NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. CIKAAA! AWAS YA

Setelah menemani Sinta selama beberapa waktu, Cika melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu kuliahnya sudah hampir tiba.

Seberat apa pun keadaan yang sedang ia hadapi, Cika tidak bisa mengabaikan pendidikannya. Beasiswa yang selama ini menjadi penopang masa depannya harus tetap ia pertahankan. Ia mengusap lembut rambut Sinta yang kini semakin tipis. "Sayang, Kakak harus berangkat ke kampus dulu."

Sinta yang sejak tadi memegang tangan kakaknya langsung menatapnya. "Sekarang?"

Cika tersenyum lembut, meskipun hatinya terasa berat meninggalkan adiknya yang sebentar lagi akan menjalani kemoterapi. "Iya. Kakak harus kuliah. Tapi nanti sepulang kuliah, Kakak pasti ke sini lagi."

"Janji?"

Cika mengangkat jari kelingkingnya. "Janji."

Sinta tersenyum kecil dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kakaknya. "Baik, Kak. Sinta akan menunggu."

Cika mengecup kening adiknya dengan penuh kasih. "Anak pintar."

Saat hendak berdiri, Sinta kembali memanggilnya. "Kak."

"Ya?"

Sinta menatap Cika dengan mata yang polos. "Jangan lupa makan, ya. Kakak selalu menyuruh Sinta makan, tapi Kakak sendiri sering lupa."

Ucapan itu membuat Cika tersenyum sambil menahan air mata. Bahkan dalam keadaan sakit, adiknya masih memikirkan dirinya. "Iya, Bos kecil. Kakak akan makan."

Sinta terkekeh pelan. "Nanti kalau Sinta sembuh, kita jalan-jalan lagi seperti dulu ya?"

Dada Cika terasa sesak. Namun ia tetap memasang senyum terbaiknya. "Tentu. Kakak akan mengajak Sinta ke mana pun yang kamu mau."

Sinta mengangguk dengan wajah berbinar. Setelah memastikan adiknya baik-baik saja, Cika mengambil tasnya.

Sebelum keluar dari ruangan, ia menoleh sekali lagi. Senyum kecil Sinta menjadi pengingat terbesar atas alasan mengapa ia memilih jalan hidup yang begitu berat. "Jaga diri baik-baik, Sayang. Kakak akan kembali."

"Iya, Kak."

Pintu kamar pun tertutup perlahan.

Cika melangkah keluar dengan tekad yang semakin kuat.

***

Rebeca datang ke kampus dengan mobil mewahnya. Namun suasana hatinya buruk sejak pagi. Karena ayahnya tak kunjung memberi izin dirinya mengunjungi sang ibu.

Saat berjalan di koridor kampus, ia melihat sosok yang membuat darahnya mendidih.

Cika, gadis itu sedang membaca buku sambil duduk di taman kampus.

Rebeca menghampirinya. "Hei, anak beasiswa."

Cika mengangkat wajah. Tatapannya langsung dingin. "Ada apa?"

Rebeca tersenyum sinis. "Aku hanya ingin mengingatkan satu hal."

"Apa?"

"Seberapapun kerasnya kamu berusaha, kamu tidak akan pernah masuk ke dunia orang-orang seperti aku."

Cika menutup bukunya perlahan. Lalu ia berdiri. "Kamu yakin dengan ucapanmu?"

"Tentu."

Cika tersenyum tipis. Senyuman yang membuat Rebeca merasa tidak nyaman.

"Kita lihat saja nanti, Rebeca."

"Jangan bermimpi terlalu tinggi ... Cika."

Cika melangkah mendekat. "Dan kamu jangan terlalu sombong dengan apa yang kamu miliki. Karena hidup bisa berubah dalam satu kedipan mata."

Rebeca tertawa kecil. "Omong kosong."

