NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34 - Di Dalam Frame

"Kalau begitu," katanya, "aku akan menunggu malam dengan baik."

Calvin memang menunggu dengan baik.

Terlalu baik.

Sepanjang sore, ia tidak menempel seperti biasa. Tidak sengaja menyentuh ujung selimut. Tidak mengeluarkan komentar manis yang membuat Jayden ingin melempar bantal. Ia hanya duduk di dekat jendela dengan sketchbook terbuka, menggambar sesuatu yang tidak ia perlihatkan.

Itu membuat Felicia lebih ingin melihat.

Ketika malam turun dan tiga pria lain akhirnya keluar, Calvin masih duduk di tempat yang sama. Nathan menutup pintu dengan tatapan yang tidak sepenuhnya rela. Jayden mengancam akan tidur di lorong. Sebastian menyuruh Calvin menjaga tekanan pada bahu kiri dan rusuk, lalu menambahkan, "Jangan memakai identitas keluarga sebagai alasan untuk mundur."

Calvin tersenyum. "Terima kasih atas diagnosisnya."

"Itu bukan diagnosis. Itu pengamatan."

Pintu tertutup.

Kamar menjadi sunyi.

Calvin tidak langsung berdiri.

Felicia menatapnya. "Kamu menunggu malam dengan baik atau bersembunyi dengan rapi?"

Pensil Calvin berhenti.

Senyumnya muncul perlahan. "Ci selalu merusak tempat persembunyian orang."

"Aku tidak suka ruangan kotor."

"Aku kotor?"

"Kamu berantakan."

Calvin tertawa kecil, lalu menutup sketchbook. "Aku boleh duduk di ranjang?"

"Boleh."

Ia datang dengan langkah ringan. Tidak seperti Jayden yang membawa panas, tidak seperti Sebastian yang membawa perhitungan, tidak seperti Nathan yang membawa rasa takut menyakiti. Calvin datang seperti bayangan manis yang sudah lama tahu jalannya, tetapi malam ini ragu apakah pintu itu benar-benar untuknya.

Ia duduk di tepi ranjang.

"Tunjukkan gambarmu," kata Felicia.

"Belum selesai."

"Aku tidak bertanya selesai atau tidak."

Calvin menatapnya, lalu menyerahkan sketchbook.

Halaman itu menggambarkan kamar lantai satu. Ranjang, jendela, lampu tidur, meja obat, dan Felicia di tengah. Tidak seperti gambar pagi tadi, Calvin tidak lagi duduk di luar frame. Ia berdiri di belakang Felicia, satu tangan menggantung di udara, belum menyentuh, seolah menunggu izin dari orang dalam gambar.

"Kemajuan," kata Felicia.

"Masih belum menyentuh."

"Kenapa?"

Calvin menunduk. "Karena begitu digambar, rasanya lebih jujur."

"Kamu takut jujur?"

"Aku takut terlalu menikmati sesuatu yang orang lain akan bilang salah."

Felicia meletakkan sketchbook di pangkuannya. "Orang lain tidak ada di ranjang ini."

Napas Calvin berubah.

"Ci."

"Hm?"

"Kalau aku memanggilmu begitu, apa kamu merasa aku sedang bersembunyi?"

Felicia menatapnya lama.

Panggilan itu sejak awal adalah milik Calvin. Di mulutnya, "Ci" bukan sekadar kakak perempuan. Itu benang, tanda, luka kecil, dan permintaan yang tidak pernah ia ucapkan penuh. Sekarang dunia memberi panggilan itu arti sosial yang lebih rumit, dan anak ini hampir membiarkan dunia mencurinya.

"Itu panggilanmu," kata Felicia. "Bukan rantai."

Calvin menutup mata sebentar.

Ketika ia membukanya, warna matanya lebih basah.

"Aku boleh menyentuh tanganmu?"

"Boleh."

Ia menyentuh tangan kanan Felicia dengan ujung jari lebih dulu. Sangat ringan. Hampir nakal, hampir takut. Lalu, ketika Felicia tidak menarik diri, ia menutup seluruh telapak tangannya di atas tangan Felicia.

"Aku melihat Nathan memegang tangan ini," katanya pelan. "Jayden menggenggamnya seperti takut kehilangan. Sebastian mempelajarinya seperti kitab suci."

"Dan kamu?"

Senyumnya kecil. "Aku ingin menggambarnya dulu supaya tidak terlihat terlalu ingin."

"Gagal."

"Aku tahu."

Felicia menarik tangannya, membuat Calvin mendekat. Ia mengikuti tanpa melawan. Rambut ikalnya jatuh ke dahi. Wajahnya manis, terlalu manis, tetapi matanya tidak manis sama sekali.

"Minta," kata Felicia.

Calvin menelan ludah. "Boleh aku mencium Ci?"

"Boleh."

Ciuman Calvin dimulai dengan kelembutan yang hampir pura-pura. Seolah ia ingin membuktikan dirinya anak baik yang tahu batas. Felicia membiarkannya tiga detik, lalu menarik rambut di tengkuknya sedikit.

Calvin mengeluarkan suara kecil.

"Jangan berpura-pura terlalu baik," kata Felicia di sela napas.

Matanya terbuka.

Senyumnya berubah.

"Ci tahu?"

"Sangat jelas."

Ciuman berikutnya lebih jujur. Masih hati-hati pada bahu dan rusuk, tetapi tidak lagi bersembunyi di balik manis. Calvin menahan tubuhnya di sisi kanan Felicia, satu tangan di tepi bantal, satu lagi masih menggenggam tangan Felicia. Ia tidak mengambil tanpa izin. Namun setiap kali Felicia memberi sedikit ruang, ia masuk dengan cepat, lapar, lalu berhenti tepat sebelum melewati batas.

Submisif bukan berarti lemah.

Pada Calvin, itu terlihat seperti seseorang yang bisa sangat buruk jika tidak diberi perintah, dan justru menjadi indah karena ia memilih menunggu perintah itu.

"Ci," bisiknya setelah menjauh sedikit, napasnya patah.

"Apa?"

"Aku ingin lebih dekat."

"Di mana?"

"Aku tidak tahu batas aman."

"Tanya."

"Boleh aku berbaring di sebelah Ci?"

"Boleh. Sisi kanan."

"Boleh aku memegang pinggang Ci seperti mereka?"

"Boleh. Bukan rusuk."

"Boleh aku mencium lagi?"

Felicia tersenyum. "Kamu sedang membuat daftar izin?"

Wajahnya memerah, tetapi senyumnya tetap nakal. "Sebastian boleh punya daftar. Aku juga mau."

"Daftarmu lebih menyenangkan."

"Jadi boleh?"

"Boleh."

Calvin mencium lagi, kali ini lebih pendek, tetapi lebih dalam pada akhir. Lalu ia berbaring di sisi kanan Felicia, memegang pinggangnya dengan hati-hati. Tubuhnya lebih ringan daripada Jayden, lebih luwes daripada Nathan, lebih hangat daripada penampilan manisnya.

Felicia menyentuh pipinya.

Calvin langsung menutup mata.

"Kamu masih merasa di luar frame?"

"Tidak."

"Bagus."

"Tapi aku takut besok pagi perasaannya kembali."

"Kalau kembali, gambar ulang."

Ia tertawa pelan. "Ci solusi semua hal selalu sederhana."

"Masalah orang lain yang suka dibuat rumit."

Di kepala Felicia, Sis bersuara, "Data Calvin naik cepat. Bintang dari 0% ke 5%. Belum menyala. Ada fluktuasi karena konflik identitas, tapi respons ke Ci stabil."

Felicia mengusap pipi Calvin dengan ibu jari. "Lima persen."

Calvin membuka mata. "Hanya lima?"

"Kalian semua kompetitif sekali."

"Aku tidak mau kalah dari Sebastian."

"Kamu sedang kalah."

Calvin menghela napas dramatis. "Sakit sekali."

"Mau aku ganti dengan orang lain?"

Tangannya di pinggang Felicia langsung mengencang sedikit, lalu cepat mengendur karena ingat batas. "Tidak."

"Maka diam."

"Iya, Ci."

Kepatuhan itu keluar lembut, tetapi matanya tersenyum.

Namun senyum itu tidak sepenuhnya menutup pertanyaan yang masih tersisa.

Felicia melihatnya. "Tanya."

Calvin mengerjap. "Apa?"

"Kamu ingin tahu kenapa terakhir."

Ia diam terlalu lama untuk berpura-pura tidak.

