Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
.
Nathan bersandar santai di kursinya sambil menatap Alena tanpa berkedip.
"Tunggu saja di situ," ucapnya datar.
Alena mengerutkan kening. Dalam hatinya gadis itu bertanya-tanya. Kenapa harus menunggu. Dan apa yang harus ditunggu? Jika memang tidak ada perintah kenapa memanggil? Padahal dirinya juga ada pekerjaan yang harus diurus. Namun, karena tidak ingin memperpanjang masalah, gadis itu akhirnya hanya menganggukkan kepala singkat dengan posisi masih tetap berdiri di depan meja kerja Nathan. MENUNGGU.
Beberapa menit kemudian terdengar ketukan dari luar. Lalu seorang office boy masuk membawa secangkir kopi di atas nampan.
"Permisi, Tuan. Ini kopinya."
Nathan hanya mengangguk tanpa suara. Sementara Alena akhirnya mengetahui, karena tidak puas dengan kopi buatannya maka bosnya itu meminta kopi pada office boy. Dalam hatinya Alena merasa tak enak hati karena hanya untuk hal yang bahkan terlalu sepele seperti itu dirinya tidak mampu. Karena itu dalam hatinya iya berjanji akan belajar membuat kopi yang nikmat.
Sementara itu Office boy yang memang sudah terbiasa dengan sikap Nathan yang memang datar, segera menaruh cangkir kopi tersebut di atas meja Nathan, kemudian membungkuk sedikit sebelum keluar dari ruangan.
Begitu pintu kembali tertutup, Nathan mengalihkan pandangannya kepada Alena. Pria itu kemudian menunjuk cangkir kopi di atas meja dengan dagunya.
Alena yang sama sekali tidak mengerti apa maksud Nathan, hanya menatap cangkir tersebut, kemudian kembali menatap Nathan dan kembali menatap cangkir itu bergantian.
Karena melihat Nathan yang masih diam, Alena akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Ada apa, Tuan?"
Nathan memecahkan mata sambil menghela napas panjang. "Icipi," perintahnya singkat.
"Ha?" Alena langsung terbelalak dan ujung jari menunjuk ke arah hidungnya sendiri. “Icipi?" Apa dia tidak salah dengar? Begitu pikirnya.
"Iya. Icipi kopinya."
"Maksud saya, itu kan kopi Anda? Kenapa saya yang harus mencicipinya?"
"Karena kamu adalah asisten pribadi saya,” jawab Nathan dengan suaranya yang datar. "Dan sebagai seorang asisten, salah satu tugasmu adalah memastikan aku baik-baik saja."
Alena menggaruk pelipisnya, semakin tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh atasannya itu.
"Karena itu sebelum aku minum kopi itu kamu harus mencicipinya terlebih dahulu. Jadi, kalau ada racun dalam kopi itu, kamu yang mati duluan," ucap Nathan yang benar-benar bagaikan bos yang tak punya hati.
Alena menelan ludahnya dengan susah payah, kedua matanya menatap Nathan dengan nyaris tidak berkedip. Apa barusan dia tidak salah dengar? Bukankah itu artinya dirinya dijadikan sebagai kelinci percobaan? Meskipun sekilas perintah itu memang terdengar masuk akal. Akan tetapi… memangnya ini zaman kekaisaran? Apa ada office boy yang akan meracuni bosnya secara terang-terangan di siang bolong seperti ini? Bukankah alasan Tuan Nathan itu terlalu tidak masuk akal?
Alena mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Rahangnya mengeras menahan kesal.
Namun, apa daya? Dirinya hanyalah seorang asisten yang harus melakukan apa saja yang diperintahkan oleh atasannya.
"Baiklah."
Dengan hati yang ingin melontarkan segala macam umpatan, gadis itu mendekati meja Nathan, lalu mengambil cangkir kopi tersebut menggunakan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih terkepal di samping badan, kemudian menatap wajah Nathan dengan mata memicing kesal.
"Kalau saya mati, perusahaan harus memberikan uang pesangon sebesar sepuluh miliar yang ikut dikuburkan bersama saya," gumamnya pelan.
Nathan hampir tertawa mendengar celotehan Alena. Namun pria itu buru-buru menahannya dengan menggigit bibir bawahnya.
"Minum saja, jangan protes."
Alena mendelik sebelum akhirnya mendekatkan cangkir itu ke bibirnya. Ia terpaksa mencicipi sedikit kopi tersebut meskipun dia tidak suka kopi. Hanya sedikit, bahkan tidak sampai seteguk lalu Alena menurunkan cangkir tersebut.
"Bagaimana?” tanya Nathan sambil menatap gadis itu dengan tenang.
