NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Bayangan

Suasana di dalam mobil masih dipenuhi keheningan setelah insiden di persimpangan.

Aluna sesekali memijat pelipisnya yang masih terasa sedikit nyeri.

Sementara di sampingnya, Niel menatap lurus ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ia terus mengingat kejadian beberapa menit lalu.

Jika ia terlambat satu detik saja...

Mungkin semuanya akan berbeda.

Mobil berhenti tepat di depan toko buku.

"Aku benar-benar nggak apa-apa," ucap Aluna sambil tersenyum tipis.

Niel menoleh.

"Kamu yakin?"

"Iya."

"Hari ini pulang lebih awal."

Aluna menggeleng pelan.

"Aku masih bisa kerja."

"Aluna."

Nada suara Niel terdengar lebih tegas dari biasanya.

"Jangan membantah."

Aluna sedikit terkejut.

Ini pertama kalinya ia melihat Niel bersikap seperti itu.

Namun, di balik ketegasan tersebut, ia justru bisa merasakan kekhawatiran yang begitu besar.

"Baiklah."

"Aku akan pulang lebih cepat."

Barulah ekspresi Niel sedikit melunak.

"Bagus."

Saat Aluna turun dari mobil, Siska langsung berlari menghampirinya.

"Ya ampun! Kamu nggak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja."

"Tadi Darren telepon aku. Katanya hampir terjadi kecelakaan."

Aluna mengangguk pelan.

"Hampir."

Siska langsung memeluk sahabatnya erat.

"Jangan bikin aku takut begitu."

Aluna membalas pelukan itu sambil tersenyum.

"Maaf."

Niel memperhatikan keduanya dari dalam mobil.

Tatapannya kemudian berubah serius.

"Darren."

"Ya, Tuan."

"Cari semua rekaman CCTV di sekitar persimpangan."

"Sudah kami minta."

"Aku ingin hasilnya malam ini."

"Baik."

"Dan..."

Niel berhenti sejenak.

"Mulai hari ini."

"Dua orang mengawasi toko buku itu selama dua puluh empat jam."

Darren mengangguk.

"Tanpa sepengetahuan Nona Aluna?"

"Iya."

"Aku tidak ingin dia hidup dalam ketakutan."

__________________________________

Menjelang malam.

Di ruang keamanan perusahaan.

Beberapa layar monitor menampilkan rekaman dari berbagai kamera lalu lintas.

Seorang petugas memutar ulang rekaman sebelum insiden.

"Tuan."

"Silakan lihat."

Mobil yang hampir menabrak Aluna muncul dari kejauhan.

Namun yang membuat semua orang terdiam...

Mobil itu sebenarnya melaju normal.

Beberapa detik kemudian...

Sebuah motor besar tiba-tiba muncul di sampingnya.

Pengendara motor itu memukul kaca samping mobil menggunakan sesuatu.

Seketika mobil kehilangan kendali dan melaju ke arah trotoar.

"Berhenti."

ucap Niel.

Rekaman dihentikan.

"Perbesar pengendara motor."

Petugas segera memperbesar gambar.

Namun hasilnya buram.

Helm hitam.

Jaket hitam.

Tidak ada satu pun ciri yang bisa dikenali.

"Tuan..."

gumam Darren.

"Berarti pengemudi mobil itu juga korban."

Niel mengangguk pelan.

"Ini bukan kecelakaan biasa."

"Mereka sengaja membuat semuanya terlihat seperti kecelakaan."

Tatapannya semakin tajam.

Musuh kali ini...

Jauh lebih cerdas daripada yang ia bayangkan.

Di tempat lain.

Seorang pria duduk santai di sebuah ruangan yang remang-remang.

Di hadapannya terdapat layar yang menampilkan rekaman CCTV yang sama.

Ia tersenyum kecil.

"Mereka mulai menemukan pola."

"Tapi..."

Ia mengambil cangkir kopi di atas meja.

"Itu belum cukup."

Pintu ruangan terbuka.

Pria yang selama ini mengawasi Aluna masuk sambil menyerahkan sebuah map.

"Semua data tentang Aluna sudah lengkap."

Pria itu membukanya perlahan.

Riwayat pekerjaan.

Alamat rumah.

Kebiasaan sehari-hari.

Bahkan jadwal keberangkatan dan kepulangannya.

"Hm..."

"Dia benar-benar hidup sederhana."

"Ya."

"Lalu kenapa memilih dia?"

Pria bawahan itu tampak bingung.

Atasannya tersenyum tipis.

"Bukan karena siapa dia."

"Lalu?"

"Karena..."

Tatapannya tertuju pada foto Niel dan Aluna.

"...dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Niel kehilangan kendali."

Sementara itu, Aluna sudah berada di rumah.

Ibunya menyambutnya dengan wajah cemas.

"Ibu dengar kamu hampir kecelakaan."

"Siapa yang kasih tahu?"

"Siska."

Aluna tersenyum kecil.

"Padahal cuma hampir."

