NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuitansi Kosong dan Rahasia di Balik Sampul Hitam

Aroma cat akrilik dan tiner menyengat tajam, mengalahkan bau apak karpet Sekretariat BEM yang biasanya didominasi sisa kopi instan. Sore itu, ruang sempit berukuran enam kali enam meter tersebut terasa makin sesak.

Lyana berdiri di depan papan tulis putih, mengetuk-ngetukkan ujung spidol hitamnya dengan ritme yang selaras dengan kerutan di dahinya. Di depannya, duduk bersila di atas karpet, Bimo—pemuda berambut gimbal yang kemarin menjadi akar masalah di sidang Senat—tengah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Di sebelahnya, dua seniman jalanan lain menatap papan tulis dengan raut wajah seperti anak SD yang baru saja disuruh memecahkan soal kalkulus.

"Jadi, Mbak Lyan..." Bimo membuka suara, nadanya sarat akan keraguan yang memelas. "Kalau misalnya aku beli rokok eceran sama gorengan limapuluh ribu buat bapak-bapak yang bantu angkat scaffolding, itu notanya gimana? Masa aku suruh ibuk warungnya nulis di kuitansi resmi BEM? Nanti dikira ibuknya aku petugas pajak."

Sebuah tawa tertahan yang berubah menjadi dengusan pelan terdengar dari arah pintu.

Lyana melempar tatapan tajam bak silet ke sudut ruangan. Rumi bersandar santai di ambang pintu, menempelkan sekaleng soda dingin ke pipinya. Laki-laki itu hanya memakai kaus oblong putih dan celana kargo pudar. Mata gelapnya melengkung membentuk bulan sabit, terang-terangan menikmati penderitaan bendaharanya.

"Mas Rumi, jangan cuma ketawa," tegur Lyana ketus, meski sudut bibirnya tanpa sadar ikut berkedut. "Kamu yang bawa mereka ke sini. Kamu juga harus bantu jelasin kalau uang organisasi itu bukan uang gaib yang bisa turun dari langit tanpa laporan."

Rumi mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah, lalu melangkah masuk. Ia berhenti tepat di sebelah Lyana, mengambil alih spidol dari tangan gadis itu. Jari mereka bersentuhan sebentar. Kulit Rumi terasa dingin karena kaleng soda, kontras dengan tangan Lyana yang menghangat.

"Gini, Bim," Rumi menatap teman-temannya dengan senyum maklum. "Kalian beli kuitansi kosong di fotokopian. Minta ibuk warungnya cap jempol di situ kalau memang dia nggak punya stempel. Fotokan gorengannya, fotokan bapak-bapak yang lagi makan. Selesai. Mbak Lyan cuma butuh bukti fisik, biar besok-besok kita nggak disidang lagi sama orang-orang Senat yang kurang kerjaan itu."

"Oh! Bilang dong dari tadi!" Bimo menjentikkan jarinya, wajahnya seketika cerah. "Kalau cuma disuruh motret gorengan mah gampang. Aku kira harus pakai materai sepuluh ribu."

Lyana membuang napas panjang. Ia menyilangkan tangan di depan dada, menatap tiga seniman jalanan itu dengan sisa-sisa keputusasaan seorang akuntan. Namun, anehnya, tidak ada rasa jengkel yang benar-benar bersarang di hatinya. Mengajari Bimo membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) memang menguras kewarasannya, tapi melihat bagaimana BEM kini benar-benar menjadi ruang bagi orang-orang yang selama ini tak tersentuh birokrasi kampus, memberikan kepuasan tersendiri yang sulit dijelaskan.

Setengah jam kemudian, setelah sepakat bahwa maksimal pengeluaran tak terduga adalah lima persen dari total anggaran, Bimo dan kawan-kawannya pamit undur diri. Mereka berjanji akan menyerahkan draf proposal yang sudah direvisi besok siang.

Pintu sekre tertutup, menyisakan Lyana dan Rumi.

Suasana mendadak hening. Suara azan asar dari masjid fakultas terdengar sayup-sayup di kejauhan. Cahaya matahari sore yang berwarna jingga keemasan menyusup masuk melalui celah kaca nako jendela, membelah ruangan menjadi dua bagian terang dan gelap.

