NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Hanya Satu Kata

Suara samar klakson dan campuran obrolan karyawan menyatu di lobby setelah jam pulang kerja. Regan menenteng tas laptop, jas ia sampirkan di bahu.

"Regan!" Teriak seseorang yang masih terdengar asing di telinganya.

Merasa namanya disebut, langkah Regan berhenti. Ia menoleh ke sumber suara.

Ahsan menghampirinya dengan napas terengah. "Saya mau menagih janji kamu."

Untuk beberapa saat, Regan hanya mengernyitkan alis sambil berfikir. "Janji? Janji apa?"

"Kamu akan mentraktir saya makan malam selama satu bulan kedepan." Jawab Ahsan sambil menunjuk.

Regan terkekeh kecil. "Hampir lupa, kalau begitu. Sekarang aja kita cari tempat makan."

"Ke restoran Meridian Bistro aja. Jam enam nanti saya ada meeting."

"Baiklah," kata Regan sambil pergi lebih dulu. "Kita berangkat masing-masing," lanjutnya tanpa menoleh.

Saat di parkiran, Regan masuk ke mobil miliknya. Begitu juga dengan Ahsan. Kedua mobil itu beriringan meninggalkan area kantor.

Tak jauh dari sana, Alvero berdiri di dekat mobilnya. Sebelah tangan masuk ke dalam saku celana, sebelahnya lagi memainkan kunci mobil. Tanpa sadar, sebelah sudut bibir Alvero terangkat. Ada rasa aneh yang tiba-tiba merayap ke dadanya.

Matanya masih menatap mobil Regan yang mulai menjauh. Biasanya, mobil itu selalu ada di belakangnya. Mengikuti kemana Alvero saat pulang kerja, entah itu ke bertemu klient atau pun langsung pulang.

Hal yang biasanya Alvero anggap menyebalkan, justru sekarang terasa sedikit kosong.

Alvero menggeleng keras. "Kenapa jadi kepikiran. Harusnya aku bisa tenang sekarang. Dia gak buntutin aku lagi," gumamnya sebelum masuk mobil.

Langit sudah mulai gelap saat mobil Regan masuk ke parkiran Meridian Bistro restoran. Ia tiba lebih dulu dari Ahsan.

Regan turun dari mobil, lalu berjalan menuju pintu masuk. Di luar, restoran itu terlihat elegan dengan dinding kaca tinggi dan lampu-lampu kristal yang menyala di dalamnya.

Beberapa pria berpakaian formal terlihat keluar masuk sambil membawa map dan laptop.

Tidak sampai sepuluh menit, Ahsan menyusul masuk. Matanya menyapu area restoran. Tak sulit menemukan Regan yang sudah menunggu di meja nomor 12 dekat jendela.

Ahsan berjalan menghampiri.

"Cepet banget nyampenya." Kata Ahsan sambil duduk di hadapan Regan.

"Kamu jangan meragukan kemampuan menyetirku." Jawab Regan.

Ahsan hanya terkekeh. Mereka tak lagi bersuara. Sampai akhirnya seorang pelayan perempuan mendatangi meja mereka.

Regan mengambil buku menu, lalu meminta pelayan itu untuk pergi dulu, setelah dia memastikan mau pesen apa. Regan akan memanggilnya kembali.

"Pesan saja apa yang kamu mau, San!" Regan menyandarkan duduknya, menatap Ahsan yang membaca menu.

"Oh ya, katamu tadi... kamu mau meeting? Perwakilan siapa? Pak Alvero atau Pak Ardion?" Tanya Regan.

Ahsan menatapnya sebentar. "Pak Al. Tapi dia ada meeting direksi dadakan di restoran Alastor." Jawab Ahsan, wajahnya tertutup buku menu.

Regan diam. Tak menjawab atau bereaksi apa-apa. Seperti sedang mikirkan sesuatu. Kemudian, dia tersenyum tipis.

"Ahsan, cepetan kamu mau makan apa. Biar aku bayar sekalian. Aku mau pulang sekarang."

"Bentar, Regan." Jawab Ahsan cepat.

Setelah memastikan pesanan dan minuman yang Ahsan inginkan. Regan meraih catatan dan buku menu dari tangan Ahsan. Ia memberikannya ke pelayan dengan beberapa pesanan yang akan di takeaway.

"Kenapa kamu gak ikut makan di sini juga?" Tanya Ahsan.

"Ada urusan kecil," jawab Regan sambil merogoh ponsel.

Ia menekan nomor Alvero. Lalu mengirimkan pesan singkat.

"Al, apa kamu ada meeting? Aku mau main sama Zio bentar. Boleh mampir ke rumahmu?"

Hampir dua menit berlalu, balasan dari Alvero kini masuk.

"Iya!"

Hanya satu kata. Mata Regan terpaku lama pada balasan itu. Harusnya Regan senang karena Alvero memberi izin. Tapi entah kenapa rasanya justru aneh.

Regan terkekeh, sebelah sudut bibirnya terangkat.

Biasanya, balasan Alvero tidak sesingkat itu. Kadang, Alvero selalu memintanya untuk menunggunya meeting, ataupun melarangnya pulang sebelum Alvero sampai rumah.

Regan tak lagi membalas, hanya menatap layar yang menampilkan pesan-pesan dia dan Alvero. Berharap, ada pesan lain lagi yang Alvero kirim.

Namun tetap saja, tak ada balasan lain. Membuat Regan mematikan ponselnya, lalu menghela napas.

"Lemes banget kayaknya?" Ahsan memperhatikan sedikit perubahan pada Regan.

"Nggak, aku hanya sedikit lelah." Ia memberi tatapan menusuk.

Ahsan hanya tersenyum. Sebenarnya ia tahu masalah atasannya.

