NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Setiap petugas yang keluar atau masuk kantor itu, Mida selalu berdiri menghampiri. "Pak... tolong dengarkan saya sekali lagi." Tak ada jawaban yang berbeda. Sebagian petugas hanya menggeleng pelan. Sebagian lagi meminta Mida bersabar sambil menunggu bukti baru.

Namun, bagi Mida, kata bersabar kini terdengar begitu menyakitkan. Dengan mata sembap, ia kembali memohon. "Saya tidak meminta apa-apa selain keadilan untuk anak saya. Tolong proses laporan saya. Kalau memang nanti terbukti saya salah, saya akan terima. Tapi jangan hentikan pencarian hanya karena saya orang miskin dan tidak punya siapa-siapa." Suaranya bergetar, lalu berubah menjadi isak tangis. "Saya sudah kehilangan anak satu-satunya. Jangan paksa saya kehilangan kesempatan mencari kebenaran juga."

Beberapa pengunjung yang berada di kantor polisi mulai memperhatikan. Ada yang memandang iba, ada pula yang hanya terdiam tanpa mampu berbuat apa-apa. Mida lalu berlutut di hadapan petugas. Tangannya menangkup memohon. "Saya mohon, Pak... anggap saja Harapan itu anak Bapak. Apa Bapak akan diam kalau anak Bapak pulang tinggal jenazah, sementara orang terakhir yang bersamanya sudah mengaku melihat dia dibawa dan dipukul? Tolong... jangan biarkan anak saya mati dua kali. Sekali karena nyawanya direnggut, dan sekali lagi karena tidak ada yang mau mencari kebenarannya." Tangis Mida memenuhi halaman kantor polisi.

Ia tak lagi memikirkan harga dirinya. Yang ada di benaknya hanya satu keinginan, ada seseorang yang mau memperjuangkan keadilan bagi Harapan. Hari itu, Mida memutuskan tidak akan pulang sebelum ada secercah harapan bahwa laporan tentang kematian putranya benar-benar akan diproses.

Mida limbung. Dunia di sekelilingnya terasa sunyi, padahal kendaraan masih lalu lalang dan orang-orang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Ia seolah tak lagi mendengar apa pun. Yang terus bergema di kepalanya hanyalah kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri, "Harapan dibunuh." Kalimat itu terasa seperti pisau yang berkali-kali mengoyak dadanya. Selama ini ia masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin anaknya hanya mengalami kecelakaan atau musibah yang tak pernah ia ketahui. Namun setelah mendengar pengakuan Dapit, semua harapan itu runtuh. Kini ia harus menerima kenyataan yang jauh lebih kejam.

Air mata kembali mengalir tanpa henti. Mida berjalan tanpa tujuan menyusuri jalanan kampung, sesekali berhenti karena tubuhnya gemetar hebat. Di benaknya terus muncul bayangan Harapan yang dibawa paksa ke kebun tebu. Bayangan seorang anak kecil yang menangis, memohon ampun, memanggil ibunya, tetapi tak seorang pun datang menolong. Semakin ia mencoba mengusir bayangan itu, semakin jelas semuanya terasa. Ia bahkan tak sanggup membayangkan bagaimana ketakutan yang dirasakan Harapan pada detik-detik terakhir hidupnya.

"Apa yang kamu rasakan waktu itu, Nak?" gumamnya lirih. "Apa kamu sempat memanggil Ibu? Apa kamu menunggu Ibu datang menyelamatkanmu?" Tak ada jawaban, selain hembusan angin yang menerbangkan debu di jalan. "Tidak..." bisiknya berulang-ulang. "Tidak... Ibu tidak akan berhenti di sini."

Perlahan ia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Tatapannya tak lagi hanya dipenuhi kesedihan, tetapi juga tekad yang lahir dari luka paling dalam. "Harapan..." ucapnya dengan suara bergetar. "Kalau memang benar ada orang yang merenggut nyawamu, Ibu bersumpah akan mencari kebenaran itu. Berapa pun harganya. Selama napas ini masih ada, Ibu tidak akan membiarkan kematianmu dianggap selesai begitu saja."

Untuk pertama kalinya sejak Harapan dimakamkan, Mida merasa air matanya bukan lagi sekadar tangis kehilangan. Tangis itu telah berubah menjadi janji. Janji seorang ibu yang tak lagi mengejar kepastian demi dirinya sendiri, melainkan demi anaknya yang tak lagi memiliki suara untuk menuntut keadilan.

