Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Emily membuka matanya dan mengedarkan pandangannya. Tersadar, ia bangkit dan duduk. Pagi ini dia sudah berada di kamar suaminya. Padahal, semalam dia sedang menjalani hukuman.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" gumamnya heran.
Emily coba mengingat yang terjadi pada dirinya. Tak mungkin ia keluar dari ruangan yang terkunci. Selesai menyantap hidangan makan malam yang diberikan Karin matanya terasa berat. Setelah itu dia tak mengetahui apapun.
Leon baru saja selesai mandi, ia berdiri tanpa kursi roda dan masih mengenakan handuk ia menghampiri istrinya, "Sepertinya kau tidur sangat nyenyak sekali sampai tak sadar dipindahkan ke sini."
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Emily.
"Sejak kakakmu datang, sekarang kau semakin tak sopan," jawab Leon menyindir.
Emily turun dari ranjang mendekati suaminya. "Apa kau takut memberikan hukuman untukku?"
Leon mendengus.
"Kenapa tiba-tiba kau jadi berubah begini? Apa yang membuatmu takut, Tuan Leon Anderson terhormat?" Emily terus memancing kemarahan suaminya.
Leon yang tersulut, mencekik istrinya dengan menggunakan tangan kanannya dan mendorongnya ke dinding.
Wajah Emily mendadak tegang dan panik, matanya tampak berkaca-kaca menahan rasa sakit. Memakai kedua tangannya, ia berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya.
"Bagaimana? Sakit?" Leon menatap dingin.
Emily tak dapat menjawab.
"Ini belum seberapa dengan hukuman lainnya. Apa kau tidak mau menyerah dan meminta maaf?" Leon memberikan keringanan.
Emily sekuat tenaganya mencoba melepaskan tangan suaminya dari lehernya.
Leon yang tak tega akhirnya melepaskan cengkeramannya dan Emily terbatuk-batuk sambil memegang lehernya.
"Aku tau kau tidak akan sanggup menerima hukuman dariku!" tebak Leon sembari tersenyum sinis.
"Sepertinya kau menyepelekan aku?" Emily kembali menantang, ia menatap suaminya dengan senyuman seringai.
"Jika kau tidak memakai kalung itu, sudah dari semalam aku melenyapkan dirimu!" kata Leon mengarahkan pandangannya ke leher istrinya.
Emily dengan cepat memegang liontin pemberian ibu mertuanya. "Aku akan lepaskan!"
Leon menepis tangan Emily secara kasar, "Jika kau berani melepaskannya maka aku takkan segan memaafkanmu lagi!"
Emily tak berkutik.
"Sebelum aku berubah pikiran cepat layani aku seperti biasanya!" titah Leon.
Emily pun melakukan perintah suaminya. Ia berjalan ke arah lemari dan mencari pakaian buat dikenakan Leon pagi itu. Rutinitas harian yang biasa dilakukan Emily sebelum suaminya melakukan kegiatannya.
"Aku tidak suka kau melayaniku dengan wajah cemberut begitu!" sindir Leon ketika istrinya memakaikan kemeja ke tubuhnya.
Emily lalu tersenyum terpaksa.
"Suatu hari nanti kau pasti mengetahui sebenarnya. Orang yang selama ini kelihatan baik di matamu ternyata pembohong besar dan lebih kejam dariku," batin Leon menatap wajah istrinya.
Emily selesai memakaikan suaminya pakaian kerja. Ia lalu pamit sejenak membersihkan diri. Leon pun menunggunya di ruang makan.
Selang 30 menit, Emily sudah duduk di samping suaminya. Keduanya menikmati sarapan bersama tanpa suara. Emily memasang wajah datar padahal hatinya begitu senang lepas dari jerat hukum.
"Kemungkinan aku tidak pulang malam ini. Jadi, jangan coba-coba mencari masalah lagi!" kata Leon saat selesai sarapan.
"Hmm."
Leon beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah pergi.
Selepas suaminya berlalu, Emily menghela napas lega. Memancing emosi Leon hampir membuat nyawa Emily melayang.
Sebelum melakukan kegiatannya belajar, Emily mencari keberadaan Karin. Begitu melihat wanita itu, ia mempercepat langkahnya memanggilnya. "Tunggu, aku perlu bicara denganmu!"
Karin yang hendak menuju ke ruang bawah tanah lantas berhenti dan membalikkan badannya, "Ada apa, Nona?" tanyanya dengan ekspresi wajah datar.
"Apakah kamu yang memberikan obat tidur di makanan aku tadi malam?" Emily balik bertanya.
