"Aku melepaskannya untukmu, karena menurutmu hanya kaulah yang pantas mendampinginya. Jika suatu hari nanti kau dan dia sedang menikmati waktu bermain dengan keluarga kecilmu, ingatlah... semuanya terjadi karena aku"
Cinta bukan hanya sebuah perasaan, itu adalah sebuah komitmen dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
"Assalamualaikum..." ucap Kira saat memasuki rumah yang kemudian dijawab oleh ayah dan bundanya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil nonton TV.
"Raksha ga mampir, Ra?" tanya bunda Tati.
"Enggak bun, dia langsung pulang"
"Tadi siang mau pergi kenapa langsung ngibrit aja? Biasanya salim dulu"
"Iya Yah, maaf. Soalnya buru-buru"
"Yaudah sana mandi, habis itu bantu bunda siapin makan malam ya"
Kira mengangguk, lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Dari lantai atas, Kira memandang ayah yang sedang asik menonton tv. Lalu pandangannya beralih pada bundanya yang tengah sibuk di dapur.
"Kenapa, Ra?" tanya Arka yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Eh, gapapa mas" jawab Kira dengan menoleh ke arah Arka lalu berjalan hendak menuju kamarnya.
Arka mencekal pergelangan tangan Kira, membuat gadis itu berhenti dan menoleh ke arahnya. "Kenapa sih? Wajahmu kayak lagi sedih gitu"
"Gapapa mas" jawab Kira sembari mencoba melepaskan cekalan tangan Arka.
"Kalo ada apa-apa, cerita sama mas"
Kira hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
🍀
Selesai makan malam bersama keluarganya, Kira bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak ikut berkumpul dengan anggota keluarganya yang menonton tv bersama. Perasaannya benar-benar kacau, berada di dekat mereka membuat Kira begitu kesusahan mengontrol emosi. Matanya kembali berkaca-kaca, sulit menerima kenyataan bahwa orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai keluarganya justru malah sebaliknya.
📩 Are you OK?
Pesan masuk dari Raksha membuyarkan lamunan Kira. Segera ia meraih ponselnya dan menjawab pesannya.
📨 Yep!
📩 Besok kita udah ga boleh ketemu,
mau cerita?
Kira terdiam beberapa saat, haruskah ia menceritakan permasalahan ini kepada Raksha? Bagaimana pun sebetar lagi Raksha akan menjadi suaminya, ia berhak tahu apa saja mengenai Kira. Tapi akhirnya Kira memilih untuk memendamnya seorang diri.
📨 Aku ga bisa cerita ke kamu
Sorry
📩 It's OK 😉
Tidurlah, can't wait to see you on our
wedding day 😍
📨 See you...
Kira menghela nafasnya, pikirannya kembali berkelana. Memikirkan hal-hal tentang pernikahannya. Bagaimana ia harus bersikap kepada Raksha? Apakah harus seperti pasangan menikah lainnya? Memikirkan hal itu benar-benar membuat Kira menjadi kacau. Ia segera bangun dari posisi tidurannya, lalu berjalan menuju lemari bajunya dan menarik koper di sebelah lemari. Ia akan mulai berkemas, karena setelah menikah nanti Kira akan diboyong untuk tinggal di rumah orangtua Raksha.
Tok... tok...
Suara ketukan pintu yang tak lama terbuka dengan menampilkan sosok bundanya yang muncul bersamaan dengan Kira menoleh.
"Udah mulai packing?" tanya bunda Tati.
Kira hanya menjawab dengan anggukan, tatapan dan tangannya terfokus untuk memilih baju yang akan ia bawa ke rumah Raksha. Kira merasa belum siap harus menatap wajah perempuan yang selama ini berusaha keras merawatnya.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya bunda Tati kembali sembari duduk di lantai di sebelah koper Kira.
"Kira enggak kenapa-napa kok bun"
"Tapi dari pulang pergi sama Raksha tadi kamu keliatan aneh. Kalian bertengkar?"
"Enggak bun, kita baik-baik aja"
"Atau ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?" selidik bunda Tati.
Kira menghentikan aktifitasnya, lalu terduduk di depan koper bersebelahan dengan bundanya.
"Kira cuma ngerasa...."
"Was-was soal pernikahan?"
Kira tertunduk. Hal itu memang menyita sebagian besar pikirannya beberapa bulan ini. Tapi sekarang, bukan hal itu yang membuatnya menjadi kacau.
"Bunda ngerti, ini semua terjadi begitu cepat. Usiamu bahkan masih sangat muda" bunda Tati menjeda perkataannya, tangan terulur untuk meraih tangan Kira.
