Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020
Jebakan Yolanda
Undangan gala amal itu datang melalui Kiara Media.
Ci Lucy membaca detail acara dua kali sebelum mengangguk. "Acara ini aman untuk citra kamu. Penggalangan dana pendidikan seni anak perempuan, hotel bintang lima, tamunya sosialita dan pelaku film. Setelah kamu masuk Gerbang Majapahit, hadir di acara seperti ini masuk akal."
Kiara melihat nama beberapa sponsor di lembar undangan. Tidak ada yang mencurigakan pada permukaan.
Justru itu yang membuatnya lebih waspada.
"Yolanda ada?"
Ci Lucy menggeser layar tablet. "Keluarga Yanuar termasuk salah satu donatur."
Santi langsung meringis. "Kak, jangan datang."
Kiara menatapnya.
Santi memeluk map. "Aku tahu itu tidak profesional. Tapi setiap kali perempuan itu senyum, aku merinding."
Kiara hampir tersenyum. "Aku juga."
Rayhan, yang duduk di sisi lain ruang meeting Kiara Media, langsung mengangkat mata dari tablet.
"Kalau kamu tidak nyaman, jangan datang."
"Kalau aku selalu menghindar, Yolanda akan punya panggung sendiri."
"Aku bisa membuat panggungnya hilang."
"Koko."
Rayhan diam.
Ci Lucy pura-pura tidak mendengar bagian itu, meski ujung bibirnya jelas bergerak.
"Aku akan datang dengan Santi," kata Kiara. "Ci Lucy, kamu tidak perlu ikut kalau ada meeting brand."
"Aku akan standby."
Rayhan menatap jadwalnya, lalu berkata pada Adi, "Rapat Purnawan Group selesai jam sembilan. Aku datang setelah itu."
"Aku bisa pulang sendiri."
"Tidak."
Jawaban itu terlalu cepat.
Kiara menatapnya.
Rayhan menarik napas pelan, memperbaiki diri. "Maksudku, bolehkah aku menjemputmu setelah rapat?"
Santi menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan senyum.
Kiara akhirnya mengangguk. "Boleh."
Malam gala itu, ballroom hotel dipenuhi bunga putih dan lampu keemasan. Di panggung, layar besar menampilkan foto anak-anak belajar tari dan musik tradisional. Para tamu berbicara dengan suara lembut, membawa clutch mahal, memakai perhiasan yang cukup untuk membiayai satu sekolah kecil.
Kiara datang dengan gaun hijau pucat yang sederhana. Santi berada di sampingnya, memegang tas kecil berisi obat, air hangat, dan catatan dokter seperti penjaga pribadi paling serius di Jakarta.
"Kak, jangan ambil minuman dari siapa pun," bisik Santi.
"Aku tahu."
"Kalau pusing, langsung bilang."
"Iya."
"Kalau Yolanda mendekat, aku berdiri di depan."
Kiara menahan tawa. "Kamu lebih galak dari Rayhan."
"Aku belajar dari yang terbaik."
Mereka baru masuk sepuluh menit ketika Yolanda muncul.
Malam itu Yolanda memakai gaun putih gading. Tidak terlalu mewah, tidak terlalu sederhana. Rambutnya diikat rendah, wajahnya lembut, dan di tangannya ada kartu donasi. Ia terlihat seperti ikon acara amal itu sendiri.
"Kiara, kamu datang." Senyumnya tulus jika dilihat dari jauh. "Aku senang sekali."
"Selamat malam, Yolanda."
"Santi juga ikut? Bagus. Aku suka kalau kamu dijaga." Yolanda tertawa kecil. "Setelah semua yang terjadi, kamu memang harus lebih hati-hati."
Kalimat itu membuat Santi langsung kaku.
Kiara tetap tersenyum. "Aku memang hati-hati."
"Bagus." Yolanda menoleh pada Santi. "Oh ya, panitia tadi mencari pendamping artis untuk tanda terima gift set. Sepertinya semua tamu publik figur harus diwakili asistennya. Biar tidak tertukar."
Santi mengerutkan kening. "Sekarang?"
Seorang staf acara datang seolah menunggu isyarat. "Betul, Kak. Sebentar saja di meja registrasi samping. Nama Nona Kiara belum ditandatangani."
Santi menatap Kiara, jelas ragu.
Kiara juga ragu, tetapi meja registrasi terlihat dari ballroom, tidak jauh.
"Pergi sebentar. Aku tetap di sini."
"Jangan minum apa-apa."
"Iya."
Santi pergi bersama staf itu sambil masih menoleh tiga kali.
Yolanda memperhatikan dengan senyum kecil. "Asistenmu lucu. Dia sangat menyayangimu."
"Dia profesional."
"Tentu."
Seorang pelayan lewat membawa nampan. Yolanda mengambil dua gelas mocktail bening dengan hiasan daun mint. Ia menyerahkan satu pada Kiara.
"Non-alkohol. Aku tahu kamu tidak minum champagne."
Kiara tidak langsung menerima.
Yolanda menatapnya, lalu tertawa pelan. "Kiara, kalau kamu menolak di depan semua orang, nanti aku terlihat seperti orang jahat."
Di sekitar mereka, beberapa sosialita memang sedang melihat.
Kalimat itu lembut.
Tekanannya tidak.
Kiara mengambil gelas, tetapi hanya menempelkannya sebentar ke bibir. Rasanya manis dengan jejak pahit yang samar. Ia langsung menurunkannya.
"Terima kasih."
"Tidak suka?"
"Aku sedang minum obat."
"Ah, maaf. Aku lupa." Yolanda tampak menyesal. "Kamu memang harus hati-hati."
Kiara meletakkan gelas di meja terdekat.
Beberapa menit berlalu.
Awalnya hanya rasa hangat di tenggorokan.
Lalu lampu ballroom seperti menjadi terlalu terang. Suara orang-orang saling tumpang tindih. Kiara berkedip, mencoba fokus pada panggung, tetapi huruf-huruf di layar donasi mulai kabur.
Jantungnya berdetak tidak enak.
Bukan debar malu.
Bukan gugup.
Ini salah.
Kiara meraih ponselnya. Ia harus menghubungi Rayhan. Atau Santi. Siapa pun.
Layar ponsel menyala, tapi jarinya sulit menekan nama yang benar.
"Kiara?" Suara Yolanda terdengar dekat. "Kamu pucat sekali."
Kiara mundur setengah langkah.
"Santi..."
"Aku antar kamu ke ruang istirahat dulu. Kamu kelihatan hampir pingsan."
"Tidak perlu."
"Jangan keras kepala. Kalau kamu pingsan di ballroom, wartawan akan membuat berita macam-macam."
Itu benar.
Terlalu benar.
Kiara mencoba mencari Santi, tetapi pandangannya makin kabur. Ia melihat punggung Wenny di dekat salah satu pilar, berbicara dengan dua orang yang memegang kamera kecil. Saat mata mereka hampir bertemu, Wenny cepat menoleh.
Dingin menjalar di punggung Kiara.
Jebakan.
Ia baru sadar terlalu terlambat.
Yolanda memegang siku Kiara dengan lembut, tidak terlihat memaksa bagi siapa pun yang melihat. "Ayo, sebentar saja. Aku bantu."
"Lepas."
Suara Kiara terlalu pelan.
Yolanda tetap tersenyum.
"Kamu sakit, Kiara. Jangan membuat orang salah paham."
Koridor menuju ruang istirahat terasa terlalu panjang. Lampu dinding berpendar. Karpet tebal membuat langkah Kiara tidak bersuara. Ia mencoba menghentikan kaki, tapi tubuhnya seperti tidak sepenuhnya mendengar.
Ponselnya bergetar di tangan.
Koko Rayhan.
Kiara berusaha menggeser layar.
Gagal.
Yolanda melihat nama itu.
Senyumnya tidak berubah, tapi matanya dingin.
"Pacarmu perhatian sekali."
Kiara menatapnya.
Yolanda membuka pintu sebuah lounge kecil.
Di dalam, lampu lebih redup. Ada sofa panjang, meja rendah, dan tirai yang setengah tertutup. Seorang pria tidak dikenal berdiri di dekat jendela, memegang kamera. Di meja, ada jaket pria yang sengaja diletakkan terlalu dekat dengan sofa.
Seluruh ruangan seperti sudah disusun untuk satu foto buruk.
Kiara menarik napas, tapi dadanya sesak.
"Yolanda..."
Yolanda menuntunnya masuk, lalu melepas tangan.
"Istirahat sebentar di sini. Nanti semua orang akan mengerti."
Pintu di belakang Kiara tertutup pelan.
Klik.
Suara kunci itu membuat tubuh Kiara membeku.
Di tangannya, ponsel kembali bergetar.
Koko Rayhan.
Kiara memaksa ibu jarinya bergerak. Layar terasa licin, huruf-huruf di sana berbayang, tetapi panggilan itu akhirnya tersambung.
Ia tidak sempat bicara.
Napasnya yang kacau saja yang masuk ke sambungan.
Di ujung lain, suara Rayhan terdengar mendadak tajam.
"Kiara?"
Di depan sofa, pria berkamera itu mengangkat lensa.
Lampu kecil kamera menyala merah.