Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Siang semakin dekat. Jarum jam di dinding perlahan bergerak menuju pukul dua belas.
Di lantai dua puluh...
Arga sudah tiga kali membuka dokumen yang sama. Tiga kali pula ia membaca halaman yang sama. Dan tiga kali juga pikirannya berakhir pada satu orang.
Calista.
Arga menghela napas panjang, lalu meletakkan pulpen. "Kenapa aku jadi seperti ini?"
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Biasanya, sebelum makan siang, ia akan menyelesaikan beberapa dokumen terlebih dahulu. Namun hari itu berbeda. Sejak pagi, pikirannya terasa tidak tenang. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena masalah perusahaan. Hanya karena seorang perempuan yang beberapa lantai di bawah sana.
Arga kembali melirik jam.
11.47.
Masih tiga belas menit.
Ia mengerutkan kening. "Kenapa aku menghitung?"
Terdengar ketukan di pintu.
Tok... tok...
"Masuk."
Dimas muncul sambil membawa tablet. "Pak, ada beberapa dokumen yang perlu—"
"Dim."
"Iya?"
"Makan siang."
Dimas terdiam. Kemudian perlahan tersenyum. "Sudah waktunya, Pak?"
"Belum."
Dimas melihat jam. "Masih tiga belas menit."
Arga langsung menatapnya.
Dimas menahan senyum. "Baik, Pak."
Arga berdecak. "Saya hanya bertanya."
"Iya."
"Jangan berpikir macam-macam."
"Saya belum berpikir apa-apa."
Arga menyipitkan mata.
Dimas akhirnya meletakkan tablet di meja. "Kalau begitu saya pergi dulu."
"Jangan."
Dimas berhenti.
Arga terlihat ragu. "Kalau... misalnya ada karyawan yang sedang mengerjakan laporan penting..." ucap Arga pelan.
Dimas menunggu.
"...dan belum makan siang, apakah sebaiknya diingatkan?"
Dimas langsung memahami arah pembicaraan itu. "Menurut saya, bagus pak jika mengingatkan.."
Arga mengangguk. "Baik."
Hening.
Dimas menatap atasannya.
Arga balik menatapnya. "Kenapa?"
"Dengan siapa saya harus mengingatkannya?"
Arga terdiam, beberapa detik, kemudian... "Calista."
Dimas langsung menundukkan kepala. Senyumnya hampir pecah. "Baik, Pak."
"Dan jangan bilang aku menyuruhmu."
Dimas mengangkat wajah. "Kenapa?"
Arga mengambil pulpen dan berpura-pura sibuk. "Karena... aku bisa mengingatkannya sendiri."
Dimas tersenyum lebar. "Baik, Pak." Ia pun keluar. Begitu pintu tertutup...
Arga mengembuskan napas lega. Namun beberapa detik kemudian... Ia sendiri berdiri. "Lebih baik aku yang turun."
Ia merapikan jasnya. Lalu keluar dari ruangan.
*
Di lantai administrasi...
Calista masih sibuk bekerja. Beberapa dokumen menumpuk di sisi laptopnya.
Seorang rekan kerja menghampiri. "Bu Calista, sudah mau makan?"
Calista melihat jam. "Oh..." Ia baru sadar sudah hampir pukul dua belas. "Sebentar lagi."
"Jangan lupa."
"Iya."
Rekan itu pergi.
Calista kembali menatap layar. Masih ada beberapa data yang harus diselesaikan. Ia berpikir untuk menyelesaikannya terlebih dahulu.
Namun tiba-tiba... Sebuah suara terdengar. "Belum makan?"
Calista mengangkat kepala.
Arga.
Perempuan itu langsung berdiri. "Pak Arga."
Arga mengangguk. "Sudah makan?"
Calista tersenyum kecil. "Belum, Pak."
Arga menatap laptopnya. "Kamu masih banyak pekerjaan?"
"Sedikit lagi."
Arga diam sejenak. "Kerjakan setelah makan." Ucap Arga tegas.
Calista tampak sedikit terkejut. "Masih ada waktu, Pak."
"Justru karena masih ada waktu."
Calista tidak langsung menjawab.
Arga memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Saya juga belum makan."
Calista mengangguk. "Kalau begitu Bapak makan saja dulu."
Arga terdiam.
Dimas yang kebetulan muncul dari ujung koridor langsung memperlambat langkah. Ia melihat Arga. Kemudian melihat Calista. Dalam hati ia langsung menghela napas. "Ini kesempatan, Pak..."
Arga akhirnya membuka suara. "Saya ingin makan di bawah."
Calista mengangguk sopan. "Silakan, Pak."
Arga kembali diam. Ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Namun kalimat yang sudah disusun di kepalanya tiba-tiba terasa sulit keluar. "Kalau kamu belum ada janji dengan siapa pun..."
Calista mengangkat wajah menatap pria item.
Arga melanjutkan, "Mau makan bersama?"
Calista membeku sesaat.
Dimas yang berdiri agak jauh langsung menoleh ke arah lain, pura-pura tidak mendengar.
Calista tampak bingung. "Maaf, Pak?"
Arga berdekhem canggung. "Saya hanya mengajak makan. Kebetulan Dimas hari ini keluar makan dengan pacarnya.."
"Oh..." Calista menundukkan kepala sebentar. Kemudian tersenyum. "Baik, Pak." Jawaban sederhana itu membuat wajah Arga terlihat jauh lebih santai. "Kalau begitu... ayo."
Calista segera menyimpan pekerjaannya. "Sebentar, Pak."
Arga mengangguk. Ia mundur beberapa langkah untuk memberi ruang.
Sementara itu, Dimas mendengus. "Kenapa saya yang jadi tumbal pak Arga?!"
Namun Arga sudah tidak peduli, ia tahu ada Dimas di ujung koridor. Tatapannya justru tertuju kepada Calista yang sedang merapikan meja.
Beberapa menit kemudian... Calista selesai membereskan dokumennya. "Sudah, Pak."
Arga mengangguk. "Kalau begitu kita pergi."
Mereka berjalan berdampingan menuju lift.
Dimas mengikuti dari belakang dengan langkah malas.
Arga menoleh. "Kamu tidak perlu ikut."
Dimas langsung mengangkat wajah. "Tadi katanya saya keluar makan dengan pacar."
Arga terdiam.
Calista menahan senyum kecil.
Dimas melanjutkan dengan wajah memelas. "Kalau begitu saya permisi pak."
Arga menghela napas. "Ya sudah."
Dimas langsung tersenyum. "Terima kasih, Pak."
Pintu lift terbuka.
Mereka bertiga masuk. Namun kali ini suasananya terasa sedikit berbeda.
Calista berdiri di tengah.
Arga di sebelah kanan.
Dimas di sebelah kiri.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.
Sampai Dimas akhirnya melirik Arga. CEO itu berdiri dengan wajah tenang. Namun telinganya terlihat sedikit merah. Dimas segera mengalihkan pandangan agar tidak tertawa.
Ting...
Pintu lift terbuka di lantai dasar. Mereka kemudian berjalan dan Dimas pergi keluar. sementara Arga dan Calista menuju restoran yang berada di dalam gedung perusahaan.
Restoran itu cukup luas dan eksklusif. Biasanya tempat tersebut digunakan untuk menjamu klien atau makan siang para eksekutif perusahaan. Begitu masuk... Seorang pelayan langsung menyambut.
"Selamat siang, Pak Arga."
Arga mengangguk. "Siang."
Pelayan mengantarkan mereka menuju sebuah meja di sudut ruangan.
Calista duduk dengan sopan.
Arga duduk di hadapannya.
Pelayan menyerahkan dua buku menu. "Silakan, Pak."
Arga mengambil satu.
Calista membuka menu perlahan. Ia melihat daftar makanan. Harganya membuat matanya sedikit membesar. Namun ia segera menutup keterkejutannya.
"Yang biasa saja," pikirnya. Ia tidak ingin memesan sesuatu yang terlalu mahal.
Arga memperhatikan. "Kamu mau makan apa?"
Calista mengangkat wajah. "Yang sederhana saja, Pak."
Arga mengernyit. "Kenapa?"
"Takut terlalu banyak."
Arga menggeleng. "Kita makan siang. Bukan sedang rapat."
Calista tersenyum kecil. "Saya pesan nasi dan lauk saja sudah cukup."
Arga menoleh kepada pelayan. "Kami pesan."
Pelayan segera mengambil catatan.
Arga mulai menyebutkan pesanan. "Nasi putih dua."
Calista mengangguk.
"Sup ayam dua."
"Baik, Pak."
"Salad."
"Satu?"
"Dua."
Calista langsung menatap Arga.
Dua?
Arga belum selesai. "Grilled chicken dua."
Calista mengangkat alis.
Arga melanjutkan. "Steak satu."
Calista langsung menatapnya. "Pak..."
Arga tidak peduli.
"Udang saus mentega."
Pelayan terus mencatat.
"Spaghetti."
"Pak, ini makan siang atau pesta?" gumam Calista.
Arga melirik tajam. "Belum selesai."
Calista langsung diam.
Arga kembali kepada pelayan. "Kentang goreng."
"Baik."
"Sup jamur."
Calista mulai melongo. Ia menatap satu per satu wajah mereka.
Namun Arga masih terus memesan. "Jus jeruk dua."
"Air mineral."
"Kopi."
"Dan..."
Arga menoleh kepada Calista. "Kamu mau minum apa?"
Calista masih tampak terkejut. "Saya... air putih saja, Pak."
Arga mengangguk. "Air putih satu."
Pelayan selesai mencatat. "Apakah ada tambahan lagi, Pak?"
Arga berpikir sebentar. "Cukup."
Pelayan itu pergi.
Calista masih memandang Arga. Kemudian ia bertanya pelan, "Pak..."
"Hm?"
"Ini semuanya untuk kita berdua?"
Arga mengangguk santai. "Iya."
Calista melongo. "Tapi... banyak sekali."
Arga mengangkat alis. "Kamu lapar."
Calista menunjuk meja yang masih kosong. "Pak, makanan sebanyak itu bisa untuk enam orang."
Arga menjawab datar, "Kalau tidak habis, bungkus."
Calista semakin tidak tahu harus berkata apa. Ia kembali melihat menu. "Padahal saya tadi hanya ingin nasi dan lauk."
Arga menatapnya. "Kamu terlalu sedikit makan."
Calista terdiam, ia mencoba memahami kata-kata pria itu.
Arga menatap Calista lagi. "Saya mau kamu sedikit berisi, mungkin lebih cantik."
Deg!!! Calista terkejut mendengarnya.