NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Karin, biarkan Dimas menikahi Vina. Kamu, sebagai istri, harus mengizinkan suamimu menikah lagi."

Wanita paruh baya yang duduk di hadapan Karin itu adalah ibu mertuanya, Ratna.

"Ibu mohon sama kamu, jangan memperbesar masalah ini."

Suara lembut yang penuh kepura-puraan itu terdengar begitu akrab di telinga Karin. Bahkan, setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu sudah ia hafal di luar kepala.

"Dimas hanya ingin bertanggung jawab. Vina gadis yang baik. Dia hidup sebatang kara sejak kecil. Dimas hanya kasihan padanya dan ingin melindunginya."

Ratna menggenggam tangan Karin, seolah benar-benar sedang membujuk menantunya.

"Bagaimanapun juga, dia tidak akan merebut posisimu."

Karin hanya tersenyum pahit. Tentu saja ia tahu semua itu hanyalah kebohongan.

Di kehidupan sebelumnya, ia mempercayai kata-kata itu. Ia mengizinkan Vina tinggal di rumah mereka dengan harapan semuanya akan tetap baik-baik saja.

Namun justru sejak hari itulah hidupnya berubah menjadi neraka.

Setelah Vina dinyatakan hamil, Karin terus-menerus dihina dan direndahkan. Ia dicap sebagai wanita mandul yang tidak mampu memberikan keturunan bagi keluarga Dimas. Kasih sayang suaminya perlahan berpindah kepada Vina, sementara keluarga suaminya memperlakukan gadis itu layaknya menantu yang sesungguhnya.

Hari demi hari, Karin hidup dalam tekanan hingga tubuhnya jatuh sakit. Tak seorang pun peduli dengan keadaannya, termasuk Dimas.

Karin masih mengingat semuanya dengan sangat jelas, seolah baru terjadi kemarin.

Saat kondisinya memburuk dan harus dilarikan ke rumah sakit, tidak ada seorang pun yang menemaninya. Dimas, ibu mertuanya, bahkan seluruh keluarga sedang sibuk merayakan kehamilan Vina. Di tengah rasa sakit yang tak tertahankan, Karin hanya bisa menahan air mata seorang diri.

Yang lebih menyakitkan, Vina kerap datang ke kamar rumah sakit hanya untuk memamerkan kebahagiaannya. Gadis itu mengejek, merendahkan, dan menikmati penderitaan Karin. Hingga pada suatu hari, Vina diam-diam menukar obat Karin dengan obat yang mematikan. Hari itu menjadi akhir hidupnya.

Namun...

Takdir memberinya kesempatan untuknya kembali. Tepat di saat Dimas membawa Vina untuk pertama kalinya. Karin menatap lurus ke arah ibu mertuanya. Tatapannya begitu tenang hingga membuat Ratna merasa asing.

"Ibu sudah selesai bicara?"

Ratna terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat menantunya tersenyum. Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.

"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanyanya heran.

Karin bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Vina yang berdiri di samping Dimas. Tatapannya menyapu gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Lusuh," bisiknya pelan di dekat telinga Vina.

Vina sontak terperanjat dan menundukkan kepala semakin dalam.

Karin lalu mengalihkan pandangannya kepada Dimas.

"Jadi... ini gadis yang kamu banggakan?"

"Sayang, jangan salah paham." Dimas segera mencoba menjelaskan. "Aku hanya ingin menolongnya. Dia gadis yang lugu. Aku cuma ingin memberinya perlindungan."

"Oh, begitu?" Karin tersenyum tipis. "Kalau memang hanya ingin menolong dan melindunginya, silahkan dia tinggal di rumah ini."

Ucapan Karin membuat Dimas mengembuskan napas lega.

Namun senyum itu langsung menghilang saat Karin melanjutkan kalimatnya.

"Tapi hanya sebagai pembantu."

Semua orang terdiam.

"Karin!" bentak Dimas. "Jangan asal bicara!"

"Memangnya ada yang salah?" Karin menoleh santai. "Lagipula, bukankah memang itu pekerjaannya?"

Dimas mengepalkan kedua tangannya.

"Kamu sudah keterlaluan! Vina gadis yang lemah. Jangan perlakukan dia seperti itu. Lagi pula aku hanya akan menikahinya secara siri. Kamu tetap istri sahku."

Karin hampir tertawa mendengarnya. Di kehidupan sebelumnya, ia benar-benar mempercayai ucapan itu. Kini, ia sadar semua itu hanyalah kebohongan yang dibungkus kata-kata manis.

"Wah... aku sampai merinding mendengarnya, Mas." Karin menatap Dimas dengan jijik. "Apa kamu benar-benar mengira aku masih akan percaya dengan omong kosongmu?"

"Karin..."

"Apa kamu sudah lupa janji yang pernah kamu ucapkan saat membujukku meyakinkan Ayah agar menyerahkan perusahaan kepadamu?" suara Karin berubah dingin. "Kamu berjanji akan menjagaku seumur hidup dan tidak akan pernah mengkhianatiku."