"Ya. Atas perintah Tuan Leon," jawab Karin jujur.
"Kenapa dia melakukan itu?" tanya Emily.
"Tuan Leon tidak mau Nona mati di istana miliknya," jawab Karin memberikan alasan sesuai ucapan majikannya.
Beberapa jam lalu, Leon memerintahkan Karin memberikan hidangan makan malam untuk istrinya. Ia meminta Karin memasukkan sedikit obat tidur ke dalam makanan. Ketika Emily mulai menyantapnya dari kejauhan Karin dan 2 orang pelayan wanita memperhatikannya.
Setelah Emily tertidur, mereka lalu mengeluarkannya dari ruangan tahanan dan membawa ke kamar menggunakan kursi roda. Leon melarang pelayan pria yang menggendong istrinya.
Emily tersenyum getir mendengarnya.
"Nona masih ingin bermain-main dengan hukuman Tuan Leon?" tanya Karin.
"Sebelum dia melepaskan ayah dan kakakku, aku akan terus menentangnya!" jawab Emily.
"Silakan saja, saya berharap Nona tidak akan menyesal dengan keputusan Tuan Leon!" kata Karin tersenyum, wanita itu lalu membalikkan badannya melanjutkan langkahnya.
Selesai berbicara dengan Karin, dia pun segera memulai pembelajarannya. Sejak menjadi istri Leon ada saja yang harus dia lakukan. Mulai belajar makan dan minum yang benar, berjalan dengan anggun, belajar bahasa, belajar memasak, belajar berenang dan rutin berolahraga latihan beban setiap sore. Kebiasaan yang tak pernah dilakukannya selama menjadi anak dari Antonio dan Caroline. Waktunya habis di sekolah dan mengerjakan pekerjaan rumah, padahal kedua orang tuanya cukup kaya dan sanggup memberikan upah kepada pelayan lebih dari 5 orang. Namun, sepasang suami istri itu hanya mempekerjakan 2 orang pelayan wanita dan Emily yang membantunya.
Leon sengaja mengirimkan para pelatih dan guru agar Emily tak merasa bosan di rumah mewah miliknya. Ia juga ingin membalas ketulusan Emily merawat dirinya selama lumpuh.
-
Malam harinya, hujan turun sangat lebat diiringi petir yang menyambar. Emily berdiri di dekat jendela memperhatikan kilatan petir yang sangat keras di telinganya.
"Kenapa tiba-tiba aku mengkhawatirkannya?" gumamnya.
Emily memandangi jam dinding yang menunjukkan angka 11. Perasaannya semakin cemas.
Emily keluar dari kamarnya, ia ingin menghubungi suaminya melalui Karin sebab dia tak memiliki ponsel.
Beberapa lampu telah padam dan suasana sangat sunyi padahal dia tak tinggal sendiri ada lebih 20 orang pelayan dan pengawal yang tinggal bersamanya.
Emily yang berada di lantai dasar, naik ke lantai atas menyusuri lorong yang minim pencahayaan mencari kamar Karin. Meskipun takut, ia paksa menemui wanita itu.
Emily berdiri di depan kamar yang diyakininya ditempati Karin. Ia mengetuk pintu beberapa kali. Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Nona!" Karin begitu terkejut Emily berdiri di depan kamarnya.
"Aku mau minta tolong padamu!"
"Apa yang saya bisa bantu?" tanya Karin.
"Bisakah kamu menghubungi suamiku atau Charles?" pinta Emily.
"Maaf, Nona. Saya tidak berani menghubungi Tuan Leon atau Tuan Charles saat jam segini. Mungkin saja mereka sudah beristirahat," kata Karin.
"Aku mengkhawatirkan suamiku. Aku cuma mau tau keberadaan dan keadaannya saja," ujar Emily.
"Sekali lagi saya minta maaf, Nona." Karin menundukkan kepalanya sebagai rasa bersalah.
"Aku takut sesuatu terjadi padanya!" ucap Emily lagi agar Karin bersedia membantunya.
"Nona tenang saja, Tuan Leon sangat pemberani dan Tuan Charles juga berada di sisinya. Saya yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan Tuan Leon," kata Karin mencoba meyakinkan Emily biar tak terlalu khawatir.
Emily sejenak diam, ia kemudian berkata, "Ya sudah, jika kamu tidak mau membantuku."
Emily lalu kembali ke kamarnya masih dengan perasaan cemas. Di atas ranjang, ia tak dapat tertidur apalagi kilatan cahaya petir tampak jelas dari tirai jendela kamarnya. Ia berharap hal buruk tak terjadi kepada suaminya.