
Yu menerima gelas dengan tangan terlalu cepat. Ujung jarinya menyentuh jari Zhen.
Satu detik.
Tubuhnya langsung tenang.
Zhen tidak menarik tangan secepat biasanya. Ia membiarkan sentuhan itu lewat setengah detik lebih lama, lalu melepaskan gelas.
"Ergonomis?" tanyanya.
Yu memeluk gelas seperti barang bukti. "Iya."
"Gelasnya sama dengan yang bawah."
"Tapi yang ini... lebih tinggi."
Zhen menatapnya lama.
Yu melarikan diri ke dispenser.
Percobaan pertama berhasil.
Percobaan kedua terjadi siang hari. Yu duduk di meja makan mengerjakan tugas, sengaja lupa membawa charger laptop. Ketika baterainya tinggal delapan persen, ia menoleh ke Zhen yang membaca dokumen di sofa.
"Zhen."
"Hmm."
"Boleh pinjam charger?"
"Charger laptopmu di kamar."
"Aku malas ambil."
Ia mengangkat mata. "Jadi kamu memilih mengganggu orang lain?"
"Kamu duduk lebih dekat dengan colokan."
Alasan itu bahkan lebih buruk daripada ergonomis.
Zhen menutup dokumen, mengambil charger dari tasnya, lalu meletakkannya di meja. Yu mengulurkan tangan bersamaan dengan Zhen melepas kabel.
Jari mereka bersentuhan lagi.
Kali ini Yu sudah siap, tapi tubuhnya tetap bereaksi. Bahunya turun. Napasnya memanjang. Rasa gelisah yang sejak pagi mengendap karena pesan Z mendadak hilang.
Zhen memperhatikan.
Yu tahu ia memperhatikan.
Maka ia cepat-cepat menarik charger. "Makasih."
"Charger-ku tidak ergonomis?"
Yu hampir tersedak.
"Kamu masih bahas itu?"
"Aku suka konsistensi."
"Kamu suka menyiksa orang."
"Tergantung orangnya."
Kalimat itu membuat Yu diam sepersekian detik.
Zhen kembali membaca seolah tidak mengatakan apa-apa.
Percobaan ketiga hampir gagal karena Burger.
Sore hari, Yu berniat lewat terlalu dekat saat Zhen memberi makan Burger. Ia menghitung jalur dari dapur ke meja makan, memastikan kalau ia membawa piring, gerakannya terlihat alami. Tapi Burger yang terlalu senang melihat makanan berputar di kaki Zhen, membuat Yu hampir tersandung.
"Awas."
Zhen menangkap pergelangan tangan Yu.
Kulit kali ini bertemu kulit.
Tidak ada hoodie.
Tidak ada kain.
Telapak Zhen hangat dan kering. Genggamannya tidak keras, hanya cukup untuk menahan tubuh Yu agar tidak jatuh. Namun efeknya jauh lebih kuat daripada semua sentuhan singkat tadi.
Yu terdiam.
Ruang tengah seperti ditutup kaca. Suara Burger, AC, sendok makanan anjing, semua menjadi jauh. Yang tersisa hanya pergelangan tangannya di tangan Zhen dan jantungnya yang tidak lagi tahu harus takut atau senang.
Zhen juga diam.
Matanya turun ke tangan mereka, lalu naik ke wajah Yu.
"Kamu sering sekali hampir jatuh akhir-akhir ini," katanya.
Yu menarik tangan pelan, wajah panas. "Lantainya licin."
"Lantainya kering."
"Burger mengganggu."
Burger menggonggong, seolah tidak terima difitnah.
Zhen melepaskan tangannya. "Kasihan Burger. Difitnah dua orang dalam dua hari."
Yu kabur ke kamar dengan alasan mengambil buku.
Begitu pintu tertutup, ia menempelkan punggung ke pintu dan menekan pergelangan tangan ke dada. Ia tidak tahu apakah lebih malu karena hampir ketahuan, atau karena bagian paling jujur dari dirinya ingin keluar lagi dan mengulanginya.
Di luar, Zhen menatap pintu kamar Yu beberapa detik.
Ia sudah tidak perlu dashboard.
Gelas di rak atas. Charger yang jelas ada di kamar. Jalur jalan yang terlalu dibuat-buat. Cara Yu menegang sebelum sentuhan, lalu langsung tenang setelahnya. Semua terlalu rapi untuk disebut kebetulan, dan terlalu kacau untuk disebut strategi.
Zhen mengambil ponsel.
Yan menjawab panggilan dengan suara mengantuk. "Apa?"
"Menurutmu," kata Zhen pelan, matanya masih ke arah pintu kamar Yu, "kalau seseorang terus-terusan menyentuhmu diam-diam, itu artinya apa?"
Di seberang, Yan langsung segar.
"Ya suka lah, memang apalagi?"
Zhen terdiam.
Dari balik pintu, Yu bersin kecil.
Yan tertawa keras. "Tunggu. Ini soal roommate lo, kan?"
Zhen memutus telepon.
Untuk pertama kalinya sejak Yu pindah, ia tidak langsung mengambil tisu basah setelah disentuh.