seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan eric.
"saya pamit dulu om, terima kasih karena sudah memperbolehkan saya menginap di sini. dan maaf tadi malam saya tidak menunggu om dan tante, saya istirahat lebih dulu."
nana dan neo saling menatap satu sama lain, mereka sangat kagum dengan kesopanan dari eric, neo menepuk palan bahu eric.
"santai saja eric, om yang seharusnya meminta maaf sama kamu. karena kami terlalu asik mengobrol sampai melupakan jika kamu dan james menunggu kami di dalam." balas neo terlihat bersalah dengan eric dan juga james.
"tidak apa apa om, saya bisa memakluminya. kalau begitu saya pamit pulang dulu, dan maaf juga kalau saya tidak bisa pulang sama neta. karena saya masih ada urusan yang tidak bisa saya tinggal, jadi saya titipkan neta untuk pulanng bersama james." eric merasa bersalah karena dia harus menitikan neta ke james.
"kamu jangan kawatir, om akan lebih kawatir jika putri kesayangan om pulang sendiri. tapi berbeda dengan james, dia sudah kami anggap putra kami sendiri, jadi om percaya sama james."
jawaban neo membuat eric merasa lega, dia akan pergi dengan perasaaan tenang meninggalkan neta bersama james.
"aku titip neta ya james, aku percaya sama kamu." bisik eric di samping james.
"sialan, emang aku akan bawa neta kabur atau gimana. sebelum ada kamu neta selalu bersama aku, jangan lupa itu." balas james dengan suara yang terdengar ketus.
"oke... oke... sorry, aku hampir lupa."
senyuman terlihat di antara ke tiga orang yang kini berdiri di teras depan, sedangkan neta dan nana yang baru saja datang melihat ke tiga laki laki yang berbeda usia tengah mengobrol bersama. nana mendekati suaminya, dan neta berjalan mendekati eric.
"bawa ini nak eric, buat bekal kamu di perjalanan pulang nanti."
sebuah paper bag berwarna coklat nana serahkan ke depan eric, melihat pemberian nana eric semakin bertambah tidak enak hati dengan kebaikan keluarga neta.
"terima kasih tante, saya akan makan ini di perjalanan pulang nanti."
nana mengulas senyumnya, dia merasa senang melihat eric yang menerima pemberiannya. neta yang merasa bersalah menatap eric tanpa berkedip, dia melihat eric yang begitu dekat dengan kedua orang tuanya.
"apa kamu merasa berat melepas kepergian kekasih kamu neta." goda neo yang melihat tatapan neta yang tak biasa ke eric.
"apaan sih pa...?" jawab neta merasa malu.
james yang melihat interaksi neta dan kedua orang tua neta ke eric merasa tidak suka, james merasa jika eric tengah merebut perhatian orang yang dulu sangat memperhatikannya.
"aku pulang dulu ya, hubungi aku kalau kamu sudah sampai di jakarta."
eric mengelus rambut neta penuh rasa sayang, neta yang merasa perhatian hangat eric sampai melupakan status mereka yang hanya kekasih pura pura.
"hmm... kamu hati hati di jalan, kabari aku juga kalau kamu sudah sampai di jakarta." jawab neta.
eric mengangukan kepalanya, dia tersenyum manis menatap ke arah neta. eric segera masuk kedalam mobil, dia segera menginjak pedal gas dan segera pergi meninggalkan kediaman neta.
eric yang kini ada di dalam mobil tersenyum senang, dia seakan merasakan kebahagian yang dulu sempat hilang. dia berulang kali menatap paper bag pemberian nana, perhatian keluarga dari neta membuat eric sangat rindu dengan ibunya.
"neta, andai kamu benar benar kekasihku. aku akan buat kamu selalu bahagia, sampai kamu lupa bagaimana caranya bersedih." lirih eric sambil melajukan mobilnya menuju ke jakarta.
"papa neo, aku juga mau pulang dulu. setelah itu aku dan neta langsung ke jakarta." ucap james yang membuat pandangan mata neta menatap tajam ke arah james.
"secepat itu, bukannya nanti siang kamu mau pulang...?" tanya nana yang heran akan ucapan james.
"aku lupa kalau ada janji sama jojo ma, lihat ni ma. dia sampai ngancam tidak akan mengakui aku sebagai kakaknya lagi."
james menyerahkan ponselnya, dan memperlihatkan chat nya bersama jojo. senyum menggembang di kedua bibir nana, dia merasa geli melihat ancaman demi ancaman jojo. nana yang paham akan tabiat jojo yang sama dengan niko hanya menggelengkan kepalanya.
"baiklah, kamu segera pulang dan bujuk jojo supaya kamu dia tidak meminta kamu di keluarkan dari kartu keluarga."
neo yang mendengar ucapan nana tertawa renyah, sampai neta juga ikut tertawa dibuatnya. bisa bisa nya ancaman jojo yang akan mengeluarkan james dari kartu keluarga jika james enggak secepatnya pulang ke rumah.
"kalau begitu kamu segera berkemas neta, aku akan tunggu kamu. ingat enggak pake lama, okke..."
neta mendengus kesal mendengar perintah james, mungkin jika di kantor dia tidak akan sekesal ini. neo yang melihat kekesalan nete segera merangkul pundak putrinya.
"sudahlah lebih baik kamu turuti perintah james, dari pada nanti jojo meminta papa jhon mengeluarkan james dari kartu keluarga."
neta yang tadinya akan merah segera tersenyum, dia akui sikap jojo yang kekanak kanak an akan membuat james kelimpungan setengah mati menghadapi jojo.
"baik pa." jawab neta segera pergi kedalam kamarnya.
"bagaimana keadaan perusahaanmu james, semua berjalan lancar...?" tanya neo mengisi obrolan, sedangkan nana dari tadi sudah meninggalkan james bersama neo.
"semua berjalan lancar pa, itu semua berkat nate juga. dia seorang wanita pekerja keras dan sangat pintar, kalau tanpa bantuan neta pasti aku akan kelimpungan."
neo yang tahu bagaimana kepintaran neta hanya mengangukan kepala mendengar ucapan james, nana yang tiba tiba datang membawa dua paper bag di tangannya segera dia serahkan ke james.
"apa ini ma...?" tanya james sambil melihat paper bag yang di serahkan nana.
"satunya buat kalian, dan yang satu lagi buat mama kamu dan jojo."
james segera menerima paper bag pemberian nana, bau roti panggang langsung tercium di hidung james. james tahu apa isi di dalam paper bag di tangannya.
"pasti kamu tahu apa isi di dalam paper bag itukan...?" nana menatap james yang mengulas senyumnya.
"tentu saja ma, kue buatan mama selalu aku rindukan. aku beruntung mama selalu membuatkan kue brownis kesukaanku jika tahu aku akan ke sini."
nana melihat ke arah james yang menempelkan hidungnya di paper bag, neo menggelangkan kepalanya melihat tingkah ke kanak kanak an james.
"ayo kita berangkat sekarang." ucap neta sedikit ketus.
"tuh tuan putri sudah siap." ucap neo yang melihat ke arah neta.
"oh... oke, yuk..." james menjadikan satu baber bag di tangannya dan kemudian dengan tidak sopannya segera menggandeng tangan neta erat.
neo dan nana yang paham akan sikap james hanya diam dan saling melempar senyum satu sama lain, neta yang terkejut dengan sikap james sampai memelototkan kedua matanya.