NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026

Rambut Hitam

Tiga hari setelah malam hujan, Kevin tidak datang ke sekolah.

Hari pertama, Sekar masih bisa menahan diri karena Pak Arief mengabari bahwa Kevin demam ringan dan diminta istirahat. Hari kedua, Kevin hanya mengirim pesan singkat.

Kevin: Gue hidup.

Sekar menatap layar ponsel hampir satu menit sebelum membalas.

Sekar: Aku tidak menanyakan itu.

Kevin: Gue makan.

Sekar: Apa?

Kevin: Bubur. Pak Arief bawain.

Sekar: Obat?

Kevin: Udah.

Sekar: Foto.

Lima menit kemudian, Kevin mengirim foto mangkuk bubur setengah kosong, strip obat, dan punggung tangan kirinya. Bekas gigitan itu masih merah samar, jelas sekali karena ia sengaja memotretnya di bawah cahaya meja.

Sekar menatap foto itu sampai sudut bibirnya terangkat sendiri.

Hari ketiga, bangku Kevin masih kosong saat bel masuk berbunyi.

Yola menyenggol lengan Sekar. "Dia beneran istirahat atau kabur ke tempat biliar?"

"Kalau kabur, Bryan pasti sudah panik," jawab Sekar, tetapi matanya tetap sesekali melihat pintu kelas.

Bryan duduk di belakang, menunduk di atas meja seperti orang kurang tidur. Steven melempar kertas kecil ke arahnya.

"Bro, Kevin mana?"

Bryan mengangkat kepala dengan wajah kusut. "Gue juga nggak tahu. Semalem dia cuma bilang, besok lihat."

"Lihat apa?"

"Itu yang bikin gue takut."

Sekar baru hendak mengetik pesan ketika koridor mendadak riuh.

Awalnya hanya bisik-bisik.

Lalu kursi di dekat pintu bergeser. Beberapa siswa yang lewat berhenti. Seseorang dari kelas sebelah berkata, "Itu Kevin?"

Sekar berdiri sebelum ia sadar.

Kevin masuk lewat pintu belakang.

Rambutnya hitam.

Tidak ada lagi warna biru yang selama ini membuatnya terlihat seperti api malam. Rambut itu dipotong lebih rapi, masih agak berantakan di ujungnya, tetapi jelas baru dari salon. Seragamnya lengkap. Kemeja putihnya masuk ke celana, dasinya terpasang meski simpulnya sedikit miring.

Yang paling membuat kelas sunyi, telinga kirinya kosong.

Anting perak itu tidak ada.

Kevin berjalan ke bangkunya di bawah puluhan pasang mata. Wajahnya tetap datar, tetapi telinganya sedikit merah. Di tangan kirinya, bekas gigitan Sekar terlihat ketika ia menarik kursi.

Bryan yang baru saja minum air hampir tersedak.

"Bro."

Kevin duduk. "Apa?"

"Rambut lo."

"Masih di kepala."

"Anting lo."

"Di kotak."

"Lo kerasukan siapa?"

Kevin melempar tas ke pangkuan Bryan. "Diam."

Sekar masih berdiri.

Kevin menoleh padanya.

Untuk satu detik, semua suara di kelas seperti mundur. Mereka hanya saling melihat. Kevin mengangkat tangan kirinya sedikit, sangat kecil, menunjukkan bekas gigitan itu seperti laporan pagi.

Aku tidak kabur.

Sekar duduk perlahan, jantungnya terasa penuh.

Bu Wati masuk beberapa detik kemudian. Ia sudah membuka buku absen ketika melihat Kevin.

Tangannya berhenti.

Seluruh kelas menahan napas.

Bu Wati menurunkan kacamata, memandang Kevin dari rambut sampai seragam. "Kevin?"

"Iya, Bu."

"Kamu... sehat?"

Beberapa siswa menahan tawa.

Kevin menjawab datar, "Lebih sehat dari kemarin, Bu."

Bu Wati menatap rambutnya lagi. Wajahnya melunak sedikit, tetapi ia tidak membuatnya jadi tontonan. "Baik. Duduk yang benar. Kita mulai pelajaran."

Kevin menarik buku dari tas.

Sekali lagi kelas sunyi.

Buku itu buku Bahasa Indonesia, bukan buku kosong. Halamannya terbuka di bagian yang sedang dipelajari. Ada beberapa catatan kecil di tepi halaman, tulisannya masih kacau, tapi nyata.

Yola menutup mulut. "Sekar."

"Hmm?"

"Pacarmu tadi bawa buku beneran."

Sekar menahan senyum. "Aku lihat."

"Aku takut dunia mau kiamat."

Di belakang, Bryan berbisik terlalu keras, "Gue juga takut."

Kevin menoleh. "Gue dengar."

"Bagus. Berarti selain rambut hitam, telinga lo masih normal."

Bu Wati mengetuk meja. "Bryan."

"Iya, Bu. Maaf, Bu."

Pelajaran berjalan dengan suasana aneh. Biasanya Kevin akan menatap jendela, tidur dengan lengan sebagai bantal, atau menggambar sesuatu di halaman belakang buku. Hari itu ia duduk tegak lebih lama dari yang semua orang kira. Tidak sempurna. Lima belas menit pertama ia masih mengerutkan dahi seperti orang disiksa. Menit kedua puluh ia menjatuhkan pulpen. Menit ketiga puluh Bryan menyodorkan permen diam-diam dan Kevin menendang kakinya.

