Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi hari di kantor agensi periklanan tempat Arjuna bekerja, terasa seperti berjalan di atas bara api. Arjuna melangkah masuk ke koridor divisi pemasaran dengan setelan jas yang kusut dan kantong mata yang menghitam karena kurang tidur. Sejak ia menginjakkan kaki di lobi, tatapan mencemooh dan bisik-bisik dari rekan kerja langsung menyambutnya. Pengumuman resmi dari Papa Baskoro dua minggu lalu benar-benar telah mematikan karakter sosial Arjuna di lingkungan profesional.
Tepat saat Arjuna duduk di kursi kerjanya dengan frustrasi, pintu ruangannya diketuk. Sekretaris divisi melangkah masuk dengan raut wajah formal yang dingin.
"Selamat pagi, Pak Arjuna. Saya ingin menyampaikan pesan dari direksi utama. Jadwal rapat evaluasi proyek bersama Dirgantara Media Group yang seharusnya digelar jam sembilan pagi ini, resmi ditunda oleh pihak mereka menjadi besok pagi, hari Selasa pukul sepuluh." ucap sekretaris itu tanpa ada senyum ramah sedikit pun.
Arjuna menggeram, meremas pulpen di tangannya hingga buku jarinya memutih. "Ditunda? Kenapa mendadak sekali? Apa mereka memberikan alasan?"
"Pihak Dirgantara Media hanya menyampaikan, bahwa agenda CEO mereka hari ini sangat padat dan jadwal internal Creative Director mereka tidak bisa diganggu gugat. Hanya itu, Pak. Saya permisi." jawab sekretaris itu, lalu berbalik pergi.
Arjuna menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya yang berdenyut pusing. Penundaan sepihak ini terasa seperti penghinaan halus baginya, namun ia tidak memiliki kekuatan untuk memprotes. Posisinya di perusahaan saat ini sedang di ujung tanduk. Jika sampai proyek dengan Dirgantara Media gagal atau diputus, ia tahu ayahnya tidak akan mau membantunya lagi karena sudah telanjur malu.
Sementara itu, di lantai teratas gedung megah Dirgantara Media Group, atmosfer yang tercipta justru berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Dunia seolah sedang berpihak penuh pada Larasati.
Larasati melangkah keluar dari lift dengan penampilan yang sangat memukau. Ia mengenakan blouse cantik berwarna merah marun yang dipadukan dengan celana panjang hitam, memancarkan auranya tersendiri. Di wajahnya sama sekali tidak terlihat sisa-sisa patah hati.
"Selamat pagi, Mbak Larasati yang selalu mempesona dan bersinar terang benderang!" sebuah suara cempreng dan familiar menyambutnya di depan koridor.
Evan, asisten unik sang CEO, berdiri di sana sambil memegang sebuah nampan kecil berisi secangkir caramel macchiato hangat, dan satu kotak roti panggang premium dari toko roti terkenal.
Larasati menghentikan langkahnya, menatap Evan dengan dahi mengernyit heran namun bibirnya menahan senyum.
"Pagi, Evan. Sejak kapan tugas asisten pribadi CEO beralih fungsi menjadi kurir pengantar sarapan untuk Creative Director?"
Evan terkekeh geli, memasang cengiran usilnya yang khas. "Aduh, Mbak Laras, jangan salah paham dulu. Ini adalah tugas suci langsung dari penguasa tertinggi lantai ini. Bos Besar yang terhormat memerintahkan saya untuk memastikan aset terbaiknya sudah sarapan dengan menu terbaik, supaya otaknya tidak lemas saat presentasi besok. Diminum ya Mbak, kalau tidak habis, nanti bonus tahunan saya malah dipotong jadi potongan tipis-tipis!"
Larasati menggeleng-gelengkan kepalanya, wajah cantiknya mendadak merona merah muda akibat godaan Evan.
"Sampaikan terima kasih saya pada Bos Besarmu ya, Evan. Bilang padanya, saya tidak akan bolos kerja hanya karena masalah sepele."
Tepat setelah Larasati menerima nampan sarapan itu, pintu ruang kerja CEO di ujung koridor terbuka perlahan. Sosok tegap Dewa Dirgantara muncul di ambang pintu. Pria berusia 38 tahun itu mengenakan kemeja putih formal dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, menampilkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang maskulin. Aura kepemimpinannya begitu mendominasi.
Dewa menatap lekat Larasati yang sedang memegang kopi pemberiannya, dan sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada orang lain.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok