Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Cincin Giok
Paket itu tiba tiga hari setelah telepon Jansen.
Tidak besar. Hanya kotak kayu tipis berwarna cokelat tua, dibungkus kain hitam, tanpa nama pengirim di bagian luar. Di atasnya hanya tertulis satu nama dengan tinta hitam yang rapi.
Keira Hartono.
Om De membawanya ke ruang kerja dengan kedua tangan.
"Nona Besar, paket ini dititipkan melalui jalur lama Engkong."
Keira menatap kotak itu. "Dari Jakarta?"
"Tidak ada alamat pengirim."
Tetapi Keira sudah tahu bahkan sebelum menyentuhnya.
Ada sesuatu tentang benda-benda yang menunggu terlalu lama. Mereka membawa diam yang berbeda.
Engkong Hartono datang beberapa menit kemudian. Begitu melihat kotak itu di meja, tangan tuanya berhenti di kepala tongkat.
"Akhirnya sampai juga," katanya pelan.
Keira menoleh. "Engkong tahu isinya?"
Engkong duduk di kursi seberang. Wajahnya berubah menjadi lembut sekaligus berat. "Buka."
Keira membuka pengait kecil kotak itu.
Di dalamnya ada lapisan beludru hijau tua, satu surat pendek yang dilipat, dan sebuah dudukan cincin kosong. Bukan kosong sepenuhnya. Di bagian tengah dudukan itu ada lekukan yang bentuknya persis seperti Cincin Giok yang selama ini tergantung di rantai tipis di leher Keira.
Keira menyentuh rantainya.
"Ini pasangannya?"
"Itu rumah aslinya," jawab Engkong.
Keira perlahan melepas rantai dari leher. Cincin giok kecil itu jatuh ke telapak tangannya, dingin dan halus. Selama beberapa hari, ia memakainya seperti liontin karena Engkong memberikannya begitu. Namun ketika ia meletakkan cincin itu ke dudukan beludru, benda itu masuk tepat pada tempatnya.
Seolah memang tidak pernah milik tempat lain.
Di bagian bawah kotak, ada ukiran lambang kecil Tanuwijaya.
Selain surat, ada satu amplop tipis berisi salinan tanggal. Bukan laporan lengkap, hanya daftar pendek yang disusun sangat rapi.
Tahun pertama, pencarian di rumah sakit dan pelabuhan.
Tahun kedua, perluasan ke data kependudukan dan klinik swasta.
Tahun ketiga, penelusuran jalur Surabaya.
Tahun keempat, catatan terakhir berhenti pada satu kalimat:
`Kemungkinan hidup masih ada. Jangan hentikan.`
Keira membaca daftar itu tanpa suara.
Tidak ada kalimat cinta.
Tidak ada janji manis.
Justru karena itu, setiap tanggal terasa lebih berat.
Keira mengangkat wajah.
"Ini benar milik Rayhan."
Engkong mengangguk. "Salah satu pusaka keluarga Tanuwijaya. Tidak semua orang bahkan boleh melihatnya. Dulu bentuknya memang cincin kecil, lalu Rayhan meminta dibuatkan rantai agar bisa kau pakai sebelum kau siap memakainya di jari."
"Kenapa Engkong memberikannya sebagai liontin waktu itu?"
"Karena Engkong tidak mau kau merasa terikat pada sesuatu yang belum kau ingat." Engkong tersenyum tipis. "Rayhan juga meminta begitu. Katanya, kalau kau pulang dalam keadaan tidak mengenalnya, benda itu harus menjadi teman dulu, bukan beban."
Teman dulu.
Keira menunduk pada cincin itu.
Tidak banyak pria dalam hidupnya yang mengerti bahwa perlindungan bisa terasa seperti tekanan jika diberikan tanpa ruang.
Keira membuka surat.
Tidak panjang.
Tulisan tangannya tegas, bersih, tanpa hiasan.
`Untuk Keira, saat dia pulang. Kalau dia belum mengingatku, jangan paksa. Biarkan dia memegangnya lebih dulu. Aku akan menunggu sampai dia siap bertanya sendiri.`
Tidak ada tanda tangan lengkap.
Hanya satu huruf.
R.
Keira membaca kalimat itu dua kali.
Jangan paksa.
Biarkan dia memegangnya.
Aku akan menunggu.
Rayhan Tanuwijaya terasa semakin nyata justru karena ia tidak muncul.
"Engkong," suara Keira lebih pelan dari biasanya, "kenapa dia begitu yakin aku akan pulang?"
Mata Engkong basah tipis. "Karena waktu kau hilang, semua orang mencari dengan takut kehilangan. Rayhan mencari seperti orang yang sedang menepati janji."
"Janji apa?"
Engkong menatap cincin itu. "Saat kau masih kecil, kau pernah menangis karena takut ditinggal di taman belakang. Rayhan, anak kecil yang bahkan belum sepenuhnya paham arti hidup, berdiri di depanmu dan berkata pada semua orang: selama dia ada, Keira tidak akan hilang."
Dada Keira terasa sesak.
Bayangan itu datang lagi. Taman. Rumput basah. Seorang anak laki-laki berdiri dengan lengan kecil terbuka, seperti menjaga dunia agar tidak mendekat terlalu kasar.
"Dia mengucapkan itu waktu kecil," bisik Keira.
"Dan menghabiskan empat tahun terakhir membuktikannya sebagai orang dewasa."
Keira menatap Cincin Giok.
Di bagian dalam, huruf K terukir sangat kecil, tetapi tajam. Ia melepas cincin itu dari dudukan, mencoba memasukkannya ke jari manis tangan kanan.
Pas.
Terlalu pas untuk disebut kebetulan.
Giok dingin menyentuh kulitnya. Lalu, seperti sebelumnya, dingin itu berubah menjadi hangat perlahan.
Engkong tidak berkata apa-apa.
Keira juga tidak.
Namun diam itu tidak kosong.
"Kalau suatu hari kau ingin melepasnya, tidak apa-apa," kata Engkong akhirnya. "Yang penting, keputusan itu milikmu."
Keira merasakan berat cincin di jarinya, kecil tetapi nyata. Selama bertahun-tahun, cincin yang ia kenal hanya cincin pernikahan dengan Galang, benda yang pernah terasa seperti kewajiban dan akhirnya menjadi luka. Cincin Giok ini berbeda. Tidak menuntutnya menjadi milik siapa pun. Tidak meminta jawaban malam itu juga.
Ia hanya ada.
Menunggu.
Seperti pemiliknya.
Di luar, angin sore menyentuh jendela. Di dalam ruang kerja, masa lalu yang belum utuh berdiri di antara mereka, tidak lagi sepenuhnya gelap.
Keira mengangkat tangannya sedikit, menatap cincin hijau tua itu menangkap cahaya.
Jantungnya berdetak lebih pelan, tetapi jauh lebih dalam dari sebelumnya.
"Rayhan Tanuwijaya," gumamnya. "Kau siapa sebenarnya?"