NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Air Mata Lelaki

Lalu dunia di wajah Darren benar-benar hancur.

Selama bertahun-tahun, Darren Wijaya belajar mengendalikan ekspresi. Di ruang rapat, di depan keluarga besar, di hadapan pesaing bisnis yang tersenyum sambil membawa pisau, ia bisa tetap terlihat malas dan tenang. Orang-orang mengira ia tidak mudah disentuh. Mereka salah.

Naomi selalu menjadi satu-satunya tempat di tubuhnya yang tidak punya pelindung.

Dan sekarang, tempat itu remuk.

"Kamu hampir mati," bisiknya lagi, seolah otaknya menolak memahami kalimat itu hanya dengan satu kali pengucapan.

Naomi duduk di sofa, wajahnya pucat tetapi matanya tetap menatap Darren. Ia tampak begitu dekat, begitu nyata, dan justru karena itu Darren merasa ketakutan yang terlambat empat tahun datang menghantamnya sekaligus.

Malam itu. Jembatan. Hujan. Sungai gelap.

Ia tidak ada di sana.

Ia tidak mengangkat teleponnya. Ia tidak membuka pesan. Ia tidak menjemputnya. Ia bahkan tidak tahu istrinya pernah berdiri di ujung dunia dan hampir tidak kembali.

"Dar," panggil Naomi pelan.

Panggilan itu membuat lutut Darren kehilangan tenaga. Ia menunduk di depan Naomi, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, tidak berani menyentuhnya. Jika ia menyentuh Naomi sekarang, ia takut dirinya akan hancur sepenuhnya di pangkuannya.

Kevin berdiri tidak jauh dari mereka. Wajah pria itu penuh penyesalan.

Darren mengangkat kepala, matanya merah. "Keluar."

Kevin tidak membela diri. "Darren..."

"Keluar, Om." Suara Darren pecah, tetapi tetap rendah. "Kalau Om tetap di sini, aku takut aku mengatakan sesuatu yang tidak bisa kutarik kembali."

Kevin menunduk. "Aku akan menunggu di luar."

Billy cepat menutup laptop, mengumpulkan dokumen, lalu mengikuti Kevin keluar. Sebelum pintu tertutup, Billy menatap Darren dengan mata khawatir, tetapi Darren tidak mampu memberi isyarat apa pun.

Begitu ruang tamu sepi, napas Darren terdengar semakin berat.

Naomi bergerak turun dari sofa.

"Jangan," kata Darren cepat.

Naomi berhenti.

"Aku yang harus mendekat," lanjut Darren, suaranya hampir tidak berbentuk. "Aku yang selalu terlambat. Kali ini aku yang datang."

Ia merangkak satu langkah lebih dekat di lantai, lalu berhenti di depan Naomi. Semua kesombongan yang biasa menjadi baju luarnya terlepas. Tidak ada CEO Wijaya Group. Tidak ada lelaki bermata rubah yang pandai menggoda. Hanya Darren yang terlambat mengetahui bahwa cinta dalam hidupnya pernah hampir mati sendirian.

"Maaf," katanya.

Naomi menggigit bibir. "Kamu tidak tahu."

"Itu bukan alasan."

"Kamu juga dikhianati."

"Aku tetap tidak ada."

Naomi menutup mata, dan air mata pertama jatuh di pipinya. Darren melihatnya seperti melihat luka baru terbuka.

"Aku tidak mau kamu menyalahkan dirimu untuk semua hal," ujar Naomi. "Aku sudah cukup lama menyalahkan diriku sendiri. Jangan tambah satu orang lagi."

Darren tertawa pendek, hancur. "Bagaimana caranya tidak menyalahkan diri sendiri?"

Naomi membuka mata.

"Empat tahun, Nao." Darren menatap lantai. "Empat tahun aku berpikir kamu pergi karena tidak memilihku. Aku marah, lalu rindu, lalu takut. Setiap kali menemukan sedikit jejakmu, aku mengejarnya seperti orang bodoh."

Ia mengangkat tangan kiri, menatap lengan yang tadi membuat Naomi bertanya.

"Tiga tahun lalu, aku dengar kabar tentang perempuan tanpa identitas yang pernah diselamatkan dari sungai. Waktunya mirip dengan malam kamu hilang. Aku tidak punya bukti itu kamu, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya."

Naomi menahan napas.

"Aku menyetir semalaman mencari rumah sakit yang mungkin pernah menerima pasien itu. Hujan deras. Aku sudah tiga hari hampir tidak tidur." Darren menelan ludah. "Di jalan tol, mobilku tergelincir. Kaca pecah. Lengan kiriku tersayat panjang. Aku kehilangan banyak darah sebelum ditemukan."

Naomi menutup mulut. "Darren..."

"Mereka bilang aku beruntung masih hidup." Darren tersenyum tanpa bahagia. "Aku tidak merasa beruntung. Saat bangun, hal pertama yang kutanyakan tetap namamu."

Jason menunggu di luar ruang ICU sampai memaki dokter karena panik. Olivia terbang dari Jakarta dengan wajah kehilangan warna. Bahkan Raymond, yang jarang memperlihatkan rasa takut, mengirim dokter terbaik tanpa banyak bicara. Semua orang melihat hal yang sama: Darren membuka mata setelah operasi, bibirnya kering, lengan kirinya dibalut tebal, dan pertanyaan pertama yang keluar bukan tentang dirinya.

Di mana Naomi?

Tidak ada yang bisa menjawab.

Sejak hari itu, Darren berhenti menyetir sendiri ketika emosinya tidak stabil. Bukan karena ia takut mati. Karena untuk pertama kalinya ia melihat ibunya menangis di samping ranjang rumah sakit dan sadar, kehilangan satu orang tidak memberinya hak untuk membuat orang lain kehilangan dia.

Naomi menangis tanpa suara.

Darren menurunkan lengan. "Luka ini bukan karena aku kuat. Ini bukti bahwa aku bodoh, ceroboh, dan terlalu takut kehilanganmu sampai hampir menghancurkan diriku sendiri."

"Jangan bicara begitu."

"Aku harus bicara. Aku tidak mau kamu melihat luka ini dan mengira itu pengorbanan romantis." Darren menatap Naomi, matanya basah. "Itu akibat dari aku yang tidak tahu cara hidup tanpa jawaban. Aku ingin kamu tahu kebenarannya, bukan versi indahnya."

Kalimat itu membuat Naomi akhirnya mengulurkan tangan.

Kali ini, Darren tidak menghindar.

Jemari Naomi menyentuh lengan kirinya melalui kain kemeja. Sentuhan itu ringan, tetapi Darren menggigil. Selama bertahun-tahun, luka itu menjadi sesuatu yang ia sembunyikan dari semua orang. Di tangan Naomi, luka itu berubah menjadi bukti bahwa mereka berdua pernah tenggelam di tempat berbeda.

"Aku selamat," bisik Naomi.

Darren menatapnya.

"Aku di sini." Naomi memegang wajahnya dengan kedua tangan. "Kamu juga selamat. Kita sama-sama selamat, Dar."

Nama itu, Dar, hampir membuat Darren roboh.

Ia meraih tangan Naomi dan menempelkannya ke bibir, bukan dengan gairah, melainkan seperti orang berdoa. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi punggung tangan Naomi.

Naomi ikut turun ke lantai. Ia memeluk Darren lebih dulu.

Darren membeku sesaat, lalu memeluknya balik dengan sangat hati-hati. Seolah jika ia memeluk terlalu kuat, Naomi akan kembali menjadi bayangan yang hilang di hujan. Namun Naomi justru mengeratkan pelukannya.

Baru saat itu Darren pecah.

Tangisnya tidak keras. Tidak dramatis. Hanya napas yang patah-patah, bahu yang bergetar, dan satu nama yang terus keluar dari bibirnya.

"Nao... Nao..."

Naomi membenamkan wajah di bahunya. "Aku marah padamu. Aku masih sakit. Tapi aku tidak mau kita dihukum lebih lama oleh kebohongan orang lain."

Darren mengangguk cepat di lehernya. "Aku akan menebusnya."

"Jangan menebus dengan menghukum diri sendiri."

"Lalu bagaimana?"

Naomi menarik napas gemetar. "Dengan hidup baik. Dengan tidak menghilang. Dengan bertanya kalau takut. Dengan memegang tanganku sebelum kamu memutuskan sendiri."

"Apa lagi?" tanya Darren.

Naomi menatapnya serius. "Kalau kamu panik, bilang. Kalau kamu marah pada dirimu sendiri, bilang. Kalau kamu ingin mengawasi aku sampai tidak tidur, bilang juga, supaya aku bisa menyuruhmu tidur."

Darren mengeluarkan tawa kecil yang basah. "Kamu terdengar seperti membuat peraturan rumah tangga."

"Memang." Naomi menyeka air matanya sendiri. "Aturan pertama, tidak ada yang boleh menyakiti dirinya sendiri atas nama cinta."

Darren menunduk.

"Aturan kedua," lanjut Naomi, suaranya lebih lembut, "kita tidak membiarkan orang lain memutus percakapan kita lagi. Tidak Kevin, tidak Vanessa, tidak keluarga siapa pun."

"Aturan ketiga?"

Naomi menyentuh bekas luka di balik kain kemejanya. "Kalau lukanya kambuh, kita obati. Bukan sembunyikan."

Darren memejamkan mata.

Itu terdengar sederhana. Justru karena sederhana, ia terasa seperti sumpah yang harus dijaga seumur hidup.

"Aku bisa," katanya.

Naomi melepas pelukan sedikit untuk menatapnya. Mata mereka sama-sama merah. Wajah Naomi basah, tetapi untuk pertama kalinya sejak kebenaran dibuka, ada ruang bernapas di antara luka itu.

Darren mengangkat tangan, menghapus air mata di pipinya dengan ibu jari.

"Aku mencintaimu," katanya. "Aku mencintaimu sejak jauh sebelum aku pantas mengatakannya. Aku mencintaimu bahkan ketika aku tidak tahu di mana kamu. Aku mencintaimu dengan cara yang berantakan, tapi mulai hari ini aku akan belajar mencintaimu dengan cara yang tidak melukaimu."

Naomi menangis lagi, tetapi kali ini ia tersenyum sangat kecil.

"Kamu banyak bicara kalau menangis."

Darren tertawa serak. "Aku sedang mempertahankan martabat yang tersisa."

"Sudah habis."

"Bagus. Berarti tinggal kamu."

Naomi memukul pelan bahunya, lalu memeluknya lagi.

Mereka tetap duduk di lantai ruang tamu cukup lama. Di luar pintu, mungkin Kevin menunggu dengan rasa bersalah. Di meja, bukti-bukti empat tahun lalu masih tersusun. Dunia belum selesai memperbaiki dirinya.

Namun di lantai itu, Darren akhirnya merasakan sesuatu yang ia kira sudah hilang selamanya.

Naomi tidak pergi.

Ia ada di pelukannya.

Darren menunduk, mencium puncak kepala Naomi dengan sangat lembut.

"Mulai sekarang," bisiknya, "aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Termasuk diriku sendiri."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!