"Ada orangtua yang melarang anaknya menikah saat anaknya itu masih belu lulus kuliah, tapi ada juga orangtua yang mengijinkannya. Ayah dan bunda adalah orangtua golongan pertama tadi, kita pengen kamu lulus kuliah dulu, lalu melihatmu meraih cita-cita yang kamu inginkan sejak kecil itu. Tapi semuanya berubah ketika orangtua Raksha datang kesini, memohon dengan sangat agar kami memberikan restu pada anaknya yang ingin segera menikahimu. Ayah sempet marah, dia bahkan udah menaruh curiga pada Raksha yang enggak-enggak. Tapi setelah kita pikirkan baik-baik, kita yakin bahwa hal tersebut tidak ada salahnya. Pernikahan akan menyelamatkanmu dan juga Raksha dari godaan setan yang bisa menjerumuskan kalian pada kubangan dosa"
Bunda Tati mengelus rambut Kira dan tersenyum padanya. "Pernikahan adalah sebuah jalinan suci yang akan menjadikan hidupmu lebih tentram dan damai, Ra. Jadikan perjalanan rumah tangga kalian nanti penuh dengan cinta dan kasih sayang, dan berbahagialah selamanya. Jangan sampai nantinya keputusan untuk menikahkan kalian menjadi suatu penyesalan seumur hidup ayah dan bunda"
"Bunda...."
"Udah... ini waktunya kamu packing kan? Mami Raksha keliatan seneng banget sama kamu, mereka pasti akan sangat menyayangimu. Jangan sedih ya, meskipun kamu udah nikah dan tinggal bersama Raksha, kamu masih bisa main kesini. Kamu tetaplah menjadi gadis kecil kami"
Kamu tetaplah menjadi gadis kecil kami.
Entah mengapa kata-kata itu membuat Kira menangis dipelukan wanita yang selama ini merawatnya. Wanita yang telah begitu baik mau merawat dan menjaganya meskipun Kira bukan anak kandungnya.
🍀
"Assalamualaikum... permisi" ucap Alika di depan rumah Kira.
Dua hari menjelang pernikahan, mami Ina meminta Alika dan dua orang dari butik untuk pergi ke rumah Kira. Tujuannya untuk mengantar baju yang akan dikenakan keluarga Kira.
"Waalaikumsalam..." jawab Arka dari dalam rumah.
Keduanya langsung bersikap kikuk. Sejak acara lamaran Kira beberapa bulan laku, keduanya tak lagi bertemu.
"Tante Tati ada? Aku... disuruh nganterin baju dari butik sama bawain kue" ucap Alika gugup.
"Masuklah, bunda ada di dapur" Arka menggeser tubuhnya, memberi jalan untuk Alika dan dua orang lainnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ehh, Alika udah dateng. Tante kira bakal dateng sore" kata bunda Tati yang tengah sibuk menyiapkan makan siang.
"Takut macet, tante. Oiya, ini tante Ina juga nitipin kue"
"Oohh... yaa Allah, bu Ina repot-repot amat"
"Tante masih sibuk?"
"Enggak, ini udah selesai kok" jawab bunda Tati sambil cuci tangan. "Arka, tolong panggilin ayah di balkon belakang. Kita ukur bajunya habis itu makan siang bareng"
Arka mengangguk, lalu berjalan melewati Alika dengan sedikit melirik ke arahnya. Seorang karyawan butik mulai membantu bunda Tati mencoba baju di ruang keluarga, sementara Alika dan seorang karyawan butik lainnya duduk di sofa sembari mengecek baju lainnya.
Tak berapa lama, ayah Bima dan Arka masuk ke dalam ruang keluarga. Seorang karyawan butik langsung berdiri menghampiri ayah Bima dengan membaju baju yang akan dikenakannya.
"Arka, kamu coba sekalian gih. Biar dibantuin Alika, kalo nungguin mbaknya nanti kelamaan. Kasian mereka" ucap bunda Tati.
Alika dan Arka menoleh ke arah bunda Tati secara bersamaan. Lalu keduanya saling bertatap muka untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Alika memutuskan mengalihkan pandangannya dan meraih baju yang akan dikenakan Arka.
"Biar aku bantu" ucap Alika dengan ragu.
Arka mengangguk pelan. Keduanya bahkan sama sekali tak saling menatap, benar-benar canggung.
"Eh, sorry" ucap Arka saat tangannya tak sengaja mengenai lengan Alika.
Alika hanya mengangguk pelan dan tersenyum.
"Yaelah, kaku amat mas. Padahal dulu aja nempel kak Alika mulu" kata Kira saat berjalan menuruni anak tangga.
Hal itu membuat Alika menjadi salah tingkah, sementara Arka melotot ke arahnya.
"Maksud kamu apa, Ra? Arka sama Alika udah saling kenal?" tanya bunda Tati penasaran.
"Bukan saling kenal lagi, bunda. Mereka dulu pacaran" jawab Kira dengan santai sambil tersenyum dan duduk di sofa dekat ayahnya.
Baiklah akan aq baca
Krn karya sebelumnya ceritanya bagus2 aq suka, semoga yg ini jg demikian..
h
..