Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TujuhBelas—Marahnya Gu Mingyue!
Gu Mingyue tersenyum puas ketika satu per satu peti mewah itu memasuki halaman paviliunnya. Begitu banyak—bahkan terlalu banyak untuk ukuran seserahan biasa.
Shen Mufeng ternyata begitu menghargainya melebihi apa pun. Menyadari hal itu, percikan kehangatan yang asing perlahan muncul di dada Gu Mingyue. Di kehidupan lalu, Zhao Yuchen telah habis-habisan menguras harta dan energinya bahkan sebelum mereka resmi menikah. Namun kini, seolah takdir telah berputar balik, ia justru merasa dirinya sedang dimanja oleh gelimang kekayaan dan kekuasaan milik Shen Mufeng.
"Nona Besar, ada surat dari Tuan Agung yang dititipkan untuk Anda," ucap Kepala Pelayan Kediaman Shen seraya menyodorkan sebuah surat yang terbungkus rapi dalam amplop putih. Nama Shen Mufeng tertulis di atasnya dengan guratan tinta hitam yang tegak dan sempurna.
"Terima kasih banyak."
"Ini sudah menjadi tugas kami, Nona." Kepala pelayan itu tersenyum samar penuh hormat sebelum akhirnya memilih untuk undur diri.
Namun, tepat ketika kepala pelayan itu baru saja melangkah keluar dari pintu, sesosok pria dengan napas memburu mendadak menerobos masuk ke dalam kamar. Itu Zhao Yuchen. Wajahnya tampak sedikit memerah, entah karena sisa rasa malu di aula makan atau karena arogansinya yang terluka.
Gu Mingyue dengan gerakan secepat kilat segera menyembunyikan surat dari Shen Mufeng ke dalam lipatan lengan hanfu-nya. Ia melangkah mundur beberapa tapak secara waspada ketika tangan pria itu terjulur, hampir saja mencengkeram kasar pergelangan lengannya.
"Mingyue! Aku sudah bersabar semenjak tadi di aula depan!" geram pria itu dengan tatapan menuntut.
Gu Mingyue menatapnya dengan pandangan dingin tanpa riak. "Apa maksud Tuan Muda Zhao?"
"Kau sengaja membuatku direndahkan dengan memilih menikah dengan si jagal Shen Mufeng?!" bentak Zhao Yuchen dengan mata memerah.
Gu Mingyue menolehkan pandangannya ke samping, mengembuskan napas kasar. Ia hampir tergelak tawa lantaran tidak percaya mendengar ucapan Zhao Yuchen yang kian tidak tahu diri.
"Tuan Muda Zhao! Lebih baik Anda keluar sekarang juga!" usirnya tegas. Setiap suku katanya sarat akan hawa sedingin es.
"Tidak! Kita harus menyelesaikan semuanya di sini!"
"Kita sudah selesai semenjak malam Anda menodai adik saya di kediaman ini!"
"Aku sudah menawarkanmu untuk menjadi istri pendamping yang kelak akan kuangkat menjadi istri utama!" bela Zhao Yuchen, merasa tawarannya sama sekali tidak bersalah.
Gu Mingyue menggelengkan kepalanya samar, menyunggingkan senyum getir yang penuh cemoohan. Tanpa diduga, ia melangkah maju secepat kilat dan melayangkan satu tamparan keras yang berdentang nyaring di pipi Zhao Yuchen.
Plak!
"Aku juga sudah cukup bersabar menghadapimu, Tuan Muda Zhao!" ucap Gu Mingyue rendah, datar, dengan nada dingin yang menekan.
Zhao Yuchen memegangi pipinya yang memanas, menatapnya nanar. "Kau berani menamparku, Mingyue?!"
Namun, Gu Mingyue tidak kehilangan keberaniannya sedikit pun hanya karena gertakan murahan itu. "Tentu saja aku berani!"
Gadis itu melangkah maju, mendorong bahu Zhao Yuchen dengan kuat. "Tahukah Tuan Muda? Jika sekarang aku berteriak sedikit saja, para prajurit elite Pasukan Api milik Kediaman Shen yang sedang berjaga di luar paviliun ini tidak akan ragu untuk menebas kepalamu!"
Ia terus mendorong bahu pria itu, memaksa Zhao Yuchen mundur selangkah demi selangkah pada setiap kalimat tegas yang diucapkannya, hingga akhirnya tubuh pria itu terdorong sampai ke ambang pintu paviliun.
Di bawah temaram cahaya yang menyosong hari pernikahan mereka, Gu Mingyue menatap lurus ke dalam netra pria yang pernah menghancurkannya di kehidupan lalu.
"Akan kutegaskan satu hal kepadamu. Menikahi Shen Mufeng adalah keputusanku sendiri, bahkan jauh sebelum perselingkuhan menjijikkan Anda dengan Gu Lian terungkap!"
Gu Mingyue menarik napasnya dalam-dalam. "Lebih baik singkirkan semua omong kosong dan rasa percaya dirimu yang berlebihan itu, Tuan Muda Zhao."
"Dan sekarang, pergilah dampingi adikku seperti keinginanmu sejak awal."
Tanpa menunggu jawaban, Gu Mingyue segera menarik daun pintu paviliunnya dan menutupnya dengan hentakan keras, meninggalkan Zhao Yuchen yang berdiri membeku dalam bisu di depan teras. Mingyue sengaja mengunci pintu rapat-rapat, lalu melangkah kembali ke dalam dengan napas yang agak tersengal akibat emosi yang meluap.
Fan Li'er yang sedari tadi bersembunyi di balik tirai segera mendekat dengan raut cemas. "Nona, apakah Anda baik-baik saja?"
"Tentu...tentu saja." Gu Mingyue mengibaskan tangannya pelan.
Gadis itu berjalan menuju meja belajarnya, lalu mendudukkan diri seraya mengatur kembali ritme napasnya hingga tenang. Setelah emosinya sepenuhnya terkendali, ia perlahan mengeluarkan surat terbungkus amplop putih yang sempat disembunyikannya tadi. Dengan jemari yang lentik, ia membuka lipatan kertas di dalamnya dan mulai membaca bait demi bait tulisan berkarakter tegas itu.
‘Gaun pengantin sudah dikirim, semoga kau menjadi pengantin tercantik di Kediaman Shen.’
Seketika itu juga, seulas senyum tulus menyungging di bibir manis Gu Mingyue. Amarah dan rasa muak yang membakar dadanya akibat Zhao Yuchen beberapa saat lalu menguap tanpa sisa, digantikan oleh debar asing yang menggelitik hatinya.
"Dia... bisa saja merayu," gumam Gu Mingyue pelan, hampir berupa bisikan untuk dirinya sendiri.
Gadis itu mendekatkan kertas tersebut ke indra penciumannya. Aroma samar kayu cendana dan angin musim utara yang khas melekat erat pada permukaan kertas, seolah membawa kehadiran sang Dewa Perang secara nyata ke dalam kamarnya yang sunyi.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya