NovelToon NovelToon
Dalam Pelukan Dosa

Dalam Pelukan Dosa

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / One Night Stand / Romantis / Hamil di luar nikah / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”

Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.

Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?


Update hari jumat, sabtu, dan minggu!

Happy Reading, Guys

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 - Latar Belakang

Alana baru saja selesai sarapan dengan Rayyan dan Ira. Kemudian, dia membantu Ira membereskan piring kotor dan membawanya ke wastafel untuk Ira cuci.

“Lana bantuin cuci piring, Bun,” tawar Alana.

Ira mengulas senyum ramah. “Gak usah, Sayang. Ini biar Bunda aja. Nanti kamu bisa melakukan ini sepuasnya setelah menikah.”

Alana mengangguk pelan, menuruti ucapan Ira. Di meja makan, Rayyan masih termenung. Dalam otaknya terbesit untuk pergi ke makam Risma untuk meminta izin padanya bahwa Rayyan besok akan menikah.

“Na, ikut gue yuk!” ajak Rayyan. “Bunda juga ya.”

Ira menoleh sekilas. “Kemana?” tanya Ira penasaran.

“Jenguk mama.”

Alana dibuat heran dengan perkataan Rayyan. Dia mengerutkan kening dan menatap Rayyan heran. Alana menatap Rayyan dan Ira bergantian, tapi reaksi mereka biasa saja seperti itu bukan sesuatu hal yang besar.

“Bunda gak bisa, Ray. Bunda kan harus menyiapkan pernikahan kalian untuk besok,” ucap Ira. “Kamu sama Alana aja.”

Rayyan sedikit kecewa dengan jawaban Ira. Bukan apa-apa, hanya saja, pasti akan canggung jika hanya berdua dengan Alana. Lagipula, Alana pasti akan bertanya-tanya tentang hal ini. Apakah Rayyan sanggup untuk menjelaskan semua yang terjadi. Namun, Rayyan mengangguk mengiyakan.

“Kemana, Bun?” tanya Alana penasaran pada Ira.

“Udah, kamu ikut Rayyan aja ya.”

Alana mengangguk pelan.

“Lo siap-siap dulu, Na. Abis ini kita pergi,” ucap Rayyan pada Alana.

Alana hanya mengangguk walaupun penasaran. Alana menuruti ucapan Rayyan. Dia masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap, tapi Rayyan ikut masuk ke kamar dengan membawa pakaian hitam.

“Ini, Na, lo pakai ini.”

Alana yang tidak tau apa-apa hanya menurut. Dia menerima baju itu dengan banyak pertanyaan di benaknya. Tapi Alana tidak berani untuk tanya. 

Setelah beberapa menit berlalu, Alana selesai bersiap-siap. Dia menemui Rayyan yang sedang mengecek kondisi motornya di depan rumah.

“Udah, Na?” tanya Rayyan yang diangguki oleh Alana.

Rayyan menatap Alana dari atas sampai bawah, kemudian berhenti di perut Alana. 

“Sebentar.”

Rayyan masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya ke kamar untuk mengambil jaket. Rayyan memakaikan jaket itu ke tubuh Alana

“Pake jaket, biar lo gak kedinginan.”

Mereka berdua kemudian berpamitan pada Ira, kemudian pergi dengan menaiki motor. Alana semakin bertanya-tanya ketika Rayyan menghentikan motornya di depan sebuah pemakaman umum. Tapi, Alana masih tidak berani bertanya apapun pada Rayyan. Dia hanya diam dengan seribu pertanyaan di benaknya sambil menyusuri makam mengikuti langkah Rayyan. Hingga tidak lama kemudian, langkah Rayyan terhenti di depan sebuah makam.

“Assalamualaikum, Ma.”

Rayyan berjongkok di samping makam Risma. Alana hanya mengikuti tanpa mengatakan apapun. Rayyan memimpin membacakan doa untuk Risma dengan diikuti oleh Alana. Seperti biasa, setelah membaca doa, Rayyan mulai bercakap dengan Risma.

“Ma, Mama apa kabar? Rayyan datang, Ma. Tapi kali ini Rayyan datang sama Lana, Ma, calon istri Rayyan.”

Alana menoleh pada Rayyan yang sedang menatap lekat nisan pada makam tersebut, lalu kembali menoleh pada makam itu.

“Mmm, halo, Tante, saya Alana,” ucap Alana canggung. Tidak sopan kan tidak menyapa jika Rayyan sudah mengenalkannya seperti itu. Meskipun Alana masih tidak mengerti siapa orang yang ada di dalam makam tersebut, dan kenapa Rayyan memanggilnya dengan sebutan mama.

