NovelToon NovelToon
Tawaran Sang Raja Mafia

Tawaran Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.

Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.

Namun, kematian itu hanyalah awal.

Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.

Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?

Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Bayangan yang Dikenali

#

Setelah pertemuan sama Wulan itu, Om Made nggak bisa tidur nyenyak berhari hari. Kalimat kalimat di dokumen itu terus muter muter di kepalanya, cara penyusunannya, pilihan katanya, ada sesuatu yang bener bener familiar, tapi dia juga takut, takut kalo ini cuma harapan kosong yang dia bikin sendiri, soalnya selama tujuh tahun, dia udah coba, susah payah, buat nerima kalo Damar beneran udah nggak ada.

Tapi hati kecilnya nggak pernah bener bener percaya itu.

Dia mulai nyelidik diem diem, pake koneksi koneksi lamanya sebagai pengacara senior, nyari tau siapa sebenernya "sumber anonim" yang ngirim dokumen dokumen itu ke Wulan. Dia minta tolong ke beberapa kenalan di bidang forensik digital, coba lacak email yang dipake, tapi hasilnya nihil, jalurnya emang sengaja dibikin susah dilacak.

"Ini kerjaan orang profesional," salah satu kenalannya bilang, "siapapun yang ngirim ini, dia punya sumber daya yang serius buat nutupin jejaknya."

Om Made mikir keras, siapa yang punya kemampuan kayak gitu, dan yang paling penting, siapa yang punya alesan personal buat ngirim dokumen dokumen soal kasus Ariel Wijaya dan Hartono Group ke seorang jurnalis, alesan yang lebih dari sekedar kepentingan bisnis atau politik biasa.

Beberapa minggu kemudian, dia dapet undangan buat hadir di sebuah acara amal yang diadain oleh beberapa firma hukum besar di Jakarta, acara yang biasanya dihadirin sama kalangan pebisnis dan profesional papan atas, dan di situ, katanya, bakal ada beberapa investor besar yang jadi donatur utama acara itu.

Om Made dateng, lebih karena kewajiban sosial ketimbang minat, dan dia duduk di salah satu meja bundar, ngobrol basa basi sama beberapa kolega lama, sampe tiba tiba, ada seorang pria muda yang duduk di meja yang sama, diperkenalkan sebagai "Pak Rendra Alief, dari Alief Capital."

Om Made ngangguk sopan, jabat tangan, dan mereka mulai ngobrol ringan soal acara itu, soal donasi donasi yang lagi dikumpulin.

"Bapak dari firma hukum mana?" Rendra nanya, sopan, sambil ngambil pulpen dari sakunya buat nyatet nomor kontak salah satu panitia acara yang lagi dia bicarain.

"Firma saya sendiri," Om Made jawab, "udah lama praktik, dulu banyak nanganin kasus kasus keluarga besar."

Dan di situ, Om Made ngeliat, sekilas, tapi cukup jelas, cara Rendra megang pulpen itu. Bukan cara megang pulpen biasa yang orang orang pada umumnya lakuin, tapi cara yang khas banget, jari telunjuknya agak nekuk lebih dalem dari biasa, dan pulpennya dipegang agak miring ke arah tertentu, kebiasaan kecil yang Om Made kenal banget, soalnya dia dulu, bertahun tahun, sering liat cara itu, tiap kali Damar nandatangan berkas berkas hukum keluarga, tiap kali Damar nyatet catetan kecil di rapat rapat perusahaan.

Jantung Om Made berenti sepersekian detik.

"Bapak kenapa?" Rendra nanya, ngeliat Om Made yang tiba tiba diem, matanya kayak lagi natap sesuatu yang jauh.

"Enggak, nggak apa apa," Om Made buru buru jawab, coba nutupin keterkejutannya, "cuma keinget sesuatu."

Mereka lanjut ngobrol, tapi Om Made udah nggak bisa fokus lagi, matanya diem diem terus merhatiin gerak gerik Rendra, cara dia ngomong, cara dia ketawa kecil kalo ada yang lucu, cara dia nunduk sedikit tiap kali lagi mikir serius, dan makin lama, makin banyak detail detail kecil yang, satu satu, keliatan familier banget, meski wajahnya udah beda, meski badannya lebih berotot, meski gaya bicaranya udah jauh lebih tenang dan terkontrol dari yang dia inget dulu.

Tapi mata itu. Tatapan itu, meski sekarang lebih dingin, lebih penuh perhitungan, ada kilau yang sama, kilau yang Om Made kenal banget dari Damar, anak muda yang dulu selalu ngeliatin dia dengan tatapan penuh harap, minta ditolongin, minta dipercaya.

Om Made pulang dari acara itu dengan pikiran yang campur aduk banget. Dia duduk di mobilnya, sopirnya nyetir pelan lewat jalanan Jakarta yang macet malem itu, dan dia ngeliatin ke luar jendela, air matanya diem diem netes tanpa dia sadar.

"Damar," dia bisikin, ke diri sendiri, "itu kamu, kan, Nak?"

Dia mikir keras, apakah dia harus langsung konfrontasi Rendra, langsung tanya terus terang, atau apakah dia harus lebih hati hati, soalnya kalo dia salah, kalo ternyata itu cuma kemiripan kebetulan, itu bisa jadi masalah gede, bisa bikin orang yang salah curiga sama dia. Dan kalo dia bener, kalo itu emang beneran Damar, berarti ada alesan besar kenapa Damar milih buat tetep nyamar, milih buat nggak langsung ngungkapin dirinya, bahkan ke orang yang dulu paling dia percaya.

Malem itu, Om Made nggak bisa tidur sama sekali. Dia duduk di ruang kerjanya, ngeliatin foto lama Damar yang masih dia simpen di laci mejanya, foto waktu Damar masih kecil, waktu Om Made pertama kali diundang ke rumah keluarga Wijaya buat urusan hukum, dan dia mikir, keras banget, gimana caranya biar dia bisa mastiin kebenaran ini, tanpa ngebahayain siapapun, tanpa buru buru ngerusak apapun yang lagi Damar, atau siapapun namanya sekarang, rencanain.

Akhirnya, jam tiga pagi, dia ngambil hp nya, dan dia bikin nomor baru, nomor yang nggak terdaftar atas namanya, dan dia ngirim pesan singkat ke nomor kontak yang dia dapetin dari kartu nama yang, diem diem, dia ambil dari saku jas Rendra malem itu waktu mereka jabat tangan perpisahan, sebuah kebiasaan lama dari masa mudanya yang dia pelajarin dari kenalan kenalan di dunia hukum yang kadang harus tau cara "meminjam" info tanpa ketauan.

Tangannya gemeteran ngetik pesan itu, hurufnya salah salah dulu beberapa kali sebelum akhirnya dia berhasil nulis kalimat yang pas.

"Aku tahu siapa kau. Kita perlu bicara."

Dia natap pesan itu lama banget sebelum akhirnya nekat nekan tombol kirim, jantungnya berdebar kenceng banget, dan begitu pesan itu terkirim, dia naro hp nya di meja, tangannya masih gemeteran, dan dia duduk di situ, sendirian, di tengah malem yang sunyi, nunggu, dengan harap harap cemas yang udah lama banget nggak dia rasain, apakah dia beneran bakal dapet balasan, atau apakah ini cuma jadi pesan kosong yang ngambang tanpa jawaban, kayak doa doa yang udah dia panjatin selama tujuh tahun terakhir, berharap, diem diem, kalo anak yang udah dia anggep kayak anaknya sendiri itu, entah gimana caranya, masih idup di suatu tempat.

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lanjut kak... tetap semangat berkarya 💪🏻💪🏻🥰🥰🥰
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iihhh aku gak mau nebak2 ah.. salah mulu giliran nebak nya🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wuiihh gak nyangka komisaris dong😱😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mungkinkah dia juga sama seperti kamu sekarang.... 🤔🤔🤔wah plot twist banget kak....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah itak udang nya masih ada toh... kirain si Wisnu ini otak udang nya... 🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
sok lah Rendra hancurkan semua yang telah merampas juga menghancurkan hidup kamu juga ayahmu 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh ada udang dibalik bakwan tuh... enak... 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: wali tuh.. 🤭🤭
total 2 replies
Wawan
Salam kenal buat Damar 👍
alunanfiksimalam
sepertinya dia di jebak
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kalau om Made tahu dia adalah anaknya Ariel,waah bakalan gimana dia senengnya ya🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ternyata masih banyak juga orang2 yang bener....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mata hati seorang ayah 😥😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
dan doa2 tersebut menjadi kenyataan..
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
berasa anak sendiri😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa mungkin Rendra sengaja mau nunjukin sedikit petunjuk buat om Made 🤔🤔👍🏼👍🏼👍🏼
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaaah om Made hebat. bisa nebak cuman dengan gaya bicara aja... se dekat itu kalian dulu sama Damar... semoga semua bisa cepat terungkap.. eh... jangan duku ketang . kalau terungkap ya ceritanya tamat dong🤭🤭🤭lanjut kak... tetap semangat💪🏻💪🏻👍🏼👍🏼
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
hati nurani mulai tergerak....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
takdir memang gak pernah ada yang tahu kan....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
insting pemburu berita🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
cakep..... lanjutkan 👍🏼👍🏼
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!