NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Pertama di Cafe Senja

Hujan rintik membasahi halaman pemakaman itu, seolah langit pun turut menangisi kepergian seorang pahlawan. Di bawah naungan payung hitam, Kinasih Wulandari berdiri kaku, tangannya erat menggenggam bahu ibunya yang terguncang hebat di sampingnya. Air matanya sudah kering sejak tiga hari lalu saat kabar duka itu datang menghantam hidupnya.

Ayahnya, Herdian Wijaya, seorang perwira polisi yang selama ini menjadi pelindung dan kebanggaan keluarga, gugur dalam sebuah operasi besar memburu jaringan narkoba. Ia tertembak oleh musuh yang berusaha melarikan diri, meninggalkan luka yang takkan pernah sembuh di hati istri dan ketiga anaknya.

“Ayah… kenapa Ayah pergi secepat ini?” bisik Kinasih pelan, suaranya nyaris tak terdengar tertelan suara angin. Pria yang selalu memeluknya dan berkata, “Jangan takut, Ayah ada di sini,” kini hanya menjadi kenangan yang terpendam di dalam tanah.

Kepergian ayah bukan hanya menyisakan kesedihan mendalam, tapi juga beban berat yang tiba-tiba menimpa bahu keluarga itu.

Selama ini, semua kebutuhan hidup dan biaya kuliah Kinasih ditanggung sepenuhnya oleh ayah. Sekarang, tinggalah Nurhalimah, ibunya yang bekerja sebagai guru dengan penghasilan pas-pasan, yang harus menopang seluruh kehidupan. Kakaknya, Damar, memang sudah bekerja sebagai polisi, tapi gajinya masih cukup untuk kebutuhannya sendiri dan tak banyak bisa dibagi.

Malam itu, di ruang tamu rumah sederhana mereka, Kinasih memandang ibunya yang duduk termenung sambil memegang foto almarhum suaminya. Wajah cantik ibu itu tampak lebih tua dan lelah dalam waktu singkat. Hatinya terasa teriris melihatnya.

“Aku tidak boleh menjadi beban lagi,”tekad Kinasih dalam hati. Ia masih harus melanjutkan kuliah kedokterannya, cita-cita yang didukung penuh oleh ayah semasa hidupnya. Ia takkan membiarkan impian itu kandas hanya karena kekurangan biaya.

Keesokan harinya, tanpa memberitahu siapa pun terlebih dahulu, Kinasih mulai berkeliling mencari lowongan pekerjaan yang bisa disesuaikan dengan jadwal kuliahnya. Ia tak mau meminta uang lebih pada ibunya, tak mau menyusahkan Damar yang juga punya tanggung jawab sendiri.

Setelah berjalan kaki dan bertanya dari satu tempat ke tempat lain selama dua hari, kakinya terasa lelah dan hatinya mulai ragu, sampai ia berhenti di depan sebuah kafe bernama Cafe Senja, yang terletak tak jauh dari kampusnya. Tempat itu terlihat tenang, nyaman, dan suasananya hangat.

Dengan napas yang ditarik panjang, Kinasih melangkah masuk. Ia menyampaikan niatnya kepada pemilik kafe itu, menjelaskan kondisinya dengan jujur tanpa menampakkan kesedihan berlebih.

Wanita paruh baya pemilik kafe itu menatapnya lama, melihat ketulusan dan semangat yang terpancar dari mata indah gadis itu meski terlihat lelah. Senyum lembut terukir di bibirnya.

“Baiklah, Kinasih. Kamu diterima,” ucapnya pelan. “Kamu bisa mulai bekerja sore hari sepulang kuliah. Gajinya cukup untuk menutupi kebutuhanmu sendiri.”

Rasa lega seketika membanjiri dada Kinasih. Ia menunduk dalam, matanya berkaca-kaca, kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena rasa syukur yang tak terhingga.

“Terima kasih banyak, Bu. Saya janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh,” jawabnya lembut namun tegas.

Saat berjalan pulang menuju rumah, langkah Kinasih terasa lebih ringan. Ia tahu jalan ke depannya takkan mudah, ia harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja, mengurangi tidur dan waktu istirahat. Tapi ia takkan mengeluh. Demi menghormati pengorbanan ayahnya, demi meringankan beban ibunya, dan demi masa depannya sendiri, ia akan berjuang sekuat tenaga.