“Ini perempuan yang Rayyan ceritakan ke Mama,” ucap Rayyan lagi yang membuat semakin banyak pertanyaan dalam benak Alana.

Rayyan bercerita apa tentang dirinya?

“Rayyan mau punya anak, Ma. Rayyan melakukan kesalahan pada Lana, Ma. Sekarang Rayyan mau mempertanggungjawabkan perbuatan Rayyan.”

Alana menatap Rayyan yang masih menatap makam itu sambil mengusap lembut nisannya. Wajahnya terlihat sedih dan murung.

“Rayyan minta izin ya, Ma, untuk menikahi Lana besok. Mama pasti merestui Rayyan sama Lana, kan?”

Hening.

Untuk beberapa saat Rayyan berhenti berbicara. Alana juga diam, tidak tahu harus berkata apa. Hingga tidak lama kemudian, Rayyan menoleh padanya.

“Ini nyokap gue, Na. Nyokap kandung gue,” ucap Rayyan tiba-tiba pada Alana.

Alana mengerutkan kening heran. “Bunda?”

“Bunda bukan nyokap kandung gue. Bunda itu adik dari nyokap gue. Dia tante gue.”

Alana menutup mulutnya terkejut dengan perkataan Rayyan. Sedangkan Rayyan kembali menatap nisan Risma.

“Ray,” panggil Alana yang membuat Rayyan menoleh padanya. “Kalau boleh gue tahu, ayah lo… dimana?”

Karena disinggung tentang ibu kandung Rayyan, Alana jadi penasaran dengan ayah Rayyan. Lagipula selama Alana tinggal di rumah Rayyan, Alana tidak pernah melihat ayah Rayyan, bahkan tidak ada foto ayah Rayyan di rumah. Di sana hanya ada foto Rayyan dan Ira, bundanya. Bahkan kata ayah tidak pernah disebut di rumah Rayyan.

Rayyan menggeleng pelan. “Gue… gue gak pernah tahu siapa bokap gue. Gue juga gak mau tahu soal itu.”

Rayyan tersenyum kecut.

Alana mengerutkan keningnya heran mendengar jawaban Rayyan.

“Gue emang banyak masalah, Na. Bahkan latar belakang gue juga bermasalah. Bahkan diri gue sendiri juga masalah,” ucap Rayyan pelan. 

Alana masih diam menunggu Rayyan melanjutkan perkataannya.

“Lo bisa sebut gue anak haram, Na.”

Rayyan tetap terlihat tenang saat mengatakan hal itu, walaupun tidak dapat dipungkiri raut wajahnya menunjukkan kesedihan. Sepertinya, Rayyan sudah berdamai dengan kata-kata itu.

Tapi berbeda dengan Alana. Keterkejutan tidak dapat Alana tutupi dari raut wajahnya.

“Gue anak yang lahir di luar nikah.”

Rayyan menghela napas berat.

“Dulu nyokap gue kayak lo, Na. Hidup dengan baik, punya pekerjaan bagus, karirnya bagus, pacar yang baik, keluarga yang harmonis. Mama punya kehidupan yang sempurna dan bahagia. Sampai hari itu datang. Hari dimana mama…” Rayyan menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian mengungkapkan semuanya. “Mama dilecehkan oleh beberapa laki-laki bajingan yang lagi mabuk saat mama pulang kerja.”

“Dan gue ada dari hasil kejadian itu. Jadi, gue gak tahu siapa bokap biologis gue. Gak ada dari para bajingan itu yang mau bertanggung jawab ke mama. Setelah itu, semua kehidupan baik mama hilang, pekerjaan, karir, pacar, orang tua, semuanya pergi. Gue bahkan gak pernah ketemu kakek nenek gue sampai mereka meninggal. Mereka gak pernah sudi buat ketemu gue. Hanya tersisa bunda di samping mama, yang selalu merawat dan menjaga mama. Hingga saat gue lahir, bunda merawat gue karena mama gak bisa merawat gue. Dan sejak saat itu, bunda jadi nyokap gue.”

Tanpa sadar, Alana meneteskan air mata. Dia dapat merasakan apa yang ibu Rayyan rasakan saat itu, karena sekarang Alana sedang merasakannya. Hidupnya yang sempurna mendadak lenyap, membuka luka yang dalam di hatinya.

“Seumur hidup gue, gue benci banget sama bajingan yang sudah menodai nyokap gue. Tapi yang gue lakukan, gue justru jadi bajingan itu, Na. Gue… gue ngelakuin kesalahan yang sama ke lo. Gue minta maaf, Na. Gue bener-bener minta maaf.’

Rayyan menunduk, bahunya bergetar hebat. Bersamaan dengan itu, air matanya menetes ke makam Risma.

“Kalau ada orang yang paling gue benci dalam hidup gue, itu adalah diri gue sendiri. Adanya gue di dunia ini cuma menghancurkan hidup orang, mama, kakek nenek gue, bunda,  orang tua lo, dan lo, Na. Kalau gue gak ada, pasti hidup kalian baik-baik aja.”

Tubuh Rayyan kembali terguncang karena menahan emosi dalam dirinya, air matanya tanpa sadar menetes. Begitu juga dengan Alana yang sudah menangis hebat tanpa suara sejak tadi. Kedua manusia itu hanya bisa menangisi hidupnya masing-masing di depan sebuah makam. Meratapi jalan hidupnya masing-masing.

Beberapa menit berlalu, Rayyan dan Alana memutuskan untuk pergi dari makam. Mereka berjalan keluar tanpa ada suara apapun antara mereka. Bukan hanya canggung, Rayyan merasa malu pada Alana. Rayyan merasa rendah diri di hadapan Alana. Hidupnya penuh dengan masalah, berbanding terbalik dengan hidup Alana. Tapi sekarang, Rayyan justru menarik Alana masuk ke hidupnya yang penuh masalah.

“Maaf ya, Na,” ucap Rayyan saat mereka sampai di samping motor.

Alana menoleh heran pada Rayyan.

“Maaf lo harus lihat gue selemah itu. Maaf karena lo harus menikah sama bajingan kayak gue. Lo harusnya dapat laki-laki yang baik yang pantas buat lo, tapi lo malah terjebak sama gue. Maaf juga untuk semua hal yang sudah terjadi gara-gara kecerobohan gue, semua yang udah gue lakuin ke lo. Maaf,” ucap Rayyan pelan.

Alana hanya diam. Dia menatap lekat manik mata Rayyan yang berlinang air mata. Untuk beberapa saat mereka berdua hanya saling tatap dengan perasaan yang tidak karuan.

Alana ikut merasa sedih dengan apa yang Rayyan alami. Tapi masih terbesit sedikit ego dalam benaknya. Kenapa harus Alana yang mengalami ini? Kenapa harus Alana yang ikut hancur? Kenapa bukan orang lain saja?

Alana mengangguk pelan pada Rayyan.

Rayyan mengalihkan pandang, mengusap air mata yang terlanjur menetes dari matanya, kemudian menoleh pada Alana lagi. Rayyan memberikan helm pada Alana untuk dipakai. Alana memakainya dalam diam.

“Kita pergi ke mall dulu ya, beli baju buat lo. Kasihan lo harus pakai baju bunda terus,” ucap Rayyan yang diangguki pelan oleh Alana.

Rayyan menaiki motor, disusul oleh Alana di belakangnya. Motor itu kemudian melaju meninggalkan pemakaman. Sepanjang perjalanan, Alana dan Rayyan hanya diam. Tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Mereka berdua sibuk berkutat dengan pemikiran masing-masing.

...***...

1
Che Putri Badar
semangat thor ..
lanjuuuut..
Eva Marlina siboro
jngan sampai alana keguguran ya thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
lnjt dong thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
😮‍💨😮‍💨😮‍💨
Ani Shofia
bagus ceritanya lanjutkan
Endah Ekayanti
bagus banget
Dev
semangat Thor lanjutin sampai end..ceritanya pas (gk berlebihan) dan realistis banget..
Chillzilla: Ditunggu lanjutannya yaa
total 1 replies
Dev
kurang komunikasi sih sepasang manusia ini..
Dev
cerita ini cukup menguras emosi Thor..keren ceritanya..
mayang sari
seru ceritanya🙂😚
mayang sari
duarrrr🤯
mayang sari
rayyan, rayyan, harusnya kamu ngerasa bersalah
mayang sari
duuh si rayyan😔
mayang sari
kenapa pintu kamar hotel gak dikunci Alana?
Aura Al
kasihan lana di tinggal sendiri trus
Aura Al
mobil papa padil pasti lagi ngitai
Aura Al
rayan kurang peka terhadap lana
Aura Al
bagus banget cerita thor seru
Chillzilla: makasii... ditunggu kelanjutannya yaa
total 1 replies
Kamiblooper
Wih, seruu banget nih ceritanya! Jangan lupa update ya thor!
Cô bé mùa đông
🤩Bikin baper banget deh si author ini, jangan jangan dia nyasar jadi scriptwriter
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!