Tetapi ia tetap mencoba.

Saat Bu Wati meminta siswa membaca paragraf, kelas kembali menoleh padanya karena Kevin mengangkat tangan.

Bu Wati tampak hampir salah dengar. "Kevin?"

"Saya boleh coba, Bu?"

Kelas benar-benar beku.

Kevin membaca perlahan. Ada dua kata yang ia salah tekan. Ada satu kalimat yang ia ulang karena napasnya terlalu pendek. Tapi ia menyelesaikannya. Tidak mengejek diri sendiri. Tidak melempar buku. Tidak pura-pura tidak peduli.

Ketika ia selesai, Bu Wati mengangguk. "Baik. Terima kasih, Kevin."

Ucapan sederhana itu membuat telinga Kevin merah lagi.

Sekar melihatnya menunduk, menyembunyikan punggung tangan kirinya di bawah meja. Lalu, seperti teringat sesuatu, ia mengeluarkannya kembali dan meletakkannya di atas buku.

Bekas gigitan itu menghadap ke atas.

Saat istirahat, Kevin langsung berdiri sebelum Sekar sempat mendekat.

"Ikut gue sebentar."

Yola mengangkat alis.

Bryan langsung menukas, "Jangan ke tempat gelap. Rambut lo baru hitam, jangan langsung kriminal lagi."

Kevin menatapnya kosong. "Lo mau gue lempar ke tong sampah?"

"Nggak. Silakan pacaran."

Kevin menarik napas, tampak menyesal punya saudara angkat seperti Bryan, lalu berjalan keluar bersama Sekar.

Mereka berhenti di ujung koridor dekat tangga, tempat angin siang masuk dari jendela panjang. Sekar menatap rambut hitamnya dari dekat. Kevin terlihat berbeda. Lebih muda, lebih bersih, tetapi juga lebih rentan, seolah sebagian baju zirahnya dilepas.

"Antingnya benar di kotak?" tanya Sekar.

Kevin mengangguk. "Bukan dibuang."

"Aku tahu itu penting."

"Punya Mama." Ia menyentuh telinga kirinya yang kosong, gerakannya cepat. "Gue cuma... simpan dulu."

"Kenapa?"

Kevin menatap halaman sekolah di bawah. "Gue capek orang lihat biru sama anting duluan, terus baru denger gue ngomong. Kalau gue mau berubah, minimal gue kasih mereka alasan buat diam sebentar."

"Kamu berubah untuk mereka?"

"Nggak." Kevin menoleh. Matanya bertemu mata Sekar. "Buat gue. Biar waktu gue berdiri di samping lo, yang pertama gue rasain bukan malu."

Sekar tidak langsung bicara.

Kevin mengangkat tangan kirinya. Bekas gigitan itu masih ada. "Dan buat ini. Kalau tanda ini bilang gue jangan kabur, gue harus mulai dari hal kecil."

Sekar tersenyum pelan. "Rambut hitam itu hal kecil?"

"Mahal juga catnya diilangin."

"Kev."

"Iya, ini besar." Ia menghela napas. "Gue takut pas duduk di kursi salon. Aneh banget. Cuma rambut, tapi rasanya kayak gue ngelepas wajah yang biasa dipakai buat bikin orang menjauh."

Sekar menyentuh ujung lengan bajunya. "Kamu tidak harus melepas semuanya sekaligus."

"Gue tahu."

"Dan kalau suatu hari kamu mau pakai anting itu lagi, pakai."

Kevin memandangnya.

"Aku suka Kevin yang rambut biru. Aku juga suka Kevin yang rambut hitam. Yang aku pilih bukan cat rambutnya."

Sesuatu di wajah Kevin melunak.

"Lo selalu menang ngomong gitu."

"Karena aku benar."

Kevin mengeluarkan suara kecil yang hampir seperti tawa.

Bel masuk berbunyi sebelum ia bisa menjawab. Dari ujung koridor, Bu Wati muncul membawa beberapa buku latihan.

"Kevin," panggilnya.

Kevin langsung berdiri lebih tegak. "Iya, Bu?"

"Selesai pelajaran nanti ke ruang guru. Pak Arief minta kamu juga datang."

Sekar merasakan tubuh Kevin menegang, tetapi hanya sebentar.

"Baik, Bu," katanya. Lalu setelah jeda kecil, ia menambahkan, "Bu, boleh saya minta daftar materi yang harus saya kejar?"

Bu Wati berhenti di tempat.

Dari dalam kelas, Bryan yang mengintip langsung menjatuhkan kotak susu.

Bu Wati menatap Kevin seperti memastikan anak di depannya bukan hasil fotokopi yang salah.

"Boleh," katanya akhirnya. "Nanti Ibu siapkan."

Kevin mengangguk.

Sekar menunduk agar senyumnya tidak terlalu jelas.

Di belakang mereka, Bryan berbisik dengan suara dramatis, "Ini bukan kiamat. Ini lebih parah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!