NovelToon NovelToon
HARAPAN DALAM AIR MATA

HARAPAN DALAM AIR MATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Keluarga & Kasih Sayang / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Mengubah Takdir / Berbaikan
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arya wijaya

lahir sebagai wanita bukanlah pilihan seseorang, menjadi kuat juga bukanlah pilihan seorang wanita, kebahagiaan adalah harapan bagi seorang anak perempuan yang di dipersunting lelaki pilihan hati.
kisah ini menceritakan kehidupan rumah tangga empat saudara perempuan, yang punya banyak impian menikah adalah kebahagiaan, namun kisah pernikahan jauh dari ekspektasi air mata selalu hadir dalam setiap permasalahan, jatuh bangun ke empat saudara ini mempertahankan rumah tangganya, ada begitu banyak harapan dalam setiap air mata yang menetes dalam doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANGIS SEDIH BERSAUDARA

Begitu juga dengan Novi, walau di tengah malam yang dingin seperti ini, tubuhnya belum benar-benar sembuh total, apalagi Ia tadi sempat berada di luar rumah cukup lama, namun demi sang Ibu, Novi pergi meninggalkan Erwin yang tengah tertidur lelap.

Irna sungguh khawatir dengan perkataan Kakaknya, Ia pun membangunkan suaminya untuk mengantarnya menemui sang ibu.

"Malam-malam begini Ami"

"Ibu sekarat Abi, itu kata Kak Mai"

"Astagfirullah, ya sudah Kita siap-siap, Kamu jangan lupa wudhu ya, Kita kan belum mandi wajib"

"Iya Abi Aku mengerti"

Satu persatu Putri-putri Bu Nasya datang, Asri telah sampai duluan, sebenarnya Ia khawatir meninggalkan Rian di rumah sendiri, walau ada suaminya di sana, tapi Fery sering tak menghiraukan tangisan anaknya.

"Semoga Rian gak bangun ya Allah, jagalah Anakku sebentar saja"

Doa Asri meminta pada Tuhan dalam hatinya.

"Kak Asri"

Novi bertemu Asri di lorong Rumah Sakit.

"Novi Kamu sendiri, Erwin gak ikut?"

"Tidak, Dia tidur pulas"

"Sama.. Mas Ferry juga tidur pulas"

Akhirnya Mereka sampai, dan Mereka langsung menemui sang Ibu.

"Ibu..."

Bu Nasya menoleh dengn tubuh yang lemah, lalu tersenyum saat melihat kedatangan kedua putrinya.

"Asri, Novi, sini Nak"

"Ibu Kenapa lagi?"

"Ibu sudah gak kuat rasanya, Ibu ingin bertemu kalian semua, ibu ingin menyampaikan sesuatu"

"Sesuatu Apa Bu?"

Tanya Mai dengan perasaan yang cemas.

"Assalamualaikum"

Datanglah Irna bersama Arif.

"Ibu ya Allah, Ibu kenapa?"

Tanya Irna menangis kecil sambil menggenggam erat tangan Bu Nasya.

"Alhamdulillah, Kalian mau datang semua disini, dengar baik-baik Putri-putri Ibu yang cantik"

Semua merasa tegang dengan apa yang ingin Ibu Nasya sampaikan.

"Mai sari Kamu adalah Kakak tertua disini, Ibu ingin Kamu menjaga adik-adik Mu, jika kelak Ibu sudah tiada"

Mai semakin bersedih ketika mendengar perkataan Bu Nasya.

"Bu jangan bicara seperti itu"

Lalu Bu Nasya melanjutkan lagi ucapannya.

"Asri, di antara anak ibu, Kamu yang jarang sakit, dan paling kuat, Ibu ingin Kamu jadi garda terdepan menyelamatkan adik-adik Mu, jika terjadi sesuatu di kemudian hari"

Asri tak menjawab, hatinya bersedih, Air matanya menetes dengn deras, mendengar pesan dari sang Ibu.

"Novi dan Irna, Kalian jangan pernah membantah apa yang di katakan oleh Kakak-kakak Mu, jika itu demi kebaikan, maka lakukanlah, namun jika itu salah, nasihati Kakak-kakak Mu"

Irna dan Novi menangis tersedu-sedu, tak lama nafas Bu Nasya kini pendek, sesak nafas mulai terasa di dadanya.

Semua yang melihat keadaan Bu Nasya, ikut merasakan sesak di dadanya.

"Ibu, Aku hanya ingin menuntun Ibu, Ibu masih bisa kan mengucap lafal Allah"

Bu Nasya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lemah.

"Ibu ikuti Irna ya"

Irna menuntun Bu nasya mengucapkan dua kalimat syahadat, Bu Nasya mengikuti perkataan Irna dengn suara pelan walau terputus-putus dalam berucap, namun Bu Nasya menyelesaikan kalimat itu dengan sempurna.

"Ibu sayang Kalian semua"

Itulah kalimat terakhir yang Bu Nasya ucapkan, kini Bu Nasya menutup matanya dengan perlahan seakan ruh nya telah tercabut dari dalam tubuh, nafas terakhir telah berhembus, kini jiwanya telah pergi ke Rahmatullah, meninggalkan anak-anaknya di dunia.

"Ibu...."

Semua berucap memanggil sang ibu dengan teriakan penuh kesedihan.

"Ibu jangan pergi tinggalkan Mai Bu, Mai baru saja disini Bu, Mai masih rindu Ibu"

Asri tak dapat berkata apapun, Ia terjatuh bersandar di pintu memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, tak lama Ia mengusap-usap air matanya yang jatuh berderai.

Asri hanya melihat sang ibu dari kejauhan dengan tatapan penuh rasa kehilangan. Tangis Mereka semua pecah sudah, Mereka semua patah hati telah kehilangan sosok orangtua untuk kedua kalinya.

Arif memeluk erat sang istri memberikan sandaran atas musibah ini, Ia pun merasa kehilangan sosok ibu, karena Arif juga sangat menyayangi ibu mertuanya.

Dan di tengah malam Rian terbangun Ia menangis mencari sang ibu.

"Bunda.. Bunda..."

Ferry yang baru saja tertidur tadi, kini merasa terganggu dengan tangisan Rian.

"Ayah.. Bunda..."

Rian menangis dihadapan Ferry, mendengar suara tangisnya semakin kencang membuat Ferry merasa kesal.

"Aduh.. Rian, bisa tidak berhenti menangis, bunda sedang pergi"

"Bunda..."

Rian yang usianya masih dua tahun Ia hanya bisa menyebut kata bunda dan ayah saja.

"Asri.. Lama sekali sih disana"

Ferry mulai kesal menunggu kepulangan istrinya, Ia pun dengan segara menelpon sang istri.

Asri yang sedang bersedih dan berduka, ketika melihat panggilan dari suaminya Ia pun teringat Rian.

"Astagfirullah, Ayah menelpon Aku, pasti Rian terbangun"

Ujarnya berkata pada dirinya sendiri.

"Halo"

"Kamu kapan pulang, cepatlah pulang Rian menangis"

"Iya Ayah, tunggu sebentar lagi, Ibu..."

Ferry mendengar suara Asri yang mendengung, Ia pun bertanya,

"Kamu menangis?"

"Ibu Yah, Ibu sudah meninggal"

"Apa...?"

Ferry sangat kaget mendengar berita ini, Ia tak menyangka ibu mertuanya akan pergi secepat ini.

"Bunda minta tolong Ayah, jagalah Rian sebentar, Kami harus mengurus jenazah ibu disini"

Mau tidak mau, Ferry kali ini mengalah tak berdebat dengan Asri, sepertinya Ferry masih punya hati nurani.

"Iya baiklah, Aku ikut berduka dengan kematian Ibu"

Asri tak menjawab, Ia langsung menutup telepon tersebut.

"Aduh, harus mengasuh deh, sini Rian jangan menangis terus ya, bunda sebentar lagi pulang"

Ferry pun menggendong Rian, dan untungnya Rian seolah menuruti ucapan ayahnya.

Ferry memandangi wajah Putranya, bahkan ini pertama kalinya Ia menggendong anaknya, Ia pun menjadi terharu ketika melihat wajah polos dan imutnya Rian.

"Maafkan Ayah ya, Ayah tidak pernah mengurus Rian"

Ferry pun menimang sang anak, dengan kedua tangannya hingga Rian tertidur kembali.

"Aduh.. pegal sekali tangan Aku"

Seketika Ferry teringat keluh kesah sang istri yang meminta di bantu dalam mengurus rumah dan anak.

"Jadi seperti ini ya pantas saja, Asri selalu mengeluh"

Apakah momen ini akan merubah sikap dan sifat Ferry terhadap Asri.

Jasad Bu Nasya kini sudah di mandikan, Mai meminta pada supir ambulance untuk segera membawa ibunya pulang.

Dan ketika sampai di rumah Bu Nasya, jasad Bu Nasya di letakan di ruang tamu, Azra anak sulung Mai mendekati dan bertanya,

"Mah...Nenek kenapa Mah, kok di tutupi kain?"

"Nenek sudah meninggal Azra"

Azra kaget dan Ia terus memandangi Neneknya dengn rasa bersedih, lalu Hani dan Rina pun bertanya pada Azra.

"Kakak meninggal artinya apa?"

"Meninggal Artinya tidak hidup lagi dek, Nenek akan segara di kubur"

"Jadi Nenek gak bisa ngomong lagi ya Kak?"

Tanya Rina yang masih belum mengerti.

"Iya, Nenek sekarang sudah tidak bisa apa-apa, Rina dan Hani doakan Nenek ya supaya Nenek bisa dekat sama Allah"

"Iya kak"

Ucap bersamaan Rina dan Hani.

Waktu mulai memasuki subuh, semua orang melaksanakan shalat subuh bersama, sekaligus melakukan shalat jenazah Bu Nasya.

Erwin pun terbangun dari tidurnya, namun Ia tak melihat Novi di sampingnya.

"Kemana lagi Dia?, Novi...."

Panggil Erwin dengan suara lantang.

"Novi..."

Panggil sekali lagi, namun Novi tak muncul juga.

"Kebiasaan!!"

Erwin turun dari ranjangnya, dan berjalan keluar mencari Novi, namun Ia tak nampak juga di sudut ruangan manapun, Erwin langsung menelepon sang istri.

Dan ketika baru saja selesai melakukan shalat jenazah, terdengar suara dering panggilan masuk dari handphone Novi.

"Halo"

"Heh Kamu dimana?"

"Maaf A, Aku sekarang di rumah Ibu"

"Apa... Di rumah Ibu, aduh ngapain lagi sih, sudahlah cepat pulang, Aku ini mau berangkat kerja satu jam lagi"

"Iya Aku tahu A, tapi Aku harus mengurus jenazah ibu A"

"Apa...?"

Erwin kaget bukan main saat Novi berkata seperti itu.

"Ibu Kamu meninggal?"

"Iya A, tolonglah A biarkan Aku disini, membantu yang lain"

Erwin terdiam, sebenarnya Ia merasa ikut berduka namun mulutnya sangat susah untuk mengatakan berbelasungkawa.

"Baiklah jika Kamu mau disitu, Aku siap-siap sendiri"

"A...?"

"Apa lagi?"

"Apa Kamu tidak mau kesini?"

"Aku kan harus kerja Novi, sudahlah lagi pula banyak orang kan disitu yang membantu"

Novi benar-benar tidak mengerti mengapa suaminya seperti tidak perduli dengan keluarganya, hingga dalam hatinya berkata,

"Apakah Aku salah mencari pasangan, kenapa Dia tidak seperti menyayangi Aku dengan tulus"

"Hey sudah ya"

Telepon pun langsung di akhiri Erwin tanpa mendengar jawaban Novi.

Novi pun menangis lagi, baru saja tangisnya berhenti ketika melaksanakan shalat jenazah kini Ia harus menangis lagi karena suaminya tidak pernah memperdulikan dirinya, sekan Ia menyesal telah memilih Erwin sebagai suaminya.

"Novi Kamu kenapa?"

"Kakak"

Novi langsung memeluk sang Kakak, Asri pun bertanya ada apa dengan Novi.

Mai dan Irna melihat pelukan itu dari kejauhan, Mereka pun mendekati saudarinya.

"Kalian kenapa?"

Tanya Mai dan Irna dengan bersamaan.

"Tidak tahu Novi menangis dan memeluk Aku begitu saja"

"Aku..."

"Mungkin saja Kak Novi bersedih karena kepergian ibu"

"Bukan itu Irna, bukan itu Kak"

Lalu Mai berusaha bertanya pada sang adik apa yang menyebabkan Ia menangis selain menangisi kepergian ibunya.

1
Lita Pujiastuti
tinggalkan Erwin, Nov...
Lita Pujiastuti
Kenapa laki² hanya menuruti nafsu saja. Semoga pd kena HIV...biar tahu rasa
Lita Pujiastuti
walau kepepet butuh biaya utk ibunya. Tapi caranya gk gitu jg, Citra
Lita Pujiastuti
Mbak, kok tidak update²?...saya tunggu lhooo...
Arya wijaya: makasih bnyk ya mbak sudah mampir di di cerita novel ku🥰
total 2 replies
Lita Pujiastuti
Erwin mmg harus segera ditinggalkan..biar tahu rasa
Lita Pujiastuti
Payah kamu, Win. Tunggu saja, suatu saat Novi akan meninggalkanmu jika kamu masih lanjut dg Citra
Lita Pujiastuti
ansknya gk ada masa gk lihat
Lita Pujiastuti
pil kuning yg dosisnya dikurangi...
Erwin, hrsnya terus terang dg Novi ttg Citra. dan janji gk akan mengulang. Agar video itu tdk dijadikan Citra sbg alat utk mengancam
Lita Pujiastuti
Istiqomah, Erwin....awas, bisa kehilangan Novi klo kamu kambuh
Lita Pujiastuti
Alhamdulillah, ada jln terang utk Mai
Lita Pujiastuti
Hasan paling menyebalkan diantara menantu yg lain...licik
Lita Pujiastuti
Jauhi Citra, Win. Dia biang kerok semua masalahmu...jgn mau dibodohi lg dg obat²an dan jamu itu..
Lita Pujiastuti
semoga semua kakak beradik itu kisahnya berakhir bahagia
Lita Pujiastuti
Erwin ra nggenah... istri buat jaminan utang...
Lita Pujiastuti
,si Feey...pelit tryt
Lita Pujiastuti
Ceritanya bagus, problematik kalangan menengah bawah...bukan CEO seperti kisah kebanyakan di noveltoon..
Lita Pujiastuti
Mau aja, Mai...
Lita Pujiastuti
Erwin harus ke dokter dan mulai rehabilitasi. sepertinya dia konsumsi. narkoba
Lita Pujiastuti
Kerja lagi aja, Asri ..
Lita Pujiastuti
Kenapa punya suami gk ada yg bener, sih....ini jln terbaik cerai. Walau dlm agama sebenarnya harus dihindari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!