Petugas akhirnya menghampiri Mida dengan sikap yang tetap sopan. "Bu, kami memahami kesedihan Ibu. Tapi untuk hari ini, kami tidak bisa berbuat lebih jauh. Silakan Ibu pulang dulu. Kalau nanti ada bukti baru, Ibu bisa datang kembali."

Perlahan, petugas membantu Mida berdiri dan mengantarnya hingga ke halaman depan kantor polisi.

Mida tidak melawan. Ia hanya terus menangis sambil memeluk ponsel tuanya. Tak lama kemudian, beberapa orang dari keluarga mantan suaminya datang. Mereka memang dihubungi oleh kenalan yang bekerja di kantor polisi. Wajah mereka dipenuhi rasa kesal.

Salah seorang di antaranya langsung menghampiri Mida. "Sudah cukup bikin malu keluarga! Ayo pulang!"

Mida menggeleng sambil menangis. "Aku cuma mencari keadilan untuk Harapan..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, lengannya ditarik paksa.

"Jangan cari gara-gara! Anak itu sudah meninggal. Mau apa lagi? Mau bikin semua orang ribut?"

Mida berusaha melepaskan diri, tetapi tenaganya sudah habis. Ia hanya mampu menangis ketika diseret meninggalkan halaman kantor polisi. Pemandangan itu menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Seorang pemuda yang sejak tadi melihat kejadian tersebut akhirnya tak tahan. Ia melangkah mendekat. "Pak, Bu... jangan begitu. Dia sedang berduka. Kalau memang mau bicara, jangan diperlakukan seperti itu. Lagipula ini kantor polisi, memang tempatnya mencari keadilan!"

Ucapan itu justru memancing emosi keluarga tersebut. "Ini urusan keluarga kami! Jangan ikut campur! Kamu tahu apa soal masalah kami?"

Pemuda itu tidak mundur. "Saya memang tidak tahu semuanya. Tapi saya tahu tidak pantas menyeret seorang ibu yang sedang mencari keadilan untuk anaknya."

Suasana mendadak memanas. Adu mulut tak terhindarkan. Beberapa warga mulai mendekat, khawatir pertengkaran itu berubah menjadi perkelahian. Setelah beberapa saat saling berdebat, keluarga mantan suami Mida memilih pergi sambil terus menggerutu. Mereka melepaskan tangan Mida, lalu meninggalkannya dengan tatapan penuh kemarahan.

Mida terduduk lemas di tepi jalan. Air matanya tak berhenti mengalir. Sementara pemuda itu hanya berdiri beberapa langkah darinya, memandang dengan iba. Ia belum mengenal Mida, tetapi hati kecilnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam kematian anak perempuan itu, makanya ia memperjuangkan mati-matian.

Pemuda yang tadi membela Mida itu perlahan menghampirinya. Ia mengulurkan tangan, membantu Mida berdiri yang masih tampak lemas karena terlalu lama menangis. Dengan suara tenang, ia memperkenalkan diri. "Perkenalkan, Bu. Nama saya Afandi Harahap. Orang-orang biasa memanggil saya Fandi."

Mida mengangguk pelan sambil mengusap air matanya.

"Saya tadi melihat dan mendengar apa yang terjadi di dalam kantor polisi," lanjut Fandi. "Maaf kalau saya lancang ikut campur. Tapi saya tidak tega melihat Ibu diperlakukan seperti itu."

Mida hanya terdiam. Matanya masih sembap.

Fandi kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Mida. "Saya seorang pengacara."

Mida menatap kartu nama itu beberapa kali, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Pengacara...?" bisiknya lirih.

Fandi mengangguk. "Kalau Ibu berkenan, saya ingin membantu mengurus perkara ini."

Mendengar kalimat itu, air mata Mida kembali mengalir. Bedanya, kali ini bukan karena putus asa. Selama berminggu-minggu ia mencari jalan. Ia mendatangi polisi, menemui saksi, bahkan mencoba mencari bantuan hukum melalui ponsel tuanya, tetapi selalu menemui jalan buntu. Kini, orang yang selama ini ia cari justru berdiri di hadapannya. Dengan suara yang bergetar, Mida berkata, "Alhamdulillah... akhirnya Allah mengirimkan seseorang untuk membantu saya."

Fandi tersenyum tipis. "Jangan berterima kasih dulu, Bu. Saya belum tahu seluruh duduk perkaranya. Kalau memang ada dasar hukumnya, saya akan berusaha membantu sebaik mungkin."

Mida mengangguk berkali-kali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!