Jangan lupa like dan vote ya, meskipun sudah end.
Sepasang manusia yang tak kunjung menikah diusianya yang sudah matang. Reuni menjadi awal mula kisah cinta mereka yang lika-liku. Kisah asmara yang dibumbui dengan konflik batin.
Bagaimana kisah cinta mereka? Ayo baca dan nikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Irvianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Manusia
Lolita tidak menyangka dengan saran Eric, "Ric, Aku sudah bilang kalau Aku enggak mau melibatkan Ibu." Mereka saling termenung, diam dan tenggelam.
Ical menghampiri Eric dan Lolita yang sedang duduk diam-diaman. Ical merasa canggung untuk sekadar memanggil mereka berdua, Ical membalikkan tubuhnya untuk pergi kembali. Namun, Eric mendahului Ical. Eric meninggalkan Lolita tanpa sepatah katapun, Ical mengundurkan niatnya untuk pergi dan dia menghampiri Lolita yang masih duduk menatap lurus ke depan.
"Ta, selamat ya." Ical mengucapkan selamat ke Lolita, tetapi Lolita masih saja menghiraukannya.
"Lita," panggilnya untuk kedua kali.
Lolita bingung saat Ical sudah ada di sampingnya, ia mengernyitkan dahinya. "Kok, di sini?" tanyanya.
"Lo juga di sini."
Lolita memberikan senyum kecut ke arah Ical. Ia juga bingung harus menjelaskan ke Ical kenapa dirinya memilih keluar saat yang lain membahas pernikahannya.
"Masuk yo, Cal." Lolita mengajak Ical untuk kembali ke dalam dan berkumpul dengan yang lain. Namun, Ical mencengkram lengan Lolita saat ia akan beranjak dari kursinya. "Ta, kenapa pergi waktu bahas nikahan kalian?" tanya Ical.
Lolita kembali tersenyum kecut ke Ical. Ia tidak mungkin menjawab kalau diusianya yang sudah matang belum siap untuk menikah. Bukannya belum siap, dia hanya butuh figur ayah untuk walinya. Lolita menghela napas panjang dan malah balik bertanya ke Ical, "Lo kenapa enggak jadi nikah?"
Ical memalingkan wajahnya ke depan. Ia akan menjelaskan ke Lolita tentang kegagalan dalam hubungan asmaranya. Ia kembali menatap wajah Lolita dan mulai bercerita, "tunangan Gue hamil."
"Ha!" Lolita kaget tercengang.
"Awalnya Gue juga enggak nyangka, Gue pikir Dia mau nipu Gue. Setelah Gue lihat sendiri, ternyata Dia benar-benar hamil." Ical menyengir kecut.
"Lo bukan Ayah anak itu?" tanya Lolita ragu. Ical menggeleng lesu dan berkata, "Gue pernah ciuman, tapi enggak sebejat itu."
"Kalau Lo ribut sama Eric karena pernikahan Lo dimajukan, Gue minta maaf. Lo bisa minta tolong apapun ke Gue sebagai bentuk maaf Gue."
"Gue sama Eric baik-baik saja, kok." Lolita menepuk bahu Ical ragu.
Mereka masuk ke dalam rumah untuk kembali lagi bergabung dengan keluarga besarnya. Semua mata tertuju pada Lolita dan Ical, hal itu membuat mereka berdua heran. Lolita memilih duduk di samping ibunya dan Ical duduk di samping nenek, semuanya terlihat canggung.
"Lita, kalau Kamu belum siap, nikahannya diundur juga enggak apa-apa." Mama Eric membuka percakapan disituasi canggung seperti itu.
"Terima kasih atas pengertiannya, Ma." Lolita berterima kasih ke mama Eric atas pengertiannya.
"Maaf juga untuk semuanya, kalau Lita meninggalkan kalian saat membahas hal yang penting."
Semuanya tersenyum dan canggung, situasi lamaran yang harusnya penuh tawa dan bahagia, nyatanya kebahagiaan itu hanya di awal acara saja, saat hendak menuju perpisahan malah penuh sesak di dalamnya. Memang ya, tawa dan sedih itu selalu berdampingan di mana pun berada.
"Ta, akan banyak rintangan saat kalian mendekati pernikahan. Gue harap sih, kalian bisa melewati rintangannya," pesan dari Ical nampak tulus. Di masa sulitnya Ical, ia mampu memberikan penyemangat untuk calon kakak sepupunya.
Semuanya menatap iba ke arah Ical. Si lelaki yang dikhianati oleh tunangannya sendiri yang berusaha baik-baik saja di hadapan yang lainnya. Sekuat apapun lelaki, kalau dikhianati tetaplah sakit karena dia juga punya hati. Bagi Ical semuanya telah menjadi pelajaran hidupnya untuk tetap memperbaiki diri. Tuhan tidak akan menukar jodoh seseorang, bukan?
Semuanya telah bersiap untuk pulang. Keluarga Lita mengantarkan keluarga Eric sampai di halaman rumahnya. Dua mobil milik keluarga Eric perlahan meninggalkan rumah Lolita.
Lolita naik ke lantai dua menuju kamar tidurnya, ia berganti kaos dan celana training biasanya. Ia duduk di meja rias miliknya untuk menghapus make up-nya. Di sela-sela menghapus make up, ibu Lolita datang menghampiri dirinya dan mengusap kedua bahunya lembut. Mereka saling berpandangan di depan cermin dan saling melempar senyum yang penuh arti.
"Ibu kenapa?" tanya Lolita saat melihat ibunya tiba-tiba menjatuhkan air matanya.
"Ibu enggak apa-apa." Ibu Lolita menghapus air matanya yang tadi sempat jatuh. Ia malah bertanya balik ke Lolita, "seharusnya Ibu yang tanya anak Ibu, kenapa?" sang ibu memeluk anaknya lembut.
Insting seorang ibu sangat kuat saat anaknya sedang tidak apa-apa. Apalagi perempuan, di balik tidak ada apa-apanya perempuan, pasti ada apa-apa.
"Kalau Kamu enggak mau cerita dulu, Ibu akan selalu menunggu Kamu sampai mau cerita. Ibu enggak mau seperti dulu, saat anaknya memiliki masalah dipendam sendiri sampai timbul kebencian."
Usia boleh bertambah, tapi berceritalah kepada orang yang percaya saat kamu memiliki masalah, mungkin dengan cerita itu bebanmu akan sedikit berkurang.
Saat sang ibu sudah di depan pintu dan hendak pergi meninggalkannya, Lolita mencegahnya dengan ucapannya, "tunggu! Lita mau cerita sama Ibu sekarang."
Sang ibu tersenyum dan duduk di ranjang milik Lolita. Ia menunggu Lolita menghapus bekas make up-nya cepat. Lolita mendekat dan menghampiri ibunya di ranjang, ia meletakkan kepalanya di paha orangtuanya. Lolita menghela napas panjang untuk mulai bercerita.
"Bu, Ibu tahu impian terbesar Lolita?"
"Bekerja di kantor Kamu sekarang, itu mimpi besar Kamu bukan?" tanya sang ibu dan Lolita mengangguk.
"Apa mimpi terbesar seorang perempuan saat sudah dewasa?" pertanyaan Lolita membuat ibunya mengerutkan dahi, bingung.
"menikah?" tebak ibu.
"iya, menikah dengan wali seorang ayah." Lolita menggantikan posisinya duduk bersila menghadap ibunya.
"Ibu, bolehkan kalau Ayah sebagai wali Aku nanti?" tanya Lolita penuh keraguan.
Tidak disangka sang ibu mengangguk dan menjawab, "iya, tapi...," ucapannya menggantung.
"Lita tahu, semuanya penuh resiko. Eric dan Aku akan mencari ayah, kalau Kami libur kerja, tapi Ibu jaga rahasia ini dari Angga."
"Ibu paham, tapi Ibu senang Kamu sudah memaafkan Ayah Kamu sendiri." Mereka saling berpelukan penuh haru.
"Ibu setujukan kalau Aku cari Ayah?" tanya Lolita yang masih berpelukan dengan ibunya.
Pada akhirnya, saran Eric digunakan oleh Lolita. Menikah itu bukan sekadar aku dan kamu, tapi juga menyatukan kedua keluarga. Perlahan Lolita membuka pintunya untuk menikah dengan Eric dan ia juga berharap kalau cintanya akan muncul secara perlahan juga.
"Jadi, ini masalah Kamu?" tanya sang ibu melepaskan pelukannya, kemudian Lolita mengangguk.
"Maaf, Bu. Lolita enggak cerita dari awal."
"Aku berani bilang gini juga berkat saran Eric, kayaknya Eric ngebet ingin nikah deh, Bu." Lolita cengengesan.
"Kalian kan umurnya sudah matang, wajar dong kalau Eric ngebet."
"Ibu... Aku masih takut," rengek Lolita.
"Apa yang mesti ditakutin, kalau Eric ngebet nikah sama Kamu, berarti Dia cinta dan sayang sama Kamu," nasihat ibu Lolita.
"Ibu enggak percaya kalau Kamu enggak jatuh cinta sama Eric," goda ibunya.
"Bu."
"Calon menantu Ibu ganteng," ujar ibu Lolita.
"ganteng tapi kaku, Bu."
"Tapi Ibu suka." Ibunya masih saja menggodanya.
Sudah lama mereka tidak ngobrol seperti ini, rasanya berat sekali untuk Lolita jika suatu saat nanti harus meninggalkan ibunya karena status pernikahan.
Duoble update.