Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN MENANTU IDAMAN
Kala memeluk leher sang istri dengan latar belakang toko emas, sedangkan Pevita memotret pose mereka. Pevita mengunggah ke status WA begitu juga dengan Kala. Pemuda itu mana mau bikin status, pikirnya alay banget. Tapi melihat sang istri mengunggah foto itu, Kala pun meniru. Ia tak mau Pevita merasa mencintai sendiri, dan menganggap Kala malu memamerkan sang istri pada teman kontaknya.
Status WA pertama pasca menikah, Kala memberikan caption menyentuh Baru saja menyenangkan istri, pintu rezeki kembali terbuka. Yah, saat keduanya duduk di outlet emas, sedang dijelaskan oleh karyawan outlet terkait brand emas batangan, Kala mendapat pesan masuk. Dari Pak Thoriq, yang memberi tahu besok ada briefing, ada proyek pembuatan game edukasi dari dua sekolah, dan Kala kembali terlibat.
"Bahagia terus ya, biar aku dapat rezeki terus!" pinta Kala saat keduanya sudah merebahkan diri di ranjang. Sedangkan Pevita sedang menatap gramasi emas batangan 24 karat, hasil gaji suami sebesar 1 gram. Kecil, tapi vibesnya orang kaya banget. Berhasil membeli dengan uang keringat sang suami.
"Aku bahagia kok, makanya lihat emas ini!" ucap Pevita merasa terharu menatap gramasi tersebut.
"Kenapa sih dilihatin terus?" tanya Kala, merasa tak percaya diri karena mampu membeli cuma 1 gram.
"Bangga!" jawab Pevita sembari tersenyum tipis. Kemudian meletakkan emas itu ke dalam kotak di nakas. "Padahal bukan uangku, tapi entah kenapa aku merasa bahagia banget beli emas itu. Rasanya seperti kamu menginginkan sesuatu dan berhasil kamu wujudkan."
"Ya elah, Sayang. Kecil begitu!" ucap Kala masih belum puas, sebagai laki-laki kerdil rasanya hanya bisa membelikan 1 gram saja. Berbeda dengan Pevita, spontan menabok lengan sang suami.
"Jangan bilang kecil gitu ah, tetap saja disyukuri!" omel Pevita. Kala mengerutkan dahi, kemudian memeringkan tubuh menatap sang istri lekat.
"Yang, kamu pasti punya gramasi lebih besar dari yang aku belikan!" sebenarnya Pevita juga tidak tahu, dia gak pernah pegang. Mungkin masih disimpan sang papa.
"Aku gak tahu. Mungkin papa yang punya. Kamu tahu sendiri, hidupku hanya untuk sekolah dan jajan doang. Mana punya aku tujuan hidup, mengalir begitu saja. Kalau kurang tinggal minta, tapi saat melihat usaha kamu, pikiranku jadi berubah. Mendadak aku takut, hidupku selama ini enak, dan tak pernah aku syukuri, takut tiba-tiba diambil sama Allah. Berkat kamu, aku belajar harus menghargai apapun yang kita terima meski dianggap kecil. Kamu tahu, sejak kamu diterima kerja, garap proyek, bahkan mendapat gaji, rasanya aku pengen nangis banget. Untuk mendapatkan uang 3 juta, kamu harus lembur, kamu harus begadang, makan ala kadarnya, dan aku jahat banget kalau sampai gak menghargai usaha kamu!" Pevita mendadak menangis, dan Kala mala tersenyum tipis.
Memang Pevita tidak frontal bilang aku cinta kamu, tapi dengan rasa menghargai segala usaha Kala, meski masih terlihat kecil itu sudah menunjukkan rasa cinta seorang istri padanya. Percayalah, seorang laki-laki akan merasa bangga bila sekecil usahanya dihargai di mata istri. Dan Kala mendapatkan itu. "Makanya bahagia terus sama aku ya, biar aku lebih semangat buat kerja, bisa menyenangkan istri!"
"Ah kamu mah, pokok gak sering lembur pas malam, aku udah bahagia banget!" ujar Pevita tulus, tapi Kala menangkapnya berbeda.
"Gak lembur, biar kita bisa menyatu kan?" ledek Kala, dan pasti akan diomeli Pevita karena otak kotornya. Namun, Kala kaget saat Pevita mengangguk. Tumben gak gengsi.
"Aku bahagia banget kalau kita menyatu, karena aku merasa dicintai banget!" ucap Pevita. Sudahlah tak perlu aba-aba lagi, ungkapan sang istri tersebut sudah menjadi kode kepada Kala untuk beratraksi menuju kenikmatan dunia.
Tak dipungkiri, sejak Pevita berdamai dan menerima Kala sebagai suaminya, perhatian yang selama ini ia harapkan rasanya terwujud begitu saja. Ia ditinggal oleh sang mama di usia masih kecil, dan sang papa yang sibuk kerja. Otomatis, kehadiran Kala bisa mengobati kosongnya perhatian yang selama ini Pevita rasakan. Pantas saja, sekecil apapun act of service yang Kala lakukan, langsung membuat baper Pevita. Saat ini, Pevita sedang mengisi tangki perhatian dalam hidupnya melalui Kala.
Hubungan yang awalnya diragukan oleh banyak orang karena usia Kala terlalu muda untuk menikah, bahkan sang mama sampai seminggu menangisi keputusan sang putra, kini menunjukkan pesonanya, bahwa menikah muda tidak salah, malah bisa menghindari pergaulan bebas. Bagi orang yang berpikir.
Mama Kala melihat status sang putra, tersenyum haru, pernikahan dini mereka tampak bahagia, dan doa beliau akan kebahagiaan Kala terus diucapkan. Beliau pun mengomentari status sang putra.
Wah, habis kencan kayaknya. Bahagia terus, Mas. Komentar sang mama. Kala tak membalas segera, dia dan Pevita masih asyik merengkuh nikmat dunia.
Pesan mama baru dibalas Kala menjelang shubuh. Iya Ma, merayakan gaji pertama aku. Balas Kala, soal ikut proyek dosen, Kala belum cerita ke sang mama. Setelah membalas, Kala pun mulai membersihkan diri, dan membangunkan sang istri. Keduanya ada jam kuliah pukul 7 pagi.
Mama Kala cukup kaget dengan balasan sang putra. Gaji? Kamu kerja Mas? Kerja apa? Uang saku dari papa kurang. Mas, kamu kan diminta untuk fokus kuliah saja, kenapa sambil kerja? Apa uang saku itu kurang di mata istri kamu? Mas, mama baru saja bangga sama kamu, karena hubungan kalian tentram. Tapi mama gak rela kalau kamu kerja demi menafkahi istri kamu. Nanti kalau kamu udah lulus, baru kerja Nak. Pikirkan kesehatan kamu juga, Nak. Kerja sambil kuliah itu berat.
Sialnya pesan mama itu dibaca oleh Pevita, saat dia bersiap ponsel Kala berdenting terus, masuk pesan beruntun. Dia penasaran siapa yang mengirim pesan beruntun itu di pagi hari.
Membaca setiap pesan mama mertuanya, Pevita langsung terpaku. Baru saja tadi malam ia bahagia bersama sang suami, pagi hari malah dianggap sebagai alasan Kala mencari kerja. Mood perempuan itu mendadak anjlok. Apalagi ia merasa mama mertuanya memang belum bisa menerima Pevita sebagai menantu sepenuhnya. Masih dingin.
"Siapa Sayang?" tanya Kala yang sudah siap berangkat. Pevita menghela nafas pelan, kemudian memberikan ponsel sang suami.
"Gak usah ambil proyek lagi deh, daripada aku yang disalahkan sama mama kamu. Maklum, aku kan bukan menantu idaman bagi beliau," ucap Pevita kecewa. Kala yang tak tahu apa-apa, wajar tak paham dengan ucapan sang istri. Apalagi wajah sang istri mendadak cemberut.
"Bisa dijelaskan?" tanya Kala bingung. Ini masih pagi loh, jangan sampai ada kesalah pahaman yang berimbas pada kelancaran kegiatan hari ini. Pevita tak langsung menjawab, karena ia masih sibuk pakai maskara. "Sayang?" panggil Kala minta penjelasan.
"Baca pesan mama kamu, baru paham apa yang aku bilang! Oh ya, aku gak jadi berangkat sama kamu, kita berangkat masing-masing saja seperti sebelumnya," ucap Pevita mode dingin.
Waduh ngambek nih. Batin Kala.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh