Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Zakia, tolong dong barang ibu dimasukin kardus, ibu udah bayar."
"Okey buk, barangnya udah pas semua ini kan?"
"Keknya udah ya, tapi coba kamu cek sekali lagi biar enak," kata seorang wanita paruh baya. Belanjaan tidak terlalu banyak namun susah kalau dibawa menggunakan kantong plastik. Zaki mendekati meja kasir dan mengambil kertas bon dari tangan pak Jamrud.
Bau tepung dan juga plastik bercampur menjadi satu, ini sudah sore dan sebentar lagi toko akan tutup. Akan tetapi, ketika toko ingin tutup maka banyak orang yang datang belanja, alhasil mereka harus cepat mengerjakan semuanya supaya tidak terlewat jam tutup seperti biasa.
"Permisi, minggir bentar."
Zakia yang sedang jongkok merasa diajak bicara langsung mendongak, suaranya terdengar sangat asing, tidak ingin diselimuti rasa penasaran, Zakia pun mendongakkan kepalanya.
"Eh? Iya maaf," katanya pelan. Ternyata Daren, anak pak Jamrud yang telah ke luar setelah dari tadi berada di dalam rumah tersebut.
Zakia bergeser sedikit, memberikan Daren jalan agar ia bisa beranjak pergi dari sana.
"Nak, nenek boleh minta tolong, ambilin kopi ini dong satu bungkus."
"Iya bentar ya Nek." Zakia menyelesaikan ikatan tali pada kardus yang ia packing dan memberikannya kepada wanita paruh baya itu.
Usia melakukan itu, ia pun kembali menggulung tali plastik yang tadi berserakan dan membersihkan sisa-sisa kardus yang ia gunakan. Saat ingin masuk ke dalam, tangannya ditahan oleh seseorang.
Zakia menoleh, "Nak tolong ambilin nenek kopi itu dong, yang paling atas. " Zakia melihat ke arah mana sang nenek menunjuk, gila itu barang paling atas dan jarang dibeli oleh orang.
Ingin menyuruh Reza percuma, bocah badung dan wanita cerewet satu itu sedang pergi mengantar pesanan.
"Iya Nek, bentar ya."
Zakia mengiyakan, tapi aslinya dia sedang gelagapan. Melihat kanan kiri memastikan di mana letak barang berguna yang sialnya sering menghilang, yaitu tangga.
"Pak, ada liat tangga gak?"
Seorang pria paruh baya yang dipanggil pak itu menurunkan sedikit kacamatanya, ia meletakkan uang yang sedang dihitung dan menoleh kanan kiri. Seperti sednag mencari seseorang.
"Daren, tolong bantu dulu Zakia ambil barang itu, tangganya lagi dipake sama ibu di belakang," titah pak Jamrud. Daren yang sedang membereskan kardus berserakan langsung menghampiri Zakia.
"Kopi mana?"
"Ha? Oh, kopi itu bang yang paling atas," tunjuk Zakia. Ia bergeser sedikit dan memberikan Daren tempat lebar agar pria itu bisa mengmbil kopi tersebut.
"Ada lagi Nek?" tanya Daren. Nenek tua itu tersenyum sambil menggeleng.
"Ga ada Nak, makasih ya, mudah-mudahan cepat dapat jodoh," kata si Nenek. Daren hanya bisa tertawa kecil menanggapi omongan si nenek, sudah tak heran.
"Anaknya ya Rud?"
"Iya, anak paling kecil, baru aja pulang."
Nenek tersebut mengangguk, ia memperhatikan Daren dari atas ke bawah dan kembali tersenyum, "Ganteng ya," katanya jujur.
"Iyalah, orang bundanya cantik." Bu Lili datang dari dalam dengan sepiring mangga dan satu mangkok bumbu rujak yang sudah disiapkannya. Zakia sebagai pecinta mangga muda kelas kakap, langsung ngiler saat melihat bu Lili lewat tepat di depan matanya.
"Nenek mau rujak Nek?" tawar pak Jamrud.
Nenek itu menggeleng sambil memegang pipinya, "gimana mau makan rujak? Giginya aja udah ga ada nduk."
Semua yang ada di situ terkekeh kecil, nenek tersebut membayar semua belanjaannya dan beranjak pergi dari sana. Tak lupa sebelum pergi ia menepuk pelan lengan Daren dan tersenyum.
"Zakia, makan aja mangganya, ibu tau kamu suka mangga yang kayak gini," kata bu Lili. Zakia mengangguk malu, walaupun sudah hampir satu tahun dirinya bekerja di sini, tapi bukan berarti Zakia bisa langsung semena-mena, bahkan saat ditawarkan makanan saja pun dia belum tentu langsung menerimanya.
"Iya Zak, ambil aja, ga usah malu-malu, kayak baru masuk kerja aja, " kata Pak Jamrud. Zakia kembali mengangguk dan membiarkan keluarga itu makan rujak buatan bu Lili, sedangkan dirinya membuka ponsel dan mengecek apakah ada pesan dari sang ibu atau tidak.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara becak barang dan suara teriakan Dinda yang melengking. Tak lupa dengan penampilan wanita itu yang aur-auran karena tingkah Reza yang bawa becak ugal-ugalan.
"Gila lo Reza! Lama-lama gue tinju gigi lo biar tonggos, ga bisa emang bawa kendaraan tu pelan-pelan, kalau mau mati pergi sendiri jangan ajak gue, gila memang!"
Dinda menghentakkan kakinya masuk ke dalam toko dan memberikan segepok uang ke meja pak Jamrud. tak sampai di situ, tangannya langsung mencomot mangga yang sudah dipotong tadi dan memasukkan ke dalam mulutnya. Setidaknya dengan memakan ini, kesal dalam hatinya bisa berkurang.
"Jangan marah-marah mulu Din, darah tinggi entar stroke pas muda gimana, katanya mau ketemu banyak cowok ganteng," canda bu Lili.
Dinda yang mendengar itu terkekeh pelan sambil melirik tipis-tipis ke arah Daren yang sedang membantu pak Jamrud menghitung uang. Zakia yang memperhatikan itu hanya tersenyum simpul. Dasar Dinda! Pantang lihat cowok ganteng, langsung centil tipis-tipis.
"Song, kadal gosong geseran dikit!"
Semua bayangan indah Dinda terhadap Daren bubar ketika Reza menggeser pelan tubuhnya, decakan kesal ke luar dari bibir Dinda, ia menatap Reza sengit dan berpindah ke sisi kanan Zakia. Berlama-lama dekat Reza lama-lama memang bisa bikin darah tinggi.
"Eh, Zakia kamu ke gudang dulu ya cek stok sirup tinggal apa aja, saya mau pesan ke sales, ini bentar lagi bulan puasa, pasti orang banyak beli.," titah pak Jamrud.
Zakia yang mendengar itu tak menjawab apapun tapi langsung bangkit, ia mengambil kunci gudang serta buku yang biasa ia bawa untuk mengecek stok barang. Ia meninggalkan Reza dan Dinda yang masih berkelahi hanya karena Reza yang usilnya minta ampun.
Di sela-sela perjalanan menuju gudang, Zakia teringat bahwa dia masuk bekerja ke sini saat ingin puasa dan sekarang sudah kembali mau puasa, waktu berlalu begitu cepat dan perjalanan hidupnya juga sudah sangat banyak ia lewati.
Langit sudah mulai menggelap, sebentar lagi mereka akan tutup, Zakia yakin ketika selesai mengerjakan ini dia akan langsung pulang karena toko pasti sudah akan tutup.
Suasana gudang terasa sedikit sunyi karena memang gudang tersebut berada dikawan rumah yang penghuninya jarang ke luar. Tanpa menunggu lama, Zakia masuk ke dalam dan mulai ngecek stok sirup satu persatu.
"Sirup mangga sisa 10 lusin, lychee tinggal 5 lusin, jeruk kosong," gumamnya dengan tangan yang menulis.
Namun saat sedang melakukan pekerjaannya, Zakia mendengar suara langkah kaki, tapi hal itu tidak menganggu pekerjaannya, toh iya yakin itu yang datang adalah temannya.
"Za, jangan usil, enter gue tampol nangis lo!" tegur Zakia..
Diam, tidak ada sahutan. Perasaan Zakia menjadi tidak enak, jantungnya berdegup kencang, ia menelan ludah susah payah dan tangannya ia kepalkan kuat. Ia juga baru ingat bahwa tadi pintu gudang tidak dikunci.
Merasa ada yang janggal, Zakia langsung berbalik dan terkejut seseorang masuk ke dalam gudang.
"AAAAAA!!!"