Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020
Semester baru dimulai dengan antrean panjang di depan loket administrasi.
Universitas Prestasi kembali hidup setelah jeda pendek: mahasiswa membawa map registrasi, koper kecil dari kos, kopi dari kantin, dan gosip lama yang belum selesai. Krisis Lim Group sudah mereda di permukaan, tetapi Meiran tahu Kekuatan Takdir hanya mundur beberapa langkah, bukan menghilang.
Pagi itu, ia datang ke kampus dengan blazer tipis dan tablet di tangan.
Sari masih mengirim pembaruan tiap dua jam. Papa sudah kembali ke kantor pusat. Media besar memilih menunggu klarifikasi resmi. Dari luar, semuanya tampak terkendali.
Di dalam sistem, Nilai Kehancuran masih 24.
Angka itu seperti batu kecil di sepatu.
Meiran sedang memeriksa jadwal kuliah baru ketika suara lembut yang terlalu dikenalnya terdengar dari dekat gerbang fakultas.
"Ko Hafeng!"
Soe Wanyu datang membawa kotak bekal bertingkat berwarna krem. Rambutnya digerai rapi, gaunnya sederhana, wajahnya membawa senyum yang cocok untuk foto keluarga.
Beberapa mahasiswa langsung menoleh.
Hafeng berdiri di dekat papan jadwal, memegang map registrasi. Ia tampak sedikit lelah, tetapi lebih tenang daripada beberapa minggu lalu. Ketika mendengar suara Wanyu, bahunya menegang tipis sebelum ia menoleh.
"Wanyu."
Wanyu tersenyum lebih lebar. "Mama Fong Hwa membuatkan bakmi ayam jamur. Katanya kamu pasti lupa sarapan di hari registrasi. Aku sekalian lewat, jadi aku bawakan."
Nama Li Fong Hwa tidak disebut, hanya `Mama Fong Hwa`, seolah semua orang harus paham bahwa Wanyu punya akses ke rumah Hafeng yang tidak dimiliki orang lain.
Bisikan bergerak cepat.
"Wanyu dekat sama mamanya Hafeng ya?"
"Mereka kan dari kecil bareng."
"Pantas dia panggil Ko Hafeng."
Meiran berhenti beberapa langkah dari mereka.
Di kehidupan sebelumnya, kalimat seperti itu cukup membuatnya panas. Ia akan mendekat, bertanya kenapa Wanyu membawa bekal, lalu terlihat seperti perempuan yang tidak tahu tempat. Wanyu akan menunduk, Hafeng akan marah, dan semua orang akan mendapat bukti baru bahwa Lim Meiran memang pengganggu.
Hari ini, Meiran hanya membuka tablet dan mencatat.
Senjata Wanyu: akses keluarga.
Tujuan: mengembalikan posisi sebagai orang lama yang paling berhak.
Hafeng melihat kotak bekal itu. "Terima kasih. Titipkan saja."
Wanyu tidak menyerahkan kotak itu langsung. Ia malah membuka tutup tingkat pertama sedikit.
"Masih hangat. Kamu dulu selalu makan ini kalau sedang lembur gambar, ingat? Mama bilang kamu paling suka jamurnya dipotong kecil."
Kata `dulu` dijatuhkan lagi.
Kata yang sama seperti benang halus, menarik masa lalu ke tengah keramaian.
Hafeng mengambil kotak itu sebelum Wanyu bisa berbicara lebih panjang.
"Aku taruh di studio."
"Kita makan bersama?" tanya Wanyu cepat. "Seperti dulu. Aku juga belum sarapan."
Kali ini, beberapa mahasiswa benar-benar berhenti pura-pura sibuk.
Meiran mengangkat kepala.
Hafeng tidak langsung menjawab.
Jeda itu memberi ruang bagi Wanyu untuk tampak berharap.
Lalu Hafeng berkata, "Aku ada urusan."
Wanyu tersenyum beku. "Dengan siapa?"
Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi terlalu cepat.
Hafeng menatapnya. "Dengan jadwalku."
Chiko yang baru datang hampir tertawa, tetapi segera menutup mulut dengan map.
Meiran menyimpan tabletnya dan berjalan melewati mereka. Ia tidak berhenti, tidak menyapa Hafeng, tidak melihat kotak bekal. Justru itu membuat Hafeng menatapnya.
Wanyu melihat arah tatapan itu.
Ia segera berkata lebih keras, "Meiran, kamu sudah makan? Kalau belum, bakmi buatan Mama Fong Hwa banyak. Kamu boleh coba juga."
Kalimat itu terdengar murah hati.
Tetapi Meiran mendengar pintu jebakannya. Jika ia menerima, ia masuk ke wilayah keluarga Hafeng yang sengaja dipamerkan Wanyu. Jika ia menolak dengan kasar, Wanyu menjadi korban.
Meiran berhenti.
"Terima kasih," katanya. "Tapi aku tidak terbiasa mengambil makanan yang dibawa khusus untuk orang lain."
Senyum Wanyu menipis.
Hafeng menatap Meiran, lalu kotak bekal di tangannya. Entah kenapa, kotak itu tiba-tiba terasa lebih berat.
Meiran menambahkan, "Selamat menikmati sarapan masa kecil."
Ia pergi.
Chiko menunduk, bahunya bergetar.
Wanyu menggenggam tali tas. "Meiran selalu bicara seperti itu."
Hafeng tidak menjawab.
Ia melihat punggung Meiran menghilang di koridor administrasi. Tidak marah. Tidak cemburu terang-terangan. Tidak mengejar.
Justru karena itu, dadanya terasa terganggu.
Beberapa jam kemudian, unggahan Wanyu muncul di story.
Foto kotak bekal krem di atas meja studio.
Caption-nya singkat.
`Ada rasa yang tidak berubah sejak kecil.`
Di sudut foto, hanya terlihat ujung jari Hafeng yang sedang memegang sendok.
Grup angkatan langsung ramai.
`Wanyu dan Hafeng sweet juga ya.`
`Meiran lihat ini gimana?`
`Ko Hafeng dari kecil sama Wanyu? Wah.`
Meiran melihat unggahan itu saat keluar dari ruang administrasi.
Ia menatap foto selama dua detik, lalu mematikan layar.
**【Sistem Predator】Variabel pesaing lama aktif: Soe Wanyu menggunakan ikatan keluarga dan memori masa kecil.**
"Aku tahu, Sisi."
**【Sistem Predator】Apakah Host terganggu?**
Meiran tersenyum tipis.
"Tidak. Justru bagus."
**【Sistem Predator】Penjelasan?**
"Kalau dia harus memakai masa lalu untuk menarik Hafeng, berarti saat ini dia mulai kalah tempat."
Di ujung koridor, Hafeng keluar dari studio sambil membawa kotak bekal yang belum habis.
Matanya bertemu mata Meiran.
Untuk sesaat, ia terlihat ingin menjelaskan.
Meiran tidak memberinya kesempatan.
Ia hanya mengangkat ponselnya, menunjukkan story Wanyu yang masih terbuka, lalu tersenyum.
"Sarapan masa kecilmu photogenic juga."
Hafeng langsung mengerutkan dahi.
"Itu bukan..."
Meiran sudah berjalan pergi.
Di belakangnya, Hafeng menatap kotak bekal di tangan, lalu story di ponsel Chiko yang muncul entah dari mana.
Chiko berbisik, "Bro, aku rasa kamu baru saja masuk perang tanpa sadar."
Hafeng menutup kotak bekal itu.
Untuk pertama kalinya, kenangan masa kecil yang biasanya aman terasa seperti barang bukti.