***

Seminggu sudah Kinasih bekerja di Cafe Senja. Meski harus membagi waktu antara kuliah dan kerja, ia berusaha tetap terlihat segar dan semangat. Hari ini, sepulang kuliah, sahabatnya Amara langsung menarik tangannya dengan antusias.

“Kin, ayo ikut gue sebentar ke kamar gue! Gue baru beli buku catatan kedokteran edisi terbaru, mau tunjukin ke lo. Isinya lengkap banget, dijamin bikin belajar jadi lebih gampang,” ajak Amara sambil melambaikan tangan.

Kinasih mengangguk senyum. “Boleh deh, Mara. Tapi bentar ya, nanti gue harus ke kafe jam empat sore.”

“Iyaaa, sebentar doang kok. Rumah gue kan deket, nanti gue antar sampai depan jalan,” jawab Amara santai sambil terus menarik tangan Kinasih masuk ke halaman besar rumah keluarganya yang megah tapi terasa hangat.

Mereka berdua melangkah menyusuri koridor lantai dua menuju kamar Amara yang ada di ujung lorong. Obrolan mereka masih mengalir asyik:

“Wah, Mara, rumah lo makin enak aja suasananya. Bikin betah banget,” puji Kinasih sambil melihat sekeliling.

“Iya dong, emang tempat ternyaman. Eh tapi hati-hati ya, jangan ketemu Kak Kenan dulu. Kalau ketemu, nanti dia tanya-tanya terus, kadang rese juga sih soalnya,” canda Amara sambil tertawa kecil.

Baru saja kalimat itu keluar dari mulut Amara, tiba-tiba pintu ruang kerja di samping koridor terbuka lebar.

Keluar dari sana seorang pria tinggi tegap, bertubuh atletis, berpakaian kemeja putih rapi dengan lengan digulung sampai siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Wajahnya tampan memikat, dengan rahang tegas dan mata cokelat gelap yang langsung tertuju pada dua gadis di hadapannya. Itu adalah Kenan Aditya Hartmann.

Seketika suasana jadi hening sebentar. Tatapan Kenan langsung terpaku pada Kinasih. Gadis itu berdiri dengan anggun, rambut hitam panjangnya tergerai indah menutupi punggung, wajahnya berseri meski samar terlihat lelah, dan senyumnya yang lembut itu terasa seperti menyejukkan hati. Tanpa sadar, sudut bibir Kenan terangkat membentuk senyum, senyum yang jarang sekali dia tunjukkan pada orang lain.

Amara tertegun, lalu buru-buru memperkenalkan. “Eh Kak! Ini Kinasih, sahabat di kampus. Kin, ini Kakak gue, Kenan.”

Kinasih sedikit menunduk sopan, pipinya memerah malu karena merasa tatapan pria itu terlalu tajam tapi terasa hangat. “Siang, Kak Kenan. Saya Kinasih.”

Kenan melangkah mendekat perlahan, suaranya berat dan lembut, beda banget dengan nada bicara yang biasanya dingin dan tegas. “Siang juga. Teman kamu ya, Mara? Cantik banget, kok baru kali ini Kakak lihat.”

Amara langsung melotot kecil, menyenggol lengan kakaknya. “Iya lah, baru kali ini dia main ke sini. Jangan melototin dia terus dong Kak, bikin dia malu nanti!”

Kenan malah makin tersenyum lebar, matanya tak lepas dari wajah Kinasih. “Memang cantik, masa nggak boleh dipuji? Nama kamu Kinasih ya? Cocok banget, sesuai banget sama orangnya.”

Kinasih hanya bisa tersipu sambil memainkan ujung bajunya, jantungnya berdegup kencang tak karuan. Rasanya aneh, baru pertama kali bertemu tapi rasanya seperti ada getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Kamu lagi sibuk nggak? Kalau nggak, kita ngobrol sebentar aja deh,” tawar Kenan dengan nada yang sangat ramah, jauh dari bayangan Amara selama ini kalau kakaknya itu orangnya dingin dan kaku.

Amara sampai mengerjap beberapa kali, bingung sendiri. Wah, ini beneran Kak Kenan gue? Kok jadi manja dan ramah banget? Beneran kena panah asmara nih kayaknya, batin Amara dalam hati sambil menahan senyum jahil.

