NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 010

Gambar di Tablet

Makan malam pertama mereka sebagai suami istri berlangsung terlalu sopan.

Bu Sari menyiapkan nasi hangat, sup ikan bening, cap cai, ayam kecap, dan sambal kecil yang diletakkan agak jauh dari Louisa setelah Nathanael berkata, "Louisa tidak terlalu kuat pedas."

Louisa menatapnya.

"Kamu tahu dari mana?"

Nathanael sedang mengambilkan sendok sup. Tangannya berhenti sepersekian detik. "Di acara kantor, kamu pernah menukar sambal dengan Steven."

Ingatan itu bahkan sudah hampir hilang dari kepala Louisa. Gala kecil dua tahun lalu, meja buffet, Steven yang tertawa karena ia mengambil sambal terlalu banyak. Kevin waktu itu pergi lebih dulu menerima telepon Yvonne.

Louisa menurunkan pandangan ke mangkuknya.

"Kamu memperhatikan hal kecil sekali."

"Kebetulan ingat."

Jawaban itu rapi. Terlalu rapi.

Bu Sari datang membawa air putih dan dengan bijak tidak ikut bicara.

Selama makan, Nathanael tidak bertanya terlalu banyak. Ia hanya menjelaskan letak dapur, nomor darurat gedung, kartu akses cadangan, dan jam Bu Sari biasa datang. Semua hal praktis. Semua hal yang membuat Louisa merasa aman, sekaligus makin sadar bahwa ia memang berada di rumah pria yang kini secara hukum adalah suaminya.

Setelah makan, ponsel Louisa bergetar.

Darren: Masih hidup?

Louisa hampir tersenyum.

Louisa: Masih.

Darren: Dia ngapa-ngapain nggak?

Louisa menatap pesan itu, lalu melirik Nathanael yang sedang membantu Bu Sari mengangkat piring ke pantry.

Louisa: Dia bahkan jelasin letak nomor darurat gedung.

Darren: Mencurigakan. Orang normal nggak sesopan itu.

Louisa: Tidur sana.

Darren: Kalau ada apa-apa telepon gue.

Louisa membaca pesan terakhir itu dua kali sebelum membalas.

Louisa: Iya, Dar.

Keluarga kadang datang dalam bentuk peringatan yang berisik. Kadang dalam bentuk pertanyaan dingin tentang perjanjian pranikah. Kadang dalam bentuk orang asing yang memastikan pintu kamarnya bisa dikunci dari dalam.

Louisa belum tahu harus menyebut Nathanael keluarga atau bukan.

Namun malam itu, ketika ia kembali ke kamar dan menemukan air hangat sudah disiapkan dalam termos kecil di meja, dadanya kembali terasa aneh.

***

Pukul dua belas lewat empat puluh tiga menit, Louisa masih belum tidur.

Lampu kamar sudah dimatikan. Humidifier berdengung halus. Tirai tipis menahan sebagian cahaya kota, tetapi Jakarta tetap masuk melalui celah, berupa garis-garis lampu dari gedung seberang dan suara jauh kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Kasur di kamar itu terlalu empuk.

Bantalnya terlalu bersih.

Aroma seprai tidak punya kenangan.

Louisa berbaring miring, menatap vas mawar putih melati di dekat jendela. Di apartemen Kuningan, ia tahu persis bagian plafon yang retak sedikit, suara kulkas yang berbunyi tiap tiga puluh menit, dan tetangga yang suka menutup pintu terlalu keras. Di sini, semuanya sempurna. Justru karena sempurna, ia merasa seperti salah meletakkan diri.

Ponselnya ia buka.

Tidak ada pesan baru dari Kevin.

Biasanya, fakta itu akan membuatnya gelisah. Malam ini, yang membuatnya gelisah adalah ia tidak segelisah biasanya.

Ia menutup ponsel.

Tidur tetap tidak datang.

Akhirnya Louisa bangun, mengambil cardigan tipis, dan membuka pintu kamar perlahan. Koridor apartemen gelap, hanya ada lampu sensor kecil di dekat lantai. Pintu kamar Nathanael di sisi kiri tertutup rapat. Tidak ada suara dari dalam.

Louisa berjalan pelan menuju dapur.

Ia hanya ingin minum air.

Ruang tamu SCBD pada malam hari terlihat berbeda. Siang tadi, ruangan itu dingin dan rapi. Sekarang, jendela besar memantulkan kota seperti lautan lampu, dan sofa hitam berubah menjadi bayangan panjang di lantai. Di meja kaca, ada satu tablet yang layarnya masih menyala redup.

Louisa berhenti.

Ia tahu seharusnya tidak melihat.

Perjanjian mereka jelas. Tidak saling mengganggu privasi. Tidak mencampuri kehidupan pribadi. Tidak membuka barang tanpa izin.

Namun tablet itu diletakkan terbuka, layarnya menghadap ke atas, dan gambar di sana langsung menangkap matanya sebelum ia sempat berpaling.

Itu bukan dokumen kerja.

Bukan grafik saham, bukan email, bukan presentasi PT Nusatek Mandiri.

Itu gambar.

Sebuah ilustrasi digital dengan warna lembut. Seorang gadis berdiri membelakangi pembaca di bawah halte saat hujan. Rambutnya jatuh melewati bahu. Di satu tangannya ada payung bening yang miring sedikit, di tangan lain ada sebuket mawar putih melati yang kelopaknya mulai basah. Seragam sekolahnya digambar sederhana, tanpa logo yang jelas, tetapi tas kanvas di bahunya memiliki gantungan kecil berbentuk jeruk.

Louisa lupa bernapas.

Garis gambar itu terlalu hidup.

Hujannya bukan sekadar garis air. Ada dingin di bahu gadis itu. Ada penantian di punggungnya. Ada sesuatu yang membuat Louisa merasa pernah berdiri di sana, meski ia tidak tahu kapan.

Ia mendekat satu langkah.

Di sudut bawah gambar, ada tulisan kecil.

Tidak besar. Hampir tersembunyi di dekat bayangan halte.

Anon.

Jantung Louisa memukul sekali, keras.

Ia mengenal nama itu.

Tentu saja ia mengenalnya.

Anon adalah pembuat Webtoon yang beberapa kali gambarnya lewat di explore Instagram-nya. Akun itu tidak pernah menampilkan wajah, tidak pernah banyak bicara, hanya menggambar kisah-kisah pendek tentang seseorang yang menunggu dari jauh. Louisa pernah menyimpan salah satu panelnya karena warna hujannya terasa terlalu sedih.

Kenapa tablet Nathanael menampilkan gambar dengan tanda tangan Anon?

Mungkin ia pembaca.

Mungkin ia hanya membuka referensi.

Mungkin...

Louisa menatap lagi gambar gadis itu.

Gantungan jeruk di tas kanvas.

Mawar putih melati.

Hujan di halte.

Jari Louisa bergerak tanpa sadar, hampir menyentuh layar, lalu berhenti tepat sebelum kulitnya bertemu kaca.

"Belum tidur?"

Suara Nathanael datang dari belakang.

Louisa tersentak.

Tablet itu redup sedikit, tetapi gambar punggung gadis di bawah hujan masih tampak jelas di antara mereka.

Nathanael berdiri di ujung koridor dengan kemeja rumah warna gelap. Rambutnya sedikit basah, seolah ia baru selesai mandi. Tatapannya jatuh ke tablet, lalu ke wajah Louisa.

Untuk pertama kalinya sejak Louisa mengenalnya, Nathanael terlihat tidak siap.

Louisa menunjuk layar dengan suara hampir hilang.

"Ini... gambar siapa?"

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!