Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN
Pagi selanjutnya, Sutinah bangun paling awal. Semenjak tinggal di lapas, ia jadi orang yang sangat menyukai bersih-bersih. seperti pagi biasanya, kali ini pun ia menyapu lorong dengan gerakan teratur. Sesekali ia berhenti, menegakkan punggung, lalu tersenyum menyapa petugas yang lewat.
Sengaja, Sutinah memperpelan langkah menyapunya di lorong depan ruang serba guna itu. Ia menegakkan punggung, seolah mengambil jeda, lalu duduk sejenak untuk beristirahat.
Tepat seperti perhitungannya, di ruang serba guna lapas, televisi menyala. Lima menit kemudian berita pagi menayangkan ulang video Pak Darto, kemudian diikuti suara sang presenter, "Hingga berita ini diturunkan, pihak terlapor belum memberikan tanggapan.”
Beberapa warga binaan yang turut menyapu bersamanya pun menoleh ke arah Sutinah. “Bu Sutinah, itu pabrik milik putramu, ya?” tanya salah satu.
Sutinah menunduk, seolah malu. “Saya sudah tidak berhak bicara, Mbak. Biar hukum yang bekerja.”
Sutinah kembali menyapu dengan gerakan yang lebih pelan, sambil menunduk menyembunyikan wajahnya, menyembunyikan senyum licik di sudut bibirnya.
"Ternyata begitu kasusmu, ya? Wah kasihan juga karyawan-karyawan mu, Bu. Apa kamu nggak maju banding?"
Belum sempat Sutinah berkomentar lagi, di layar televisi menampilkan wawancara singkat media dengan salah satu karyawan dari pabrik cabang Tulungagung.
["Apakah benar, selama produksi berhenti karena pabrik sedang diperiksa sebagai TKP, karyawan diliburkan dan tetap mendapatkan separuh gaji dan sembako?" tanya sang presenter.
"Ya, Benar itu, Mbak! Itulah sebabnya kami terkejut saat Pak Presdir dituduh terlibat korupsi. Orang sebaik dia kok bisa korupsi, itu pasti akal-akalannya Udin! Saya dengar bapaknya juga korupsi uang pabrik tujuh belas tahun lalu, kenapa itu nggak diusut!"]
Sutinah semakin menunduk dalam, satu tangannya pura-pura mengusap sudut mata, seolah ingin menciptakan titik air yang sebenarnya tak ada.
Salah satu napi wanita yang usianya beberapa tahun lebih muda darinya mendekat, menepuk pelan punggung Sutinah. "Yang sabar ya, Bu. Orang baik pasti akan dibela banyak orang."
Sutinah mengangguk-angguk, 'Bagus!' batinnya merasa menang. 'Tahap 1 berhasil sempurna, mari lanjutkan tahap kedua!'
Bel tanda dimulainya apel pagi pun berdentang keras, Sutinah dan para warga binaan lainnya pun berjalan cepat menuju ke lapangan di sisi timur barak. Senyum licik Sutinah tak juga pudar dari sudut bibirnya, lalu berbisik kecil, bisikan yang hanya ia dengar sendiri. “Udin... kau kira penjara bisa membungkamku? Aku masih punya suara. Dan suaraku lebih keras dari jeruji ini.”
...........
Tepat seperti perkiraan AKBP Raharja, tepat jam 10 pagi itu, tiga bus berhenti di ujung gang. Dari dalamnya turun sekitar 20 orang dengan seragam pabrik, dan sisanya menunggu di dalam bus.
Pak Darto, berjalan paling depan. Tangannya membawa kertas yang sudah ditandatangani ratusan pekerja pabrik.
Warga sekitar rumah Udin pun keluar dari rumah, untuk melihat apa yang terjadi. Ada yang merekamnya, ada yang bersiap dan khawatir akan adanya kerusuhan, dan ada yang cepat mencari pak RT untuk melapor.
Pak Darto berhenti di depan pagar rumah Udin, lalu mengetuk pelan. “Mas Udin... kami ingin bicara baik-baik.”
Dari dalam, tidak ada jawaban, hanya gorden yang sedikit tersingkap. Sari mengintip dari balik jendela. Jantungnya berdetak kencang, lalu meraih ponsel, menelepon AKBP Raharja.
Udin keluar dari kamar mandi, menatap Sari yang terlihat pucat, duduk mengawasi dari ruang tamu. "Biar aku temui mereka," ucapnya lalu membuka pintu.
"Tapi, Din!" cegah sari membuat Udin berhenti sejenak di ambang pintu. "Tunggu AKBP Raharja datang aja, gimana kalau mereka mencelakaimu?"
"Tidak akan, percayalah," jawab Udin tenang, lalu melangkah keluar.
Sorak-sorai orang-orang menyambut Udin yang keluar dari dalam rumah. "Mari, masuk dulu teman-teman." ucap Udin lalu membuka pintu gerbang.
Tapi dari ujung lain gang, terdengar sirine. Dua mobil patroli yang dikemudikan Briptu Coki mendekat ke rumah Udin.
Pak Darto menoleh, lalu memberi isyarat pada orang-orang di belakangnya untuk mundur. "Balik masuk bus! Kita diminta ke kantor pusat!" serunya bernada janggal.
Orang-orang yang bersama pak Darto pun berlarian masuk lagi ke dalam bus. Sedangkan apak Darto melempar satu map coklat ke arah Udin. namun karena terburu-buru, amplop itu jatuh ke tanah.
Udin memungut amplop coklat besar itu, di dalamnya ada foto Bu Rukmini dan Dina yang duduk di dalam bus antarkota. Udin membalik foto itu, disana tertulis jelas sebuah ancaman.
—KEMBALIKAN SUMBER MATAPENCAHARIAN KAMI ATAU SELANJUTNYA YANG KAMI KIRIMKAN ADALAH KARANGAN BUNGA!—
Udin berdiri kaku, tapi tangannya gemetar. AKBP Raharja bergegas turun dari mobil lalu melihat ke dalam foto itu. "Musuh kita kali ini masyarakat yang diperdaya kekuasaan Sutinah.
"Apa bukti ancaman ini nggak bisa kita proses, Pak?" tanya Sari khawatir.
"Prioritas kita saat ini, melindungi keluarga Udin," sahut AKBP Raharja. "Briptu Coki, kabarkan pada Bripka Eman tentang hal ini, setidaknya timnya akan lebih memperketat penjagaan untuk Bu Rukmini."
"Siap, Pak!"
AKBP Raharja menepuk pelan pundak Udin yang tegang. "Kita semua bergerak cepat, tenanglah Mas. Ada Bripka Eman mengawal Bu Rukmini dengan jarak aman," ucapnya. "Tapi melawan massa, perlu pertimbangan yang tepat. Salah mengambil keputusan, maka situasi justru akan menguntungkan mereka yang ada dibalik rencana busuk itu."
"Kita sudah tahu siapa pelakunya, pak! Pasti Sutinah atau para pejabat korup itu, apa susahnya menghukum mereka! Seperti di film-film itu loh, lapas kan daerah kekuasaan kalian, bukankah kalian punya wewenang untuk mukul mereka, atau jewer telinga mereka sampai putus, gitu!" cerocos Sari tanpa jeda, hingga napasnya terengah karena kesal dan kehabisan sabar.
AKBP Raharja terkekeh kecil, lalu menghela napas. "Kami ini penegak hukum, Mbak Sari. Bukan penguasa hukum. Kami tidak bisa asal main pukul, bukti ini tidak cukup kuat untuk menjerat mereka."
Sari mencebik kesal. Sedangkan Udin menghela napas sangat dalam. "Terimakasih perlindungannya, Pak," ucap Udin singkat.
AKBP Raharja pun berpamitan, "Tetap siaga. Jika merasa tak nyaman, kami membuka pintu markas sementara sampai situasi mereda."
"Rumahku juga terbuka untuk kalian," imbuh Briptu Coki.
Udin dan sari mengangguk sebagai ucapan terimaksih. "Siap, Pak. Untuk sementara, saya akan bertahan disini dulu. Saya yakin mereka nggak akan berani terlalu jauh."
Tapi tidak dengan prediksi Udin. Ponsel Sari berdering keras. "Halo, Mak?" serunya menerima panggilan dari sang ibu.
"Nduk, Emak njaluk tulung, Ojo cedak-cedak Karo bocah sing jenenge Udin. Kamu yen meh ngerti, yang bikin ibumu jadi janda itu ya bapake bocah kui, pak mandor Budi."
Deg!