Kinasih mengangkat wajah perlahan, menatap Kenan dengan tatapan lembut. “Sebenarnya saya harus berangkat kerja sebentar lagi, Kak. Mungkin lain kali saja ya kita ngobrol lebih lama.”

Kenan mengangguk mengerti, tapi tatapannya terasa enggan melepaskan. “Oke, lain kali. Nanti pasti Kakak tunggu kedatangan kamu lagi. Hati-hati di jalan ya, Kinasih.”

“Iya, makasih Kak,” jawab Kinasih sambil tersenyum manis.

Setelah melewati Kenan dan masuk ke kamar Amara, Kinasih masih bisa merasakan detak jantungnya yang tak beraturan. Sedangkan Kenan masih berdiri di koridor, menatap punggung Kinasih sampai menghilang di balik pintu kamar adiknya, senyum tipis masih terukir di wajahnya, senyum yang sudah lama tak muncul sejak lama.

Di dalam kamar, Amara langsung menyenggol bahu Kinasih sambil berbisik penuh semangat:

“Wah Kin! Lo lihat nggak tadi? Kakak gue itu nggak pernah senyum selebar itu sama orang lain lho! Bahkan sama temennya aja dia datar banget. Tadi matanya kayak nggak mau lepas dari lo doang tuh! Waduh, kayaknya ada yang naksir nih, hahaha!”

Kinasih langsung memukul pelan lengan Amara, pipinya makin memerah. “Ih apaan sih Mara! Jangan ngaco deh, pasti cuma perasaan lo aja. Kakak lo itu kan orang penting, mana mungkin lihat gue yang biasa aja begini.”

“Yakin? Gue kan adiknya, tahu banget kelakuannya. Kalau dia nggak tertarik, pasti dia cuma lewat aja terus masuk lagi ke ruangannya. Ini malah berhenti, ngobrol, sampai puji-puji lagi. Dijamin deh, ini baru permulaan aja!” goda Amara sambil tertawa puas.

Kinasih hanya bisa menggeleng sambil tersenyum malu, tapi dalam hatinya ia mengakui satu hal, pertemuan tadi membuat hari-harinya yang berat dan menyedihkan itu tiba-tiba terasa lebih berwarna.

Tepat pukul empat sore, Kinasih pamit pulang sebentar ke rumah untuk berganti baju, lalu langsung bergegas menuju Cafe Senja. Meski badannya terasa agak lelah setelah kuliah dan mengunjungi rumah Amara tadi siang, ia tetap semangat bekerja. Ia tak mau mengecewakan pemilik kafe, apalagi ini sumber penghasilannya sendiri.

Hari itu kafe terasa cukup ramai. Suara obrolan pengunjung berpadu dengan alunan musik lembut yang mengalun di seluruh ruangan. Kinasih bergerak lincah melayani meja demi meja, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya, meski di dalam hati masih tersisa sedikit rasa malu mengingat pertemuannya tadi siang dengan Kenan.

Jam tujuh malam, suasana kafe mulai sedikit lebih sepi. Pintu kafe terbuka, dan dua orang pria masuk melangkah masuk dengan tenang. Yang berjalan di depan adalah Kenan Aditya Hartmann, tampak gagah dengan kemeja hitam yang dipadukan celana kain panjang, memancarkan wibawa yang langsung menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Di belakangnya mengikuti Rizky Pratama, asisten pribadinya yang setia.

Kenan melirik sekeliling, dan begitu matanya menangkap sosok yang ia cari, sudut bibirnya langsung terangkat. Ia sengaja memilih duduk di sudut ruangan yang agak tersembunyi, tapi tetap bisa melihat Kinasih dengan jelas.

Begitu melihat kedatangan tamu baru, Kinasih segera menghampiri mereka dengan langkah halus. Ia mengenali wajah itu seketika, jantungnya langsung berdegup kencang lagi. Ia berusaha tetap tenang dan sopan.

“Selamat malam, Kak Kenan. Ada yang bisa saya bantu?” sapa Kinasih sambil sedikit menunduk, lalu menyodorkan buku menu dengan kedua tangan.

