Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Adrian yang sedari tadi diam mengamati setiap gerak-gerik adiknya dengan saksama, akhirnya memecah keheningan itu dengan suara berat dan tenang. "Kau terlihat... berbeda dari biasanya," ucapnya singkat namun penuh penelitian.
Aruna hanya bisa menyunggingkan senyum yang sedikit kaku. "Mungkin karena aku sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik," jawabnya sekenanya.
[Memang benar, bukankah Evelyne yang asli dikenal sangat keras kepala, galak, dan selalu ingin menang sendiri? Jika aku tiba-tiba berubah drastis seratus delapan puluh derajat begini, tentu saja mereka akan merasa curiga. Tapi apa boleh buat... lebih baik dicurigai sesaat daripada aku berakhir dengan nasib malang yaitu diasingkan dan dihukum mati.]
Dahi Adrian berkerut makin dalam. Kata terakhir itu membuat hatinya tersentak kaget. Dihukum mati? Siapa yang berani menyakiti adikku? Dan apa bahaya besar yang mengancamnya? batinnya penuh tanya yang menumpuk.
Di kursi utama, Duke Arthur perlahan meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan bunyi yang cukup terdengar. Ia menatap tajam namun tak kasar.
"Evelyne," panggilnya kembali.
"Ya, Ayah?"
"Kau baru saja mengatakan ingin berubah. Berubah menjadi seperti apa yang kau maksudkan?"
Aruna berpikir sejenak, matanya menatap keluar jendela seolah mencari ketenangan. "Aku hanya ingin menjalani hidup yang lebih damai dan tenang," jawabnya pelan.
Namun suara di hatinya kembali melengkapi kalimatnya dengan jelas, [Menjauh dari segala keributan dan masalah rumit yang ada. Terutama dari Putra Mahkota, sang gadis utama yang baik hati, hingga penjahat yang kejam itu. Siapa pun tokoh penting dalam kisah ini, yang paling bijaksana adalah menjaga jarak aman dari mereka semua.]
Seketika keempat orang itu kembali terpaku membatu. Kisah? Tokoh? Apa maksud semua ucapan itu?
Belum sempat mereka merangkai kata untuk bertanya lebih jauh, Aruna kembali menyantap roti di piringnya dengan santai seolah tak ada hal luar biasa yang baru saja terucap.
Namun pemikirannya terus bergulir tanpa henti.. [Ngomong-ngomong... kapan kira-kira Duke Harold mulai menjalankan rencana jahatnya untuk menipu kekayaan keluarga Ashcroft? Jika aku tidak salah ingat... masih ada waktu sekitar tiga bulan lagi. Ia akan datang membawa tawaran menggiurkan tentang penambangan emas yang konon kaya akan hasil di wilayah utara, padahal semua orang tahu tambang itu sudah lama kosong dan tak bernilai sama sekali.]
Wajah Duke Arthur seketika berubah pucat dan tegang. Urat-urat di pelipisnya tampak menegang.
Proyek tambang emas... Bukankah baru kemarin surat persahabatan dari Harold tiba, mengajaknya bertemu minggu depan khusus untuk membahas peluang investasi yang menguntungkan itu?
Hal itu masih rahasia, belum sempat ia ceritakan kepada siapa pun di rumah ini! Bagaimana mungkin gadis kecilnya bisa mengetahui hal yang belum sempat terucap itu?
Kepalan tangan Duke Arthur di bawah meja semakin kuat. Ia tahu kini dengan pasti bahwa ini bukan sekadar kebetulan belaka.
Sementara itu, Adrian mulai memandang sosok di hadapannya dengan pandangan yang jauh lebih dalam dan berbeda dari sebelumnya. Ia masih ingat betul sifat asli Evelyne sejak kecil yang sulit diatur, keras kepala, dan akan membuat seluruh rumah gempar jika keinginannya tidak terpenuhi.
Namun gadis yang duduk di sini kini tampak begitu tenang, damai, dan beberapa kali bahkan terlihat tersenyum manis tanpa sebab yang jelas.
[Kakakku ini... ternyata rupanya sangat tampan sekali,] puji suara itu tulus.
Adrian nyaris tersedak minumannya sendiri.
[Sayang sekali wajahnya selalu terpasang dingin dan kaku seperti es batu. Seandainya ia mau lebih sering tersenyum tulus seperti tadi, aku yakin tak ada satu pun gadis bangsawan di kota ini yang tak jatuh hati hingga pingsan melihatnya,] tambah lagi suara itu dengan lelucon kecil.
Wajah yang biasanya tak pernah berubah itu perlahan memerah merona, seolah cahaya malu menyelinap di balik kulitnya yang pucat.
Cedric yang duduk tak jauh melirik perlahan ke arah sahabatnya itu, sudut bibirnya sedikit terangkat mencoba menahan senyum geli yang ingin meledak. Selama bertahun-tahun bersahabat, baru kali ini ia menyaksikan Adrian yang perkasa dibuat malu dan tersipu oleh adiknya sendiri.
Namun tak lama kemudian...
[Eh... Cedric Ravenwood rupanya juga cukup tampan dan menarik,] ucapnya lagi.
Cedric sedikit mengangkat alisnya yang rapi.
[Pantas saja gadis Evelyne dulu sampai tergila-gila mengejarnya kemana-mana. Kalau saja aku tidak tahu bahwa di akhir cerita ia justru akan jatuh cinta pada gadis lain yang adalah sang tokoh utama wanita itu,mungkin hatiku pun ikut terbuai oleh ketampanannya]
Seketika ketenangan yang biasa terpancar dari diri Cedric lenyap begitu saja. Ia terdiam kaku.
'Jatuh cinta... pada wanita lain?' tanyanya dalam hati bingung. Mengapa kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa sesak, berat, dan penuh rasa tidak nyaman yang aneh?
Padahal ia sadar betul bahwa perjodohan ini hanyalah urusan persahabatan dua keluarga besar, tak pernah ada rasa cinta yang tumbuh di antara mereka. Namun kini, mendengar bahwa gadis itu justru ingin menjauh... rasanya ada sesuatu yang hilang.