***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Naya tengah mengajari Anak anaknya belajar dan mengerjakan pr, memang sudah menjadi kebiasaan Naya jika Ia pulang kerumah lebih awal pasti anak anaknya akan meminta nya menemani belajar.
"Harusnya ini ditambah sama yang ini sayang." kata Naya menjelaskan pada Nina, anaknya yang masih kelas 1 sd.
"Oh gitu ya Bund, berarti jadinya 5 dong." balas Nina dengan raut serius.
"Iya bener sayang, uuhh pinter banget anak Bunda ini." puji Naya membuat Nina senang.
"Cuma kayak gitu aja harus diajarin sama Bunda, kayak kakak dong bisa ngerjain sendiri." ejek Faisal kakak Nina yang lebih tua 1tahun dari Nina, Faisal Kelas 2 sd.
"Bunda Kakak ngejekin Nina." adu Nina pada Naya sambil memanyunkan bibirnya.
"Faisal sayang, nggak boleh gitu dong sama adeknya." kata Naya.
"Kan bercanda doang bund." kekeh Faisal.
"Bunda, kak Faisal juga suka nakal sama Kiki." adu Kiki yang seumuran dengan Nina.
"Bener Faisal?" tanya Naya dengan raut wajah pura pura marah.
"Enggak kok Bund, kan bercanda doang." jawab Faisal tersenyum cengengesan.
"Masa kalau bercanda pipi Kiki juga suka dicubitin." adu Kiki lagi.
"Ya ampun, bisa bisa aku disini nggak jadi belajar malah dimarahin sama Bunda, ya udah lah aku pindah bareng kak Rio aja." kata Faisal kesal lalu bergabung Dimeja para anak laki laki. Naya melihat tingkah Faisal hanya terkekeh.
"Ngapain sih bocah pindah sini?" tanya Tama kesal melihat Faisal duduk disampingnya karena Faisal suka usil dan menganggu para kakak nya belajar.
Haikal, Tama , raffa, dan Rama kelas 3 sd sedangkan Rio kelas 4, anak paling Tua dipanti Naya.
"Disana diusir, disini diusir, Bunda Faisal bobok aja ya nggak usah belajar." celetuk Faisal yang kesal hingga menimbulkan tawa semua orang yang disana.
Anna sedang duduk di depan panti, disaat anak anak belajar dengan Naya, Ia lebih memilih duduk didepan panti sambil menghirup udara malam.
Anna yang sedang main game dengan ponselnya tiba tiba harus berhenti karena ada suara mobil yang berhenti didepan panti.
Mobil suv hitam yang Anna sendiri sudah tau milik siapa itu.
Raka dan Nathan sopirnya itu kembali datang, untuk apa lagi? apakah semalam sudah menculik Naya semalaman masih kurang puas? batin Anna kesal sendiri.
"Ngapain lagi kalian kesini? kayaknya kalian udah nggak ada urusan sama panti ini!" kata Anna ketus.
"Aku emang nggak ada urusan sama kamu, tapi aku ada urusan sama Naya." kata Raka santai.
"Naya nggak mau ketemu kamu, jadi lebih baik kamu pergi." usir Anna yang langsung membuat Naya terkekeh.
"Yakin mau ngusir aku?" kekeh Raka membuat Anna binggung.
"Kamu kasih tau dia deh." perintah Raka pada Nathan yang langsung diangguki Nathan.
"Mbak tau kan kalau Non Naya nggak mau mbak Anna kerja jadi pelacur lagi?" tanya Nathan tiba tiba membuat Anna terkejut, darimana Nathan dan Raka bisa tau.
"Dan kalau Mbak Anna mempersulit Tuan saya untuk bertemu dengan Non Naya, saya pastikan Video ini akan sampai ditangan Non Naya, dan mbak tau apa artinya jika Non Naya tau semua ini? pasti Non Naya akan kecewa berat dan mungkin tidak akan mempercayai mbak Anna lagi." kata Nathan memperlihatkan sebuah video diponsel Nathan membuat Anna tak percaya Raka dan Nathan memiliki Video itu.
''Brengsek! kalian ngancem Gue!" teriak Anna marah sedangkan Raka hanya tertawa puas.
"Terserah mbak sih, kalau nggak bisa diajak kerjasama kita juga bisa nekat mbak." kata Nathan santai.
"Bener bener gila kalian berdua!" Anna masih terlihat marah.
Raka tak mengubris kekesalan Anna dan langsung saja masuk, Anna pun hanya diam saja karena jika Ia melawan pasti Raka akan memberikan video itu pada Naya, sungguh Anna tak ingin Naya tau dan kecewa padanya.
Raka memasuki panti, melihat Naya yang sedang asik mengajari belajar hingga tak melihat Raka datang.
"Om Raka.." panggil Rio yang melihat Raka didepan pintu.
Seketika Naya dan Anak anak menatap kearah Raka.
"Halo anak anak, kalian sedang belajar ya?" tanya Raka pada semua anak anak panti.
"Iya Om, om mau ngajarin juga?" tanya Raffa.
"Boleh deh, sini Om bantuin kalian belajar." kata Raka yang kini sudah duduk dan membaur dimeja Rio.
Naya hanya menatap Raka dingin, lalu melanjutkan mengajar para anak perempuan.
Dimeja Rio semua anak laki laki sudah terlihat akrab dengan Raka, bahkan mereka tak canggung untuk bertanya pada Raka.
Naya sesekali melirik kearah Raka yang terlihat Fokus mengajari anak panti, bahkan sesekali Raka terlihat mengelus rambut sambil memuji jika apa yang Ia tanyakan bisa dijawab oleh para anak panti.
Melihat Raka seperti itu membuat Naya sedikit adem, Naya tak menyangka Raka bisa akrab dengan anak anaknya. Namun tentu itu semua belum bisa menyembuhkan rasa sakit dan kecewa Naya yang telah Raka buat untuknya.
"Aku juga mau dong diajarin sama om ganteng." kata Mely yang semeja dengan Naya.
"Oh oke, Om kesitu yaa." kata Raka langsung duduk disamping Naya membuat Naya melotot tak percaya.
"Kamu mau diajarin yang mana?" tanya Raka pada Mely tak mengubris Naya yang hendak protes disampingnya.
"Ini Om." Mely memperlihatkan bukunya pada Raka.
"Oh ini gampang, coba ngitungnya gini pasti bakalan cepet ketemu." kata Raka menjelaskan pada Mely yang juga kelas 2 sd.
"Coba Giliran Mely.'' kata Mely mencoba mengerjakan.
''Nah ketemu kan jawaban nya?" kata Raka yang membuat Mely girang.
"Ih iya Om ketemu, ternyata gampang ya kalau kayak gitu ngerjain nya?" kata Mely senang.
"Kan kamu yang pinter." puji Raka.
Tanpa Naya sadari Ia tersenyum melihat Raka yang begitu sayang pada anak anaknya hingga tiba tiba Raka melihat kearahnya yang tersenyum membuat Naya mengalihkan pandangan dan kembali sibuk dengan bukunya.
"Bunda, Om, kita udah selesai." kata Anak anak.
"Ya udah sekarang kalian gosok gigi, cuci tangan, cuci kaki trus tidur biar besok nggak kesiangan." kata Naya.
"Iya Bunda," jawab Anak anak serentak.
"Duluan ya Om." pamit anak anak pada Raka.
Raka hanya mengangguk, Anak anak pun berjalan memasuki kamar masing masing.
Kini tinggal Raka dan Naya yang masih duduk disana. Naya sedikit tak nyaman, celinggukan mencari Anna yang tak terlihat.
"Ternyata anak anak disini pinter pinter ya." kata Raka.
"Hmm, apa kau tidak pulang?" tanya Naya.
"Aku bahkan belum menemuimu, tapi kau sudah mengusirku." kata Raka.
"Aku sudah mengantuk." balas Naya.
"Baiklah jika memang ingin tidur." kata Raka memberikan jalan pada Naya untuk lewat.
Naya segera berjalan menuju kamarnya, tak peduli Raka pulang atau tidak yang penting Ia bisa pergi dari hadapan Raka.
Namun Raka tetaplah Raka..
Saat Naya hendak menutup pintu kamar tiba tiba Raka mendorong pintu dan menerobos masuk lalu menguncinya.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Naya.
Raka segera membegap bibir Naya.
"Diamlah sayang, atau anak anak akan kesini dan melihat kita berdua dikamar." kata Raka tersenyum menyerigai.