Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Dia Sudah Kembali
"Pesan penerbangan paling awal. Aku pulang ke Jakarta sekarang."
Jovi tidak langsung bergerak.
Selama tiga tahun bekerja langsung di sisi Kevin, ia pernah melihat pria itu menghadapi rapat pemegang saham yang hampir pecah, gugatan miliaran rupiah, bahkan ancaman dari keluarga Nie sendiri. Kevin selalu dingin. Semakin besar masalahnya, semakin datar wajahnya.
Tapi malam itu, di kamar hotel Surabaya yang lampunya terlalu terang, tangan Kevin bergetar.
"Pak," ucap Jovi hati-hati, "penerbangan komersial paling awal baru ada subuh. Saya bisa coba hubungi charter, tapi butuh izin slot."
"Urus."
Satu kata. Rendah. Hampir tidak terdengar.
Jovi menunduk cepat. "Baik, Pak."
Begitu pintu kamar tertutup, Kevin kembali duduk di tepi sofa. Tablet masih menyala di meja. File demi file terbuka di sana seperti potongan kaca yang akhirnya membentuk satu wajah.
Ning Tju, dua puluh lima tahun, yatim piatu angkat, tinggal di kontrakan sempit di Tangerang.
Ning, perempuan yang seharusnya sudah ia kuburkan enam belas tahun lalu.
Kevin menekan pelipisnya. Ia benci kesimpulan yang tidak bisa diuji dengan angka. Ia benci hal-hal yang memaksa manusia percaya sebelum bukti benar-benar selesai bicara. Tapi setiap kali ia mencoba menolak, ingatan lain muncul dan menamparnya lebih keras.
Cara perempuan itu menahan busur.
Mata yang berubah tenang saat melihat Kian.
Gerakan spontan memeluk tubuh Kian ketika mobil terguncang, dengan posisi tangan yang persis melindungi perut, persis seperti rekaman kecelakaan yang pernah ia tonton sampai muntah.
Pertanyaan tentang buah delima.
Cara ia takut berjalan di gang gelap, lalu tanpa sadar bertahan dalam suara Kevin di telepon.
Dan hari ini, pinggang kanan Yenni.
Kevin mengambil ponselnya. Di dalam folder pribadi yang tidak pernah tersambung ke cloud, hanya ada empat foto Ning yang dulu. Empat. Bukan karena ia tidak mencintainya, tapi karena hidup mereka terlalu singkat untuk sempat mengumpulkan banyak gambar.
Foto pertama, Ning berdiri di halaman kampus dengan rambut diikat asal, memegang map gambar lebih besar dari tubuhnya.
Foto kedua, Ning duduk di meja makan, tertidur dengan pipi menempel di lengan, sementara semangkuk bubur dingin dibiarkan utuh.
Foto ketiga, Ning dalam gaun sederhana di hari pencatatan pernikahan mereka, wajahnya pucat, matanya keras kepala.
Foto terakhir, ia diam-diam mengambilnya ketika Ning sedang hamil tua, berdiri di bawah pohon delima Menteng, telapak tangan menempel di perut.
Kevin tidak pernah berani menghapus salah satunya.
Setiap malam selama enam belas tahun, ia membuka video pendek yang sama sebelum tidur. Video berdurasi dua puluh tujuh detik itu diambil Yenni saat Ning tertawa karena Kian, yang masih di dalam kandungan, menendang terlalu kuat. Suara Ning di video itu pecah di tengah tawa.
"Kevin, anakmu kasar sekali."
Anakmu.
Bukan anak kita.
Waktu itu ia hanya berdiri di belakang kamera, tidak tahu bagaimana cara membalas kalimat yang terdengar bercanda tapi menyimpan jarak. Ia terlalu muda, terlalu kaku, terlalu sibuk berpura-pura pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Lalu malam tahun baru datang.
Lampu koridor rumah sakit saat itu putih dan dingin. Bau antiseptik menusuk hidung. Kevin masih ingat darah di manset kemejanya, suara dokter yang berlari, dan pintu ruang operasi yang menutup sebelum ia sempat menyentuh wajah Ning.
Ia menunggu di luar dengan tangan kosong.
Saat tangisan bayi terdengar, lututnya justru kehilangan kekuatan. Semua orang berkata anaknya selamat. Semua orang menyuruhnya bersyukur.
Tapi dokter yang keluar terakhir tidak berani menatap matanya.
"Istri Bapak..."
Kevin tidak ingat siapa yang menahannya ketika ia menghantam dinding sampai buku jarinya pecah. Ia tidak ingat bagaimana tubuh Ning dibawa keluar. Ia hanya ingat seorang bayi laki-laki kecil dibungkus kain rumah sakit, menangis dengan suara lemah, dan dirinya berdiri seperti orang yang terlambat memahami arti kehilangan.
Sejak hari itu, Kian tumbuh di dalam rumah yang terlalu banyak menyimpan nama Ning.
Kevin memberi anak itu sekolah terbaik, dokter terbaik, kamar terbaik. Ia bisa membeli semua hal kecuali cara mengatakan, aku mencintaimu, tanpa terdengar seperti orang asing.
Kian memanggilnya Pak Kevin.
Dan Kevin menerimanya seperti hukuman yang pantas.
Ponsel Kevin bergetar. Pesan Jovi masuk.
`Charter confirmed. Mobil siap dalam 20 menit.`
Kevin berdiri, mengambil jas, lalu berhenti di depan cermin kamar hotel. Wajahnya pucat. Mata merah. Rambutnya sedikit berantakan karena ia terus menyisirnya dengan jari tanpa sadar.
Di kaca, ia melihat pria tiga puluh enam tahun yang selama ini hidup seperti mesin mahal.
Jika Ning benar-benar kembali, apakah ia berhak langsung menariknya pulang?
Pertanyaan itu menusuk.
Ning yang sekarang punya tubuh berbeda, nama legal berbeda, luka berbeda. Ia baru bangun dari hidup yang rusak. Ia mendekati Kian dengan hati seorang ibu, tapi dunia melihatnya sebagai perempuan asing yang terlalu muda untuk menjadi ibu dari anak enam belas tahun.
Kevin tahu ia tidak boleh menakutinya.
Tapi ia juga tahu sesuatu yang lebih dingin: kalau ia bergerak lambat, keluarga Tju yang sekarang, orang-orang Maison Fevre, atau siapa pun yang mencium celah dalam hidup Ning bisa menyakitinya lebih dulu.
Ia tidak akan kehilangan dia dua kali.
Pandangan Kevin jatuh ke tangan kirinya. Di jari manisnya, sebuah cincin polos masih melingkar. Benda kecil itu pernah membuat Kian membisu di meja makan, pernah membuat Yenni menangis diam-diam saat melihatnya, dan pernah membuat keluarga Nie menyebutnya pria yang tidak tahu melepas masa lalu.
Kevin memutar cincin itu pelan.
Logamnya hangat oleh suhu tubuhnya sendiri. Ning yang dulu memilih cincin itu di toko kecil, menolak model mahal yang ditawarkan pegawai, lalu berkata pernikahan kesepakatan tidak perlu terlalu mencolok. Kevin mengiyakan. Ia selalu terlalu banyak mengiyakan, terlalu sedikit mengatakan apa yang sebenarnya ia simpan.
"Kali ini," bisiknya, "aku tidak akan diam saja."
Di dalam mobil menuju bandara, Jovi duduk di depan dengan laptop terbuka, mengirim pembatalan jadwal satu per satu.
"Rapat dengan klien Surabaya saya ubah ke daring, Pak. Kunjungan pabrik saya wakilkan ke Pak Daniel. Untuk makan malam dengan komisaris..."
"Batalkan."
"Baik."
Jovi berhenti sebentar. "Pak Kevin, soal Bu Ning..."
Kevin menatap lampu jalan yang berlari di kaca jendela. "Apa?"
"Apakah saya perlu menyiapkan pengamanan tambahan?"
"Mulai sekarang, tanpa terlihat." Kevin menjawab cepat. "Jangan ada yang mendekatinya dari keluarga Tju. Pantau Maison Fevre. Pantau kontrakan. Jangan ganggu aktivitasnya."
"Baik, Pak."
"Dan Jovi."
"Ya?"
"Tidak ada satu pun dari laporan malam ini yang keluar dari kamu."
Jovi menegakkan punggung. "Saya mengerti."
Pesawat kecil itu lepas landas ketika Surabaya masih gelap. Kevin duduk di kursi dekat jendela, tapi ia tidak melihat awan. Sepanjang penerbangan, ia membuka laporan, menutupnya, membuka foto Ning, lalu menutupnya lagi.
Ia tidak tidur.
Di kepalanya, suara Ning bergantian muncul dalam dua bentuk.
Suara dari video lama: "Kevin, anakmu kasar sekali."
Suara dari gang gelap beberapa malam lalu: "Pak Kevin, jangan tutup dulu."
Satu memanggilnya tanpa jarak.
Satu memanggilnya sebagai orang asing.
Ketika roda pesawat menyentuh landasan Soekarno-Hatta menjelang fajar, dada Kevin terasa seperti ditarik dari dua arah. Jovi sudah mengatur mobil menunggu di area kedatangan khusus. Sopir membuka pintu, tapi Kevin lebih dulu masuk tanpa menunggu sapaan.
"Menteng, Pak?" tanya Jovi.
"Tangerang."
Jovi tidak bertanya lagi.
Jakarta masih setengah tidur ketika Alphard hitam melaju melewati jalan tol. Langit di timur perlahan memucat. Warung kopi pinggir jalan baru membuka pintu. Tukang sayur mulai mendorong gerobak. Kota yang biasanya tunduk pada jadwal Kevin pagi itu terasa asing, terlalu lambat, terlalu ramai, terlalu hidup.
Semakin dekat ke kontrakan Ning, jalan semakin sempit.
Alphard berhenti di ujung gang karena tidak bisa masuk lebih jauh. Kontrakan lima kamar itu berdiri di belakang deretan rumah padat, cat temboknya kusam, kabel listrik menggantung rendah. Dari lantai dua, terdengar suara ember digeser dan pintu kamar mandi diketuk bergantian.
Kevin turun.
Udara pagi Tangerang lembap dan berbau sabun murah bercampur gorengan dari warung depan gang. Ia berdiri di samping mobil, jas masih rapi, sepatu kulitnya terlalu bersih untuk jalan beton yang retak.
Jovi melihat jam. "Pak, kita bisa menunggu di dalam mobil."
"Aku di sini."
Satu jam berlalu.
Langit makin terang. Orang-orang mulai keluar untuk bekerja. Beberapa menoleh ke arah Alphard, berbisik pelan, tapi Kevin tidak bergerak. Ia hanya menatap pintu kontrakan, seperti seseorang yang menunggu ruang operasi terbuka lagi setelah enam belas tahun.
Dua jam.
Akhirnya, pintu kecil di lantai bawah terbuka.
Ning keluar dengan kardigan tipis menutupi bahu. Wajahnya pucat, bibirnya kering, rambutnya diikat rendah asal-asalan. Ia memegang dompet kecil dan kantong plastik bekas, seperti hendak membeli obat di minimarket terdekat.
Langkahnya berhenti di ujung gang ketika melihat mobil hitam itu.
Lalu ia melihat Kevin.
Ning tampak demam. Matanya berkabut. Untuk sesaat, ia seperti belum yakin apakah pria yang berdiri di depannya adalah bagian dari mimpi buruk karena panas tubuh.
"Pak Kevin?" suaranya serak. "Kenapa Bapak ada di sini?"
Kevin memandangnya.
Ada ribuan kalimat di dadanya. Maaf. Aku tahu. Aku terlambat. Aku merindukanmu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.
Tidak satu pun keluar.
Yang keluar hanya suara serak yang nyaris pecah.
"Aku datang untuk mengurus pernikahan kita."
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya