Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Jiang Yuan vs Tang Wu II
"Bagaimana mungkin!" serunya, suaranya bergetar. Tubuhnya memancarkan Dou Qi tebal berwarna keemasan yang menghancurkan es di tangannya hingga pecah berkeping-keping. "Kau hanya Ranah Dou Shi! Bagaimana kau bisa memiliki kekuatan sebesar ini?!"
Jiang Yuan tidak menjawab. Ia hanya berdiri dengan tenang di tengah hutan yang membeku, jubah hitamnya yang berkibar tertiup angin dingin yang ia ciptakan sendiri. Di dalam Lautan Kesadarannya, Bing Bi tersenyum puas.
'Bagus, Jiang Yuan,' bisik Bing Bi dalam pikirannya. 'Kau menggunakan teknik esku dengan baik. Meski masih jauh dari kekuatan sejatiku, untuk tingkatmu sekarang, ini sudah cukup mengesankan.'
Jiang Yuan hanya merespon dengan anggukan kecil dalam hatinya.
Tang Ling dan Tang San sudah tidak bisa bergerak. Patung es mereka berdiri kaku di tengah hutan, mata mereka masih terbuka namun tidak ada kehidupan di dalamnya. Napas mereka berhenti, detak jantung mereka membeku bersama es yang menyelimuti mereka.
Tang Wu maju selangkah dengan amarah yang membara. Matanya yang tajam menyala karena kemarahan, Dou Qi keemasan di tubuhnya berkobar lebih terang dari sebelumnya.
"Bocah! Lepaskan anak buahku!" teriaknya, suaranya menggema di antara pepohonan yang membeku. "Akan kubiarkan mayatmu tetap utuh jika kau melakukannya sekarang!"
Jiang Yuan hanya memiringkan kepalanya sedikit. Matanya yang dingin menatap Tang Wu dengan ekspresi yang sama sekali tidak terintimidasi. Satu tangannya terangkat pelan, jari telunjuknya terulur ke depan.
Lalu ia menjentikkan jarinya dengan gerakan santai.
Klik.
"Ups," ucapnya dengan nada datar yang terasa sangat menghina. "Tanganku terpeleset."
Krank!
Tang Ling dan Tang San yang membeku seketika hancur seperti es yang dipukul dengan palu.
Tubuh mereka pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang berkilauan di bawah cahaya rembulan, lalu menghilang menjadi debu es yang terbawa angin malam. Tidak ada yang tersisa dari tubuh mereka, hanya sisa-sisa energi Dou Qi yang perlahan memudar di udara.
Tang Wu terdiam. Matanya membulat tidak percaya, menyaksikan dua anak buahnya yang setia lenyap dalam sekejap tanpa meninggalkan jejak.
Kemudian, amarah meledak.
"KUBUNUH KAU!"
Tangannya terangkat tinggi ke atas, Dou Qi keemasan berkumpul di telapaknya dengan intensitas yang luar biasa. Cahaya keemasan memenuhi seluruh area, menerangi hutan yang gelap dengan kilauan yang menyilaukan.
Di atasnya, sebuah lingkaran besar yang dipenuhi tulisan-tulisan kuno muncul, berputar perlahan dengan energi yang sangat dahsyat.
"TAPAK RAJA EMAS!"
Dari lingkaran itu, sebuah tapak tangan raksasa berwarna keemasan terbentuk. Ukurannya sangat besar, cukup untuk menghancurkan seluruh area di depannya.
Tapak itu melesat turun dengan kecepatan luar biasa, mengarah tepat pada Jiang Yuan dengan niat membunuh yang sangat jelas.
Jiang Yuan tidak bergeming. Ia tetap berdiri dengan tenang, menatap serangan yang mendekat tanpa rasa takut sedikit pun.
Tangannya terangkat dengan santai, telapaknya menghadap ke depan.
"Tapak Es Tak Terkalahkan," ucapnya, suaranya tenang dan datar.
Hawa dingin kembali muncul dari tubuhnya, kali ini lebih pekat dan lebih kuat dari sebelumnya. Di belakang Jiang Yuan, sebuah lingkaran berwarna biru pucat terbentuk, berkilauan dengan cahaya es yang mematikan.
Dari lingkaran itu, sebuah tapak tangan raksasa yang terbuat dari es murni melesat keluar, beradu langsung dengan tapak emas Tang Wu.
Ledakan!
Dentuman besar mengguncang seluruh hutan. Gelombang energi yang dahsyat menyebar ke segala arah, menumbangkan pohon-pohon yang sudah membeku dan menciptakan kawah besar di tanah di antara mereka. Hawa dingin yang luar biasa menyapu sekitar, membekukan apa pun yang tersisa di area itu.
Serangan Tang Wu kalah jauh.
Tapak emasnya hancur berkeping-keping, tidak mampu menahan kekuatan es yang dihasilkan oleh Jiang Yuan.
Gelombang energi sisa dari ledakan menghantam tubuh Tang Wu, memaksanya terpental mundur dengan keras. Tubuhnya menghantam batang pohon besar yang sudah membeku, membuat pohon itu retak dan hampir tumbang.
Darah segar menyembur dari mulut Tang Wu, menodai pakaian emasnya yang mewah. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya tersengal-sengal dan tidak teratur.
Namun, ia bukanlah kultivator Ranah Da Dou Shi puncak tanpa alasan. Dengan susah payah, ia mendorong tubuhnya untuk berdiri kembali. Lututnya gemetar menahan beban, namun tekad di matanya masih menyala.
"Belum selesai, bocah!" desisnya, darah masih mengalir dari sudut bibirnya. "Aku belum—"
Tapi sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya, sebuah bayangan hitam melesat di depannya.
Jiang Yuan telah muncul tepat di hadapannya dalam sekejap. Mata pemuda itu dingin dan tidak berperasaan, seperti es yang tidak pernah mencair.
"Tapi aku sudah selesai," ucap Jiang Yuan dengan nada datar.
Tangannya yang terangkat turun dengan cepat, telapaknya menempel di dada Tang Wu.
Hawa dingin yang mematikan mengalir dari telapak tangan Jiang Yuan ke dalam tubuh Tang Wu, menyebar dengan kecepatan yang mengerikan.
Tang Wu merasakannya. Dingin yang menjalar di dalam tubuhnya, membekukan darahnya dari dalam.
Ia mencoba menggerakkan Dou Qi-nya untuk melawan, namun es sudah terlalu dalam.
"Ka—kau..." gumamnya, matanya membelalak karena ketakutan yang baru pertama kali ia rasakan dalam hidupnya.
Jiang Yuan menatapnya tanpa ekspresi.
"Selamat tinggal."
Krank.
Tubuh Tang Wu perlahan-lahan mulai membeku, lapisan es menutupi seluruh permukaan kulitnya. Wajahnya yang sombong membeku dalam ekspresi terakhirnya, ketakutan dan ketidakpercayaan.
Dan dalam sekejap, tubuhnya pun hancur menjadi serpihan es yang berkilauan, menghilang di udara malam seperti kedua anak buahnya.
Hutan kembali sunyi.
Jiang Yuan berdiri di tengah kawah yang ia ciptakan, memandangi sisa-sisa es yang perlahan mencair di bawah sinar rembulan. Napasnya sedikit terengah-engah, namun ia masih bisa berdiri tegak.
Di dalam Lautan Kesadarannya, Bing Bi bertepuk tangan pelan.
"Bagus, bagus," ucapnya dengan nada puas. "Meski kau masih harus banyak berlatih, untuk pertama kalinya kau menggunakan teknik itu di pertarungan nyata. Tidak buruk untuk seorang pemula."
Jiang Yuan tersenyum tipis.
"Terima kasih, Kak Bing," bisiknya pelan.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah di mana Ruan Mei dan Feng Yun menghilang. Matanya menyipit, mencoba menebak ke mana mereka pergi.
'Sekarang,' pikirnya. 'Waktunya untuk menemukan mereka.'
Dengan satu lompatan ringan, ia melesat masuk ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan kawah es dan sisa-sisa pertarungan di belakangnya.
Malam masih panjang, dan perjalanan mereka belum berakhir.