Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Belanja Bersama
Pasar pagi sudah ramai ketika Kirana dan Leon tiba.
Udara bercampur antara aroma cabai segar, ikan, daun pisang, gorengan, dan tanah basah sisa hujan. Kirana memakai kemeja sederhana dan celana panjang, rambutnya diikat rendah. Leon membawa tas belanja kain dengan wajah terlalu serius untuk seseorang yang hendak membeli tomat.
"Jangan menatap sayur seperti sedang memilih saham," kata Kirana.
Leon menunduk ke keranjang buncis. "Aku memilih yang terbaik."
"Itu buncis."
"Tetap bisa dipilih dengan standar."
Kirana menahan senyum dan mengambil alih. Ia memilih sayur dengan cepat, menawar secukupnya, dan berbicara dengan pedagang seperti sudah biasa. Leon memperhatikan di sampingnya. Di ruang rapat, ia biasa menguasai situasi. Di pasar, Kirana bergerak jauh lebih luwes daripada dirinya.
"Berapa, Bu?" tanya Kirana.
"Dua puluh ribu."
"Kalau ambil cabai sekalian, tiga puluh?"
Pedagang tertawa. "Cantik-cantik galak."
"Bukan galak, Bu. Hemat."
Leon menyerahkan uang sebelum Kirana sempat membuka dompet. Kirana langsung menatapnya.
"Aku catat."
"Aku belum protes."
"Wajahmu sudah."
Leon menerima cabai dan buncis dengan patuh.
Mereka berjalan ke bagian ayam. Kirana memilih potongan yang cocok untuk ayam kecap, lalu mengambil tahu dari pedagang langganan Ibu Yustin yang katanya paling segar. Untuk buah tangan, ia berputar lebih lama. Apel terlalu formal, jeruk terlalu biasa, anggur terlalu mahal, kue basah takut cepat rusak.
Leon sempat menunjuk satu kotak buah impor yang harganya membuat Kirana langsung menarik tangannya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena kalau aku membawa itu, ibumu akan tahu ini bukan dariku."
"Dia tidak akan mempermasalahkan."
"Aku yang mempermasalahkan." Kirana menatap deretan buah itu, lalu menggeleng. "Aku tidak mau datang membawa sesuatu yang terlihat seperti aku berusaha membeli penerimaan. Kalau dia mau menerimaku, biar dengan kue yang sanggup kubeli."
Leon tidak menjawab beberapa detik. Lalu ia menurunkan tangan dan berjalan mengikutinya.
"Baik. Kita cari yang dari kamu."
Kirana tidak melihat wajahnya, tetapi nada itu membuat langkahnya sedikit lebih ringan.
"Kita bawa apa?" tanya Leon.
"Jangan tanya aku dengan nada seolah ini keputusan negara."
"Bagiku penting."
Kirana meliriknya. "Kamu gugup?"
"Tidak."
"Kamu memilih buncis dengan wajah seperti akan menandatangani merger."
"Aku hanya fokus."
"Berarti gugup."
Leon diam.
Kirana berhenti di depan penjual kue tradisional. Ada kue lapis, klepon, lemper, dan onde-onde yang masih hangat. Ia mengingat Ibu Yustin.
"Ibumu suka kue tradisional?"
"Suka."
"Adikmu?"
"Nadine suka apa pun yang menurutnya tidak boleh dimakan terlalu banyak."
"Itu tidak membantu."
"Kue lapis dan onde-onde."
"Akhirnya jawaban."
Mereka membeli dua kotak kue. Leon mengambilnya, tetapi Kirana menahan. "Biar aku yang bayar buah tangan."
"Kirana."
"Ini untuk ibumu. Aku ingin membawanya dengan uangku."
Leon melihat kesungguhan di wajahnya dan mundur. "Baik."
Kirana membayar dengan uang hasil kerja beberapa hari. Jumlahnya tidak besar, tetapi saat menerima kotak kue itu, ia merasa seperti memegang sesuatu yang benar-benar miliknya.
Di tengah pasar, seorang ibu tua penjual bunga memanggil mereka. "Mas, beli bunga untuk istrinya. Baru nikah, ya?"
Kirana langsung kaku.
Leon menatapnya. "Kelihatan?"
"Kelihatan dari cara Mas pegang belanjaannya. Takut dimarahi."
Kirana tidak bisa menahan tawa.
Leon membeli seikat kecil melati dan mawar putih. Kirana memprotes karena itu tidak ada di daftar belanja, tetapi ia tetap menerima ketika Leon menyerahkannya.
"Untuk meja makan," katanya.
"Bukan untuk aku?"
"Untuk meja makan yang dilihat kamu."
"Jawabanmu makin licin."
"Aku belajar hemat kata."
Perjalanan pulang terasa lebih ringan daripada yang Kirana bayangkan. Mereka naik motor perlahan karena membawa banyak belanja. Angin pagi menyentuh wajahnya, dan untuk beberapa menit, Kirana lupa bahwa nanti sore ia harus bertemu ibu mertua yang mungkin mengetahui masa lalunya.
Di apartemen, mereka langsung membagi tugas. Leon membersihkan ayam sambil menonton ulang video resep. Kirana mencuci sayur, menyusun kue di piring, dan memotong bunga untuk vas kecil yang biasanya kosong.
"Jangan terlalu banyak kecap," kata Kirana dari meja.
"Aku mengikuti resep."
"Resep internet kadang mengkhianati."
"Kamu percaya resep atau trauma sosial?"
"Dua-duanya."
Leon tertawa pelan.
Rumah kecil itu berubah sibuk. Dapur panas, aroma bawang mulai naik, dan Kirana beberapa kali merebut spatula ketika Leon hampir membuat bumbu terlalu gosong. Mereka bertengkar kecil soal garam, lalu sepakat mencicipi sebelum menambah apa pun. Di sela semua itu, ponsel Kirana menerima kabar dari Bu Rahayu bahwa Nio sedang duduk di teras dan makan pisang.
Ada momen ketika Leon berdiri terlalu dekat di belakangnya untuk mengambil kecap dari rak atas. Kirana merasakan bahunya hampir menyentuh dada pria itu dan langsung berpura-pura sangat sibuk mencuci cabai. Leon tidak menggodanya. Ia hanya mengambil botol, mundur, lalu berkata, "Terima kasih sudah mengawasi garam."
"Itu bukan pengawasan. Itu penyelamatan."
"Aku terima diselamatkan."
Kalimat sederhana itu membuat Kirana diam sebentar. Dulu ia selalu menjadi orang yang harus diselamatkan dalam cerita orang lain, dan itu pun sering dengan harga mahal. Mendengar Leon menerima diselamatkan untuk hal sekecil garam membuat hubungan mereka terasa sedikit lebih seimbang.
Kirana menghela napas lega.
"Nio baik?" tanya Leon.
"Iya. Dia tanya apakah aku sudah pakai gaun."
Leon menoleh. "Kamu sedih?"
"Sedikit." Kirana mengaduk sayur. "Tapi sekarang aku lebih takut ayam kecapmu."
"Pengalihan yang tajam."
"Perlu."
Menjelang siang, makanan hampir selesai. Kirana masuk kamar untuk mengganti pakaian. Ia memilih blus krem sederhana dan rok gelap, lalu mengikat rambut lebih rapi. Di cermin, ia melihat wajah yang masih punya bekas lelah, tetapi tidak lagi sekosong hari pertama keluar dari penjara.
Saat ia keluar, Leon sedang menata piring.
Ia berhenti menatapnya.
"Apa salah?" tanya Kirana cepat.
"Tidak. Kamu terlihat baik."
"Baik seperti sopan, atau baik seperti tidak mempermalukanmu?"
"Baik seperti Kirana."
Jawaban itu membuatnya tidak bisa membalas.
Bel pintu berbunyi.
Kirana memegang kotak kue di meja secara refleks. "Bukankah mereka datang sore?"
Leon melihat jam. Wajahnya berubah.
Bel berbunyi lagi, lebih ceria.
Dari balik pintu terdengar suara perempuan muda. "Kak, jangan pura-pura tidak di rumah. Aku tahu kamu memasak. Baunya sampai lorong."
Leon memejamkan mata sebentar.
Kirana berbisik, "Itu adikmu?"
"Sepertinya."
Suara lain yang lebih tenang menyusul, "Nadine, jangan berteriak di depan pintu orang."
Kirana berdiri kaku.
Leon berjalan ke pintu. Sebelum membukanya, ia menoleh kepada Kirana dengan tatapan minta maaf.
"Mereka datang lebih awal."
Pintu terbuka.
Yvonne berdiri dengan senyum lembut. Di sampingnya, Nadine mengangkat tangan, matanya langsung berkilat melihat celemek di tubuh Nathaniel.
"Wah," kata Nadine. "Jadi rumor itu benar. Kakakku bisa memasak."
Kirana menggenggam kotak kue lebih erat, sadar bahwa ujian pertamanya dimulai sebelum ia selesai menarik napas.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