NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:311k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 - Laras Tidak Mau Kalah

Laras membaca klarifikasi Arga sampai layar ponselnya buram oleh air mata.

Istri sah saya sejak empat tahun lalu.

Laras membaca kalimat itu berulang-ulang, seolah dengan menatapnya cukup lama, huruf-huruf itu bisa berubah. Tapi tidak. Nama Nadira tetap berada di sana, ditulis Arga sendiri, dilindungi Arga sendiri.

Kendra tidur di kamar, memeluk boneka dinosaurus. Sejak Arga mengatakan tentang Bayu, anak itu lebih pendiam. Ia tidak lagi berlari setiap kali ponsel Laras berbunyi. Tidak lagi bertanya kapan Papa Arga datang.

Itu yang paling membuat Laras marah.

Nadira tidak hanya mengambil Arga. Nadira juga membuat Kendra meragukan dunia kecil yang Laras bangun untuknya.

Ponselnya bergetar.

Vania.

"Kamu puas?" Laras langsung berkata begitu mengangkat telepon.

Di seberang, Vania tertawa pendek. "Harusnya aku yang bertanya begitu. Kamu yang menangis di depan Arga sampai semua orang mengira kamu korban."

"Rencanamu gagal."

"Karena kamu panik."

"Kamu bilang obat itu cuma membuat Nadira terlihat mabuk!"

"Dan memang begitu. Sayangnya Arga terlalu cepat membawanya pergi."

Laras memejamkan mata. "Aku tidak mau berurusan dengan polisi."

"Tidak akan, kalau kamu tidak bodoh."

"Kamu pikir Kevin akan terus melindungi kamu?"

Vania diam sebentar. "Kak Kevin terlalu baik. Tapi keluarga Hartono tidak akan membiarkan namanya hancur hanya karena dokter itu. Aku bisa mengurus urusan keluargaku."

"Lalu aku?"

"Kamu ingin Arga kembali merasa bersalah padamu, kan?"

Laras tidak menjawab.

Vania melanjutkan, "Selama Nadira terlihat sebagai korban, Arga akan terus berada di sisinya. Ubah posisinya."

"Maksudmu?"

"Buat Arga ingat bahwa yang paling rapuh bukan Nadira. Tapi Kendra."

Laras menatap pintu kamar anaknya.

"Jangan sentuh Kendra."

"Aku tidak menyuruhmu menyakiti anakmu. Aku hanya bilang, kalau Kendra terluka karena situasi ini, Arga tidak akan bisa pergi."

Telepon terputus.

Laras duduk diam lama sekali.

Ia tahu Vania berbahaya. Perempuan itu tidak bergerak karena cinta seperti dirinya. Vania bergerak karena harga diri. Kevin tertarik pada Nadira, dan itu cukup membuat Vania membenci Nadira. Mungkin karena hubungan mereka sebagai saudara angkat terlalu rumit. Mungkin karena Vania tidak suka ada perempuan yang lebih dihargai.

Tapi Laras juga tahu satu hal.

Arga punya kelemahan.

Namanya Kendra.

Keesokan paginya, Laras datang ke rumah Wijaya tanpa memberi kabar.

Mama Renata sedang menyiram tanaman di halaman ketika satpam memberi tahu. Wajahnya langsung berubah.

"Bu Laras, ada perlu apa?"

Laras menunduk, membawa Kendra di sampingnya. "Tante, maaf saya datang mendadak. Kendra ingin bertemu Om Arga."

Kendra tidak mengangkat wajah.

Anak itu tampak lelah. Sepatunya terpasang terbalik, dan rambutnya belum disisir rapi seperti biasa. Mama Renata melihat detail itu lebih dulu daripada air mata Laras.

Sebagai ibu, ia tahu perbedaan antara anak yang benar-benar merengek ingin bertemu seseorang dan anak yang dibawa karena orang dewasa membutuhkannya. Kendra tidak menarik tangan ibunya ke arah pintu. Ia justru berusaha mengecilkan tubuh, seperti ingin menghilang.

Hati Mama Renata sakit melihatnya.

Ia marah pada Laras, tapi ia tidak bisa marah pada Kendra.

"Kendra sudah sarapan?" tanya Mama Renata pelan.

Kendra melihat Laras sebelum menjawab.

Gerakan kecil itu cukup membuat Mama Renata makin yakin ada yang tidak beres.

"Sudah," jawab Laras cepat.

Kendra menunduk.

Mama Renata tidak membongkar kebohongan itu di depan anak. Ia hanya memanggil asisten rumah tangga untuk menyiapkan susu hangat dan roti.

Mama Renata melihat anak itu dan hatinya sedikit melembut, tapi ia tetap waspada. "Arga tidak tinggal di rumah. Dia ada urusan."

"Kendra demam semalam. Dia terus mengigau mencari Mas Arga."

Mama Renata berjongkok di depan Kendra. Ia menyentuh dahi anak itu. Tidak panas.

"Kendra sakit?"

Kendra melihat ibunya, lalu menggeleng kecil.

Wajah Laras menegang.

Mama Renata berdiri. Suaranya tetap sopan, tapi dingin. "Bu Laras, jangan gunakan anak untuk mengetuk pintu yang sudah ditutup."

Air mata langsung muncul di mata Laras. "Tante juga menyalahkan saya?"

"Saya menyalahkan orang dewasa yang tidak jujur."

"Saya hanya ingin anak saya punya keluarga."

"Keluarga tidak dibangun dengan mengambil milik orang."

Laras menggenggam tangan Kendra lebih kuat. Anak itu meringis.

Mama Renata melihatnya. "Lepaskan sedikit. Tangannya sakit."

Laras segera melepas.

Saat itu, mobil Arga masuk ke halaman. Ia baru kembali dari kantor kuasa hukum bersama Bima. Begitu melihat Laras dan Kendra, wajahnya berubah.

"Kenapa kamu ke sini?"

Kendra bersembunyi di balik Laras.

Laras menangis. "Kendra ingin bertemu kamu."

Arga menatap Kendra. "Kendra, kamu mau bertemu Om Arga?"

Anak itu diam. Matanya basah, tapi ia tidak menjawab.

Arga berjongkok dengan hati-hati. "Tidak apa-apa. Kalau Kendra tidak mau bicara, Om tidak paksa."

Kendra menggenggam bonekanya. "Mama bilang Om Arga tidak sayang Kendra lagi karena Dokter Nadira marah."

Wajah Arga mengeras.

Mama Renata menutup mata, menahan marah.

Laras langsung berkata, "Aku tidak bilang begitu. Dia salah paham."

Arga berdiri. "Masuk ke ruang tamu. Bima, antar Kendra ke dapur. Mama buatkan susu."

Kendra menurut pada Bima karena Bima selalu lucu di depannya. Setelah anak itu pergi, Arga menatap Laras.

"Jangan pernah menaruh nama Nadira di depan anak itu lagi."

"Aku tidak sengaja."

"Semua hal buruk yang kamu lakukan selalu tidak sengaja."

Laras terisak. "Mas, aku kehilangan Bayu. Aku tidak punya siapa-siapa."

"Kamu punya keluarga Bayu. Kamu punya bantuan yang aku atur. Kamu punya kesempatan membesarkan Kendra dengan benar."

"Aku punya kamu."

"Tidak."

Satu kata itu jatuh keras.

Laras menatapnya seperti ditikam.

Arga melanjutkan, "Aku pernah salah karena membiarkan kamu berpikir aku bisa menjadi pengganti Bayu. Mulai hari ini, semua komunikasi lewat Bima atau pengacara. Kalau menyangkut Kendra, aku akan tetap membantu. Kalau menyangkut perasaanmu padaku, selesai."

Laras mundur.

"Kamu kejam."

"Mungkin."

"Nadira membuat kamu seperti ini."

"Tidak. Nadira membuat aku sadar aku sudah terlalu lama salah."

Laras menghapus air mata dengan kasar.

"Kalau suatu hari Kendra benar-benar terluka karena keputusanmu, jangan salahkan aku."

Arga menatapnya tajam. "Itu ancaman?"

Laras tersentak. "Bukan."

Mama Renata berkata dingin, "Bu Laras, sebaiknya Anda pulang."

Bima kembali bersama Kendra. Anak itu memegang kotak susu dan roti. Arga menahan diri untuk tidak membuat keributan di depan anak.

"Kendra," katanya pelan, "kalau kangen Om, kamu boleh bilang ke Om Bima. Om akan datang kalau bisa. Tapi jangan sedih kalau Om tidak selalu ada. Kendra anak yang kuat."

Kendra mengangguk kecil.

Laras membawa anaknya pergi.

Di dalam mobil, ia diam sepanjang jalan. Kendra menatap jendela.

"Mama," panggil anak itu pelan.

"Apa?"

"Aku boleh ketemu Dokter Nadira?"

Laras menginjak rem mendadak di lampu merah.

"Untuk apa?"

"Om Arga bilang Dokter Nadira baik. Aku mau minta maaf kalau aku pernah bilang dia jahat."

Laras menatap anaknya.

Kendra menunduk. "Boleh?"

Lampu hijau menyala. Mobil belakang membunyikan klakson.

Laras menjalankan mobil lagi.

"Tidak perlu. Dokter Nadira tidak suka kita."

"Tapi Om Arga suka."

Tangan Laras mencengkeram setir.

Malamnya, ia menatap Kendra yang tidur. Kata-kata Vania kembali terdengar.

Buat Arga ingat bahwa yang paling rapuh bukan Nadira. Tapi Kendra.

Laras menangis tanpa suara.

"Maaf, Sayang," bisiknya.

Ia tidak ingin melukai Kendra.

Ia hanya ingin Arga kembali.

Dan dalam pikiran Laras yang makin gelap, dua hal itu mulai terdengar seperti bisa berjalan bersamaan.

Ia mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Vania. Jarinya berhenti lama di atas layar. Di kamar sebelah, Kendra bergerak gelisah dalam tidur dan memanggil nama Arga, tapi kali ini bukan "Papa". Anak itu memanggil, "Om Arga."

Panggilan kecil itu membuat Laras menangis lagi.

Namun tangisnya tidak menghentikan tangannya mengetik.

Kalau aku melakukan ini, pastikan Arga datang.

Pesan itu terkirim sebelum Laras sempat berubah pikiran. Setelahnya, ia duduk di lantai kamar Kendra sampai pagi, memeluk lutut sendiri, meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja kalau Arga kembali berdiri di sisinya.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!