Kenan menerima buku itu, tapi matanya tak membaca daftar makanan sama sekali. Ia malah sesekali melirik wajah Kinasih dari atas buku menu itu, menikmati setiap detik melihat gadis yang terus terbayang di kepalanya sejak tadi siang. Tatapannya lembut, berbeda jauh dari tatapan tajam yang biasa ia tunjukkan pada orang lain.

“Kamu kerja di sini ya?” tanya Kenan santai sambil tetap melirik gadis itu.

“Iya, Kak. Mulai minggu ini,” jawab Kinasih pelan, menahan rasa gugup.

Kenan mengangguk pelan, baru kemudian memesan dengan nada tenang, “Kalau begitu, tolong buatkan satu cokelat panas, dan sepiring kue keju. Kalau dia,” ia menoleh sebentar ke arah Rizky, “pesan kopi hitam dan roti bakar biasa.”

“Baik, Kak. Sebentar ya pesanannya segera saya antar,” jawab Kinasih sambil tersenyum lembut. Senyum itu membuat Kenan merasa seolah seluruh ruangan jadi lebih terang.

Kinasih segera berbalik dan melangkah cepat menuju dapur. Begitu sampai di balik tirai dapur, ia langsung memegangi dadanya yang berdebar kencang. Ya ampun… dia kok bisa sampai ke sini juga? batinnya sambil tersipu sendiri, tapi tangannya tetap cekatan menyampaikan pesanan ke koki.

Tak sampai sepuluh menit, semua pesanan sudah siap. Kinasih menyusunnya rapi di atas nampan, lalu kembali melangkah menghampiri meja Kenan dengan hati yang tak karuan.

Dengan gerakan hati-hati, ia meletakkan satu per satu pesanan itu di atas meja. “Silakan dinikmati, Kak,” ucapnya sopan sambil menunduk sedikit.

Baru saja ia hendak melangkah mundur, Kenan tiba-tiba menatapnya dalam-dalam, lalu mengukir senyum paling manis yang pernah Kinasih lihat. Pria itu kemudian sedikit mengerlingkan matanya ke arah Kinasih, gerakan kecil yang sangat jarang ia lakukan pada siapa pun, tapi terasa sangat menggoda saat ditujukan padanya.

“Terima kasih, Kinasih. Pelayanannya bagus banget, enak dilihat juga,” bisik Kenan pelan, hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

1
sunaryati jarum
Makin posesif Kenan
yuningsih titin: namanya cinta kak... takut kehilangan🤭🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Ancaman kamu tidak terbukti Kamila , karena Kenan sudah punya perusahaan sendiri.Sebetulnya Kenan juga salah karena menyetujui perjodohan padahal cintamu sudah habis untuk Kinasih.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak dukung Reyna Kenan dan Kinasih rujuk ,kan baru talak satu
yuningsih titin
makasih sudah mampir kak...
sunaryati jarum
Kenan , kesetiaan dan pendirian kamu memang patut dipuji ,tapi sebelum hubungan kamu dengan Kamila selesai tahan dulu.
sunaryati jarum
Benarkan itu perbuatan Kamila,itu kesalahan kamu juga Kenan, justru Kinasih yang dikambinghitamkan,dan mendapatkan gangguan
sunaryati jarum
Kamu jangan mengekang Kinasih Kenan,Jika jodohmu pasti bersatu
sunaryati jarum
Kenan kamu masih suami orang kasihan Kinasih dicap pelakor padahal kamu yang mencari dan mengejar,juda akan membayakan keselamatan Kinasih jika Kamila tidak terima.Selesaikan dulu pernikahan kamu dengan Kamila.,Kenan
sunaryati jarum
Semoga pelaku segera tertidur 😄dan keadaan Kinasih dabn bayinya aman
sunaryati jarum: Maksude tertangkap kok tertidur 🤣🤣😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Itu perbuatan orang bayaran Kamila
sunaryati jarum
Semoga mereka bersatu setelah Kenan bebas dari pernikahannya
sunaryati jarum
Reyna orangnya Kenan.Semoga rencana busuk Kamila untuk melenyapkan Kinasih gagal,malah orang suruhannya tertangkap
sunaryati jarum
Kamu bener bukankah perjanjiannya jelas Kenan , hanya setahun.Maks untuk saat ini berjuang dan lindungilah Kinasih dari kejahatan yang akan dilakukan Kamila
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!