"Iya," katanya akhirnya. "Aku tahu aku tidak berhak protes. Nathan lebih dulu punya status. Jayden sudah menahan diri. Sebastian punya masalah sentuhan. Aku punya... masalah sendiri."

"Kamu ingin aku kasihan?"

"Tidak." Jawabannya cepat. "Aku ingin tahu apakah Ci menaruhku terakhir karena aku paling rumit, atau karena aku paling mudah ditinggalkan."

Nah.

Itu inti yang lebih jujur daripada semua sketsanya.

Felicia menatap Calvin sampai senyum anak itu hilang lagi.

"Aku menaruhmu terakhir karena kamu perlu melihat aku memilih mereka tanpa kehilangan tempatmu."

Calvin tidak bernapas.

"Kalau kamu dipilih pertama, kamu akan mengira itu karena kebiasaan lama, karena kamu tinggal di rumah yang sama, karena kamu memanggilku Ci lebih dulu. Kalau kamu dipilih di tengah, kamu masih bisa bersembunyi di balik iri. Terakhir membuatmu tidak punya alasan selain bertanya: saat semua sudah masuk, apakah aku masih dipanggil?"

Suara Calvin pecah sangat halus. "Dan jawabannya?"

Felicia menariknya lebih dekat dengan tangan kanan.

"Aku memanggilmu."

Calvin menutup mata, tetapi air di sudutnya tetap terlihat.

"Ci kejam sekali," bisiknya.

"Efektif."

"Iya." Ia tertawa pelan, hampir seperti menyerah. "Sangat efektif."

Beberapa menit kemudian, Calvin mengambil sketchbook lagi dari meja kecil. Felicia mengira ia akan menggambar, tetapi ia hanya merobek halaman pagi tadi, gambar dirinya yang duduk di luar frame.

"Untuk apa?"

"Tidak relevan lagi."

Ia melipat kertas itu rapi, lalu meletakkannya di samping lampu.

Kemudian ia membuka halaman baru.

"Sekarang?"

"Sekarang aku menggambar dari dalam."

"Jangan lama. Aku mau tidur."

"Aku menggambar cepat."

Pensilnya bergerak dalam cahaya lampu tidur. Tidak banyak garis. Hanya dua tangan di atas selimut: tangan Felicia dan tangan Calvin, saling menggenggam. Di sudut bawah, ia menulis kecil, hampir tidak terlihat.

Ci memilih.

Felicia melihat tulisan itu.

"Kamu sentimental."

"Hanya kalau objeknya Ci."

"Gombal."

"Tapi benar."

Felicia menariknya kembali sebelum ia menambah tulisan lain. Calvin menurut, meletakkan sketchbook, lalu berbaring lagi.

Kali ini ia tidak bertanya terlalu banyak. Ia hanya melihat bahu kiri Felicia, lalu rusuknya, lalu sisi kanan ranjang yang tersisa. Setelah memastikan jarak aman, ia menyelipkan lengan di pinggang kanan Felicia dengan gerakan yang lebih yakin daripada sebelumnya.

"Batasnya di sini?" tanyanya.

"Di sini."

"Kalau aku lupa?"

"Aku pukul."

Ia tertawa pelan. "Romantis."

"Efektif."

"Aku mulai mengerti kenapa mereka semua patuh."

"Karena pintar."

"Karena suka diperintah Ci."

Felicia membuka mata sedikit.

Calvin tersenyum tanpa malu. "Aku paling jujur soal itu."

Di kepala Felicia, Sis menambahkan pelan, "Calvin stabil di 5%. Belum menyala. Konflik identitas masih naik turun, tapi respons terhadap pilihan Tuan Rumah positif."

"Biarkan dia naik turun," jawab Felicia dalam hati. "Yang penting dia tidak keluar frame."

Calvin memejamkan mata, seolah mendengar jawaban itu tanpa suara sama sekali.

Di luar kamar, tiga pria lain mungkin sedang menunggu pagi dengan berbagai tingkat penderitaan.

Di dalam, Calvin akhirnya tidak berada di luar frame.

Sebelum lampu benar-benar diredupkan, ia berbisik di dekat tangan Felicia.

"Kalau besok aku mulai ragu lagi, Ci tarik aku masuk lagi, ya?"

Felicia menutup mata.

"Kalau kamu berani keluar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!