Cika mengambil tasnya. "Aku kan cuma ngasih tahu." Ia mengangkat bahu. Lalu 

berjalan melewati Rebeca. Namun sebelum pergi, ia berhenti sejenak. "Kalau suatu hari nanti aku berdiri di tempat yang tidak pernah kamu bayangkan, semoga kamu masih bisa mengangkat kepalamu setinggi sekarang."

Rebeca mengepalkan tangan. "Dasar gadis miskin!" makinya bersiap menarik kunciran rambut Cika, namun tanpa terduga kaki Rebeca terpeleset hingga gadis itu tersungkur mencium tanah. "Awwww!"

Teriakan Rebeca membuat Cika membalik badan lagi, dan seketika tawanya pecah. "Hahaha!"

Bukan hanya Cika, tapi mahasiswa dan mahasiswi lain yang juga melihat kejadian itu ikutan tertawa.

"Aaaaa! Berhenti ngetawain gue!" jerit Rebeca dengan posisi masih tengkurap di tanah. "Kurang ajar lo, Cika! Awas ya, gue bakal bales lo!"

Cika menyengir, "Idih, kenapa kamu nyalahin aku? Tadi kan jatuh sendiri." Kekehan kembali mengudara dari bibirnya.

Rebeca makin menjerit tak karuan, hingga akhirnya dengan kekehan yang masih keluar, Cika mengulurkan tangan pada Rebeca, namun gadis itu malah menepisnya. "Gue nggak butuh bantuan lo!"

Cika menarik kembali tangannya. "Ya udah kalau nggak mau dibantu. Aku duluan ya, Nona Rebeca yang populer seantero Satya Wisesa."

"Cikaaaaa! Awas ya!"

***

Di lantai paling atas gedung Alexander Holdings, suasana di ruang kerja Robinson tampak tenang. Pria itu sedang memeriksa beberapa laporan perusahaan ketika terdengar ketukan di pintu. "Masuk."

Pintu terbuka dan Hasan melangkah masuk sambil membawa sebuah map berwarna hitam. "Permisi, Pak."

Robinson mengangkat pandangan. "Bagaimana?"

Hasan tersenyum tipis. "Semua berkas yang Bapak minta sudah saya urus."

Robinson langsung memahami maksudnya. "Sudah beres?"

"Ya, Pak." Hasan meletakkan map tersebut di atas meja. "Seluruh persyaratan administrasi untuk pernikahan Bapak dan Mbak Cika yang bisa saya bantu urus sudah selesai. Data dan dokumen pendukung juga sudah lengkap. Tidak ada kendala."

Robinson membuka map itu dan memeriksa isinya satu per satu. "Bagus."

"Jadwal akadnya sesuai yang Bapak minta. Dua minggu dari sekarang."

Wajah Robinson terlihat sedikit lebih tenang. "Kerja yang bagus, Hasan."

"Terima kasih, Pak." Hasan lalu menambahkan, "Semuanya berjalan sesuai rencana."

Robinson menutup map tersebut perlahan. Tatapannya jatuh pada sebuah foto Cika yang terselip di antara berkas-berkas itu. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Ya, Hasan. Saya berharap semuanya lancar."

"Aamiin, Pak." Hasan mengangguk. Sudah lama ia menjadi sekretaris Robinson, ia tahu pria itu berusaha terlihat kuat di luar, namun batinnya sudah koyak sejak lama. Namun kali ini, ia melihat ada setitik harapan di mata atasannya. Hanya setitik kecil. "Ya Tuhan ... semoga pernikahan Pak Robinson dengan Mbak Cika bisa mengobati luka hati Pak Robin. Semoga Mbak Rebeca juga bisa berubah. Dan Pak Robin bisa tersenyum lepas kembali seperti dulu."

"San, kamu boleh keluar," kata Robinson yang membuat Hasan tersadar dari lamunannya.

"Eh, i-iya, Pak." Hasan pun undur diri.

Setelah Hasan keluar dari ruangan, Robinson kembali membuka map berisi dokumen-dokumen yang baru saja selesai diurus.

Semua berjalan sesuai rencana. Pria itu lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Jemarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan kepada Cika.

