Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
Hari itu terasa jauh lebih melelahkan dibanding biasanya.
Sejak pagi hingga menjelang malam, Anindiya hampir tidak sempat meluruskan kakinya. Pelanggan datang silih berganti untuk berkonsultasi, mencoba gaun, hingga melakukan rias percobaan. Di sela-sela kesibukan itu, ia masih harus mengurus pembayaran, membalas puluhan pesan masuk, dan mengecek jadwal rias yang makin padat.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, pelanggan terakhir akhirnya memohon pamit.
Suasana sanggar seketika kembali sunyi.
Rina sudah lebih dulu berpamitan pulang karena rona wajahnya masih nampak amat pucat pasi. Sebelum melangkah pergi, berulang kali Rina mengingatkan Anindiya agar tidak memaksakan diri bekerja terlalu larut malam.
Anindiya hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Ia tak ingin menambah beban kekhawatiran asistennya.
Setelah memastikan seluruh pembukuan tuntas, Anindiya kembali melirik jam di dinding. Perjalanan pulang menuju rumahnya cukup memakan waktu. Sementara itu, sekujur tubuhnya terasa teramat lemas, kedua bahunya pegal luar biasa sejak sore tadi.
Ia menghembuskan napas panjang, meluapkan lelahnya.
"Malam ini tidur di sini saja deh," gumamnya.
Keputusan itu terasa paling masuk akal. Di lantai dua sanggar memang sudah tersedia kamar sederhana yang biasa dipakai beristirahat jika pekerjaan selesai terlalu larut.
Anindiya meraih ponselnya, lalu mengetik pesan singkat kepada ibunya untuk mengabarkan bahwa ia menginap di sanggar.
Setelah mendapat balasan, ia mulai menyusuri seluruh sudut bangunan untuk memeriksa keamanan. Lampu ruang tamu dimatikan. Jendela diperiksa satu per satu. Pintu belakang dipastikan terkunci rapat.
Ia berjalan ke pintu depan, memutar kunci double dan menarik gagang pintu beberapa kali untuk memastikan semuanya aman terkendali. Tidak ada yang terlewat.
Anindiya menghela napas lega.
Sebelum menaiki anak tangga menuju lantai dua, langkahnya mendadak terhenti di ambang pintu ruang koleksi. Entah mengapa, ada dorongan halus di dalam dadanya yang ingin melihat gaun pengantin putih gading itu sekali lagi.
Lampu ruang koleksi masih menyala terang. Cahaya putih hangatnya membuat gaun pengantin itu tampak kian anggun dan memesona.
Anindiya melangkah masuk perlahan-lahan. Ruangan itu terasa begitu tenang. Tak ada suara apa pun selain detak jam dinding dari ruangan sebelah.
Di tengah ruangan, manekin kayu itu masih berdiri tegak memajang gaun pengantin yang selama beberapa minggu terakhir menjadi mahakarya sekaligus kebanggaan utama sanggarnya.
Anindiya mengukir senyum puas. Ia berjalan mendekat. Tangannya terangkat, mengusap pelan bagian lengan gaun tersebut. Kainnya terasa begitu lembut dan dingin di kulitnya. Payet-payet kecil yang menghiasi permukaan kain berkilauan indah saat diterpa pendar cahaya lampu.
"Memang cantik sekali..." bisiknya kagum pada pilihan sendiri.
Tak heran jika hampir semua calon pengantin langsung terhipnotis begitu memandangnya. Dalam hati, Anindiya kembali memuji keberaniannya merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli gaun itu dari butik tua di kota lama. Ia tak menyesal sedikit pun. Gaun inilah yang melambungkan nama sanggarnya, mendatangkan pesanan melimpah, dan membuat jadwalnya padat merayap. Semua impian bisnisnya berjalan persis seperti yang ia harapkan.
Anindiya berdiri cukup lama di depan manekin. Tatapannya seolah terkunci pada tiap lekuk gaun itu. Makin lama ia mengamatinya, makin terasa ada keindahan magis yang membedakannya dari gaun pengantin biasa. Sulaman pita di bagian dada nampak teramat halus, sementara renda yang menjuntai menyapu lantai teranyam rapi bagai dikerjakan dengan kesabaran luar biasa.
Ia nyaris lupa waktu.
Saat itulah...
Perlahan-lahan... aroma bunga melati mulai tercium merayap di udara.
Harumnya lembut, terasa sangat khas.
Anindiya menghirup wangi itu pelan, lalu tersenyum tipis. "Harumnya masih awet ya..."
Logikanya langsung menyimpulkan bahwa wangi melati itu terpancar dari kain gaun tersebut. Bukankah sejak pertama kali ia membawa gaun itu pulang, wangi melati memang sudah menempel erat? Ia sama sekali tak menaruh curiga. Justru aroma harum itu membuat atmosfer ruangan terasa makin rileks baginya.
Anindiya membungkuk sedikit, merapikan lipatan rok gaun yang nampak sedikit bergeser.
Namun hanya dalam selang beberapa detik...
Aroma melati itu mendadak menguat drastis. Wanginya merebak begitu tebal dan menusuk hidung, memenuhi tiap sudut ruang koleksi.