Alena mengusap bibirnya dengan punggung tangan sebelum menjawab dengan nada kesal. "Anda bisa lihat saya masih baik-baik saja. Itu artinya tidak ada racun dalam kopi itu."
Nathan terdiam dengan sudut bibirnya terangkat. "Bagus,” ucapnya kemudian mengambil cangkir tersebut lalu menyesapnya perlahan.
Yang membuat Alena terbelalak adalah, Nathan meminum kopi dari sisi cangkir yang tadi digunakan olehnya. Tepat pada bekas bibirnya. Alena menelan ludahnya dengan susah payah. Bukankah itu artinya mereka sudah berciuman secara tidak langsung?
"Ada apa? Kamu mau kopi juga?” tanya Nathan seolah apa yang baru saja ia lakukan sama sekali tidak salah. “Ini. Ambil kalau mau!" ucapnya seraya menyodorkan cangkir yang ia pegang ke arah Alena.
“Ah, ti– tidak!” Alena segera menggoyangkan dua telapak tangannya di depan dada berkali-kali. "Saya tidak suka kopi,” ucapnya memberi alasan. Dan dalam hatinya berkata, meskipun suka kopi, ia juga tidak mau minum kopi dari cangkir yang sama dengan pria yang sama sekali tak memiliki hubungan dengannya.
"Apakah ada perintah lain?” tanya Alena kemudian. "Kalau tidak saya akan kembali ke ruangan saya.”
Belum sempat Nathan menjawab, ponsel yang ada di saku blazer Alena berdering. Alena buru-buru mengambil ponsel itu dan ingin mematikannya, tetapi Nathan memerintahkan padanya untuk mengangkat panggilan itu di depannya.
“Supaya aku tahu kamu tidak berkhianat pada perusahaan. Siapa tahu saja yang menghubungimu adalah rival Wijaya Kusuma."
Alasan yang diucapkan oleh Nathan membuatnya terbelalak, tak percaya sekaligus geram. Apa dia memiliki tampang pengkhianat? Tapi sekali lagi, dia hanyalah asisten yang harus mengikuti semua kata-kata bos nya.
Alena menatap layar ponsel itu. Nomor baru tanpa nama. Dan dia tahu siapa yang sedang menghubunginya. Siapa lagi kalau bukan Reno.
"Aktifkan loudspeaker!”
Perintah dari Nathan kembali terdengar saat ia baru saja menekan ikon hijau, membuat gadis itu mendengus sebal, tapi tak kuasa melawan.
“Alena ini aku."
Suara Reno ikut terdengar oleh Nathan dan membuat tangan pria itu tanpa sadar terkepal erat. Matanya menatap lurus ponsel yang ada di tangan Alena seakan ingin menelannya bulat-bulat.
“Ada apa?" tanya Alena datar.
“Kamu ada di mana? Om Gunawan sama Tante Miranda bilang kamu pergi dari rumah. Berikan alamatmu, aku akan menjemputmu sekarang."
“Sudah aku bilang, hubungan kita berakhir sejak kamu memilih menunggui Selena dan membiarkan aku sendirian di hari pernikahan. Mulai sekarang, jangan hubungi aku lagi."
“Alena… aku… berikan aku kesempatan bicara. Ada yang harus ku jelaskan tentang kesalahpahaman ini.”
"Ini bukan kesalahpahaman. Ini adalah pilihan yang sudah kau buat. Jadi, aku juga sudah menentukan pilihan ku.”
“Tidak. Itu tidak benar. Alena…”
Tutt!
Alena memutuskan panggilan secara sepihak. Memejamkan matanya rapat, menahan dadanya yang masih menyisakan rasa sesak. Gadis itu kembali menatap nomor yang baru digunakan oleh Reno untuk menghubunginya kemudian menekan ikon blokir. Entah sudah nomor ke berapa yang ia blokir. Ia tak peduli.
“Kenapa tidak ganti kartu saja? Dengan begitu si pecundang itu tidak akan bisa mengganggumu lagi.”
Suara Nathan terdengar saat ia baru saja memasukkan kembali ponsel ke dalam saku blazer. Gadis itu kemudian menatap Nathan dengan matanya yang terlihat kosong.
“Apa gunanya?" tanya Alena. “Kita masih tinggal dalam satu kota. Cepat atau lambat akan tetap bertemu kembali. Lagipula, aku hanya malas bicara. Bukan ingin sembunyi dari mereka."
Ada alasan tersendiri yang disimpan Alena dalam hati. Ia ingin melihat seperti apa wajah Selena saat mengetahui kini dirinya berada di sisi Nathan.
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