Ia menatap tajam pria yang pernah menjadi dunianya.

"Atau kamu juga sudah lupa siapa yang berdiri paling depan saat semua orang menentang pernikahan kita? Siapa yang meyakinkan kedua orang tuaku untuk menerimamu? Dan siapa yang berjuang mati-matian hingga kamu bisa duduk di kursi pemimpin perusahaan itu?"

Ruangan itu mendadak sunyi. Tidak ada satu pun yang berani bersuara.

Dimas menatap Karin dengan wajah kaku. Selama mereka menikah, belum pernah sekali pun istrinya berbicara setegas ini di hadapannya.

"Karin..." Dimas berdeham pelan. "Semua yang kulakukan selama ini juga demi keluarga kita."

"Keluarga kita?" Karin tertawa pelan, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tawanya. "Lucu sekali. Kalau memang demi keluarga kita, kenapa yang kamu bawa pulang justru perempuan lain?"

"Itu berbeda."

"Tidak. Justru sangat sederhana." Karin menatap lurus ke mata suaminya. "Kamu selingkuh."

Dimas sontak menggeleng.

"Aku tidak pernah menganggap ini perselingkuhan."

"Karena menurutmu menikahinya secara siri akan membuatmu terlihat terhormat?" sahut Karin cepat. "Perselingkuhan tetaplah perselingkuhan, sekalipun dibungkus dengan dalih tanggung jawab."

Dimas kehilangan kata-kata. Ia tak menyangka Karin akan membalas setiap ucapannya tanpa ragu.

Ratna yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Karin, jangan keras kepala. Semua laki-laki juga begitu. Apalagi Dimas sekarang sudah sukses. Wajar kalau ada perempuan yang menyukainya."

Karin menoleh perlahan ke arah ibu mertuanya.

"Jadi menurut Ibu, pengkhianatan itu wajar?"

Ratna terdiam sesaat, lalu menghela napas.

"Ibu hanya tidak ingin rumah tangga kalian hancur."

"Tidak." Karin menggeleng pelan. "Yang menghancurkan rumah tangga ini bukan aku." Tatapannya beralih kepada Dimas. "Tapi putra kesayangan Ibu."

Ucapan itu membuat wajah Ratna memerah.

"Beraninya kamu menyalahkan Dimas! Dia sudah bekerja keras membangun perusahaan. Semua yang ada di rumah ini hasil jerih payahnya."

Senyum Karin semakin lebar. "Benarkah?"

Ia melangkah mendekati Dimas hingga hanya berjarak satu langkah.

"Kalau begitu, coba jawab satu pertanyaanku."

Dimas mengernyit.

"Siapa yang memberikan modal pertama saat perusahaanmu hampir bangkrut?"

Dimas terdiam.

"Siapa yang membujuk Ayahku agar mau mempercayakan proyek-proyek besar kepadamu?"

Tidak ada jawaban.

"Dan siapa yang menyerahkan saham keluarganya agar perusahaanmu bisa bertahan?"

Ruangan kembali sunyi. Tatapan Ratna mulai berubah. Sebab semua yang dikatakan Karin adalah kenyataan. Dimas memang berada di posisi sekarang berkat bantuan keluarga Karin. Namun selama ini, mereka memilih melupakan fakta itu.

"Karin..." Dimas mencoba meraih tangan istrinya.

Refleks Karin mundur satu langkah. Sentuhan pria itu kini hanya membuatnya muak.

"Jangan sentuh aku." Suara Karin dingin, tanpa emosi.

Untuk sesaat, Dimas merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing.

Sementara Vina yang sedari tadi diam akhirnya maju selangkah.

"Bu Karin... semua ini salah saya. Kalau Ibu marah, marahlah pada saya. Jangan bertengkar dengan Mas Dimas."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Penampilan Vina benar-benar tampak menyedihkan.

Kalau saja Karin tidak pernah menjalani kehidupan sebelumnya, mungkin ia akan kembali tertipu oleh akting gadis itu.

Sayangnya...

Ia sudah mengetahui wajah asli Vina. Karin menatap Vina tanpa berkedip.

"Lalu kenapa kamu masih berdiri di samping suamiku?"

Pertanyaan itu membuat Vina membisu.

"Bukankah perempuan yang tahu diri seharusnya menjaga jarak dari suami orang?"

Wajah Vina langsung memucat. Air matanya mengalir semakin deras, sementara Dimas buru-buru berdiri di depannya.

"Karin! Sudah cukup! Jangan terus menyudutkan Vina!"

Melihat pemandangan itu, Karin hanya tersenyum tipis.

Persis seperti dulu. Dimas selalu menjadi orang pertama yang melindungi Vina.

Bedanya...

Dulu hatinya hancur melihat semua itu. Sekarang, ia hanya merasa geli. Karena permainan mereka baru saja dimulai.

1
Thewie
terlalu bertele tele.
Dede Dedeh
perasaan setiap episode nya kok cina and the geng yg selalu menang, karin terlalu lambat memberi balasan,,, kecewa aku thor/Pray/
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!