Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN
Keesokan paginya, suasana kediaman Duke Belmont sudah terasa sangat mencekam.
Rania, yang semalaman tidur dengan posisi waspada meski luka-lukanya sudah membaik berkat sistem, ditarik paksa oleh dua pengawal menuju aula utama.
Di sana, Duke Victor Belmont sudah berdiri membelakangi pintu, menatap lukisan besar mendiang istrinya, Eleanor, dan di sampingnya, Diana dan Viola duduk dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin, seolah mereka adalah korban di sini.
"Berlutut," suara berat Duke Victor menggelegar, namun dia bahkan tidak sudi membalikkan badannya untuk menatap Rania.
Bukan nya menurut, justru Rania hanya berdiri tegak, bahkan dia tidak bersuara, tidak juga bergerak untuk mengikuti perintah itu.
"Aku bilang berlutut, Rania!" bentak Victor berbalik, matanya berkilat penuh kebencian.
"Ibumu pasti menangis di alam sana melihat putrinya tumbuh menjadi monster yang berani memukul ibu dan saudaranya sendiri!" teriak Victor, mengepalkan tangannya kuat.
Rania menarik napas panjang, ada rasa sakit yang tiba-tiba menusuk dadanya, bukan luka fisik, tapi sisa-sisa perasaan Rania asli, saat mendengar nama ibunya disebut oleh pria yang sudah menelantarkannya.
"Ibu menangis?" ulang Rania terkekeh pelan, di ikuti tawa hambar yang membuat suasana aula semakin dingin.
"Ya, Ayah benar, ibu pasti menangis, tapi bukan karena aku melawan, melainkan karena dia melihat suaminya membiarkan putri kandungnya hidup lebih rendah daripada seekor anjing di rumahnya sendiri," jawab Rania, dengan dada bergemuruh.
"Tutup mulutmu!" bentak Victor, langkahnya mendekat, tangannya sudah terangkat siap untuk melayangkan tamparan.
"Pukul saja," tantang Rania, memajukan wajahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Seperti nya ini perasaan Rania asli, sehingga jiwa Elana ikut bereaksi dan tubuh nya tak bisa dia kendalikan sepenuh nya.
"Pukul sesukamu, seperti yang sering dilakukan Diana dan Viola. Ayah bilang aku monster? Lalu apa sebutan untuk seorang pria yang membiarkan darah dagingnya sendiri disiksa di gudang bawah tanah sampai hampir mati?" ucap Rania, tanpa sadar air mata nya sudah membanjiri pipinya.
Deg
Victor tertegun, tangannya menggantung di udara, dan matanya menatap Rania dengan rasa tidak percaya.
Selama ini, Rania hanya akan menunduk dan memohon ampun, tapi sekarang, tatapan itu seolah mengatakan semua rasa bersalah yang selama ini dia kubur.
"Delapan belas tahun, Ayah, delapan belas tahun aku menunggu Ayah datang ke gudang itu bukan untuk menghukum ku, tapi untuk memelukku dan bertanya apakah aku sudah makan," bisik Rania, semakin mengalir di pipinya, namun suaranya tetap tegas.
"Rania, jangan kurang ajar pada Ayahmu!" bentak Diana mencoba menyela dengan nada sok bijak.
"Diam kamu, wanita ular!" bentak Rania tanpa menoleh.
"Ayah tahu kenapa aku memetik lili darah semalam? Bukan untuk mencurinya. Tapi karena aku sudah sekarat, dan tidak ada satu orang pun di rumah ini yang peduli apakah aku masih bernapas atau tidak esok hari," ucap Rania, mengusap air mata nya kasar.
"Aku punya Ayah, tapi tidak dengan peran nya, sangat menyedihkan bukan," lanjut Rania, tersenyum getir.
Rania melangkah maju, membuat Victor mundur satu langkah.
"Kalau Ayah sangat membenciku karena wajahku mirip dengan Ibu, kenapa Ayah tidak bunuh saja aku saat aku lahir? Itu jauh lebih baik daripada membiarkan aku hidup dalam neraka yang Ayah ciptakan sendiri di bawah atap ini!" teriak Rania, emosinya meluap-luap.
Suara Rania bergetar hebat, isak tangis nya pecah, namun dia tetap berdiri tegak, menolak untuk terlihat lemah di depan pria yang seharusnya melindunginya.
"Kamu selalu bilang aku sampah karena tidak punya sihir," ucap Rania, sesenggukan.
"Tapi lihat dirimu, Duke Belmont yang agung, kamu punya sihir yang hebat, tapi kamu bahkan tidak punya cukup keberanian untuk melihat kebenaran di depan matamu sendiri. Kamu pengecut, Ayah," lanjut Rania, menatap Ayah nya dengan penuh luka.
Hening.
Aula itu menjadi sangat sunyi sampai suara napas pun terdengar jelas.
Sementara Diana dan Viola, mereka mengepalkan tangannya kuat, menatap Rania dengan penuh kebencian, mereka tidak menyangka Rania akan berani melawan Duke Victor sejauh itu.
Sementara itu di balik pilar besar di lantai dua, Dante terdiam membeku, tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih.
Setiap kata yang diteriakkan Rania seolah-olah menjadi pedang yang menusuk jantungnya, dia teringat semalam, saat Rania menatapnya dengan mata dingin di taman, mata yang sama dengan ibunya, namun penuh dengan luka yang tak pernah dia obati sebagai seorang kakak.
Dada Dante terasa sesak, ada rasa bersalah yang menyesakkan di dada nya, dia ingin turun, ingin melakukan sesuatu, tapi kakinya terasa terpaku di lantai.
Rania memutar tubuhnya, membelakangi Victor yang masih terdiam mematung.
"Mulai hari ini, jangan panggil aku untuk urusan sampah seperti ini lagi," ucap Rania dingin, sisa air matanya masih membekas di pipi nya.
"Jika Ayah tidak bisa menjadi seorang Ayah, maka setidaknya jadilah orang asing yang tidak mengganggu hidupku," lanjut Rania, dingin.
Rania melangkah pergi meninggalkan aula dengan kepala tegak, meninggalkan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya di kediaman Belmont.
Begitu sampai di kamarnya, Rania langsung menutup pintu dan merosot ke lantai.
"Sial, jiwa Rania yang asli, ternyata sesakit ini ya?" gumam Rania sambil memegang dadanya yang masih berdenyut nyeri
Ding
"Indikator Kiamat Turun menjadi 90%."
"Keberanian Anda untuk menghadapi trauma masa lalu telah menstabilkan sebagian energi negatif di sekitar wilayah Belmont."
"Baru segitu saja sudah turun 6%? Baguslah. Setidaknya menangis tadi ada gunanya," gumam Rania mendengus kasar sambil menghapus sisa air matanya.
"Sistem, kenapa Duke begitu membenci Rania? Hanya karena wajah nya mirip ibunya?" tanya Rania, pelan.
Ding
"Duke Victor menganggap kelahiran Rania adalah kutukan yang merenggut nyawa cintanya."
"Kematian saat melahirkan? Alasan klasik untuk seorang pria pengecut yang mencari pelampiasan atas duka yang tidak bisa dia tanggung," gumam Rania menyeringai sinis.
Sementara itu, di aula utama, kehampaan, Duke Victor masih berdiri mematung, tangannya yang tadi sempat terangkat untuk menampar Rania kini gemetar hebat.
"Beraninya dia..." gumam Victor, pelan.
"Duke, lihat itu!" ucap Diana mendekat, mencoba menyentuh lengan Victor dengan wajah yang dibuat-buat khawatir.
"Rania benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, dia menghina Anda, suamiku! Dia butuh hukuman yang lebih berat, mungkin kita harus mengirimnya ke biara di perbatasan-"
"Diam!" bentak Victor tanpa menoleh.
Suaranya yang tajam membuat Diana tersentak mundur.
Duke Victor menoleh perlahan ke arah lukisan Eleanor yang tergantung anggun, matanya menatap sosok wanita di lukisan itu, lalu beralih ke pintu tempat Rania baru saja pergi.
Sejak Eleanor meninggal tepat setelah Rania di lahirkan, Duke Victor tidak pernah melihat Rania sebagai manusia, baginya, bayi merah yang menangis saat itu adalah pembunuh istri nya.
suwun thor crazy upnya, matrehat thor