Makanan yang mereka pesan kini telah selesai. Beberapa tersaji di atas meja. Dan tangan Regan, memegang paper bag hitam berlogo emas Meridian Bistro.

Di dalamnya terdapat beberapa kotak makanan yang tersusun rapi. Aroma hangat samar tercium.

"Ahsan, aku pergi dulu." Regan bangun dari duduknya.

"Hati-hati. Terima kasih untuk traktir makan malamnya."

"Hm!"

Regan melangkah keluar. Tujuannya sekarang bukan pulang langsung. Tapi ke rumah Alvero.

Perjalanan sedikit macet, membuat lampu rem dari mobil-mobil menyala merah. Cahaya kuning lembut dari lampu jalanan memantul di kaca depan mobil.

Setelah beberapa menit. Mobil Regan kini berbelok masuk ke gerbang perumahan elite. Jendela mobil ia turunkan setengah.

"Selamat malam, Pak Regan," sapa salah satu petugas.

"Sore, Pak." Balas Regan sambil tersenyum tipis.

Security itu langsung membuka palang, membiarkan mobil Regan masuk.

"Terima kasih, Pak!" Kata Regan sebelum kembali menginjak pedal gas mobil.

Tak jauh dari sana, mobilnya kembali berhenti di depan gerbang rumah.

Regan turun dari dalam sebentar, hanya untuk membuka gerbang. Dan setelah masuk, ia kambali menutupnya.

Ia sengaja tidak menyalakan klakson. Karena takut mengganggu orang rumah. Keluarga Alvero memang tidak menyediakan penjaga gerbang atau satpam. Karena menurut mereka, itu terlalu berlebihan untuk status keluarga mereka.

Di teras, Regan berdiri sebentar. Lalu menekan bel. Kali ini hanya satu kali, dan memilih untuk menunggunya.

Biasanya ia menekan bel tak cukup sekali, membuat orang rumah merasa kesal.

Pintu dibuka pelan, Bi Alin berdiri di ambangnya.

"Mas Regan, ayok masuk." Sambutnya ramah.

"Makasih ya, Bi." Ucap Regan sebelum masuk.

Ruang tamu menyambutkan dengan aroma yang khas. Yang sudah terasa dekat dengannya.

Samar suara Renzio yang tengah bermain terdengar, membuat senyum Regan melebar begitu saja.

"Zioo!" Panggilnya. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk mereka menoleh.

"Om Egannn!" Renzio langsung berlari menghapiri, ia memeluk kaki Regan.

Regan berjongkok, memangku anak itu dengan sebelah tangan. Bibirnya mendarat di pipi gembul Renzio.

"Jagoan Om lagi ngapain?"

"Lagi main tembak-tembakan!" Jawab Renzio.

"Regan, kamu gak bareng Alvero?" Tanya Serena yang duduk di sofa.

"Mas Al ada meeting sama direksi kayanya, Mah." Jawab Veyra lebih dulu.

Regan duduk sofa, Renzio di pangkuannya.

"Om Ardion juga belum pulang?" Tanya Regan.

Serena terkekeh. "Alvero aja yang Direktur Keuangan sibuk banget sama meeting, Gan. Apalagi Om Ardion sebagai Manager Utama."

"Oh ya, Vey. Aku bawain dimsum mentai." Regan menaruh paper bag besar di atas meja.

Veyra menatapnya dengan mata berbinar, di tambah senyum yang semringah. Ia menyimpan ponselnya asal. Tangannya beralih sibuk membuka paper bag.

Aroma gurih dan manis langsung menyeruak.

"Ada Zuppa Soup juga?" Tanya Veyra sambil mengambilnya.

"Mama mau juga dong. Itu cokelat dingin seger banget." Serena meraih satu cup cokelat dingin.

"Om Egan. Cokelat buat Zio mana?" Renzio mendongak. Menatap wajah Regan di pangkuannya.

"Hmm, sekarang Om gak bawain kamu cokelat. Kalau terus-terusan bawain cokelat, bisa-bisa Om habis di marahi Mama kamu, atau sama Oma, bisa juga sama Mbak Rini." Regan mencolek hidung Renzio.

"Masih mending kalau yang marahnya satu orang. Tapi kalau sekaligus tiga-tiganya gimana?"

Renzio seketika tertawa, seolah mengerti dengan apa yang barusan Regan bilang.

"Mbak Rini, ayok sini ngambil makanannya, sekalian sama Bi Alin. Aku sengaja bawa banyak."

"Iya, makasih ya." Jawab Mbak Rini sambil menghampiri.

Tangan Regan meraih nasi tim ayam. "Kamu makan ini aja, ya." Ia membukanya. Lalu menuntun makanan itu ke mulut kecil Renzio. Anak itu memakannya lahap.

"Om Egan, abis aku makan. Kita main ya." Kata Regan sebelum melahap suapan berikutnya.

"Siap, Tuan Muda." Jawab Regan dengan semangat.

Senyumnya menggantung lebar di wajahnya. Matanya menatap lama Renzio, sebelum beralih ke Veyra yang tengah memakan Zuppa Soup yang Ia bawa. Dan Serena yang memakan Dimsum Mentai.

Kedua perempuan itu saling melempar lelucon, dan disusul suara tawa.

Di sana, Regan merasa hangat. Seolah tidak pernah ada pertengkaran dengan Alvero. Semua masih terasa sama. Regan berharap waktu bisa berhenti di ruang keluarga itu. ​

1
Laila Sarifah
Pleaseee jgn sampai lengan vey, Regan itu sebenarnya suka sama kamu😭
james
kira-kira Veyra kenapa yah/Doge/
james
ah Veyra yang tergoda atau Regan /Sly/
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!