"Semua persiapan administrasi sudah selesai. Tinggal menunggu akad saja."

Pesan itu terkirim. Ia meletakkan kembali ponselnya ke meja, matanya fokus lagi pada dokumen-dokumen penting di depannya.

Cika yang baru saja keluar dari toilet merasakan ponselnya bergetar di dalam tas. Ia mengeluarkannya lalu membaca pesan dari Robinson. Tatapannya sejenak berhenti pada layar.

Entah kenapa, meskipun dirinya sudah menyetujui pernikahan itu demi masa depan Sinta dan pengobatannya, ada perasaan aneh yang masih mengendap di dalam hati.

Namun keputusan sudah dibuat. Tidak ada gunanya menoleh ke belakang.

Cika menarik napas pelan lalu membalas singkat. "Iya, Pak." Hanya dua kata. Tidak ada kata tambahan lagi. Ia buru-buru memasukan ponselnya ke dalam tas, karena kelas sebentar lagi akan segera dimulai.

***

Gara-gara kejadian memalukan tadi, Rebeca memilih bolos kuliah. Ia duduk di salah satu sudut kafe mewah bersama sahabatnya, Mili.

Di atas meja sudah tersaji dua gelas minuman, tetapi sejak tadi Rebeca bahkan tidak menyentuhnya. Wajah gadis itu masih merah karena menahan kesal. "Nyebelin banget!" gerutunya untuk kesekian kali.

Mili yang duduk di hadapannya menghela napas. "Masih kepikiran soal tadi?"

"Masih lah!" Rebeca langsung membelalak. "Gimana gue nggak kepikiran? Satu kampus lihat gue jatuh tersungkur!"

Mili berusaha menahan tawa yang tiba-tiba muncul di kepalanya saat mengingat kejadian itu. Namun begitu melihat tatapan tajam Rebeca, ia buru-buru memasang wajah serius. "Ya ... memang sih, lumayan memalukan."

"Lumayan?" Rebeca hampir menjerit. "Itu sangat memalukan, Mili Pamela!"

Ia membanting ponselnya ke atas meja dengan kesal. "Apalagi si Cika tadi ketawa paling keras!"

Mili menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Padahal dia nggak ngapa-ngapain, kan? Kamu yang terpeleset sendiri."

"Mili!"

"Oke, oke. Maaf."

Rebeca mendengus kesal. Bayangan wajah Cika yang tertawa tadi terus terlintas di benaknya. Semakin diingat, semakin panas pula hatinya. "Gue nggak terima."

Mili mengangkat alis. "Lalu?"

Rebeca menyilangkan kedua tangan di dada. "Pokoknya gue mau buat perhitungan sama si Cika." Tatapan matanya berubah tajam. "Gue mau bikin dia malu kayak Gue tadi."

Mili terdiam beberapa saat. "Memangnya lo mau ngapain?"

"Gue belum tahu." Rebeca menggigit bibir bawahnya pelan. "Tapi Gue pasti menemukan cara."

"Beca ..." Mili menghela napas panjang. "Jangan sampai keterlaluan."

"Keterlaluan apanya?"

"Cika juga nggak bikin lo jatuh."

"Dia memang nggak bikin gue jatuh." Rebeca mengepalkan tangan. "Tapi dia berani ngetawain gue di depan banyak orang."

"Itu karena situasinya lucu."

"Mili!"

"Oke, gue diam."

Rebeca bersandar kesal ke kursinya. Dadanya masih naik turun menahan emosi. Baginya, harga diri adalah segalanya. Dan kejadian tadi terasa seperti tamparan keras di depan seluruh mahasiswa kampus. "Gue nggak akan diam aja. Gue bakal buat perhitungan!"

Mili menatap sahabatnya dengan cemas. Ia tahu sifat Rebeca. Semakin gadis itu merasa dipermalukan, semakin besar keinginannya untuk membalas. Dan itu bukan pertanda baik. "Si Cika pasti bakal habis," batinnya sedikit khawatir.

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!