Ibunya langsung menggenggam kedua tangan Aluna.

"Mulai sekarang hati-hati."

"Iya, Bu."

"Minggu ini jangan pulang terlalu malam."

Aluna mengangguk menurut.

Setelah masuk ke kamar, ia merebahkan tubuh di atas tempat tidur.

Rasa lelah mulai menguasainya.

Namun sebelum memejamkan mata...

Kilasan aneh kembali muncul.

Seorang pria berdiri di depan dirinya.

Wajahnya masih samar.

Namun kali ini...

Suaranya terdengar jelas.

"Kalau nanti semuanya berakhir..."

"...jangan pernah berhenti mencariku."

Aluna membuka mata dengan napas memburu.

Air matanya jatuh tanpa ia sadari.

"Kenapa..."

"...kenapa aku merasa pernah mendengar suara itu?"

Di tempat yang berbeda...

Niel juga terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba.

Ia memegang dada kirinya yang berdegup begitu kencang.

Di kepalanya, sebuah suara wanita menggema.

"Aku akan mengenalmu lagi."

Niel membeku.

Kalimat itu...

Entah mengapa terasa begitu menyakitkan.

Seolah-olah...

Ia pernah kehilangan seseorang yang sangat berharga.

Dan malam itu...

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali...

Niel dan Aluna memimpikan potongan kenangan yang sama, tanpa menyadari bahwa masa lalu mereka perlahan mulai mencari jalan untuk kembali.

___________________________________________

Pagi datang membawa langit yang cerah.

Namun bagi Niel dan Aluna, malam yang dipenuhi mimpi aneh itu masih meninggalkan bekas di hati mereka.

Niel tiba di kantor lebih awal dari biasanya.

Meski tubuhnya berada di ruang kerja, pikirannya terus mengulang kalimat dalam mimpinya.

"Aku akan mengenalmu lagi."

Kalimat itu terdengar begitu nyata.

Seolah benar-benar pernah diucapkan oleh seseorang.

"Tuan."

Darren masuk sambil membawa secangkir kopi.

"Anda terlihat kurang istirahat."

Niel mengusap pelipisnya.

"Aku bermimpi."

Darren sedikit terkejut.

"Mimpi?"

"Iya."

"Sudah lama aku tidak bermimpi sejelas semalam."

"Mimpi tentang apa?"

Niel menggeleng pelan.

"Aku tidak bisa melihat wajahnya."

"Tapi aku yakin..."

"...ada seorang perempuan yang mengucapkan sesuatu kepadaku."

Darren terdiam.

Ia belum pernah mendengar atasannya membicarakan mimpi.

"Kalimatnya terus terngiang di kepalaku."

Niel memandang keluar jendela.

"Entah kenapa..."

"...rasanya seperti sebuah kenangan."

Di waktu yang sama, Aluna sedang membuka toko buku.

Ia tampak beberapa kali melamun hingga salah menyusun buku.

"Eh, itu rak sejarah, bukan rak novel."

Siska buru-buru memindahkan tumpukan buku dari tangan Aluna.

"Hah?"

"Ih, kamu kenapa sih dari tadi?"

Aluna menghela napas pelan.

"Semalam aku juga mimpi."

"Mimpi buruk?"

"Nggak tahu."

"Yang aku ingat cuma ada seseorang yang bilang..."

"Jangan pernah berhenti mencariku."

Siska mengusap kedua lengannya.

"Merinding."

"Aku juga."

"Terus?"

"Wajahnya nggak kelihatan."

"Tapi suaranya..."

Aluna memejamkan mata sesaat.

"...anehnya terasa sangat akrab."

Siska mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana.

"Mungkin karena akhir-akhir ini kamu kecapekan."

"Mungkin."

Meski menjawab begitu, Aluna sendiri tidak benar-benar yakin.

Sore harinya, Darren menerima laporan baru dari tim penyelidik.

"Tuan."

Niel mengangkat pandangannya.

"Ada perkembangan."

Darren meletakkan sebuah map di atas meja.

"Kami berhasil menemukan satu petunjuk."

Niel segera membukanya.

Di dalam map terdapat sebuah simbol berbentuk jam pasir berwarna hitam yang ditemukan di dekat lokasi insiden kemarin.

"Ini apa?"

"Belum diketahui."

"Tapi simbol yang sama juga ditemukan di dekat tempat pengirim paket misterius kepada Nona Aluna."

Niel menatap simbol itu lekat-lekat.

Anehnya...

Saat melihat gambar jam pasir tersebut, kepalanya kembali berdenyut.

Seolah simbol itu pernah muncul dalam hidupnya.

Namun ia tidak mampu mengingat di mana.

Di sudut ruangan, Darren memperhatikan perubahan ekspresi atasannya.

Dalam hati ia mulai bertanya-tanya.

Apakah semua ini benar-benar baru terjadi... atau justru merupakan kelanjutan dari sesuatu yang telah lama terkubur?

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!