Lyana berbalik, meraih penghapus papan tulis. Ia mulai menghapus deretan angka dan coretan skema RAB yang ia buat tadi. Gerakannya sedikit mekanis, berusaha mengabaikan fakta bahwa Rumi masih berdiri di dekatnya, tidak beranjak satu senti pun.

"Kamu sabar juga ngadepin mereka," suara Rumi mengalun rendah, memecah kesunyian.

Lyana menghentikan gerakannya sebentar, lalu lanjut menghapus. "Mereka cuma butuh diajarin, Mas. Bukan dijauhi. Selama ini mereka gerak sendiri karena kampus selalu ngasih dinding yang terlalu tinggi buat dilewati."

Rumi melangkah mendekat. Ia mengambil penghapus dari tangan Lyana, melakukan sisa pekerjaan itu untuknya. "Sama kayak aku, kan?"

Lyana menoleh. Jarak mereka kini hanya terpaut satu tarikan napas. Aroma citrus dan tembakau dari kaus Rumi menguar, menenggelamkan sisa bau tiner di ruangan itu.

"Maksudnya?" tanya Lyana pelan.

Rumi meletakkan penghapus itu di nampan papan tulis, lalu menumpukan sebelah tangannya di dinding, tepat di samping kepala Lyana. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. Tidak ada topeng arogan, tidak ada gaya slengeannya yang biasa. Hanya ada sorot mata yang terlampau dalam dan jujur.

"Dulu, aku juga ngerasa BEM itu dinding yang terlalu tinggi," ucap Rumi, suaranya nyaris seperti bisikan. "Sampai aku sadar, ada kamu di dalamnya. Kamu yang bikin aku mau bertahan di ruangan pengap ini. Kamu yang bikin aku merasa... mungkin aku nggak seburuk yang aku pikirkan."

Udara di paru-paru Lyana seolah menguap. Matanya melebar sedikit, menatap lurus ke dalam manik gelap Rumi. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang memekakkan telinga. Tangannya yang bebas refleks meremas ujung kemejanya sendiri.

Ini bukan pembicaraan soal organisasi. Ini adalah pengakuan yang tidak pernah Lyana antisipasi akan keluar dari mulut seorang Arshaka Rumi.

"Mas..." Lyana menelan ludah, suaranya tercekat. Ia tidak tahu harus merespons apa. Logikanya, yang selalu bisa menghitung probabilitas dengan cepat, kini lumpuh total.

Rumi tersenyum tipis. Ia tidak memaksakan jawaban. Tangan laki-laki itu perlahan terangkat, jari telunjuknya dengan sangat hati-hati menyeka serbuk hitam spidol yang tak sengaja menempel di pipi kiri Lyana. Sentuhan itu seringan embusan angin, tapi rasanya membakar kulit Lyana.

"Aku cuma mau bilang makasih, Lyan," Rumi menarik tangannya kembali, melangkah mundur untuk memberikan gadis itu ruang bernapas. "Makasih udah nggak nyerah sama BEM. Dan nggak nyerah sama aku."

Lyana mengerjap, berusaha mengumpulkan kepingan kesadarannya yang berserakan. Ia berdeham pelan, memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah yang ia yakin sudah menjalar hingga ke telinga.

"A-aku harus siap-siap shift malam ke kedai," Lyana buru-buru berbalik menuju mejanya. Tangannya bergerak serabutan memasukkan buku-buku, kotak pensil, dan kalkulator ke dalam tas ranselnya. Ia tidak lagi memperhatikan apa yang ia masukkan, yang penting ia harus segera keluar dari ruangan ini sebelum jantungnya benar-benar meledak.

"Mau kuantar?" tawar Rumi.

"Nggak usah!" sahut Lyana sedikit terlalu cepat. "Aku... aku bawa motor sendiri. Kamu kunci sekre aja. Duluan ya, Mas!"

Tanpa menunggu jawaban, Lyana menyampirkan tasnya dan berjalan cepat keluar dari sekretariat, meninggalkan Rumi yang masih berdiri di tengah ruangan dengan senyum simpul yang tak kunjung luntur.

Suara mesin espreso yang mendesis keras menjadi pelarian sempurna bagi Lyana. Di balik meja bar Drip & Draft, ia sibuk merapikan cangkir-cangkir keramik ke atas rak mesin. Aroma biji kopi robusta yang disangrai gelap sedikit menenangkan sarafnya, meski pikirannya masih tertinggal di sekretariat BEM, tepatnya pada sentuhan ringan Rumi di pipinya.

Fokus, Lyana. Fokus.

Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berjalan ke ruang istirahat karyawan di bagian belakang kedai. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Kedai lumayan sepi karena gerimis kembali turun membasahi Solo. Ia punya waktu istirahat lima belas menit sebelum shift puncaknya dimulai.

Lyana membuka loker besinya, berniat mengambil buku catatan kecilnya untuk mengecek jadwal kuliah besok. Ia merogoh ke dalam tas ranselnya yang tadi ia kemasi dengan terburu-buru. Tangannya menyentuh sebuah buku bersampul kulit sintetis. Ia menariknya keluar.

Kening Lyana berkerut. Ini bukan buku catatan spiral miliknya yang berwarna biru.

Buku yang ia pegang adalah buku jurnal hitam milik Rumi—buku yang selalu laki-laki itu bawa ke mana-mana, yang biasanya berisi coretan lirik lagu, sketsa asal-asalan, atau catatan rapat yang tak pernah bisa dibaca oleh siapa pun selain Rumi sendiri. Lyana pasti tidak sengaja memasukkannya ke dalam tas saat panik di sekre tadi.

Niat awalnya hanya ingin menyimpan buku itu kembali ke dalam tas. Namun, saat ia memegang jurnal tersebut, sebuah kertas putih yang dilipat rapi jatuh dari sela-sela halamannya dan melayang turun ke lantai ubin ruang ganti.

Lyana berjongkok untuk memungutnya. Saat tangannya menyentuh kertas itu, matanya menangkap sesuatu yang membuat rasa penasarannya mengalahkan etika privasinya.

Ada tulisan ketikan komputer di kertas itu.

Lyana membuka lipatan kertas tersebut dengan perlahan. Baris pertama dari dokumen itu membuat seluruh darah di tubuh Lyana seolah membeku seketika. Detak jantungnya yang tadi sore berpacu karena salah tingkah, kini berdegup kencang karena alasan yang sama sekali berbeda.

Surat Pernyataan Pengunduran Diri

Napas Lyana tertahan. Matanya melompat ke paragraf berikutnya, memindai deretan kalimat formal yang diketik dengan sangat rapi dan tanpa keraguan.

Dengan ini saya yang bertanda tangan di bawah ini, Arshaka Rumi Wiraguna, menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Pembangunan, terhitung sejak surat ini diserahkan kepada pihak Dekanat.

Lyana merasakan kakinya melemas. Kertas itu nyaris terlepas dari jari-jarinya.

Kenapa? teriak Lyana dalam hati. Sidang Senat sudah selesai. Kita menang. Bukankah dia sudah berjanji untuk tidak pernah mundur? Bukankah tadi sore dia bilang ingin bertahan?

Namun, saat Lyana membalik halaman jurnal yang terbuka di tangannya—halaman tempat surat itu tadi terselip—ia menemukan jawabannya. Jawaban yang membuat dunianya benar-benar jungkir balik.

Di halaman itu, tidak ada coretan lirik lagu atau catatan anggaran. Hanya ada sebuah sketsa pensil yang digambar dengan sangat detail dan telaten. Sketsa seorang gadis yang sedang tertidur dengan kepala bersandar di atas tumpukan ordner biru. Sketsa dirinya.

Di sudut kanan bawah gambar tersebut, terdapat tulisan tangan Rumi yang digoreskan dengan tinta tebal.

Aku bisa menentang seluruh kampus, tapi aku tidak bisa membiarkan dia kehilangan mimpinya karena aku. Jika Satria meminta kepalaku sebagai ganti beasiswanya, maka biarlah.

Suara lonceng pintu kedai bergemerincing dari depan, menandakan ada pelanggan masuk. Suara Rio, rekan kerjanya, memanggil namanya dari arah bar. Namun Lyana tidak mendengarnya. Ia mematung di ruang ganti yang sempit, mencengkeram jurnal hitam itu ke dadanya, menyadari bahwa laki-laki yang baru saja membuatnya jatuh cinta itu bersiap untuk pergi meninggalkannya esok pagi.

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!