Anindiya sedikit mengernyitkan alis. "Lho... kok harumnya jadi menyengat begini?"
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada vas bunga segar yang baru dipasang. Tak ada pula pengharum ruangan otomatis yang baru menyemprot.
Meski begitu, benteng logis Anindiya belum goyah. "Mungkin racikan pewangi kainnya memang kuat banget," gumamnya santai seraya tersenyum kecil.
Tanpa pernah disadari oleh Anindiya...
Tepat di belakang tubuhnya...
Cermin besar yang berdiri bersandar di dinding memantulkan pemandangan yang teramat mengerikan.
Di dalam pantulan cermin itu... Anindiya memang tampak masih berdiri membelakangi kaca, sibuk merapikan kain manekin.
Namun... tepat di belakang punggung Anindiya...
Berdiri sosok perempuan bergaun putih kusam. Rambut hitamnya yang panjang dan kusam terurai menjuntai menutupi sebagian wajahnya. Sosok itu berdiri amat dekat, nyaris menempel rapat di punggung Anindiya!
Anehnya... Anindiya yang asli sama sekali tidak menyadari atau merasakan keberadaan sosok di belakangnya. Ia masih keasyikan mengagumi gaun di depannya.
Perlahan-lahan... sosok perempuan di dalam pantulan cermin itu mendongakkan kepalanya.
Kulit wajahnya pucat kebiruan bagai mayat, bibirnya kering kehitaman. Dan sepasang matanya... seluruh rongganya berwarna hitam kelam tanpa ada selaput putih sedikit pun!
Tatapan mata kelam itu tidak tertuju pada kaca cermin, melainkan mengunci lurus ke arah tengkuk Anindiya yang asli!
Sudut bibir hitam milik sosok itu perlahan-lahan terangkat naik... membentuk senyuman lebar yang amat dingin, kaku, dan mencekam.
Di tengah keheningan ruangan...
Terdengar suara helaan napas berat berhembus amat lirih.
Hhhhh...
Anindiya seketika menghentikan gerakan tangannya. Ia spontan memutar badan ke belakang!
Kosong. Tak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ada lantai karpet dan cermin besar yang berdiri miring.
Anindiya menghela napas pelan, mengusap tengkuknya. "Hah... mungkin cuma suara angin dari celah ventilasi."
Padahal, ia sendiri yang baru saja memastikan seluruh jendela terkunci rapat.
Anindiya kembali memutar tubuhnya menghadap manekin. Pantulan di dalam cermin pun telah kembali normal—hanya memantulkan bayangan dirinya sendiri. Ia sama sekali tak menyadari teror mengerikan yang baru saja berdiri beberapa senti dari punggungnya.
Anindiya melirik jam dinding. Sudah hampir pukul sepuluh malam.
"Ah, aku harus segera tidur."
Sebelum melangkah keluar dari ruang koleksi, ia menekan sakelar lampu utama. Kini hanya tersisa satu lampu sorot kecil yang menyala untuk menerangi siluet manekin. Ruangan seketika berubah menjadi redup dramatis, melempar bayangan gaun pengantin itu memanjang kaku di atas lantai.
Anindiya menarik pintu ruang koleksi pelan-pelan hingga tertutup rapat, lalu melangkahkan kakinya menuju tangga lantai dua. Suara derap langkahnya perlahan-lahan makin menjauh, disusul dentum halus pintu kamar atas yang ditutup.
Sanggar kembali tenggelam dalam kegelapan dan keheningan total.
Beberapa menit berlalu...
Lampu sorot kecil di dalam ruang koleksi mendadak berkedip sekali... lalu kembali menyala redup.
Di depan manekin...
Bagian bawah gaun pengantin putih gading itu tampak bergoyang pelan meliuk-liuk. Padahal tak ada hembusan angin sedikit pun di ruangan yang tertutup rapat itu.
Sesaat kemudian...
Dari balik bayangan manekin... perlahan-lahan muncul sepasang jemari tangan seorang perempuan.
Jari-jarinya kurus memanjang, kulitnya pucat kebiruan dengan kuku-kuku hitam runcing. Tangan dingin itu mengusap lembut permukaan kain gaun pengantin, seolah sedang membelai harta paling berharga yang pernah ia miliki.
Aroma melati busuk kembali meledak memenuhi seluruh ruangan.
Lalu, terdengar desis suara perempuan yang teramat lirih dan parau, bergema halus di kegelapan:
"...ak...hir...nya... kau... te...tap... men...ja...ga...nya..."
Suara itu pelan-pelan menguap, menyatu bersama keheningan malam.
Di lantai atas, Anindiya sudah terlelap pulas dalam selimut hangatnya—sama sekali tak menyadari bahwa hanya beberapa meter di bawah tempat tidur yang ia tiduri
Sesosok jiwa kelam tak kasat mata sedang berdiri mematung di samping gaun pengantin itu.
Menunggu. Dengan penuh kesabaran.
Seolah-olah momen baginya untuk menampakkan wujud asli di hadapan Anindiya... kini tinggal menghitung detik.